The Irregular Devil Of Academy Gyxcels

The Irregular Devil Of Academy Gyxcels
Akhiri dari Duel



.


.


.


Vol 1 : The Irregular Devil of Academy Gyxcels


Bab 2 : tes masuk


Chapter 09 : Akhir Duel


"Start of duel...!!!"


Pertandingan duel Areez vs Juvis dimulai,


semua orang bersorak bahagia karena akhirnya pertandingan ini benar-benar berlangsung. Tentu saja pertandingan ini hanya bisa menggunakan senjata, itu sudah jadi aturan dalam akademi.


Juvis memanggil dua pedangnya dari aliran sihirnya.


"keluarlah Nels, Luis!"


Benda itu muncul dari bawah lalu berdiri dihadapannya.


Ya ampun, dua pedang kembar dengan bahan tebal nan mewah ya. Pertahanan pedangnya kuat berkali lipat, tetapi benda itu benar-benar lucu, hanya terlihat seperti 2 ranting pohon yang sudah mau rusak.


Tapi, tunggu sebentar...!


Pedang kembar itu berubah menjadi manusia, yahh tidak ku sangka dua pria ras hewan alias anjing. Jangan bilang kalau mereka adalah budaknya Juvis, kan?


"Apa-apaan ini, era ini masih memperbudakkan ras hewan..?"


Melihat wajahku kaku sejenak, Juvis sudah salah tingkah dan mengira akan takut padanya.


Hingga Juvis tersenyum sinis menatap ku, "Kenapa?"


Dia benar-benar sombong ya.


"Yahhh, jangan salah paham. Aku benar-benar tidak menyangka era ini masih memperlakukan ras hewan sebagai budak kekuatannya."


"Budak katamu? Raja Welt sudah membentuk kekuatan baru berbagai tempat bahwa ras hewan adalah sumber senjata sihir dan dewi sebagai sumber kekuatan besar."


"Raja Welt? Menurut ku dunia ini benar-benar salah ajaran, meski bangunan di dunia ini sudah membaik tapi ajaran ilmu sihir baik budaya dan aturan sangatlah berantakan bahkan jauh lebih lemah dari era sebelumnya."


"Kau ya...!"


"Keluarlah, Egdizour...."


Seperti biasa, aku memanggil Egdizour dari aliran sihir ku, tanpa berpikir panjang orang-orang akan menatap rendah pada pedang ini sangatlah lemah.


"Cihhh, gayamu sok nyali ya tapi dilihat dari pedangmu hanyalah pedang tumpul."


"Ku rasa begitu..."


Tapi, jangan salah paham. Pedang ini tidak lemah, melainkan jauh kuat berlipat ganda di banding pedang kembar milik Juvis.


Setahu ku, Egdizour salah satu tiga pedang kristal yang dimiliki ratu iblis. Bahkan dapat digunakan orang lain, hanya satu pedang tak dapat digunakan oleh siapapun itu.


Ini tidak membuat ku berpikir bagaimana Elivia bisa menciptakan pedang hebat itu, karena aku tau menciptakan salinan suatu benda itu tak dapat memiliki kekuatan yang sama melainkan hanya sebilah pedang tak memiliki spesial apapun.


Yahh, sangat cocok dikatakan lemah. Bagi ku, pedang ini sangat bernostaliga sekali.


Dua anjing itu berubah pedang kembar dan kembali ke genggaman Juvis.


"Bersiaplah Areez..!"


"Aku sudah siap dari tadi loo."


Aku hanya berdiam di tempat sambil menyaksikan Juvis melangkah cepat ke arah ku dengan kedua pedangnya.



Sekali tunjuk dengan Egdizour ke arahnya, dia sudah terlempar, itu karena sihir ku yang mengalir dalam pedang ini.


Juvis tak menyerah, dia bangkit kembali dan menyerangku sekali lagi. Kali ini aku menangkisnya dengan pedang.


"Yahhh, kau cukup hebat ya Juvis."


"Dari awal aku sudah hebat, tapi...kau masih belum mengeluarkan kekuatanmu sebenarnya, bukan?"


"Ku rasa itu benar."


Aku melangkah jauh sejenak, melihat orang-orang bersorak teriak sungguh membuat ku ingin mengejutkan mereka.


"Oi, kenapa kau berhenti?"


"Aku hanya berpikir bagaimana bisa raja welt menciptakan era ini yang sama sekali tidak ada perdamaian."


Sambil menyentuhkan pedang ku ke lantai.


"Dunia ini sudah damai bahkan sesama ras sudah hidup berdampingan." (Juvis)


"Hidup berdampingan ya?"


"Lalu, apa maksudnya membunuh anak-anak bangsa Mezcla hanya karena mencegah lahirnya Queen?"


"Dari tadi kau hanya bertanya tidak masuk akal!"


Juvis kesal dengan pertanyaan ku berhubungan dengan Queen dan bangsa Mezcla, apa salahnya menanyakannya? Kau hanya perlu menjawabnya, bukan?



Dia melempar kedua pedangnya dengan sihirnya, kemudian memerintahkannya,


"Serang titik lemahnya..!"


Selagi benda itu menyerang ke arah ku, dia memperkuatkannya dengan sihirnya.



Aku masih santai menyaksikannya, kemudian,



Melindungi diri dengan perisai ku, hingga pedang kembar itu tak dapat menembusnya. Tetapi,


"*Tolong kami..."


"Suara itu*...."


Suara pertolongan berasal dari pedang kembar yang masih menempel di perisai ku.


"Tolong selamatkan kami...."


"Mereka menderita?" Gumam ku.


Mungkin sebagian ras hewan juga menderita menjadi pedang ras lainnya, ini pertama kalinya aku mendengar pertolongan dari mereka. Yah, mau bagaimana lagi, harus dibantu kan?


"Serahkan saja pada ku."


Aku menarik kedua pedang itu ke genggaman ku, lalu memutuskan kontrak sihir Juvis pada pedang kembar dengan mata iblis ku.



Tentu saja, Juvis menyadarinya. Bahkan sempat panik, bagaimana bisa aku memutuskan kontraknya tanpa dia melakukannya sendiri.


"Oi, apa yang kau lakukan? Kembalikan pedang ku!"


Dia teriak panik akan kehilangan kedua pedang kesayangannya.


"Kembalilah, Nels, Luis!"


Menurut ku pedang kembar itu tidak cocok, juga tak pantas menjadikan ras hewan sebagai budak senjatanya.


"Aku menolak, pedang kembar ini tidak cocok untukmu."


Bukankah ras iblis memiliki sihir masing-masing? Sihir itu sudah menjadi tetap dalam tubuh iblis, yaitu Erg Zoku.


"K-kau...!"


"Wahai dewa agung, pinjamkan kekuatan iblismu-..."


Ya ampun, Juvis juga melakukan kontrak sihir dengan dewa agung ya. Seperti biasa aku tidak akan membiarkan dia membuat ulah dengan mata iblis ku.



Juvis terkejut, "A-ap...?!"


Salah satu tangan ku meraih genggam Egdizour masih berdiri diatas lantai hadapan ku.


"Yo, Juvis? Apa kau pernah mendengar aturan tiga ketukkan."


"Jangan bicara tidak masuk akal." Seru Juvis.


Wajah ku sedikit tertunduk dan aku telah memutuskan akan mengakhiri duel ini secepatnya.


"Kau benar-benar keras kepala ya."


Sambil melangkah ke hadapannya.


Kalian pernah dengar tiga aturan yang berasal dari pedang kematian? Itu pedang Egdizour. Di era sebelumnya aku pernah menggunakannya, bahkan melenyapkan orang-orang yang sudah berani menyentuh kulit permaisuri ku.


"Aku akan mempelajarimu tentang aturan tiga ketukkan Egdizour."


Lalu membangkitkan tubuh Juvis hanya sekali ketukan Egdizour.


"Huh? T-tubuh ku?"


Juvis panik dan ketakutan merasakan tubuhnya yang mendadak hancur, kemudian dibangkit kan. Tetapi, dia sama sekali tidak menyerah dan bertingkah seolah perbuatan ku hanyalah mainan.


Kali ini bukan ilusi lo.


"Cih! Kau pikir hanya dengan cara begini, aku akan menyerah hah?!"


"Peringatan pertama."


Tubuhnya terpotong lagi, lalu dibangkitkan. Itu tidak berakhir, aku terus mengetuk Egdizour tanpa henti. Begitu juga dengan tubuh Juvis terpotong-potong lalu bangkit lagi.


"Sebagai ketua dewan sekolah, tidak perlu membedakan mana yang layak dan tidak layak, kau patut bertindak adil."


"Tapi...Aghh-"


Tubuhnya terpotong lagi, bahkan orang-orang yang menyaksikannya terasa ingin muntah. Dan Elivia juga ketakutan dan tak sanggup melihatnya.


"Tolong hentikan, Areez."


Aku mendengar suara lelah dari Elivia.


"Tunggu..!"


Nyaris saja, tubuh Juvis terpotong lagi.


"Apa?"


Saat ini Juvis ketakutan dan sekujur tubuhnya juga gemetar tak kuat berdiri, dia bertekuk sujud sambil memohon pada ku agar menghentikan semua itu.


"Aku menyerah! Tolong hentikan ini!!" Teriak Juvis.


"Sungguh?"


"I-iya, mulai sekarang aku akan menjalani tugas ku sebagai ketua dewan akademi dan berperilaku adil terhadap murid."


...juga memperlakukan Elivia dengan baik."


Ku rasa dia benar-benar menyerah.


"Melis, kau mendengarnya?"


Duel ini berakhir dan kemenangan ini jatuh di tangan ku.


"Pemenangnya, Areez Zacdigourde..!"


Meskipun aku pemenangnya, orang-orang yang menyaksikan duel ini tidak terima. Bahkan mengatakan sesuatu yang tidak pantas dibelakang ku.


"Masa sih ketua dewan mudah dikalahkan, apa dia curang?"


"Ku rasa tidak, hanya saja caranya sangat kejam dan menjijikan."


"Benar-benar iblis tak pantas di akademi ini!"


"Dia memang pantas tidak layak sama halnya dengan si boneka itu."


Elivia mendengarnya dan tidak ingin menampakkan wajahnya di depan gerbang panggung. Sebagian anggota AKS tak menyangka Juvis dikalahkan oleh murid baru Akademi.


"Aku tidak menyangka Juvis mudah dikalahkan." (Feiren)


"Cih! Dasar Juvis!" (Hyci)


"Yahh, kita tidak punya pilihan lain menuruti syaratnya." (Juvis)


Juvis hanya bisa menundukkan kepalanya dengan rasa bersalahnya tak dapat memenangkan duel itu.


Aku menghampiri mereka, "yo, bagaimana? Sesuai syaratkan?"


Mereka membenarkannya.


"Baguslah, dahh."


Singkat dan pergi begitu saja, mereka kesal tak terima.


"Pergi begitu saja...!" Serentak mereka berlima.


Tapi, Zein lebih kesal pada sikap ku yang dingin tadi, bahkan sempat ingin melawan ku.


"Sial, dia itu yaa!!"


Tetapi Dys berhasil mencegahnya,


"Oi, Zein! Tahan dirimu!"


"Cih!!"


Mereka tidak punya pilihan lain memenuhi syarat yang sudah disepakati akan memperilaku adil dan membuka izin masuk pada Elivia.


Setelah itu, aku menghampiri Elivia. Dia terlihat takut mendekati ku bahkan menatapku saja tidak berani.


"J-jangan mendekat."


"Kau takut darah?"


"Tidak, aku hanya takut ketika kedua tangan ku membunuh orang."


"Lalu, mengapa kau menjauh?"


"Areez kejam."


"Itu sudah fakta bagi ku sebagai raja iblis."


"Aku percaya Areez adalah raja iblis, tapi-"


"Semua baik-baik saja, Elivia."


Mata Elivia terbuka kagum mendengar ku menyebut namanya hingga bibirnya tersenyum kecil nan lembut.


"Selamat..."


"Tidak, harusnya aku yang mengucapkan selamat untukmu karena kau telah diberi izin akan belajar di akademi Gyxcels."


"Aku benar-benar berterima kasih, Areez."


Sambil membungkukkan badannya dengan hormat dihadapan ku.


"Sebaiknya kau tidak perlu bertingkah pelayan untukku, bertingkahlah seperti teman."


"Baik."


"Aku mengembalikannya."


Sambil memberikan Egdizour milik Elivia kembali.


Elivia menerimanya dengan senang hati,


"Ini pertama kalinya aku melihat kau menggunakan kekuatan Egdizour sebenarnya, apa cukup menyenangkan?"


"Menurut ku Egdizour sangat nostaliga sekali."


Dengan wajah yang polos, Elivia sedikit miringkan kepalanya, "Nostaliga?"


Ku rasa dia tidak begitu mengerti apa yang ku katakan tadi.


"Bukan apa-apa."


Bahkan lega, Elivia tidak memikirkannya. Melainkan menyimpan pedang ciptaannya ke dalam aliran sihirnya, Erg.


"Kembalilah, Egdizour."


Begitu selelsai,Elivia tidak sengaja menangkap pedang kembar di genggaman ku.


"Bagaimana dengan pedang kembar itu?"


"Rencananya, aku ingin menempatkan mereka ke tempat yang layak."


Tiba-tiba aku teringat Elivia yang selalu membantu anak-anak menempatkannya di kastel Kesshou.


"Sebaiknya kau saja menyimpannya."


Sambil memberikannya.


"O-oh, baiklah."


Elivia menyimpan benda itu di aliran sihirnya. Aku yakin, dia akan menjaga mereka dan tidak hanya itu, juga menempatkan rumah yang layak. Secara tidak sadar, dia tidak mencurigai ku.


Ini sudah saatnya masuk ke kelas dan tentu saja aku mengajak Elivia tetap bersama ku.


"Kalau begitu, ayo masuk kelas."


Sambil mengulurkan tangan ku padanya.


"Baik, ayo."


Dengan senang hati, dia meraih lembut tangan ku.


••••