
.
.
.
Vol 1 - Akademi Gyxcels
Bab 1 : tes masuk
Chapter 07 - Identitas
"Aku tidak suka mengkhianati dan dikhianati."
Aku mengerti arti ucapan Elivia barusan. Aku juga merasa jijik jika dikhianati apalagi mengkhianati orang baik. Ketika Elivia sudah pergi dengan , rasa curiga campur kekhawatiran ku memutuskan akan mengikutinya diam-diam.
Aku telah menemukan Elivia tampaknya berada di sekitar perumahan Mezcla, Elivia tidak menyadari kehadiran ku baik itu merasakannya. Dia hanya fokus berlari endap-endap. Sebenarnya apa yang dia lakukan malam-malam begini?
Langkahnya berhenti menatap beberapa orang mengenakan seragam baja dengan perisai dan pedangnya itu sedang berkeliling. Ku rasa mereka adalah prajurit kerajaan Gyxcels, dari penampilannya saja mudah di tebak. Sepertinya mereka keliling dengan memeriksa sesuatu di beberapa rumah, tapi apa?
"Aku harus cepat." (Elivia)
Wajah yang dipenuhi rasa khawatir dan tekad yang kuat seolah dia harus cepat menyelesaikan sesuatu. Para prajurit tampaknya mulai istirahat dan saat itulah kesempatan Elivia pergi ke salah satu rumah.
Aku tidak tinggal diam dan akan mengikutinya sampai aku menemukan jawaban apa yang sebenarnya Elivia lakukannya.
Di salah satu rumah dengan perabotan mewah nan rapi seperti rumah ku, sosok Elivia terlihat didepan sambil mengetuk pintu.
Sebelum pintu itu terbuka, dia mengambil sesuatu dari sihir ciptaanya.
Dia menciptakan topeng, kemudian menutupi ke wajahnya. Bahkan baru tau, dia ahli dalam sihir penciptaan. Ketika pintu itu terbuka, sosok orang tua itu mulai terlihat dan tiga anak ras hewan campuran bersamanya, yaitu satu bayi laki-laki dan dua anak usia 3 dan 4 tahun laki-laki dan perempuan.
"Aku tidak punya banyak waktu." (Elivia)
"Aku mengerti, tapi..kami mengandalkan mu, nak."
Mereka menyerahkan ketiga anaknya pada Elivia. Tapi, dua anak itu ketakutan, Elivia menenangkannya dengan nada lembutnya.
"Baik, ayo kemarilah bersama ku."
"I-ibu aku takut..."
Meskipun mereka bersama Elivia, tetap saja rasa takut anak-anak itu jauh lebih kuat. Orang tuanya berusaha menenangkannya.
"Tenang saja, gadis ini akan mengamankan mu."
Sambil menyerahkan bayi mereka ke tangan Elivia.
"B-benarkah?" Sahut salah satu anak itu.
Ayahnya membenarkannya. "Kami akan menemuimu besok."
"Mereka akan segera datang." (Elivia)
Itu benar, tampaknya para prajurit sudah mulai bergerak.
"Kalau begitu hati-hati ya."
Orang tua itu berharap Elivia menepati janjinya akan mengabulkan harapan mereka yaitu melindungi anak-anaknya sampai ke tempat aman.
"Ya, kalau begitu aku pergi.. Ayo pegangan tangan."
Dua anak itu merangkul lengan Elivia penuh erat, kemudian menghilang dengan . Jujur, aku tidak tau tujuan Elivia itu kemana. Tapi, berkat bekas sihirnya mampu meninggalkan aroma parfumnya hingga aku tau tempat tujuannya.
Sebelum aku pergi, para prajurit itu sudah terlihat.
"Oh, bukankan itu Kyze?"
Aku melihat sosok Kyze yang ternyata memimpin para prajuritnya. Dia adalah salah satu bawahan kaisar tertinggi Gyxcels, kata Elivia.
Mereka datang ke rumah satu-persatu dengan cara kasar seperti menerobos masuk, membentak dan meninggikan suaranya. Orang tua tadi ketakutan akan kedatangannya,
"Oi, apa kalian punya anak?!"
"Ti-tidak...k-kami tidak punya anak."
"Aaahh! Jangan berbohong! Kalian menyembunyikannya, bukan?"
"Tidak, kami tidak berbohong...k-kami benar-benar tidak punya anak."
"Aaghh, dasar!..
...Jika ku temukan kalian itu sedang berbohong maka bersiaplah kepala kalian dipenggal, camkan itu!"
Mereka meninggalkan tempat itu, apa setiap malam mereka mencari anak-anak? Jadi, perkataan ibu ku benar. Mereka hanya mencari anak campuran baru lahir kemudian membunuhnya. Tapi, bukankah perbuatan itu sudah melewati batas? Itu berarti ada alasan lain Elivia mengamankan anak-anak.
°°°°
Elivia bersama anak-anak sudah berada di suatu tempat, sebuah kastil biru terlihat dengan tanaman mawar biru indah menyitari tempat itu dan tak rumah-rumahan dari jarak jauh baik itu dekat. Tempat itu adalah kastil Kesshou.
Kastil Kessho yang dibangunkan sihir penciptaan oleh pemaisuri Evol. Tempat yang sangat dirahasiakan dari dunia ini. Ku rasa tempat ini sangat cocok mengamankan anak-anak yang tak berdosa itu.
"Kenapa?" Tanya salah satu anak di samping Elivia.
"Karena mereka tidak ingin lahirnya sang Queen."
"Q-queen?"
"Queen adalah manusia yang menerima kekuatan besar dari 5 ras, dan sangat dibenci oleh mereka baik itu dunia karena Queen hanyalah boneka rusak."
"Boneka rusak."
"Benar, tapi semua itu tidak benar. Queen itu adalah penyelamat."
"Kalau begitu kapan Queen datang menyelamatkan kami?"
"Kita tidak tau kapan Queen bangkit, tapi tenang saja raja iblis yang hilang telah datang. Aku yakin, dia akan datang menyempurnakan kedamaian dunia ini."
"B-benarkah?"
Dia membawa mereka masuk ke kastil dan disambuti dua orang wanita mengenakan gaun mini peri menghampirinya.
Dua wanita itu memiliki wajah yang sama dengan Elivia, apa keduanya adalah klonnya? Ku rasa begitu.
"Vina, Lina? Tolong jaga mereka dengan baik." (Elivia)
Sambil menyerahkan ketiga anak kepada Lina dan Vina.
"Iya, kami akan menjalankan sesuai dengan perintah anda. Apa tidak ada yang mencurigai hal ini?" (Lina)
"Selama bibir ini tertutup maka tak ada hal yang perlu dikhawatirkan." (Elivia)
"Kami mengerti." (Vina)
Dengan cepat, Elivia ingin segera pergi.
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
Keduanya khawatir dan meminta Elivia sebaiknya menginap karena kastil itu rumahnya.
"Anda tidak tinggal?" (Vina)
"Tidak, aku sudah membangun rumah yang layak untukku." (Elivia)
"Baguslah, bagaimana tesnya tadi?" (Lina)
"Aku lulus." Singkat Elivia.
Mereka tersenyum senanv mendengarnya, "Syukurlah, selamat ya."
Elivia membalasnya dengan membungkukkan badannya. "Ya, terima kasih."
Dia akan segera pergi setelah memasangkan perisai kuat agar mencegah orang jahat masuk.
Dia berdiam diri sejenak merasakan hawa angin lembut sedang meniupnya. Kemudian menghilangkan topeng dari wajahnya.
Tak lama itu, dia menyadari kehadiran seseorang sedang mendekat. Itu aku, bukan? Lagi pula aku sedang dalam persembunyian agar tidak ketahuan.
Elivia meninggalkan tempat itu dan kembali ke tengah perumahan. Tetapi, sambutan dingin oleh Avis membuat Elivia tampak berwaspada.
"Avis.."
"Kapan kembali?"
"Aku menolak kembali."
"Kau harus berhutang budi pada keluarga Lyzer telah menjagamu."
Tanpaknya Elivia tidak tertarik mendengar “Lyzer” di telinganya. Ia menegaskan menolak kembali.
"Jangan memaksa ku kembali."
"Apa harus memaksamu dengan cara kasar?"
Avis sudah siap menodongkan tongkatnya menyerang Elivia. Namun, wajah Elivia yang datar itu sudah terlebih dahulu mengancamnya dengan sihir es nya menyelimuti di sekitar Avis.
"Jika kau melakukannya, maka aku akan membalasnya seperti yang ku lakukan di tes tadi."
Avis terdiam dan menyerah, bahkan nyaris tubuhnya ikut dibeku kan. Untungnya Elivia tidak berniat membunuhnya.
Suasana membaik kembali, Elivia mengubah topik pembahasan.
"Apa ada informasi?"
"Tentu, ada tiga informasi dari kerajaan Gyxcels. Yang pertama Merl-sama memerintahkan salah satu penyihir api kehancuran menjalankan identitasnya sebagai murid akademi."
"Apa ini berhubungan dengan pembunuhan?" Tebak Elivia.
Avis menganggukkan dengan benar,
"Tepat sekali, yang kedua, mendengar kau masuk akademi, mereka akan berencana akan membuatmu menderita."
"Lalu yang ketiga?"
"Lahirnya sang Queen, yang mulia telah menerima kabar dari bola kehidupannya dan mengatakan keberadaan Queen akan segera bangkit di tubuh salah satu murid Mezcla."
Mata Elivia sedikit menunduk berpikir sambil bergumam.
"Salah satu murid Mezcla, ya?"
Bibirnya sedikit tersenyum tipis setelah mendengar informasi dari Avis. Itu cukup membuatnya tertarik.
"Informasi menarik."
Avis membuang nafas kesal, lalu protes. Bagi Elivia, Avis sedang menahan diri mempedulikannya.
"Meskipun aku adalah anggota bawahan kaisar, bagaimana pun itu aku tetap mempedulikanmu. Aku juga tidak meminta mu kembali, hanya saja menjalankan perintah Kaisar dan Lyzer."
Elivia juga senang mendengarnya. "Terima kasih."
Sambil menundukkan kepalanya dengan sopan.
"Aku sarankan, berhati-hatilah karena dimanapun kau berada mereka akan menganggap kau adalah musuh."
"Baik."
Bahkan menganggap Avis seperti kakak tertuanya.
"Ooya, kau ingat dengan pria di tes tadi." (Avis)
"Areez Zacdigourde?" Tebak Elivia.
"Benar, ku rasa yang mulia tertarik dengan kekuatannya. Yang perlu kau lakukan hanyalah melindunginya karena firasat ku mengatakan Areez Zacdigourde adalah target utama Kerajaan Gyxcels."
Avis pamit meninggalkan Elivia, malam ini benar-benar pembahasan panjang. Aku tidak menyangka mendapat informasi dari Elivia dan Avis. Bahkan penasaran wajah yang mulia sempat mereka bicarakan.
Rasanya ingin segera terjun ke tempat tidur ku.
"Hooaaamm..."
Aku menyerah dan akan kembali ke rumah. Saat keputusan ku sudah bulat, Elivia menyadari kehadiran ku. Tapi...
"Aku tidak tau siapa di sana, tapi...aku yakin kau dari tadi mengikuti ku, bukan?" (Elivia)
Itu membuat ku terkejut, akhirnya dia menyadari ku. Beruntungnya, dia tidak tau kalau aku, Areez. Aku memilih tidak memperlihatkan diri sambil berdiam diri dibelakang tembok.
"Aku sarankan sebaiknya tutup mulut, aku tidak ingin sesiapa pun tau identitas ku." (Elivia)
"Kenapa?" (Areez)
"Mahluk seperti ku hanyalah sampah, jika identitasku diketahui orang-orang itu maka aku akan dibunuh." (Elivi
"Baiklah, akan ku tutup mulutku." (Areez)
"Ku rasa kau adalah orang baik, terima kasih." (Elivia)
Sedetik berlalu, aku tidak mendengar suaranya. Apa dia sudah pergi? Aku memastikan dengan melihat diam-diam. Ternyata....
Dia benar-benar sudah pergi.
°° °°
Di hari berikutnya, pagi-pagi sekali sosok Melis terlihat dihalaman rumah ku. Kebetulan, aku yang menyambutnya di luar.
"Maaf mengganggumu, Areez..."
"Ada apa?"
"Tugas mengantar seragam murid Mezcla, ini untukmu..."
Sambil memberikan seragam lengkap ke tangan ku seperti, baju, jas, celana, sepatu dan lambang murid baru.
"Terima kasih.."
"Kalau begitu pergi dulu."
Terasa singkat begitu saja, aku coba memastikan dengan menanyakan sesuatu padanya.
"Tunggu?"
Untungnya dia mendengarkan ku sambil membalikkan badannya menatap ku.
"Hm?"
"Bolehkah aku bertanya sesuatu berhubungan dengan Elivia Lyze?" (Areez)
"Apa itu berarti kau ingin tau identitasnya?" (Melis)
"Bisa dibilang begitu..." (Areez)
Bibir Melis tersenyum lembut menatap ku lagi,
"Sayang sekali, aku sama sekali tidak mengetahuinya. Tapi, yang perlu kau lakukan adalah menyelamatkannya."
"Aku tidak tau apa yang dialaminya, tapi setidaknya selamatkan dia."
"Apa ini permintaanmu?"
Aku sedikit curiga kalau ini adalah permintaan dari Melis agar aku bisa membantunya dengan menyelamatkan Elivia.
Tetapi, wajah Melis tampak biasa dengan melebarkan senyumnya itu berusaha kalau itu bukan permintaannya.
"Tidak juga, ini tugasmu sebagai lelaki tampan."
Intinya dia tidak perlu menahan diri, jika itu permintaanmu. Dasar!
Pembicaraan itu berakhir ketika nada ibu ku memanggil ku, Melis pergi dan aku masuk kembali. Waktu telah cepat berlalu, aku mengenakan seragam Gyxcels.
Baju putih punya dasi biru, jas lembut abu-abu, celana biru navy panjang menutupi betis ku dan sepatu putih cantik nan polos melengkapi penampilan ku.
Seperti biasanya, orang tua ku memuji ku.
"Rez-chan tampan ya."
"O-oh, benarkah?"
"Pasti Elivia-chan mengatakan “Areez..keren” iya kan?"
Wajahku jadi pahit menyadari akting ayahku juga gak kalah sama dengan menirukan gaya bicara Elivia, sangat mirip bahkan nadanya.
Ya ampun, bagaimana bisa orang tua ku bisa punya bakat menirukan suara orang. Benar-benar ya..
"Darimana ayah belajar dari nada itu?!"
"Kyaa...papa makin keren ya."
"Hehehhehe...benar kan? Ayah itu keren juga loo."
Setelah itu kami sarapan, juga tak lupa sup kari jamur sudah jadi makanan terenak di keluarga ku.
"Aku berangkat dulu, ibu, ayah."
"Hati-hati, Rez-kun."
"Dan semangat ya, Rez-chan."
°°°°
Setiba di akademi, murid Gyxcels tampaknya sudah ramai. Seragam mereka sempat dibuat kaget oleh ku, ternyata ada perbedaan warna dan bentuk seragam mereka.
"Apa mereka membedakan antara murid Mezcla dan Nobleza?"
Kalau diperhatikan lagi, ku rasa tebakan ku benar.
Seragam Nobleza tak kalah cantik dari seragam Mezcla, jas cokelat sementara wanita berjas bentuk jaket mini, berbaju merah maron, celana dan rok hitam, juga sepatu hitam dan lambang yang berbeda-beda.
Wanita seragam Mezcla sama dengan Nobleza kecuali perbedaan warna, lambang, bentuk dan jenis kain.
Mataku sedikit tertangkap sosok Elivia terlihat berdiam diri didepan gerbang. Wajahnya yang terukir hampa kekosongan layaknya boneka. Aku menghampirinya dengan menyapa hangat padanya.
"Selamat pagi, Elivia."
"Selamat pagi juga, Areez keren dengan seragam itu."
"Kau juga terlihat cantik dengan seragam putih biru."
Elivia sedikit malu mendengar pujian ku, apa pujian ini berlebihan?
"Terima kasih."
"Oiya, sedang apa kau berdiri di sini? Kau tidak masuk?" (Areez)
"Tidak diizinkan." (Elivia)
"Apa maksudmu?"
Bibir Elivia terlihat kaku menjawabnya, melihat tatapan ku serius padanya itu makin membuat Elivia mengunci bibirnya.
Dia hanya menatapku tanpa jawaban. Sosok Melis juga muncul menghampiri kami.
"Maaf, Elivia...anda tidak diizinkan masuk, tolong segera angkat kaki dari sini."
Aku menahan langkah Eliva pergi, kemudian bertanya pada Melis alasan Elivia tidak diizinkan masuk.
"Kebetulan sekali, aku ingin bertanya padamu alasan mengapa Elivia tidak diizinkan masuk? Bukankah dia juga lulus?" (Areez)
Dengan santai, Melis menjawabnya.
"Yapp tepat sekali, sayangnya pihak akademi tidak mengizinkannya masuk karena tidak berhak menerima murid rusak sepertinya."
Lagi-lagi aku sedikit terkejut mendengar Elivia dipandang benci.
"Murid rusak?"
Tanpa berpikir panjang, akan ku hadapi dengan pihak akademi yang sudah berani menolak Elivia masuk. Padahal Elivia sudah berusaha lulus dari tes, jangan seenaknya mereka membulatkan keputusan sendiiri.
"Bisakah kau membawa ku dan Elivia ke hadapan pihak akademi?" (Areez)
Elivia terkejut dan khawatir pada ku.
"Kau serius?" (Melis)
"Bukankah wajahku ini sudah terlihat serius?" (Areez)
Tangan kecil Elivia menarik lengan baju ku,
"Areez, jangan nekat."
Wajah yang dipenuhi rasa takut bercampur sedih dan khawatir, sampai dia berusaha tegar dengan sifat polosnya dan baik itu diwajahnya.
"Aku tidak bisa membiarkan teman sepertimu tidak diizinkan masuk."
"Aku tidak apa-apa."
"Biar bagaimanapun kau berhak masuk dan belajar di tempat ini."
"Tapi, Areez.."
Mata Elivia terbuka kaget melihat aku menatapnya dengan tersenyum padanya.
"Tenang saja, aku ini Areez loo."
Elivia sedikit tersenyum, meskipun dia berusaha keras menolak bantuan ku, tapi tetap saja hati dan pikiran ku jadi tidak tenang membiarkannya.
"Sekarang aku akan membawa kalian menemui pihak akademi."
Melis segera mengantar kami ke ruang pihak akademi. Bahkan sempat membuaf ku tidak percaya pihak akademi sangat berkuasa di kastil ku.
Aku penasaran, siapa saja pihak akademi itu.
"Ini ruangannya."
Melis menunjukkan ruangannya dan mempersilahkan kami masuk.
"Ruang rapat?" (Areez)
"Mereka mengadakan rapat" (Melis)
Entah mengapa bibirku jadi tersenyum jahat, "Mereka ya?"
Setelah itu, Melis pamit, "Kalau begitu, permisi...
Kemudian membisikan sesuatu ke telinga ku.
...Dan hati-hatilah mereka sensitif dengan murid Mezcla."
Lalu pergi.
"Aku tau itu."
Elivia disamping ku terlihat khawatir berat.
"Kau sudah sejauh ini membantu ku."
Ku ulurkan tangan ku padanya, dia cepat meraihnya. Tangannya gemetaran, aku menatapnya sekali lagi.
"Serahkan saja padaku."
°° °°
Yosh-yosh, terima kasih sudah membacanya😌🙏