The Irregular Devil Of Academy Gyxcels

The Irregular Devil Of Academy Gyxcels
keputusan



.


.


.


The Irregular Devil Of Academy Gyxcels


Vol 1 - Akademi Gyxcels


BAB 0 - PROLOG


chapter 01 - keputusan


"Apa yang sudah ku lakukan selama ini?"


Malam itu, aku tidak bisa tidur memikirkan bagaimana nasib Elivia tanpa diri ku ke depannya. Aku butuh perdamaian, tapi aku juga lebih butuh dia selalu disamping ku, itu karena dia permaisuri ku. Namun, tanpa sadar aku memusatkan keinginan ku sendiri.


Biar ku perkenalkan sekali lagi,


Elivia Evol Waigel, seorang wanita berdarah iblis berparas sempurna. Rambut coklat panjang dan berponi rapi tepat dikeningnya, mata besar berwarna coklat hitam pudar dan tubuh anggun dan ramping lantas membuat ku tertarik.


Terutama buah dadanya, paling top banget.


Walaupun dia memiliki tubuh yang sempurna, tetapi dia telah kehilangan emosi dan tak bisa merasakan apa yang ia rasakan saat ini. Kecuali, menyadari emosi orang lain.


Tidak hanya itu, menerima kekuatan besar dari berbagai ras, aku yakin dia juga menderita akan hal itu.


Walau seribu rasa sakit dia bebani, dia tetap merasa bahwa semua itu baik-baik saja.


Bahkan aku tidak terima dia merasakan lebih menyakitkan dari penderitaan ku. Tetapi, bibirnya tetap tersenyum menatap ku.


"Kenapa?...kenapa dia harus mendapatkan beban ini?"


Dia seperti ini karena dia adalah penerus ratu dunia. Aku menolak, bahkan semua orang maupun ras tidak menerimanya, bagaimana pun itu dia adalah "boneka rusak"


Aku khawatir, tanpa diri ku disampingnya. Dia akan kesulitan dan orang-orang juga mengincar kekuatannya.


Akibat tidak bisa tidur, aku bangkit dari kasur ku. Kemudian, duduk dibangku meja tepatnya disamping kasur ku. Tak lama itu, aku menemukan sesuatu yang dapat melindungi Elivia.


Hingga matahari mulai bersinar kembali, pada akhirnya aku tertidur.


"Areez?" Suara kecil nan lembut dari Elivia membangun kan ku.


Mata ku sedikit terbuka menatap dia tampaknya menyiapkan sarapan kecil seperti roti sandwich dan teh hangat di samping ku.


"Ini sudah pagi?" (Areez)


"Benar, ini sarapan untukmu." (Elivia)


"Terima kasih."


Setiap hari Elivia menyiapkan makanan untukku, aku tidak keberatan, asal itu makanan buatannya. Dia duduk menunggu ku habiskan sarapannya, jujur saja, dia sangat memperhatikan ku terutama makan ku.


Jika aku tidak makan, maka dia akan menunggu ku sampai piring itu kosong.


"Kalau begitu, aku ke ruang dapur sebentar." (Elivia)


Mendengarnya pamit, aku langsung cepat menahannya dengan suara ku.


"Tunggu..," Sambil menarik lembut lengannya.


"Apa?" Elivia menatap tanya pada ku.


"Aku telah memutuskannya."


"Hm?" Elivia memiringkan kepalanya dan tak memahami apa yang ku katakan barusan.


Pelan-pelan aku menariknya tubuhnya duduk kembali, tunggu suasana itu tenang, maka aku akan memulai bicara dengannya.


Tapi, ini agak berat mengatakannya, "A-aku... akan m-mengakhirinya."


Elivia terdiam, tapi setelah itu wajahnya terpaku, "...Huh?..."


Aku khawatir, perkataan ini akan melukainya. Dengan cepat, aku menundukkan kepala ku.


"Tolong maafkan aku."


"Jangan seperti itu, bukankah perdamaian adalah keinginanmu?...


..maka wujudkanlah dengan kekuatan yang kau miliki." (Elivia)


Aku menatap wajahnya kembali, tak ada kesedihan atau kekhawatiran di wajah itu. Aku sedikit kesal, andai dia bisa merasakannya sedikitpun.


Telapak tangannya menyentuh lembut ke pipi ku,


"Aku tidak tau harus berwajah seperti apa mendengarnya, apalagi menatap dirimu yang akan meninggalkan ku."


"Tapi, aku hanya bisa tersenyum telah bersama mu dari kecil hingga saat ini, terima kasih." (Elivia)


Dia melebarkan senyumnya. Bibirku sedikit terangkat senyum padanya.


Itu benar, aku telah bersama Elivia dari usia ku 5 tahun. Saat itu, aku hampir hilang kendali kekuatan ku dan nyaris saja aku membunuhnya akibat ibu ku di bunuh oleh manusia.


Dan ayah ku, aku tidak tau dan tidak terlalu ingat masa kecil ku, apalagi wajah mereka.


"Ooya, aku membuatkan sesuatu untukmu."


Aku mengeluarkan benda yang ku ciptakan semalaman, yaitu kalung kecil dengan berbentuk hati berlian berisi berbagai sihir ku yang akan melindungi Elivia.


Aku memberikan nama kalung itu


"Apa gara-gara membuat ini sampai kau tertidur?" (Elivia)


Aku tidak bisa menghindari dari pertanyaan itu darinya.


"Ya, benda ini yang akan melindungimu."


••


Keputusan ku sudah bulat akan berperang sekali lagi, tapi ini adalah terakhir kalinya. Sebelum itu, aku mengumpulkan 7 kaisar bawahan ku yang dibangkitkan dengan darah ku sendiri yaitu,


Elvus Dyr


Maxzarus Zeck,


Juxz Qhi,


Avis Thx,


Xiaza Ovr,


Zacron Merl,


Gourjo Rhyth,


Dan dua guardian yang selalu melayani ku dan Elivia dengan baik yaitu,


Zecth Vyliam, Myra Zyco adalah guardian khusus untukku dan Elivia, mereka selama ini melayani kami semenjak mendirikan kerajaan iblis.


"Aku akan menemui pahlawan Zhenon." (Areez


"....Heeeehhhh???...."


Mereka terkejut dan heboh mendengar tanggapan sang raja iblis yang tiba-tiba bahas ke intinya, bukan malah pembukaan atau bicara hangat-hangat.


Ini juga bukan pertama kalinya mereka berwajah kaget seperti itu.


Aku sangat suka bercanda terlebih dahulu dan setelah itu, aku akan serius.


"Yang mulia serius akan menemui langsung dengan pahlawan Zhenon?" (Juxz)


"Iya, aku minta kalian untuk menahan diri."


"...a-apa?...!"


Mereka terkejut lagi, merasa tidak terima jika raja seperti ku bertindak sendirian mengatasi perang, terutama harus berhadapan dengan pahlawan manusia.


Aku duduk di kursi ku sambil menyilangkan kaki ku ke kiri.


"Yang harus kalian lakukan adalah menciptakan generasi baru dimasa depan dan membangun ilmu-ilmu yang sudah ku ciptakan." (Areez)


Ilmu pendidikan dan generasi baru juga harus disiapkan untuk masa perdamaian ke depannya. Jika rencana yang ku siapkan telah berhasil maka kemungkinan ada peluang perdamaian sesuai impian ku.


Aku mengalihkan mata ku ke arah dua guardian ku, tepatnya mereka berdiri disamping Elivia duduk.


"Vyliam dan Myra, aku minta kalian menemani Elivia kembali ke kastil Kessho."


"Dimengerti, yang mulia."


Kali ini tidak ada pertanyaan dari mereka, tanpa menunggu lama lagi. Aku bangkit dari tempat dudukku yang akan bersiap meninggalkan kastil ku sejenak.


"Areez?"


Suara lembut dari Elivia memanggil ku, aku memberi waktu 3 menit untuk diri ku sendiri meluangkan bicara dengannya.


"Ada apa?" (Areez)


Elivia menggelengkan kepalanya dengan wajah polosnya. Kemudian, dia bangkit dari tempat duduknya menghampiri ku.


"Menunduklah." (Elivia)


Itu membuat ku bingung, tapi bagaimanapun juga aku tetap menurutinya. Aku mulai menundukkan kedua kaki ku dan bahu ku menatap ke hadapannya.


"Seperti ini?"


Elivia menganggukkan kepalanya, "...Nn..."


Sebenarnya apa yang ingin dilakukan Elivia pada ku, meminta ku menunduk seperti ini dihadapannya. Mana lagi, hal ini banyak disaksikan oleh para bawahan ku.


Bahkan aku tidak menyadari sikap mereka yang ternyata menyukai momen kami berdua. Ini seperti drama panggung, benar-benar memalukan bahwa raja kejam seperti ku juga mampu menjalin cinta.


Fumu...benar-benar bawahan ku gak ada akhlak. Entah kemana lagi akan ku taruh wajah ku.


Salah satu tangan lembut Elivia mengusap rambut hitam ku,


"Yosh...yosh..."


Mata ku terbuka lebar dan terpaku dengan sentuhan lembut darinya, sentuhan ini adalah sentuhan sangat membuat ku tenang dan terasa hangat, itu sudah terjadi kedua kalinya dan pertama kali merasakan sentuhan ini adalah ketika aku masih kecil.


Kepalaku terangkat hingga mata kami bertemu.


"Apa ini tidak apa-apa?" (Areez)


Elivia hanya menggelengkan kepalanya, "kau khawatir?"


"Jauh lebih khawatir."


Di tambah lagi, ini pertama kalinya aku melihat wajah Elivia terukir ketenangan, kemudian melebarkan senyumnya.


"Jangan khawatir." (Elivia)


Fumu..dia sangat manis, rasanya aku ingin segera menjilatnya sampai habis. Aaah, dia bukan es krim maupun permen, tapi permaisuri ku.


Mata kami bertemu lagi dan tersenyum satu sama lain. Aku tau ini perpisahan, tapi tidak ada perasaan sedih terlihat baik diriku dan Elivia.


Bisa-bisanya dia setenang itu, mungkin sedang menahan diri. Entahlah..


"Hati-hati." (Elivia)


"Kau juga." (Areez)


••