The Irregular Devil Of Academy Gyxcels

The Irregular Devil Of Academy Gyxcels
Kehangatan



.


.


.


The Irregular Devil Of Academy Gyxcels


Vol 01 - Akademi Gyxcels


BAB 1 : Tes masuk


_Chapter 06_ kehangatan


.


.


.


Setelah lulus dari tes pertarungan, tentu saja pertarungan ini mendapatkan nilai bagus. Gagak hitam muncul dan berubah ke bentuk manusia, itu Melis menemui kami.


"Kerja bagus kerjasamanya, kalian telah memecahkan waktu rekor pertama."


Aku dan Elivia memiringkan kepala tak mengerti, "Hm?"


"Payah, lihat di atas." (Melis)


Ternyata menampilkan waktu terhenti hanya dua menit. Itu waktu tercepat.


"Sebelum kembali, masih ada dua tes yang akan menantang otak dan sihir kalian." (Melis)


"Ku pikir ini akan berakhir." (Areez)


"Jangan salah paham, ayo pegangan tangan."


Mendengar perintah Melis meminta kami berpegangan tangan. Elivia terlebih dahulu bereaksi.


"Huh?"


Kedua pipinya tampak memerah sambil menatap ku.


"Kenapa?" (Areez)


Elivia cepat memalingkan wajahnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Nnnn.."


"Kalau begitu, ayo...." (Areez)


Sambil mengulurkan tangan ku padanya, ini kedua kali aku melakukannya.


"E-eh..a-ahh..b-baik." (Elivia)


Reaksi yang bagus, dia meraih tangan ku, tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Aku hanya memegang erat disalah satu tangannya dan saat itu aku merasa kehangatan di tangannya.


"hangat...dan kehangatan ini sungguh bernostaliga sekali."


Kehangatan yang sama dengan permaisuri ku.


"Silahkan pejamkan mata kalian, tes kedua akan dimulai." (Melis)


"Baik."


Begitu kedua matamu tertutup maka kau akan merasakan bahwa dirimu sedang berada di alam air. Ini adalah sihir yang mampu menenangkan pikiranmu yang lagi stres agar kau bisa konsentarsi memusatkan satu masalah.


Di saat seperti inilah sangat cocok dalam tes otak agar kau bisa menemukan jawabannya dengan cepat. Tetapi, jika sekali mata mu terbuka maka kau akan tenggelam lebih tepatnya “gagal”


"Pertanyaan di mulai, siapa sang pendiri Zoku Gyxcels?" (Melis)


"Sang raja iblis Zoku, Areez Zacdigourde." (Areez)


"sihir apa yang mampu membangunkan kastil?"


"" (Elivia)


Cukup pikiranmu yang menjawab tanpa mengeluarkan kata dari bibirmu.


"Jika seseorang memiliki klon dan punya kekuatan sama kecuali perbedaan warna, jika disatukannya sihir apa yang akan terciptakan...?"


"Sihir penggabungan, " (Areez & Elivia)


"Jika kalian memiliki dua teman berada di tepi jurang, disalah satu antara mereka memiliki kekurangan bertolak belakang, maka siapa yang akan kalian selamatkan..?"


"Aku akan menyelamatkan keduanya." (Areez)


Di pertanyaan akhir, aku tidak mendengar jawaban Elivia baik itu dipikirannya.


Tes kedua pun berakhir, dan selanjutnya tes akhir yaitu mengukur sihir kemampuan, batu pillar sebagai alat pengukur atau penilaian sihir.


Kembali ke aula, satu persatu calon murid yang telah berhasil menggunakannya. Hanya mengucapkan namamu, maka benda itu akan menentukan nilai sejauh mana batas kemampuanmu.


Ada yang mendapatkan nilai 49, 55, 78, 45, dan 80. Rata-rata nilai yang mereka dapatkan hanyalah dibawah angka 80. Ternyata kemampuan ras campuran sangatlah lemah dibanding aku dan Elivia.


"Elivia Lyze."


Saat Elivia menyebutkan namanya, sebuah nilai pertama muncul yaitu 999,99 sungguh mengejutkan orang-orang di sekitarnya. Tetapi angka itu makin naik menjadi, 999,999. Kemudian menurun ke angka 99, lalu ke nol.


"Tidak teratur, silahkan coba kembali." Perintah Melis


Tangan Elivia gemetar mendengar, saat ia mencobanya lagi, angka hanya muncul...


"..1.." (Melis)


Elivia tidak terkejut melainkan tampak gemetar menatap salah satu tangannya. Kemudian, dia kembali berdiri disamping ku.


"Jangan berwajah seperti itu, kau memiliki sihir jauh lebih kuat." (Areez)


"Bukan itu, aku hanya-..." (Elivia)


"Semua baik-baik saja, camkan itu." (Areez)


Elivia sedikit menatap ku, kemudian menganggukkan kepalanya


"..huh..hmm..nn.."


Saat giliran ku, aku tidak terkejut maupun kecewa atau gemetar melainkan santai dengan nilai ku hanyalah...


"..minus 999,999.." (Melis)


Kemudian pillar itu hancur. Sungguh mengejutkan sekali, tapi bagiku ini biasa saja, karena kemampuan sihirku ini kuatnya tak terhitung.


Elivia menghampiri ku, "keren..."


"Keren apanya?"


"Jauh lebih kuat." (Elivia)


Memang pantas aku mendapatkan pujian darinya karena dengan mata dewa yang dimilikinya mampu melihat kekuatan ku sebenarnya. Kali ini aku akan membiarkannya.


"Pujianmu berlebihan." (Areez)


"Elivia-sama?"


Suara familiar tak asing bagi Elivia memanggilnya.


"Avis."


Elivia sedikit terkejut, kemudian menyembunyikan ekspresinya berhadapan dengan Avis. Setelah itu, Avis meminta izin pada Melis.


"Maaf, apa aku bisa bicara dengannya?" (Avis)


"Tentu saja, silahkan." (Melis)


Sebenarnya ini ada apa? Bukankah Avis adalah pria yang dihadapi oleh Elivia di tes sebelumnya?


"A-areez...maaf, aku duluan." (Elivia)


"Kalau begitu, sampai ketemu nanti." (Areez)


"..huh?...nn..sampai ketemu nanti."


Melihatnya pergi, kedua mata ku terbuka jelas bahwa tatapan Elivia saat ini sangatlah...


"...Dia ketakutan..."


Walaupun tidak menggunakan mata iblis ku, tetap saja aku menyadari tatapan menyedihkan itu.


"*Kenapa...kenapa aku bisa merasakannya? Perasaan kesedihannya...


Seperti tak ingin membiarkannya


Berada dalam ketakutan dirinya*..."


Tes masuk akademi pun berakhir, aku Areez Zacdigourde dinyatakan lulus.


° ° ° °


Sebentar lagi cahaya itu tenggelam dan saat ini adalah waktunya pulang. Menyelesaikan tiga tes tersebut butuh waktu yang lama, aku ingin melewatinya hanya perdetik. Tetapi, ada dua hal yang membuat ku tertarik selama tes tadi, yaitu siapa Elivia sebenarnya dan dibalik era kedamaian ini?


"Benar-benar merepotkan."


Aku mengeluh atas apa yang sudah ku korbankan selama ini hanyalah buang-buang tenaga setelah mempersiapkan reinkarnasi ku. Kemudian, aku menemukan sosok Elivia berdiam diri di depan gerbang. Tampaknya dia sedang menatap matahari terbenam.


"Apa yang kau lakukan di sini?" (Areez)


Elivia sadar akan kehadiran ku itu menjawabnya, "Menunggumu."


"Hm?"


"Sebelumnya kau mengatakannya, “sampai ketemu nanti” begitu" (Elivia)


"O-oh, begitu ya?"


Ya ampun, ini salah ku sendiri yang mengatakannya. Tapi, ini tidak apa-apa. Lagipula aku ingin bicara dengannya. Karena aku sadar, mengingat tatapannya tadi sangatlah dipenuhi ketakutan.


Diam-diam mengalihkan tatapannya ke arah matahari. Aku menelan ludah menatap matanya yang indah itu tampak bersinar seperti matahari.


"Mataharinya cantik." (Elivia)


Dia memujinya, tapi setelah itu aku menyambungkannya dengan kata-kata ku.


"Seperti matamu, bukan?" (Areez)


"Huh?" (Elivia)


Elivia tampak malu mendengarnya. Saking malunya, dia ingin cepat-cepat pergi. Tapi, aku menarik salah satu tangannya.


"Sebenarnya...aku ingin mengajakmu ke rumah karena aku yakin ibu ku telah menyiapkannya." (Areez)


"Mau ikut? Aku juga tidak memaksa kok."


Sambil melepas tangannya, Elivia menatapku kembali.


"Areez baik, tapi a-aku akan ikut, boleh?" (Elivia)


"Tentu saja, karena kau telah mengajakku bicara selama tes tadi. Jadi sebagai terima kasih ku, akan mengundangmu makan malam di rumah ku."


Aku mengulurkan tangan ku kembali padanya, dia meraihnya dengan lembut.


"Terima kasih banyak." (Elivia)


Aku mengajaknya ke rumah ku dengan sihir teleport milikku.



Itu adalah cara tercepat dibanding harus berjalan kaki maupun memakai sihir terbangmu. Tiba di tempat itu, Elivia terpaku berdiri dihadapan rumah ku, tentu saja aku masih ingat awal pertemuan ku dengannya. Awal yang mengerikan dapat tabrakan dahsyat darinya, tapi dia mengingatnya, bukan?


"Tolong maafkan sikap ku saat itu." Elivia.


Sambil membungkukkan badannya berkali-kala. Ternyata Elivia mengingatnya, tapi itu memalukan jika mengingatnya kembali. Mengingatnya saja, pipinya sudah memerah.


"Tolong maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku."


Dia terus mengucapkannya hingga aku tak kuat melihatnya sambil mengetuk kecil dikepalanya.


"Aduh!" (Elivia)


"Hentikan itu." Teguran kecil dari ku.


"Ayo masuk."


"I-iya."


Begitu aku membuka pintu rumah ku, sosok ibu ku menyambut ku dengan melompat ke arah ku sambil merangkul kedua tangannya ke leher ku


"Aku pulang." (Areez)


"Kyaaa...selamat datang Rez-chan!"


Kemudian menatapku penuh cinta, pandangan ini mirip seperti sang istri menyambut suaminya pulang. Tapi, aku ini anaknya loo. Anaknya!


Wajahnya tersipu malu ingin menanyakan sesuatu pada ku.


"B-bagaimana?"


Aaah, aku tau dia menanyakan bagaimana tes ku tadi, apa aku lulus?


"Aku lulus." (Areez)


"Kyaaa! Sudah ku duga kau akan lulus dari tesnya karena anakku pintar, iya kan?"


Aku membenarkannya, perlahan-lahan aku membisik ke telinga ibu ku.


"Ooya, aku membawa seseorang untukmu, bu..."


Kedua mata ibu ku bersinar binar mendengarnya,


"Huh?..si-siapa?"


"Calon menantumu." (Areez)


Demi menghibur, aku juga tenggelam dalam bercanda dengan keluarga ku. Tak lama kemudian, sosok Elivia terlihat dimata ibu ku hingga dia teriak bahagia. Tapi, bahagianya berlebihan.


"GGHAAAAAHHHH??!!"


Dengan santai, aku menarik Elivia ke hadapannya dengan memperkenalkannya.


"Perkenalkan dia Elivia Lyze." (Areez)


Sambil membungkukkan badan, Elivia melebarkan senyum polosnya memperkenalkan namanya.


Sedetik sudah berlalu, ibu ku teriak bahagia karena ini pertama kalinya dia menemukan gadis secantik Elivia hingga dia mengatakannya....


"Kyaaa! Mimpi apa aku hari ini? Rez-chan membawa calon istriiiiiiiii!!!!"


Teriakan ibu membuat ayah ku ikut muncul dari kamar mandi. Bahkan penampilannya saat ini hanyalah bertelanjang dada dan handuk putih menutup bagian bawah.


"Apa katamu?! Rez-kun tidak menyangka kau sudah sekeren ini!"


Sambil menepuk erat kedua bahu ku, aku sedikit protes atas ketidaksopanannya.


"Pakai dulu bajumu, ayah." (Areez)


"Padahal umurmu baru sebulan loooo!!!" Sahut ibu ku.


"Huh?" Elivia sedikit memiringkan kepalanya.


"Santai saja, jangan dipikirkan ucapan mereka karena mereka juga orang normal kok." (Areez)


Sambil mendorong ayah ku berwajah bahagia itu masuk ke kamarnya kembali.


"Keluarga yang ramai." (Elivia)


Elivia memuji keluarga ku, aku tidak tau apa yang dipikirkan Elivia sampai menganggap keluarga ku yang ramai.


Namun, ibu ku malah senang akan pujian itu.


"Itu benar, aah kebetulan sekali ini sudah waktunya makan malam, kalau begitu aku akan menyiapkannya."


"Jangan lupa makanan kesukaan ku, bu." (Areez)


"Oke, reez-chan selalu nomor satu makanan kesukaannya, yaaa...."


Elivia juga ingin membantu, "Biarkan aku membantumu."


Tapi, ibu ku menolak dengan ramah,


"Eitss...tidak perlu, sebagai calon istri Rez-chan harus disambut dengan istimewa."


Pada akhirnya, Elivia malah memikirkan ucapan ibu ku hingga wajahnya bingung.


"Calon istri?" (Elivia)


"Sudah ku bilang jangan dipikirkan." (Areez)


Kemudian, ibu ku malah menarik kami berdua ke kamar ku. Kemudian menguncinya sambil mengatakan...


"Selamat bahagia, anakku..."


Aku bahkan tak tahu harus menunjukkan wajahku kemana dihadapan Elivia akibat sikap orang tua ku sangat blak-blakkan berlebihan.


Diam-diam salah satu tangan lembut Elivia menyentuh rambut hitam ku. Kemudian menepuk kecil,


"Yosh..yosh..."


Sentuhan ini? Kedua mata ku terbuka lebar gemetar merasakan kehangatan dari sentuhan ini sangat membuat ku tenang. Akan tetapi diwajah Elivia tak ada emosi sedikitpun mengukir dirinya.


Dia sangat mirip kah, atau aku masih tenggelam dalam nostaliga ini?


"Kenapa?" (Areez)


"Areez, pria yang baik."


"Orang-orang itu mengatakan aku ini monster, iblis payah dan tak patut lahir di dunia ini, sangat pantas orang-orang takut pada ku."


Mengingat kembali di era 2000 tahun lalu, aku adalah raja iblis yang sangat ditakuti. Bahkan ras ku sendiri baik itu bawahan ku tak ada yang berani melawan ku. Namun, para manusia menjeleki nama ku, juga mencaci-maki namaku seperti iblis tidak layak hidup.


Tapi, Elivia tetap menganggap ku baik sama seperti baiknya permaisuri ku.


"Bagi ku, Areez pria yang baik." (Elivia)


Aku menyerah hingga perlahan-lahan mata kami bertemu sejenak, di saat itu aku mencoba gali identitasnya dengan mata iblis ku. Tetapi, sebuah perisai kuat yang dimiliki Elivia telah membatalkannya.


Bukannya terkejut, melainkan lebih tertarik apa yang ada dalam tubuh Elivia sebenarnya. Aku harus membuatnya dia tetap bersama ku agar perlahan-lahan dia membuka kebenaran untukku.


Aku tidak bermaksud jahat, tapi aku ingin membantunya dari rasa ketakutan masih terukir dimatanya.


Untungnya Elivia tidak sadar atas tindakan ku tadi.


"Mulai sekarang...kita adalah teman." (Areez)


Aku memutuskan akan menganggapnya dia sebagai teman, jika dia benar-benar adalah reinkarnasi Elivia asli maka aku akan menjadikannya permaisuri ku.


"Teman?" (Elivia)


"Kenapa? Kau tidak tertarik?"


"Tidak...aku senang."


Lalu aku telah mengingat sesuatu, itu surat yang sempat ku temukan. kemudian mengambilnya dari laci meja ku.


"Ini punya mu, bukan?"


Sambil memberikannya, Elivia membenarkannya kemudian meraihnya.


"..nn.., aku mencarinya, terima kasih..


...apa kau melihatnya?" (Elivia)


Tentu saja, aku tidak melihatnya sama sekali, bahkan menyimpannya dengan aman.


"Tidak, aku hanya menyimpannya. Apa itu rahasia?" (Areez)


"Tidak juga, ini hanyalah surat berharga untukku."


Sepertinya benar, surat itu benar-benar berharga bagi Elivia. Tiba-tiba aku berpikir orang tuanya, apa dia juga memiliki kebahagiaan seperti keluarga ku.


"Apa saat ini kau masih bersama orang tua mu?" (Areez)


"Anak yatim." (Elivia)


Ternyata dia anak yatim, ya ampun pertanyaan ku malah melukainya bahkan tidak nyaman menanyakannya.


"Maaf.." (Areez)


"Tidak apa-apa." (Elivia)


Elivia memperhatikan kamar ku, kamar yang kosong hanya kasur putih dan meja, kemudian dia menatap langit malam sudah mulai tampak menggelap dari jendela ku.


"Sekali lagi maaf atas sikap orang tua ku tadi." (Areez)


"Tidak apa-apa, asalkan Areez merasakan keluarga sebahagia ini...orang tua ku meninggalkan ku saat usia ku sebulan.


...hingga di usia ku ke-15 tahun, aku sudah tidak mengingat masa kelam itu. Saat ini aku hanya memikirkan bagaimana cara membuktikan bahwa aku bisa menciptakan obat dan mampu menyembuhkan mereka, tidak hanya itu...perdamaian campuran ini hanyalah mimpi buruk.."


Aku ikut berdiri di sampingnya, "bukankah...perdamaian campuran adalah hal yang tak bisa akur?"


"Benar." (Elivia)


Satu-persatu kelipan langit malam mulai terlihat, ternyata era ini adalah perdamaian campuran yaitu dimana manusia, iblis, dewa-dewi, roh dan hewan hidup berdampingan. Tapi, menurut sejarah alam bahwa menyatukan mereka adalah hal yang mustahil. Bagaimana pun itu dilubuk hati mereka mampu menciptakan kegelapan besar jauh lebih kuat dibanding emosi manusia.


Hingga menyebabkan kebencian, tidak ada peluang besar yang dapat merubah perdamaian ini. Era ini harus segera dibangunkan tembok agar tak ada yang menderita.


°° °°


Setelah itu kami menikmati makan malam bersama keluarga ku. Seperti biasa aku menikmati nasi kari, kesukaan ku. Elivia sempat bertanya,


"Nasi kari?"


Ibu ku membenarkannya. "Benar, kesukaan Reez-chan."


Elivia dengan melebarkan senyum itu memberi pendapat,


"Alangkah baiknya ibunya Areez menambahkan jamur pada karinya, itu pasti jauh lebih enak."


Jamur? Ini pertama kalinya aku mendengar jamur. Mata ibu ku bersinar tertarik dengan pendapat Elivia.


"Benarkah? Aku akan mencobanya."


Ibu ku mencampuri jamur cendawan ke sup karinya. Sebelumnya, aku dan ayah ku khawatir bagaimana rasanya. Elivia sedikit bantu menambahkan bumbunya.


Ketika sup jamur kari sudah jadi, dilihat dari warna dan aromanya manggil banget lalu kami mencicipinya.


Rasanya.... Ingin melayang.


"Uuuwahhhhh...rasanya jauh lebih enak..." Serentak kami sekeluarga.


Ternyata rasa supnya jauh lebih enak, Elivia juga senang mendengarnya dengan tersenyum kecil.


"Namanya sup kari jamur." (Elivia)


Bahkan ibu ku sangat berterima kasih padanya,


"Terima kasih, Via-chan."


"Kau mengetahui dalam memasak ya?" Tanya ayah ku pada Elivia.


"Iya."


"Benar-benar calon idamanmu, Rez-kun."


Aku juga menikmati supnya, rasanya gak kalah sama nasi kari favorit ku.


Tiba-tiba tatapan ibu jadi serius menatap Elivia.


"Ooya, Via-chan...bagaimana pertemuan romantismu dengan Rez-chan? Apa kau bertindak terlebih dahulu?"


Pertanyaan ibu ku sempat membuatku terkejut, nyaris saja aku tersedak makanan dimulut ku. Harap saja, Elivia menjawabnya dengan benar.


"Areez membantu ku saat aku terjatuh." (Elivia)


"Kyaaa!! Romantis, pasti Rez-chan mengatakan “kau baik-baik saja?” iya kan?"


Entah mengapa akting ibu ku sangat persis apa yang ku katakan pada Elivia. Calon aktor terbaik, nih.


"Tepat sekali." (Elivia)


"Fuhuuumuuuu...kalian benar-benar cocok sekali, bagaimana kalian menikah saja besok, ya?"


Benar-benar tak percaya, ucapan ibu ku sudah berada dilampu merah hingga aku batuk mendengarnya.


Uhuk!


Aku sempat protes, "Anu...ibu tolong ber-


Tetapi, ibu ku malah menawarkan sup kari untukku dengan wajah penuh cinta.


"Mau tambah lagi..."


Tentu saja aku mau, "Tolong tambahkan bu!"


Tampaknya Elivia merasakan kebahagiaan keluarga ku, terutama masakan ibu ku sungguh membuatnya senang. Tapi, dia tidak punya waktu berlama di rumah ku. Setelah makan malam, Elivia mohon pamit pada orang tua ku.


"Aku sangat berterima kasih sudah diundang kemari, tapi aku tidak punya waktu berlama di sini." (Elivia)


Sambil membungkukkan badannya dengan sopan dihadapan mereka.


"Sayang sekali, padahal ibu ingin obrol lebih lama denganmu.. Tapi, kapan-kapan mampir kemari ya..."


"Benar, kapan ada waktu mampirlah ke rumah. Karena sebagai calon mertuamu akan selalu menunggu kedatanganmu, Elivia-chan." Sahut ayah ku.


Bibir Elivia tersenyum lebar mendengar mereka sangat menyayanginya, meskipun dianggap calon menantunya. Untungnya, Elivia tidak terlalu memikirkannya.


"Jika ada waktu, aku akan mampir." (Elivia)


Saking perhatian, ibu ku meminta ku segera mengantar Elivia pulang.


"Rez-chan, tolong antarkan calon istrimu pulang ya."


Elivia malah menolak mentah-mentah nan ramah.


"Tidak usah, terima kasih...cukup didepan halaman rumah saja."


Mereka juga punya sisi yang normal, ayah ku yang paling mengerti.


"Baiklah, aku mengandalkanmu anak tampan."


Mereka mengandalkan ku, seperti perkataan Elivia tadi, aku mengantarnya sampai depan. Dia juga mohon pamit dengan ku melalui kata-katanya.


"Untuk hari ini aku sangat berterima kasih padamu, Areez." (Elivia)


"Aku juga." (Areez)


Elivia mengubah penampilannya dengan sihirnys mengenakan jubah putih kembali sambil menutup kepalanya. Aku penasaran, mengapa dia melakukannya?


"Kau mengenakannya?" (Areez)


Dia membenarkannya, "Malam adalah waktu yang darurat untukku."


Darurat? Yang dimaksudkannya adalah dirinya sedang dalam masalah, bukan? Mengingat Avis bertemu empat mata dengannya, ku rasa hal itulah mungkin penyebabnya.


Ketakutan itu ada hubungannya dengan bawahan Gyxcels, benarkah itu? Aku mencoba tebak saja.


"Apa karena bawahan Gyxcels?" (Areez)


Elivia terdiam sejenak, dengan wajah polosnya dia meminta ku menjaga identitasnya.


"Tolong rahasiakan hal ini, aku mohon..."


Apa yang dimaksudkannya adalah si jubah putih? Lalu dia meminta ku merahasiakannya?


"Aku akan merahasiakannya asal kau tidak mengkhianati ku." (Areez)


"Aku tidak suka mengkhianati dan dikhianati." (Elivia)


Hal yang paling menjijikan untukku adalah ketika kau mengkhianati lalu dikhianati. Jadi tolong, seriuslah pada hidupmu. Jangan sia-siakan hanya karena menginginkan lebih dari itu.


"Hati-hati dan sampai jumpa besok di akadami." (Areez)


"Baik, pergi dulu."


Dia menghilang dengan sihir teleportnya ternyata dia juga mampu menggunakan sihir yang sama seperti ku. Cukup menarik juga...


Sampai ketemu besok di akademi Gyxcels.


•••


**Baru kali ini buatnya agak kepanjangan ya... Mungkin ini spesial biar ceritanya dapet dan jelas, mohon dukungannya dan jangan lupa tinggalkan jejakmu..


Di tunggu chapter berikutnya minggu depan, terima kasih banyak.😌🙏🙏💕**