
.
.
.
The Irregular Devil of Academy Gyxcels
Vol. 1 : Akademi Gyxcels
Bab 1 : Tes masuk
Chapter : 08
Aku dan Elivia sudah berdiri didepan pintu ruang rapat para atasan akademi atau di sebut AKS (Akademisuperia). Perlahan-lahan salah satu tanganku meraih genggam pintu, kemudian membukanya.
"Maaf, apa kalian sedang sibuk?"
Terdengar suara pintu terbuka, kemudian suara ku terdengar santai seolah tak ada sopannya masuk mengganggu beberapa orang yang tengah diskusi. Tentu saja, wajah-wajah orang itu langsung menatap ke arah ku.
Dan lagi-lagi tatapan jengkel, aku tidak peduli itu. Salah satu dari mereka telah menegurku atas ketidaksopananku.
"Anda tidak sopan." (Feiren)
"Tidak, andalah yang harusnya tidak sopan mengeluarkan murid dengan kehendak sendiri."
Sebelum masuk, Elivia menjelaskan siapa saja atasan AKS, terdapat 5 orang dan mereka adalah keturunan langsung dari ras iblis generasi kedua. Juvis, Feiren, Hyci, Zein, Dys.
Juvis adalah pria berpirang merah memerankan kepala dewan akademi Gyxcels. Setahu Elivia, Juvis juga salah satu anggota kerajaanWelt yang berarti world.
Feiren adalah pria yang di juluki garuda iblis, dia paling pintar dalam strategi tempur.
Hyci, sosok gadis cantik berlidah iblis itu juga punya sisi baik seperti jago dalam kecantikan wajah, baik itu memasak atau masalah wanita. Bisa dibilang, dia calon idaman para pemuda.
Zein, sosok pria bertubuh besar dan paling di takuti oleh murid Gyxcels karena punya sifat pemarah. Meskipun pemarah, tetapi dia menyayangi muridnya kecuali Mezlca.
Dys adalah pria bermurah hati, meskipun berparas tampan tapi dia memiliki dua wajah yang berbeda yaitu marah dan imut. Dia salah satu guru yang akan mengajarkan ilmu-ilmu sihir di akademi.
Mereka punya sisi yang tajam ya, aku mengerti karena mereka benar-benar keturunan ras iblis. Tapi, bagaimana dengan kekuatan mereka? Apa jauh lebih kuat atau lemah?
Menyadari kehadiran Elivia di samping ku, mereka memandang sinis padanya.
"Jadi begitu? Kau rela membantu boneka itu, ya?" (Feiren)
Wajah ku sedikit aneh mendengarnya, "Boneka?" (Areez)
"Alasan kami menolaknya adalah dia bukan bangsa di area ini, dia hanyalah boneka!" (Juvis)
"Aku tidak tau apa yang kalian pikirkan bahkan menganggapnya boneka atau apalah, yang terpenting dia juga memiliki jiwa manusia dan tak seharusnya kalian duduk indah lalu mengeluarkannya begitu saja...
...itu membuatku jijik." (Areez)
"Oi, kau ini murid Mezcla, Areez Zacdigourde bukan?" (Zein)
"Benar, dan lebih tepatnya Areez Zacdigourde seorang raja iblis."
Kedengarannya ucapan ku ini tampaknya membuat mereka heboh. Ku pikir mereka senang mendengarnya, ini kebalikannya. Apa era ini sudah melupakan ku? Lalu kemana bawahan ku? Guardian ku dan ras ku yang baik?
"Jangan bercanda! Mengaku seolah dirimu adalah raja iblis, jangan mimpi!" (Feiren)
"Aku tidak mimpi kok, faktanya aku adalah raja iblis." (Areez)
"Otakmu lagi bermasalah ya, yahh...sudahlah...lagi pula aku sedikit tertarik dengan trik sihirmu saat tes kemarin." (Hyci)
"Aku tidak berniat menghabiskan waktu ku hanya membahas kemampuan ku, tapi aku kemari hanya meminta izin agar teman ku bisa diberi izin." (Areez)
Bahkan perkataan ku sempat membuat semuanya terkejut karena menganggap Elivia adalah teman ku. Bukankah itu fakta, dia adalah teman ku?
"Teman ya?" (Hyci)
"Oi, boneka? Tidak menyangka kau juga bisa dalam hal berteman, aku khawatir dia akan marah setelah tau siapa dirimu sebenarnya." (Dys)
Tak ada sedikit pun tanggapan dari Elivia, kali ini dia hanya bisa berdiri diam di samping ku, bahkan tak ada reaksi darinya. Dia benar-benar terlihat mirip dengan “boneka”.
"Aku tidak peduli siapa pun dirinya sebenarnya, setidaknya segera beri izin." (Areez)
Akhirnya mereka tak punya pilihan lain selain menantang ku. Apa mereka tidak berpikir, kalau ucapan ku ini benar tidak main-main loo.
"Baiklah-baiklah, jika itu maumu, maukah kau berduel dengan kami berlima?" (Juvis)
Tentu saja bibir ku terangkat senang mendengarnya. "Hohh...duel ya?" (Areez)
"Benar, jika kau mengalahkan kami maka boneka itu diterima masuk tapi jika sebaliknya-" (Juvis)
"Maka Elivia diskualifikasikan, benar?" (Areez)
"Lebih tepatnya dilenyapkan." (Dys)
"Tidak akan ku biarkan." (Areez)
°°°°
Sesuai kesepakatan, aku menerima tantangan duel mereka. Dan duel ini diadakan lebih tepatnya di tengah panggung akademi. Panggung yang luas dan lebar dengan bangunan dinding baja, agar dapat mencegah kerusakan.
"Meskipun era ini tak sepenuhnya damai, tetapi beberapa tehnik era ini membuat ku tertarik, terutama cara membangun akademi dan masih banyak tempat lagi."
Aku sadar ini adalah duel pertama ku, tetapi bukankah tempat itu dipenuhi banyak orang? Mungkin saja, mereka tertarik dengan duel ini.
Saat ini, aku tengah mempersiapkan diri dalam ruangan. Elivia masuk menghampiri ku dengan raut wajah yang khawatir.
"Apa sesuatu mengganggumu?"
"Tidak juga, kau terlalu baik, tapi...ini membuat ku khawatir." (Elivia)
"Khawatir karena mencampuri masalahmu?" (Areez)
Elivia menggelengkan kepalanya tidak membenarkannya,
"..nn..kau tidak mengganggu bahkan ikut dalam urusanku, kau hanya terlalu baik memikirkan diri ku."
"Yahh, kau benar..."
Elivia bertanya, "Apa kau perlu sesuatu?"
"Apa?"
"Setiap duel pasti membutuhkan senjata."
"Kalau begitu, aku butuh sesuatu yang cocok untukku."
"Bagaimana dengan pedang?"
Elivia mengeluarkan sesuatu dari aliran sihirnya.
"Keluarlahh, Egdizour."
Yah, itu sebuah pedang tipis dengan bahan sederhana seperti baja dan besi. Dia memberikannya untukku.
"Ini adalah pedang Egdizour, meskipun tampilannya sederhana tapi kau bisa menguatkannya dalam aliran sihirmu." (Elivia)
"Memangnya sihir ku bisa menghubungkannya?" (Areez)
"Bisa, kau hanya perlu kontrak sihir dengan ku."
"Bagaimana cara melakukannya?"
"Cukup sentuh ujung pedangnya dengan telunjuk jarimu lalu turunkan ke genggamannya."
Tentu saja, aku melakukannya sesuai apa yang dipinta oleh Elivia. Hanya menyentuh ujung pedang dengan telunjuk jari kananmu lalu seret jari mu ke bawah hingga menggenggam pedang itu.
Maka aliran sihirmu benar-benar terhubung dengan benda itu, agar kau bisa mengendalikan pedang aliran sihir.
Hal ini bisa di sebut kontrak sihir
Aku merasa pedang ini seolah benar-benar milikku.
"Sepertinya kau benar-benar ahli sihir penciptaan bukan?"
Elivia membenarkannya dan perlahan-lahan dia tersenyum kecil.
"Ini pertama kalinya, Areez menggunakannya...aku lega."
"Terima kasih." (Areez)
"Sebentar lagi di mulai, aku tidak peduli kau menang atau kalah yang terpenting kau sudah membuatku lega."
Bibir ku ikut tersenyum sambil melihat kerumunan orang bersorak tak sabar menyaksikannya dari jendela ruangan.
"Lebih tepatnya, aku akan memenangkan duel ini." (Areez)
"Aku mendukungmu." (Elivia)
Aku menatap Elivia kembali lalu meminta sesuatu darinya,
"Bisakah kau mengantar ku ke ke tempat itu?"
"..n.." Sambil menganggukkan kepalanya.
Elivia benar-benar orangnya lembut dan penurut.
°° °°
Hampir membuat ku tidak percaya bahwa suara kerumunan itu berasal para murid Gyxcels baik itu Nobleza dan Mezcla. Tampaknya semuanya hadir menyaksikan duel ini.
Sosok Melis sebagai pengawas yang akan menentukan kemenangan dari duel ini. Dia menunggu kehadiran 5 anggota AKS yang akan segera tiba di tengah panggung duel. Sementara itu, sesuai permintaan ku tadi. Elivia telah mengantarku sampai di depan gerbang masuk panggung.
"Maaf, aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini."
"Tidak apa-apa, terima kasih."
Sepertinya 5 orang itu mulai terlihat. Para murid bersorak semangat mendukung mereka.
Elivia juga sempat memperhatikan mereka, melihatnya saja membuatnya takut.
"Benar-benar seheboh ini ya." Gumamnya.
Langkah ku mendekat lalu memanggilnya, "Elivia?"
"Iya."
Begitu dia membalikkan badannya, aku menariknya ke dekapan ku. Elivia terkejut.
"A-areez?"
Entah mengapa kedua tangan ku tidak ingin lepas dari pelukannya. Aku merasa beberapa penderitaan sadis yang di tanggung oleh Elivia sendirian, walaupun aku tidak tau apa yang sebenarnya yang dialaminya baik itu penderitaannya.
Aku ingin tau, sangat ingin tau.
Tapi.... Dia tidak membuka diri sedikitpun padaku.
Kenapa?...
Kenapa dia bisa setenang itu melihat orang-orang menginjak-injak jati dirinya, harga dirinya dan nama baiknya
"Areez, kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, hanya perlu pelukan saja."
"Lalu, apa sudah cukup?"
"Belum."
"Tapi, sebentar lagi pertarung duel di mulai."
"Tidak peduli."
"B-baiklah."
Pelukan ini terasa hangat dan nyaman nan tenang, benar-benar pelukan ini membuat ku pulih dan semangat akan menjatuh mereka yang sudah berani mengeluarkan Elivia.
"Sudah selesai?"
"Iya."
"Syukurlah, semangat Areez."
"Iya, aku pergi dulu."
Aku mulai menampakkan diri ku, lalu berjalan ke tengah lapangan. Tak ada sorakan sedikitpun untukku, wajarlah karena mereka membenci orang seperti ku. Bahkan mereka saling berbisik satu sama lain melihat ku.
"Oi, bukankah dia pria di tes kemarin ya?"
"Jadi dia benar-benar membantu si boneka itu ya?"
"Benar-benar tidak percaya, padahal wanita itu boneka dan tidak pantas diterima akademi ini."
"Berharap saja pria itu kalah."
"Kau benar."
Aku sama sekali tidak mempedulikan omongan itu dan terpenting, yang perlu aku lakukan adalah menang di duel ini.
Namun, wajah Melis sedikit tidak nyaman melihat 5 anggota AKS hadir dan ikut bertarung. Dia menolak duel 5 lawan 1 sambil melebarkan senyum manisnya pada mereka.
"Sayang sekali, duel ini tidak menerima 5 lawan 1."
"A-apa?!" Kaget 5 orang itu.
Aku nyaris menertawai tingkah mereka sangat lucu, bahkan mereka kagetnya nyaris jantungan, untungnya aku hanya senang mendengar Melis menolak duel 5 lawan 1.
"Karena itu tidak adil, bagaimana saja 1 banding 1?" (Melis)
Mereka berpikir, "hmmmm..." 🤔🤔🤔🤔
"Biar adil bukan?" Sambung Melis melebarkan senyumnya.
Mereka menganggukkan kepalanya dengan terpaksa. "..nn.."
Tiba-tiba Juvis mengajukan diri tanpa berbincang dengan anggotanya.
"Bagaimana aku saja yang melawannya." (Juvis)
"Di terima."
Tanpa masalah, Melis langsung terima. Yang lainnya tak bisa berkata-kata, selain protes.
"Oi, Juvis-sama kau curang.." (Feiren)
"Padahal kita sudah sepakat akan menentukannya." (Hyci)
"Terlambat." (Juvis)
"Dasar! Pokoknya kau harus menang!" (Dys)
"Kau itu ketua dewan sekolah, jika kau kalah jangan sampai aku yang merobek tubuhmu." (Zein)
"Kejam amat sihh, santai aja kali." (Juvis)
"Baiklah, siapkan diri kalian di tengah panggung." Perintah Melis.
Mereka tak bisa membuat seenaknya dalam pertarungan bahkan tak bisa bersikap manja dengan Melis karena Melis adalah pengawas yang dikhususkan mengatur murid Gyxcels, baik itu acara, pertandingan, dan mengawasi mereka.
Tentu saja, aku dan Juvis sudah mempersiapkan diri dengan duel ini dan di soraki murid Gyxcels mendukung Julis.
"Selama duel berlangsung, tidak ada kecurangan mengerti?"
"Baik."
"Kali ini kalian bebas melakukan apapun, jika diantara kalian mengatakan menyerah maka semua sudah berakhir!"
"Start of duel....!!"
°° °°
.
.
.
**aku kembali, maaf membuat para pembaca telah lama menunggu☺☺☺☺☺
jangan lupa tinggalkan jejakmu, di tunggu**!