
.
.
.
The Irregular Devil Of Academy Gyxcels
Vol 1 - Akademi Gyxcels
Bab 0 - PROLOG
chapter 00 - kontraktor
Berturut hari, langit terasa gelap. Tidak ada hari dimana kecerahan itu menyegarkan mata telah datang, ini benar-benar gelap dan terus menggelap sampai hujan membasahi tanah perang darah tiada akhirnya.
Orang-orang itu masih berlomba-lomba menjadi lebih kuat agar mendapatkan gelar Raja Dunia.
Nama ku, Areez Zacdigourde, pria yang diakui seorang raja iblis. Aku sangat kejam menaklukan makhluk dengan kekuatan ku yaitu sihir tingkat dewa menghancurkan apapun yang menghalangi ku, sampai mereka takut padaku
Bisa di bilang, raja iblis tampan bermuka dua.
Tak terasa mataku sudah bosan melihat pertempuran tumpah darah antar manusia, hewan, dewa maupun dewi. Padahal, aku sudah berusaha menciptakan kedamaian, tapi, aku gagal.
Hingga suatu hari, aku memutuskan untuk bertemu dengan ratu dunia di kastilnya. Namun, tidak menyangka dia menunggu ku dibawah guyuran hujan. Itu terlalu cepat, tapi ini benar-benar kebetulan sekali.
"Yo..lama tidak bertemu....
...Sheila Lora."
Aku tidak menyangka ratu dunia adalah sesosok wanita berkulit putih mulus, tinggi, memiliki tubuh anggun dan berparas wajah cantik. Tapi, aku sangat tidak tertarik terutama buah dadanya yang tiada isinya sama sekali. Aku lebih tertarik pada wanita di samping ku.
Elivia Evol Waigel.
"Heeeh...apa kau adalah pria iblis yang ditakuti oleh para pengecut itu?" (Sheila)
Aku mengkritik ucapannya tadi, "Bukan “pria iblis” tapi “raja iblis”,"
Matanya sempat menatap wanita berdiri disamping ku,
"Aku tau itu, hm...apa wanita di sampingmu adalah boneka rusak-..."
"Oi, jaga bicaramu pada wanita ku.." Tegur ku sekali lagi.
Aku sangat sensitif pada orang yang berani merendahkan Elivia. Mendengarnya saja, rasanya ingin ku robek mulutnya sampai tidak bisa berbicara.
"Inikah yang di sebut “ratu dunia” kah? Aku bahkan tidak tertarik sama sekali."
Sheila sadar, menatap mata ku tertuju buah dadanya yang datar membuatnya harga dirinya sedang dipermalukan.
"Cihh..!"
"Kenapa kau berdiam diri dibawah hujan begini?" Tanya ku.
"Perhatian sekali. Aku berdiam diri karena aku ingin bertemu raja iblis."
"Benarkah? Kalau begitu, kebetulan sekali...aku juga ingin bertemu denganmu."
"Tapi, sebelum itu..."
Yap, sebelum ke inti pembicaraan, Sheila menyerang duluan dengan tongkat sabitnya. Namun, bukan ke arah ku melainkan Elivia.
Untungnya aku memiliki mata iblis yang mampu menangkis serangannya dengan sihir ku.
"Sayang sekali."
Wanita di samping ku tak pernah menunjukkan reaksi apapun diwajahnya, itulah mengapa orang-orang menyebutkannya “boneka rusak”, aku tidak pernah menganggapnya seperti itu. Karena aku tau, Elivia mengalami kerusakan emosi dari kecil akibat mengorbankan tubuhnya pada orang-orang yang menginginkan dia menerima semua sihir dari iblis, manusia, dewa-dewi, roh dan hewan.
"Apa aku harus menyerangnya?"
"Tidak perlu, kau diam saja di samping ku."
"Baik."
Sheila ingin tau kekuatan Elivia, aku tidak akan membiarkannya membuat wanita ku itu mengeluarkan kekuatan dahsyatnya.
"Aku sudah tau, apa yang kau pikirkan saat ini? Tapi, aku tidak tinggal diam begitu saja."
"Katakan padaku, apa benar dia orangnya?" Tanya Sheila.
"Orangnya?"
"Ooh, maksudmu calon penerusmu?"
"Kau tidak akan membiarkan dia calon penerusmu, bukan? Tenang saja, aku juga tidak ingin dia adalah penerusmu selanjutnya."
Dia mengangkat tongkatnya ke atas hingga cahaya petir menyambar ke tongkatnya. Aku merasa khawatir kekuatan itu menimpa Elivia.
"Oi, kau serius ingin mengambil kekuatannya ya?"
"Kenapa kau bisa tau apa yang aku pikirkan saat ini?"
"Itu karena aku seorang raja iblis."
"Jika kau mengambilnya maka itu sama saja kau mengakhiri hidupmu dan dunia ini tak akan pernah damai."
Dia tidak mempedulikan perkataan ku, dia tetap keras kepala terus-menerus kumpulkan inti kekuatannya pada tongkatnya.
Aku mencoba batalkan sihirnya dengan mata iblis ku, tetapi Elivia terlebih dahulu menghentikannya dengan sihir pelanginya.
Sekali sentuh tubuh Sheila sudah tak bisa bergerak, tongkatnya diubah jadi abu.
"Huh, a-apa yang terjadi? T-tongkat ku..?!"
Dia benar-benar panik kehilangan tongkatnya, Elivia sudah berdiri di sampingnya.
"Lebih baik tuntaskan apa yang ingin kau bicarakan dengan Areez." Tegur Elivia membebaskan tubuhnya hanya sekali mengelipkan kedua matanya.
Sheila bernafas lega bisa menggerakkan tubuhnya lagi, merasakan kekuatan dahsyat Elivia itu bagaikan kau sedang bermimpi buruk.
"T-tunggu..! D-dia berbicara?!"
Entah mengapa, aku jadi jijik melihatnya tiba-tiba kaget kegirangan setelah mendengar Elivia berbicara.
"Jangan berwajah seperti itu, dia juga punya hati dan pikiran seperti manusia loo."
Perlahan-lahan aku menghampirinya, "baiklah, sekarang aku tidak ingin membuang waktu seperti serangan tadi."
"Aku menyerah."
"Hm?"
"Mari buat kontrak perdamaian."
Ini pertama kalinya ratu dunia membuat kontrak perdamaian padaku.
"Kenapa harus dengan ku?"
"Bukankah kau menginginkannya? Akan ku kabulkan keinginan itu."
"Itu bukan berarti aku menginginkannya tapi merasakan kedamaian dengan nyata."
"Aku tau itu."
"Lalu, apa kontrak perdamaiannya?"
"...Kau setuju?"
"Akan ku putuskan setelah kau menjelaskannya..."
"Jika salah satu dari aku baik dirimu yang akan mengorbankan diri maka perdamaian itu kembali."
"Mengorban kan diri?"
"Seperti kau telah menjatuhkan ku dan sebaliknya."
Aku merasa ragu menyetujui kontrak perdamaian itu karena kontrak itu tidak bisa menghasilkan jawaban memuaskan ku.
"Bagaimana jika aku menolak?"
"Maka perdamaian yang kau inginkan tidak akan pernah menjadi kenyataan."
"Darimana kau mendapatkan kontrak itu?"
"Kontrak perdamaian ini salah satu budaya dewi, aku sangat yakin ini bisa membuahkan hasil."
"kalau begitu, korbankanlah dirimu terlebih dahulu."
"A-a-apa..?!"
"Bukankah kau sendiri yang bilang “akan ku kabulkan permintaan itu” ?"
"Jika itu berhasil, maka aku akan mempercayaimu."
"B-baiklah, kau memang mudah membuat ku jatuh ke jebakan ku sendiri."
"Memang itu niat ku sebenarnya."
Sheila memutuskan akan menuntaskan kontrak perdamaian dengan ku. Melakukannya perlu yang namanya “mengorbankan diri”
"Sebelum itu, aku akan membuat tembok besar yang akan membedakan manusia, dewa-dewi, roh, dan hewan karena itu sangat mudah menghasilkan perdamaian....
..dan tidak ada perdamaian campuran."
"Perdamaian campuran?"
"Jika para ras bersatu dan menerima keadaan apapun itu maka sangat mustahil menghasilkan perdamaian penuh, dan perang kedua akan terjadi."
"Aku mengerti, jika pengorbananmu gagal apa yang harus aku lakukan?"
"Yang harus kau lakukan adalah mencari jawaban sendiri."
"Kau bercanda, bukan?"
"Aku serius loo, hanya cara ini yang ku temukan dalam sejarah perang."
"Baiklah."
"Tunggu apalagi, serang aku."
"Kau tau ada cara yang sangat mudah melenyapkan orang seperti mu."
"Apa itu?"
"Hanya seperti ini..."
Ada cara yang lebih mudah menghancurkan sesuatu yaitu mata iblis ku. Begitu juga yang di rasakan Sheila mendapatkan rasa sakit dari mata iblis ku.
Hingga tubuhnya terasa dipotong-potong dan banyak mengeluarkan darah. Dia meledakkan diri dengan sihir yang tersisa.
"T-terima kasih."
Kedua mata ku terbuka sadar bahwa Sheila dihadapan ku ini bukanlah wanita biasa, dia sangat baik dan berhati lembut. Walaupun, aku tidak terlalu tau tentangnya.
"Istirahatlah dengan tenang, Sheila Lora...."
Setelah mengorbankan diri untuk kontrak perdamaian dengan ku, alhasilnya itu lumayan bekerja. Namun, banyak yang tidak menginginkan kedamaian.
Itulah mengapa aku sangat bosan pertempuran ini.
'"Kontrak perdamaian ini benar-benar tidak sesuai dugaan ku." Keluh ku.
•••
Dua minggu kemudian, satu persatu tembok yang dibangunkan oleh Sheila telah dihancurkan dan perang itu kembali terjadi.
Siapa yang melakukannya? Tembok itu sangat sulit dihancurkan kecuali aku dan Elivia yang dapat menghancurkannya.
"Kau tau itu siapa?" Tanya ku pada Elivia.
"Tidak."
"Kalau begitu istirahatlah, aku ingin menenangkan pikiran ku."
"Baik."
Seperti biasa, dia tetap bersikap datar tanpa menunjukkan emosi sedikit pun. Aku ingin lebih banyak bicara dengannya, tetapi melihatnya duduk mematung dan jari-jarinya tak henti menggerakkan pulpen ke lembar bukunya.
Aku penasaran, apa yang dia tulis di lembaran itu? Namun, setiap rasa ingin tahu ku memuncak maka dia akan bilang,
"Maafkan aku.."
Perkataan singkat itu sempat melukai ku.
Pada akhirnya aku menenangkan diri di perpustakaan kastil ku. Ini adalah tempat satu-satunya membuat pikiran ku teratur kembali.
"Huffhh, rasanya kepalaku ingin pecah."
Aku duduk menyandarkan badan ku di bangku kesayangan ku, perpustakaan ini tidak ada kekurang buku melainkan sudah lengkap.
Memikirkan bagaimana cara mengakhiri perang ini ternyata jauh lebih sulit.
Begitu mata ku sedikit terangkat ke atas, aku menangkap salah satu judul buku di hadapan ku.
“Reincarnation Future” adalah salah satu novel roman, berfantasi dan favorit ku.
"Masa depan reinkarnasi?"
Tiba-tiba aku mendapatkan jalan keluarnya, yaitu mengakhiri perang dengan kekuatan ku dan kemudian bangkit di masa depan yaitu reinkarnasi.
Jika aku bereinkarnasi maka ada peluang besar merasakan kedamaian dimasa depan.
Sepanjang malam, aku menciptakan sihir Reinkarnasi agar tubuh ku maupun kekuatan ku tetap utuh hidup kembali.
Setelah melewati dua hari mengurung diri perpustakaan, akhirnya aku selesai menciptakannya sihir Reinkarnasi, yaitu. . .
(Endurholdgun)
Aku mulai menampakkan diri, begitu sadar aku sedikit terkejut menangkap sosok Elivia yang ternyata tertidur disamping pintu perpustakaan.
"Dia menunggu ku?"
Menyadari kehadiran ku, dia terbangun dari tidurnya.
"Aah, m-maaf..."
Dia berdiri menghadap ku.
"Kenapa?"
Aku bertanya alasan mengapa dia menunggu ku.
"Aku hanya khawatir, kau tidak pernah keluar dari perpustakaan, apa ucapan ku sempat melukaimu?"
"Tolong maafkan aku, Areez."
Meski dia wanita ku, sikapnya tetap saja seperti pelayan ku. Aku tidak menginginkannya, yang ku inginkan adalah dia menganggapku sebagai lelakinya bukan tuannya.
"Jangan bersikap seperti itu."
Sambil menggendongnya, dia sedikit menunjukkan wajah kebingungannya.
"Areez?"
Aku hanya diam dan meneruskan langkah ku ke kamar ku.
"Aku menemukan jalan keluarnya."
"Apa jalan keluarnya berkaitan dengan perdamaian?"
Aku menganggukkan kepala ku dan membenarkannya, "mm..."
Bibirnya tersenyum menatap ku, "syukurlah...."
"Kau sudah bekerja keras."
"Begitulah."
"Lalu, jawabannya?"
"Reinkarnasi."
"Huh?"
Wajahnya sedikit terangkat kaget, kemudian mengalihkan matanya ke bawah. Aku tidak menyadari reaksi itu, itu karena aku menikmati betapa senangnya telah berhasil menemukan jawabannya.
Elivia memilih tidur kembali di pangkuan dada ku. Padahal aku ingin sekali mendengar pendapatnya tentang reinkarnasi yang ku ciptakan dengan sihir ku. Kemudian, aku membaringkan tubuhnya di kasur empuk milikku.
"Areez?" Panggil Elivia lembut
"Kau belum tidur?"
"Aku akan tidur jika kau menemani ku."
Diam-diam tangan Elivia membujuk tangan ku naik kasur dengannya.
"Hm?"
"Tentang Reinkarnasi, aku akan membahasnya besok...dan bukankah kau juga harus istirahat?"
"Oh, b-baiklah."
Aku menuruti apa yang dipinta olehnya, bahkan aku tidak bisa berbuat apa-apa melihatnya kesepian dan sulit sekali membantah perkataannya.
Entah mengapa, jantung ku berdebar tidak teratur menyadari tubuh Elivia sangat dekat dengan ku.
"Hei, Areez... Apa ini berarti kau akan meninggalkan ku?" Bisiknya.
Aku terdiam sejenak, bahwa yang ku pikirkan selama ini hanyalah kedamaian untuk diriku sendiri, tidak dengan nasib Elivia.
"Apa yang sudah ku lakukan selama ini?"
•••