
.
.
.
The Irregular Devil Of Academy Gyxcels
Vol 1 - Akademi Gyxcels
BAB 0 : PROLOG
chapter 02 : Akan kembali
Kastil Gyxcels adalah kastil kerajaan iblis yang ku bangunkan dengan sihir ku.
Ras iblis adalah bangsa Zoku, saat perang terjadi para manusia berhasil membasmi ras ku. Jika musuh membasmi rakyatmu, maka kau akan marah, bukan? Begitu juga dengan ku yang perlahan-lahan menelan mereka.
Ini sedikit curang, para manusia itu bekerjasama dengan dewa-dewi menyerang ku. Sedangkan ras hewan dijadikan budaknya dan merasakan penyiksaan dari mereka hanya karena satu kesalahan saja, ku akui saja sifat manusia itu jauh menjijikan dari sampah.
Ketika hari itu datang, aku telah memutuskan akan perang sekali lagi. Tapi, dengan tubuhku sendiri dan tidak mengorbankan nyawa bawahan ku maupun permaisuri ku.
Aku sangat menantikan kehadiran pahlawan manusia itu.
“Yu Zhenon” adalah pahlawan manusia, punya sifat keberanian melawan sesuatu, peduli pada yang lemah dan baik. Dia adalah orang pertama yang berani menantang ku hingga membuat ku tertarik sifat dirinya.
Akhirnya, pria yang ku tunggu telah berhasil masuk ke aula kastil ku. Postur tubuh yang nyaris sempurna dengan rambut kuning emasnya, tingginya hampir sama dengan ku,197cm. Pedang suci favoritnya selalu menggantung dipinggangnya dan tak hanya itu, zirah bajunya sangat padat melindungi dirinya hingga terlihat dirinya lebih gagah.
Boleh aku bergumam sedikit, pria ini sedikit membuat ku iri. Aaah... Dia sangat tampan!
Aku bahkan tidak percaya, pahlawan manusia itu ditemani oleh dua dewi cantik. Wajah mereka terlihat heran dan sadar tidak ada kehadiran ku di sana.
Itu karena aku sedang bersembunyi, dan tidak bermaksud jadi pecundang hanya karena sembunyi. Tapi, aku punya alasan tertentu.
"Aku tidak menyangka kau telah berhasil memecahkan penghalang kastil ku." (Areez)
Lebih tepatnya, aku ingin memberi kejutan pada mereka. Tidak menyangka, Zhenon langsung menyerang ku. Tapi ini sangat mudah menghindarinya maupun menangkis pedangnya.
"Kau sengaja melemahkan sihirmu agar aku bisa masuk dengan mudah, kan?"
Bibir ku terangkat, kemudian membenarkannya. "Benar."
Dua dewi di sampingnya adalah Melisa alias dewi pencipta yang mampu menciptakan dan membangun sesuatu, juga salah satu kekuatan yang dimiliki Elivia, dan disebelahnya Alice alias dewi penyembuh.
Setahu ku, ada satu sihir yang tidak bisa diciptakan maupun dipelajari oleh Elivia yaitu penawar. Maka, aku lah yang akan menciptakan penawar itu. Tidak untuk diri ku sendiri, tapi untuk menyelamatkan orang-orang disekitar ku.
Karena itu pesan permaisuri ku.
"Dimana wanita yang selalu disampingmu?"
Zhenon sadar, tidak melihat permaisuri ku yang selalu hadir disamping ku.
"Aku mengurungnya di suatu tempat agar tidak ada satu pun mengganggunya maupun menyerangnya." (Areez)
Baik dunia ini maupun makhluk yang ada di tempat ini sudah menganggap permaisuri ku itu “boneka rusak”
"Lalu, apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya?" (Zhenon)
Wajah ku sedikit tertunduk, tidak menanggapi pertanyaan Zhenon. Aku sudah lama tau keinginannya dengan mata iblis ku.
Bahwa dia juga menginginkan hal yang sama seperti ku.
"Hei, Zhenon..?...mari akhiri ini." (Areez)
"...!" Wajah Zhenon berubah tak percaya akan ucapan ku.
"Untuk apa?" (Zhenon)
"Tidak perlu tau jawabannya, karena kau terlebih dahululah mengetahui jawabannya."
Zhenon perlahan-lahan memikirkannya, tak sampai 10 detik matanya sedikit terbuka setelah tau jawabannya adalah...
Kalian bisa menebak jawabannya, bukan? Ini terlalu mudah loo.
"Kenapa?" (Zhenon)
Sudah pasti, dia ingin mendengar alasan ku.
"Tidakkah kau berpikir bahwa dunia ini perlu perdamaian?"
"Aku sempat memikirkannya."
"Kalau begitu, kesepakatan kita sudah bulat."
Dia bersama dua dewinya terkejut mendengar keputusan ku. "E-eeehhh?...!"
Apa-apaan ekspresi wajah itu, ini bukan saatnya bermain lelucon pada ku. Lupakan saja.
"Anggap saja kau telah mengalahkan raja iblis, jika ini berakhir maka tidak ada pertikaian antar manusia dan iblis." (Areez)
Zhenon membuang nafas jauh-jauh, sepertinya dia telah menemukan keputusannya.
"Baiklah, aku siap mengalahkan mu."
"Itu baru namanya pahlawan Zhenon."
Baru kali ini aku memuji pahlawan Zhenon, mungkin karena dia keren.
"Mari kita mulai..." (Areez)
Sambil memusatkan sihir pelindung di salah satu tangan ku.
Zhenon sudah siap mengayunkan pedang sucinya ke arah ku.
"Ayo, Melisa, Alice."
"Baik!"
"GAAAARRGGHHHH....!!"
Dia melangkah maju ke arah ku, bibir ku terangkat sadar bahwa ini terlalu mudah mengalahkannya. Aku membiarkan sihir pelindungku dipecahkan olehnya hingga ujung pedang itu menusuk ke jantung ku.
Lebih dalam dan sangat dalam sampai pedang itu menembus ke belakang ku.
Darah pun keluar dari mulut ku dan dada ku, ini terasa sakit dan sakit sekali. Tetap saja aku membiarkan rasa sakit ini merenggut ku.
"Aku sangat bersyukur telah menjadi musuhmu di era ini....tidak hanya itu, aku juga sudah banyak belajar darimu, pahlawan Yu Zhenon."
Mata Zhenon terpaku mendengarnya. Mungkin ini pertama kalinya dia mendengar aku mengaguminya.
"Tapi...bagaimana dengan dia?" (Zhenon)
Dia? Apa yang dimaksudkan dia adalah Elivia, permaisuri ku? Ku rasa itu benar.
"Jika kau bertemu dengannya, tolong jangan sakiti dia, sekali saja kau menyerangnya maka nyawamu akan melayang cepat."
"Dan satu lagi, ketika hari itu datang dimana aku telah berhasil reinkarnasi 2000 tahun ke depan-..."
Dengan cepat Zhenon menanggapi ucapan ku.
"Aku akan mencarimu dan berteman denganmu."
Berteman? Apa ini adalah perjanjian ku antara Zhenon yang akan datang? Aku tidak terlalu tau itu, tapi ini membuatku sedikit kagum.
"...Terima kasih...."
Kemudian, aku meledakkan diri dengan sihir yang baru saja ku ciptakan yaitu yang telah diaktifkan.
"...Areez...Areez...Areez..."
Suara itu, Elivia. Aku membuka kedua mata ku yang tertutup. Begitu membukanya, aku sedikit terkejut.
"Dimana ini?"
Aku tidak percaya berada di tempat asing yang sama sekali tidak ku ketahui, langit biru dan awan putih berada di sekeliling ku. Lalu suara angin lembut meniup rambut ku.
Dan satu lagi, aku menemukan sosok Elivia dihadapan ku.
"Elivia?"
"Syukurlah, aku berhasil menghubungkannya."
Tampaknya Elivia lega bertemu dengan ku. Ada apa sebenarnya ini? Semua baik-baik saja kan?
"Apa terjadi sesuatu?" (Areez)
"Ada pengkhianat." (Elivia)
Apa? Apa yang dibicarakan Elivia sebenarnya? Ada pengkhianat, siapa?
"Tolong jelaskan."
Namun, Elivia dengan polosnya menggelengkan kepalanya, "...Nn...Tidak bisa, aku tidak punya waktu."
"Apa maksudmu?"
"Aku dibunuh."
Aku terdiam tak percaya, Elivia sedang bercanda, bukan?
"Kau bercanda? Jangan membuat ku bingung seperti ini."
Wajah Elivia sedikit sedih dan berharap penuh, "Tolong cepat kembali, aku menunggumu."
"Tunggu, kau belum jawab pertanyaan ku." (Areez)
Ku rasa ini agak buru-buru mengabaikan pertanyaan ku.
Elivia tetap bersikeras menolak jawab pertanyaan ku.
"...Aku tidak bisa...."
Aku menarik tubuhnya jatuh ke dada ku. "Baiklah, aku akan kembali secepatnya, tapi maukah kau berjanji padaku."
"Hm?" Mata Elivia terangkat menatap ku.
"Jika aku kembali dan menemukanmu 2000 tahun ke depannya, maukah kau menceritakan semuanya?" (Areez)
Elivia terkejut dan setelah itu merasa lega bercampur sedih, tapi ini pertama kalinya dia tidak menyembunyikan ekspersi pada ku.
Kemudian, kedua telapak tangan Elivia menyentuh lembut ke wajah ku. Mata ku sedikit terbuka melihat wajahnya saat ini terukir ketakutan.
"Aku janji,...aku janji...aku janji..."
Aku memeluknya penuh erat sekali lagi. Ini benar-benar tidak percaya, dengan pengorbanan ku mengakhiri perang antar manusia dan iblis itu terasa sial.
Apa pengorbanan ini tidak bekerja sama sekali? Ini lelucon-kan? sia-sia aku persiapkannya.
•••
Sekian lama menunggu di alam reinkarnasi ku, dan 2000 tahun telah berlalu. Itulah saatnya aku kembali ke era masa depan. Masa yang ku tunggu-tunggu dan tidak sabar melihat hari itu.
Sampai aku kembali kemudian mencarinya, permaisuri ku.
Aku telah lahir kembali di tubuh manusia, sosok bayi berambut hitam dengan bola mata warna merah. Aahh, penampilan ini sangat imut.
Kedua mata ku terbuka menyaksikan orang tua yang merawat ku. Sepertinya mereka bahagia telah mempunyai anak. Tapi kali ini...
"Nama ku Areez Zacdigourde..!"
Dengan cepat aku memberi nama ku sendiri sebelum mereka memberi nama pada ku. Namun, saking terkejutnya. Mereka malah melempar ku ke atas.
"..!..Kyaaaa! Bayinya berbicara...!"
Amaran pertama, ketika kamu punya bayi, tolong jangan melemparnya.
Fumu..Rasanya aku seperti boneka di lempar, tidak sopan ya. Mereka memperlakukan raja iblis seperti ini, yang benar saja. Begitu jatuh ke bawah, aku sedikit lega melihat sosok ibu menyambut ku kembali. Ya ampun, gila...
Ibu ku punya wajah imut, nyaris sama dengan permaisuri ku.
"Papa, bayi kita hebat ya. Baru lahir, dia sudah mahir berbicara." (Ibu ku)
Amaran kedua, ketika bayimu baru lahir dan mahir berbicara selancar bicara manusia, tolong jangan memasang wajah menakutkan itu.
"Bukankah ini sedikit aneh?" (Ayah ku)
Tepat sekali, sungguh mengherankan bayi sepertiku sudah mahir berbicara. Itu karena aku Areez Zacdigourde, raja iblis.
"...Nya..." (Areez)
Aku sedikit mengeluarkan suara kucing hingga membuat mereka terkejut lagi. Melihat reaksi mereka membuat ku tertawa, kemudian aku melihat wajah senang mereka mendengar ku tertawa.
Amaran ketiga, ketika bayimu sudah lahir kemudian jadi pintar. Tolong, jangan mengatakan bayi ini adalah “makhluk aneh” biar bagaimana pun itu dia bayi mu. Dan rawatlah dengan baik maka bayimu juga akan menyayangi mu.
Ibu ku, Rosse. Dia terlihat sangat muda seperti kaum hawa yang baru saja menjalani masa pernikahannya. Rambut gelombang warna coklat dengan sedikit poni keriting di atas keningnya, punya mata berwarna ungu cantik dan juga memiliki postur tubuh ramping dan cantik.
Dan di samping ibu ku adalah ayah ku, Gyzar. Dia juga sang ayah berwajah tampan, rambut hitam acak-acak, punya mata berwarna merah, juga postur tubuh yang gagah.
"Selamat datang anakku, kau telah lahir ke dunia ini." (Ibu ku)
"Dunia yang penuh dengan kedamaian, tapi ini bukan berarti dunia ini seutuhnya damai. Ada beberapa penderitaan masih tertinggal di dunia ini." (Ayah ku)
Apa kata mu? Dunia perdamaian, aku tidak bermimpi kan? Ini nyata loo, tentu saja aku bahagia mendengarnya. Berada di dunia damai ini adalah impian ku, tapi aku sedikit curiga dengan beberapa kata yang diucapkan ayah ku tadi.
Beberapa penderitaan masih tertinggal di dunia ini. Apa maksudnya itu?
•••