
.
.
.
The Irregular Devil Of Academy Gyxcels
Vol 1 - Akademi Gyxcels
BAB 1 : Tes masuk
chapter 04 : akademi
Satu minggu kemudian . . .
Hari yang ku tunggu-tunggu memulai tes masuk akademi Gyxcels. Sebenarnya, orang tua ku sangat terkejut mendengar ku akan masuk akademi tersebut. Yahh, mereka khawatir karena usia ku baru saja sebulan.
"Hmm..sebulan kah?"
Tapi menurut ku, usia ku bisa dibilang 2000 tahun. Yahh, karena berada di tubuh manusia. Wajarlah mereka mengatakan usia ku baru sebulan, biar bagaimana pun itu usia manusia hanyalah terbatas. Tidak seperti iblis yang tak akan berakhir kecuali kamu menghabisi tubuhmu sendiri.
Aku sudah bersiap-siap berangkat, dengan kaos hitam dan berjas putih, serta celana panjang warna hitam membuat penampilan ku agak aneh. Tapi...
Seperti biasanya,😑😑
Ibu ku terlebih dahulu memuji ku, tapi pujian ini sangat berlebihan, hingga wajah keimutannya keliatan.
"Kyaaaa!! Rez-chan sangat tampan, pasti banyak cewe-cewe terpesona dengan ketampananmu, iya kan, papa..!"
Bahkan ayah ku ikut mendukung ibu ku dengan gaya pose aneh dihadapan dicermin.
"Itu benar, lihatlah ayahmu ini sangatlah tampan dan itu artinya ketampanan ini pasti diturunkan pada anaknya yaitu Rez-kun."
Aku harus biasakan seperti ini.
"Ehrmm, ayah...ibu? Aku harus berangkat."
Biar cepat berakhir, aku mengalihkan untuk pamit pada mereka. Dan lagi,
"Biarkan kami ikut mengantarmu...!"
Yahhh, keduanya kompak ingin mengantar ku sambil mendekatkan wajah mereka ke hadapan ku. Aku sedikit terkejut. Biar bagaimana pun, tolong jangan pasang wajah bujukan itu. Soalnya wajah mereka sangat...
Imut 😍😍
Ya ampun aku menyerah sambil menghela nafas panjang.
Kemudian, bibir ku tersenyum.
"Baiklah, tapi sampai depan gerbang saja ya?" (Areez)
"Oke."
Meski merepotkan, tapi hal ini menyadarkan ku bahwa memiliki orang tua itu sangat berarti dalam hidup ku. Tanpa mereka, kalian pasti merasakan betapa sedihnya tak dapat merasakan kasih sayang mereka terhadap anaknya.
Lupakan ini, aku akan segera berangkat ke Akademi dan...
Di antar sama orang tua, kayak anak SD dianterin ke sekolah. Dasar anak manja!
Itu karena mereka sangat khawatir pada anaknya baru berusia sebulan. Tapi, aku baik-baik saja loo.
Kami berjalan menuju ke depan gerbang Akademi. Beberapa anak-anak muda sudah hadir di sana. Tapi, ini membuat ku tidak percaya.
Aku mencoba memastikan dengan mata iblis ku, ternyata anak-anak muda itu memiliki darah campuran seperti ras hewan. Tidak ada memiliki darah iblis maupun dewa atau dewi diantara mereka. Kemana para keturunan ku?
Tunggu sebentar, ras hewan?
"Ibu, bisakah aku bertanya?" (Areez)
"Tentu, apa?" (Ibu ku)
"Bukankah tempat ini hanyalah milik ras iblis?"
"Itu benar, menurut sejarah Gyxcels bahwa raja iblis setuju jika perdamaian antar ras telah bersatu."
A-apa? Sejak kapan aku menyetujui kesepakatan pers.
Ini sungguh tidak mimpi bukan? Perdamaian antar ras telah bersatu, itu berarti “perdamaian campuran” kan?
"Bisa di bilang perdamaian campuran." Sahut ayah ku.
Aku menghentikan langkah ku layaknya terkejut, orang tua ku heran melihat wajah ku terdiam.
"Ada apa, Rez-chan?" Tanya ibu ku.
Aku menggelengkan kepala ku. "Tidak ada apa-apa."
"Sebentar lagi, akademinya akan terlihat." (Ibu ku)
Tidak mungkin, aku benar-benar tidak mempercayainya.
Perdamaian campuran? Bukankah itu sudah gawat? Ini sudah diluar dugaan ku dan penasaran, siapa yang membangun perdamaian campuran ini.
Hanya tinggal beberapa jarak lagi maka aku akan berdiri di hadapan gerbang Gyxcels.
"Kami hanya mengantarmu sampai di sini saja."
Alasan mereka mengantar ku sampai jembatan menuju Gyxcels adalah tidak diberi izin orang tua/wali masuk. Cukup di jembatan saja agar tidak terjadi semak tak beraturan atau pertikaian satu sama lain.
Aku mengerti hal itu,
"Baiklah..."
"Jangan lupa semangat, anak tampan.."
"Iya-iya."
"Semoga berhasil Rez-chan."
Sangat wajar, mereka menyemangati ku. Karena mereka sangat menyayangi anaknya maka dari itu aku harus lolos dari tes ini.
Aku meninggalkan mereka, namun tak lama kemudian, kedua telinga ku sedikit terganggu bahkan terdengar berisik mendengar teriakan semangat dari orang tua ku tiada akhirnya.
"Se..ma..ngat..Rez-channn!!!" (Ibu ku)
"Kau pasti bisa Rez-kuunnn!!" (Ayah ku)
Aku merasa harga diri ku sebagai raja iblis telah dijatuh kan.
"Ya ampun mereka itu ya, sangat bersemangat." (Areez)
Walaupun cukup menganggu ku, tapi lama-kelamaan aku cukup senang akan hal itu.
Tapi, setelah itu mata ku tertuju pada sosok gadis berpirang kuning tampak mengendap-endap perhatikan di sekelilingnya.
"Yo, sedang apa kau di sini?"
Aku menyapanya, tapi yang terjadi malah tak terduga.
Gadis itu terkejut, "Kyaaaa..!..a-aaduhhh!"
Orang yang ditabrak tadi adalah sosok berjubah putih. Bukankah aku pernah bertemu dengannya?
Si pirang kuning kesal dan protes pada orang itu.
"Oi..! Liat jalan dengan be-...huh!"
Tapi setelah itu, matanya terbuka kaget melihat si jubah putih dihadapannya.
Aku ikut terkejut karena akhirnya jubah yang menutup kepalanya itu terbuka dan menampakkan wajah pucatnya.
Ku rasa mata kedua gadis ini bertemu hingga tampak tegang satu sama lain. Itu hanya sebentar saja, si pirang kuning itu melarikan diri. Sementara si jubah putih itu hanya terdiam.
Ada sesuatu terjadi diantara mereka, bahkan mata iblis ku sadar bahwa disalah satu diantara mereka sedang haus darah.
Lupakan saja, saat ini aku hanya perlu mengulurkan tangan ku padanya untuk membantunya berdiri kembali.
"Kau baik-baik saja?" (Areez)
Matanya terpaku menatap mata ku meski itu sekejap. Tapi dia merasa ragu menggapai tangan ku. Namun, aku menarik tangannya dengan lembut.
"Aa..uhmm, a-aku baik-baik saja."
"...t-terima kasih."
Rambut hitam berantakan, mata coklat menghitam polos dan wajah cantik tapi layaknya wajah itu mirip dengan boneka, tubuhnya mungil tapi ramping dan anggun. Ciri-ciri gadis itu mengingatkan ku pada permaisuri ku.
Apa ini kebetulan saja? Dia sangat mirip. Tidak, ku rasa zaman ini tidak mungkin ada yang mirip dengannya.
Kemudian, kami berjalan bersama masuk ke akademi sambil perkenalan diri. Walaupun ada jeda keheningan sejenak. Ternyata gadis di samping ku agak pendiam dan wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Nama ku Areez." (Areez)
"Areez? Areez Zacdigourde, bukan?" tebaknya.
Aku sedikit bahagia ada yang tau nama ku. Apa karena nama raja iblis dikenang oleh para keturunan ku?
"Kau tau nama ku?"
"Raja iblis yang hilang."
Meski terdengar singkat, itu membuat ku heran dengan ucapannya yang polos. “raja iblis yang hilang” apa maksudnya itu?
"Hm?"
"Aku..Elivia,..Elivia Lyze."
Elivia? Namanya terdengar sama, mungkin banyak orang menggunakan nama itu kan?
Melihat bangunan indah kastil Gyxcels membuat bernostaliga tentang diriku yang berusaha membangunkan kastil hanya karena ingin memimpin ras iblis Zoku yang lemah. Tak disangka aku dipilih sebagai raja iblis pertama, tapi semua yang ku lakukan hingga saat itu adalah berkat permaisuri ku.
Saat menuju masuk, sesuatu muncul entah datangnya dari mana, tapi cahaya merah itu sangat cepat mengkilat ke arah kami. Lebih tepatnya arah mata iblis ku.
Saat mencoba mengambil benda itu, aku terdiam sejenak melihat Elivia di samping ku terlebih dahulu mengambilnya dengan sekali genggam.
Bukankah benda itu terlalu sulit mengambilnya?
Bagi ku itu terlalu mudah.
"Pedang?" (Areez)
"Tingkat sihir apinya sangat lemah." (Elivia)
Apa katamu, sangat lemah? Siapa yang memiliki pedang selemah itu? Jika aku memiliki bawahan pedang lemah seperti itu maka aku akan melemparnya ke jurang agar dia belajar menghadapi rasa takut.
"H-hei kembalikan pedang ku!"
Akhirnya pemilik pedang itu menampakkan wajahnya dihadapan kami. Sosok pria berpirang merah berkulit hitam sawo, dari pandangan ku dia punya sifat sembrono berlebihan.
"Namanya Zyper Ricth, pria di juluki si gagak merah dan tidak hanya itu dia bangsa Zoku nobleza yang akan jadi musuh pertama di tes masuk nanti." (Elivia)
Ternyata Elivia tahu beberapa hal, lumayan juga untuk meringankan kepala ku tanpa harus mencari kebenaran sendiri.
"Hmm...begitu ya, tapi dari pedangnya saja sangat lemah bahkan sangat tidak cocok jadi musuh di tes nanti." (Areez)
"Jangan berlebihan." (Elivia)
Sambil memberikan pedang itu kepada ku.
"Aku tidak berlebihan kok."
Begitu digenggaman ku, aku melempar pedangnya kembali ke arah Zyper. Tapi, lemparan itu sangat kuat dan cepat hingga nyaris saja pedang itu menusuk kepalanya. Untung benda itu tersangkut tembok di ujung rambutnya.
Padahal aku melemparnya dengan lembut, tak di sangka sangat cepat seperti ini.
Mata Zyper terbuka kaget.
"Biar ku peringatkan bahwa pria dijuluki gagak merah seperti mu sangatlah tidak cocok menjadi lawan ku." (Areez)
"Cara bicara mu sangat tidak sopan pada zoku nobleza" (Zyper)
"zoku nobleza kah?"
"bangsa kuat."(Elivia)
Zyper mengambil pedangnya. Tapi pada saat ia mencabut pedangnya di tembok itu. Tampaknya ia kesulitan.
"Gghrhh..!" (Zyper)
"Kau kesulitan ya? Mau ku bantu?" (Areez)
"Jangan sok baik, aku juga bisa melakukannya sendiri...!"
Bahkan mustahil mencabutnya dengan semudah itu.
"Benarkah? Kalau begitu aku duluan ya.."
Aku dan Elivia tidak akan menganggunya lagi melainkan membiarkan pria itu mati-matian mencabut pedangnya sendiri. Itu lebih baik balasan untuknya akibat sifat kebenciannya sangatlah menjijikan.
Dan aku tidak pernah punya bawahan atau ras ku memiliki sifat sejahat itu.
Zyper tidak menyerah dan berteriak kesal akan membalasnya.
"Cihh, kau...! Tunggu pembalasan ku nanti..!"
Tentu saja aku santai dan menunggu balasan Zyper.
"Akan ku tunggu..!" Teriak ku santai.
•••
GIMANA PENDAPAT KALIAN CHAPTER HARI INI?
ADA YANG BERPENDAPAT ATAU BERTANYA?
SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK KALIAN.
JANGAN LUPA VOTENYA, LIKE DAN RATE SECUKUPNYA.
TERIMA KASIH DAN DI TUNGGU CHAPTER BERIKUTNYA MINGGU DEPAN.