The Irregular Devil Of Academy Gyxcels

The Irregular Devil Of Academy Gyxcels
Dua Bangsa berbeda



.


.


.


The Irregular Devil Of Academy Gyxcels


Vol 1 - Akademi Gyxcels


BAB 1 : tes masuk


chapter 05 : Dua bangsa berbeda


.


.


.


Setiap siswa maupun siswi masuk tes akademi akan mengisi formulir terlebih dahulu. Asalkan diikuti tiga aturan dalam tes masuk. Dan salah satunya adalah aku, saat masuk kemudian disambuti oleh sosok wanita anggun dengan sayap gagak hitam dipunggungnya.


"Selamat datang calon murid baru di akademi Gyxcels, nama ku Melis ras gagak dari bangsa Nobleza, sebelum masuk tolong isi formulir di sini." (Melis)


Sambil memberikan kertas formulir pada ku, aku meraihnya kemudian memperhatikannya sejenak.


Aku bergumam, "Aku tidak pernah melihat surat seperti ini di era ku."


Meski tidak pernah melihat kertas aneh di zaman ini, alangkah baiknya ku isi saja kan? Setelah itu, Melis menjelaskan tiga aturan dalam tes masuk.


"Ada tiga aturan dalam tes masuk, pertama tidak ada bermain curang, kedua tidak ada pembunuhan dan yang ketiga tidak ada pengguna racun dalam sihir pertarungan."


"Jika melanggar dari tiga aturan maka akan diskualifikasikan dari tes masuk. Tidak hanya itu, juga ditolak masuk akademi."


Kemudian, Melis meminta ku pilih salah satu angka tersedia di papan sampingnya.


"Silahkan ambil angka yang kau pilih, jika angka itu sudah ditentu kan oleh mu maka kau akan menemukan yang akan jadi satu pasangan denganmu saat tes pertarungan nanti."


"Pasangan? Lagi pula aku bisa melakukannya sendiri." (Areez)


"Tidak bisa seperti itu, ini sudah jadi aturan sejarah dalam tes akademi." (Melis)


Aku mengerutkan kedua alis ku menatapnya, "Aturan sejarah?"


"Benar, ayo ambil angkanya." (Melis)


"Baiklah."


Dengan santai, Melis menyemangati ku dengan melebarkan senyumannya. "Semoga berhasil."


Sebenarnya siapa yang membangunkan aturan seperti ini, aturan sejarah dalam tes akadami? Aku benar-benar heran dengan zaman ini, tapi ini membuat ku sedikit terkejut bercampur penasaran lebih lanjut.


Angka yang ku pilih adalah 9, aku berjalan menuju ke tengah aula mencari pasangan yang akan menjadi sekutu ku dalam tes nanti. Namun, aula ini dipenuhi orang-orang asing. Terlihat semuanya mulai menemukan sekutunya.


Aku penasaran, siapa yang memiliki angka yang sama dengan ku? Aku hanya diam mematung di sana dan menunggu pemilik angka 9 mencari sekutunya.


Satu menit berlalu...


Dua menit...


Dan tiga menit kemudian, seseorang tak sengaja menabrak ku. Hidup ku benar-benar tidak beruntung, ini kedua kalinya aku meneima tabrakan. Tapi untungnya ini tidak terlalu kuat.


"M-maafkan a-aku..-"


Suara itu, sangat familiar. Aku membalikkan badan ku dan ternyata itu Elivia. Tapi kali ini, dia membuka jubah yang sempat menutupinya. kaos putis berjas putih dengan rok pendek putih menampilkan dirinya terlihat cantik dan sempurna.


"Perhatikan langkahmu dengan baik." Tegur ku.


Aku menasehatinya. Namun, bagi Elivia kata ku tadi merupakan kata yang menyakitinya. Maka dari itu dia menundukkan kepalanya berkali-kala pada ku.


"U-uhmm, m-maafkan aku..a-aku bingung dengan angka ku sendiri." (Elivia)


Tingkahnya sangat mengherankan ku, tapi aku tidak terlalu memikirkannya.


"Kenapa kau harus bingung? Bukankah kau yang memilihnya?" (Areez)


Elivia menatap ku, "I-iya, tapi tidak ada satupun memiliki angka yang sama dengan ku."


"Memangnya berapa angka mu yang kau pilih?" (Areez)


"Sembilan." Sambil menunjukkan angkanya di hadapan ku.


Aku bahkan tidak menyangka kalau angka itu.. "Hah?"


Rasanya aku ingin tertawa, selama ini aku menunggu pemilik angka itu datang pada ku. Dan ternyata benar-benar tak terduga kalau Elivia sekutu ku dalam tes nanti.


"Kenapa?"


Elivia memiringkan kepalanya menatapku.


"Lihat ini..." (Areez)


"..mmm?..." (Elivia)


Aku memperlihatkan angka ku padanya. Tak lama kemudian, dia menutup setengah wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ku rasa dia menyembunyikan rasa malunya. Setelah itu, dia membungkukkan badannya ke hadapan ku.


"Kalau begitu, mohon kerjasamanya." (Elivia)


"Mohon kerjasamanya juga." Balas ku.


Setelah menemukan pasangan sekutu masing-masing. Para calon murid baru telah berkumpul dan berbaris untuk mempersiapkan diri tes pertempuran.


Aku dan Elivia berada di garis belakang, tentu saja kami bagian akhir.


"Yossh, sebutkan nama kalian."


Itu Melis yang akan membimbing tesnya.


"Areez Zacdigourde."


"Elivia Lyze."


Kemudian, Melis membuka sihir berbentuk lingkaran tepat dihadapan ku dan Elivia.


Aku mengenal sihir itu, sihir berbentuk lingkaran dipenuhi corak tulisan berdarah itu adalah sihir pindah ruang.



Dan salah satu sihir ciptaan ku.


"Oke, silakan berdiri di tengah lingkaran ini." Perintah Melis.


"Baik."


Dengan berdiri di tengah lingkaran maka kamu akan berpindah ke tempat lain, bisa dibilang telepotasi.


Begitu sudah tiba, aku dan Eliva berada di salah satu dimensi yaitu dimensi pertempuran yang isinya cuman tanah merah kecoklatan dan langit merah. Tidak ada tempat berlindung atau tembok, yang harus kamu lakukan hanyalah menyelamatkan dan melindungi diri.


"Areez, lihat."


Elivia menunjukkan sesuatu di atas, aku melihatnya. Lingkaran bunga sihir dengan angka tertulis, itu sihir waktu.


"Dalam pertarungan ini, kita hanya memiliki waktu 15 menit, kah?" (Areez)


"Apa waktunya sangat pendek?" (Elivia)


"Tidak, justru waktu seperti ini sangatlah panjang. Bagi ku perlu 30 detik sampai 1 menit mengalahkan musuh, terutama musuhmu sangat lemah."


Mata Elivia terahlikan pada orang-orang yang akhirnya sudah mulai menampakkan diri.


"Mereka datang." (Elivia)


"Mereka?" (Areez)


"Kyze, Zyper dan Avis, mereka adalah sekumpulan gagak merah bangsa Nobleza, salah satu bawahan kaisar Gyxcels." (Elivia)


Aku sedikit curiga, bagaimana bisa dia setahu itu?


"Kau begitu mengetahui tentang mereka, apa kau salah satunya?"


Elivia terkejut dan sadar, "dari mata dewa ku."


"Mata dewa?" Gumam ku.


Setahu ku, tidak ada ras hewan, manusia dan iblis punya mata dewa apalagi sosok dewa maupun dewi. Yang memiliki mata dewa itu hanyalah sang ratu dunia.


"Fokus pertarungan." (Elivia)


"Maaf."


Ku pikir lawan kami hanyalah seorang saja, tidak menyangka kami harus berhadapan tiga pria dari bangsa Nobleza. Dan salah satunya, ada Zyper.


Aku meminta Elivia mengurus pria bernama Avis, namun itu belum tersampai padanya karena sungguh mengejutkan dia menghilang disamping ku.


"Eh? Dia menghilang? Cepatnya..😮😮" (Areez)


Beberapa detik setelah itu, sosok Elivia sudah terlihat dihadapan Avis. Aku heran, bahkan ucapan tadi belum tersampai padanya.


Dia membuat ku penasaran.


"Areez, ku serahkan dua orang itu padamu." (Elivia)


"Serahkan saja pada ku." (Areez)


Saat ini aku berhadapan dua sosok berdarah iblis Zoku Nobleza. Seperti biasanya, Zyper menyambut ku dengan tatapan mengejek.


"Yo, lama tak bertemu." Sapa ku.


"Cih, kau lagi!..tapi, ini kebetulan sekali." (Zyper)


"Kau mengenalnya?" (Kyze)


"Tidak, tadi pagi aku bertemu dengannya."


Aku tidak melihat pedang digenggamannya maupun dalam sihirnya. Apa dia gagal mencabutnya?


Ini kesempatan memanasinya, bukan?


"Kemana pedang mu? Apa kau berhasil mencabutnya?" (Areez)


Zyper sempat berwajah jenuh mendengarnya. "Cih! Bukan urusan mu."


"Hmm, jadi begitu.."


Bibir ku terangkat sinis, sepertinya memang benar Zyper tidak membawa pedang lemahnya itu.


"Jangan senang begitu, kau belum tau seberapa kuatnya sihir pertarungan kami." (Zyper)


"Jika diantara kalian ingin mengakhiri pertarungan, tolong katakan menyerah." (Melis)


Kyze dan Zyper menghilang dihadapan ku, ku rasa mereka menggunakan serangan sembunyi.


Beruntunglah mata iblis ini bersama ku, dengan menyadarinya. Aku membatalkan serangan sembunyi.



Keduanya menampakkam diri dengan wajah tak percaya bahwa sihirnya telah dibatalkan.


"Tidak mungkin!" (Kyze)


Kyze memanggil pedangnya, "keluarlah Zctos!"


Pedang indah diselimuti cahaya hitam menghiasnya agar terlihat sangat mengerikan. Bagi ku, benda itu hanyalah pedang mainan.


"Sekarang rasakanlah siksaan dari Zctos ku!"


Hanya menggerakan jari telunjukku ke arahnya, pedang itu sudah pecah terbelah. Kemudian melempar mereka dengan desahan nafas ku.


"Kalian hanyalah bangsa lemah dan sama sekali tidak pantas disebut bangsa kuat Nobleza." (Areez)


"Sial! Jangan remehkan bangsa Nobleza." (Zyper)


Mereka bangkit tak menyerah, aku tidak mau membuang waktu dan ingin segera mengakhirinya. Begitu mereka bangkit. Sebuah detakan kecil dari jantung ku mulai menghentikan pergerakan tubuh mereka.


"GARRGHH...AAGHH..a-apa y-yang t-terjadi?" (Zyper)


Perlahan-lahan mereka tampak kesakitan.


"Aagghhh! A-apa y-yang k-kau laku-kan, b-*******?!" (Kyze)


"Aku tidak melakukan apa-apa kok, tapi..kalian mendengarnya, bukan?" (Areez)


Dup..dup..dup..dup..dup..dup..


Detakan kecil mulai terdengar jelas hingga Zyper dan Kyze makin kesakitan. Semakin jelas dan kuat maka semakin sakit menerimanya maupun mendengarnya.


"Dari jantung ku." (Areez)


"A-a-ap..!?" Keduanya kaget.


adalah serangan inti organ tubuh orang-orang yang telah berani melawan ku. Aku pernah bilang, kan bahwa cara ku itu sangatlah kejam.


Kemudian, aku menambahkan rasa sakit mereka dengan memotong satu persatu tubuhnya.


Zyper panik kehilangan salah satu kakinya. Ia berteriak sekeras-kerasnya.


"AARRGGGHHHHHH...kaki ku!!"


Sementara Kyze menerima tusukan dahsyat dari anak panah ku mengenai mata kirinya.


"Ggaaaarrhhhhhh!!"


Mereka belum menyerah, maka aku akan menambahnya lagi dengan memotong kedua tangan Zyper. Dan Kyze kehilangan satu kaki dan tangannya.


Mereka teriak bersamaan. "GAAARRRGGGGHHHHH..!"


"H-hen..tik-kan..aaghhh!" (Zyper)


"Ku dengar para bawahan Gyxcels membasmi anak-anak, apa itu kalian?" (Areez)


"I-itu k-karena k-kami t-tidak ingin l-lahirnya Queen." (Kyze)


"Queen?" (Areez)


"Asal Queen itu ada di tubuh iblis campuran, m-maka kami tidak a-akan itu terjadi lahirnya sang Queen." (Zyper)


Apa yang dimaksud Queen adalah Evilia Evol Waigelo? Jika itu benar, mengapa mereka segitunya benci padanya? Ras ku sangat menyukai kelembutan hatinya, meski tanpa emosi. Tapi dia berusaha memahami orang di sekitarnya.


"Hmm..mau nambah lagi?" (Areez)


Sambil meraih sihir anak panah ku. Wajah mereka ketakutan gemetar dan terus menerus membujukku agar menghentikannya.


"T-tidak h-hentikan, k-kami m-mohon h-hentikan, k-kami menyerah." (Zyper)


Mendengar mereka menyerah, sihir waktu telah dijeda karena Elivia belum menyelesaikan gilirannya.



Sekali jentikan jari ku, aku telah melepaskan sesuatu, mau tau? Mata Zyper dan Kyze terbuka sadar.


"E-eh, a-apa yang terjadi? Bukannya t-tubuh ku..?" (Zyper)


Keduanya heran melihat tubuhnya tidak terjadi apa-apa. Dan mereka hanya duduk bingung, padahal sebelumnya mereka kesakitan menerima kekejaman ku.


"Apa yang kalian lakukan di situ, berdiam diri lalu teriak tidak masuk akal. Apa kaliam sedang bermimpi buruk?" (Areez)


Lagi-lagi mereka terkejut mendengar jawaban ku.


"A-apa? J-jangan bilang tadi itu...tadi itu-"(Kyze)


"Ilusi." (Areez)


Benar, sesuai aturan tes masuk akademi kalau tidak ada pembunuhan. Maka aku menggunakan sihir ilusi agar aku puas membuat mereka menerima kekejaman sang raja iblis.


"Tidak mungkin." (Zyper)


"Aku sudah bilang bukan, gagak merah seperti kalian sangat tidak pantas menjadi lawanan ku." (Areez)


Mulut mereka gagap dan sulit menarik kata-katanya kembali. Bibir ku sedikit terangkat, rasanya ingin tertawa besar melihat mereka menderita.


Benar-benar bangsa Nobleza tidak pantas dianggap tinggi.


"Jangan remehkan raja iblis seperti ku, Areez Zacdigourde!"


Sementara itu, Elivia masih berhadapan dengan Avis. Elivia hanya diam saja melihat Avis mengeluarkan tombaknya dan bersiap menyerang ke arahnya.


"Kenapa kau diam saja? Kau tidak bisa berbuat apa-apa ya?" (Avis)


Elivia tidak menanggapinya, dia hanya berdiri diam mematung di sana. Sebenarnya, apa yang dilakukannya?


Tombak Avis disinari api kegelapan itu akan menyerang ke arah Elivia, diam-diam Elivia mengangkat salah satu kakinya kemudian menghentak kakinya ke tanah dengan lembut.


Meski itu hentakan lembut, tapi gelombangnya mampu membuat Avis bersama tombaknya terlempar jauh.


"Gggaarrgghhh...!" (Avis)


Setelah itu, Elivia mengangkat salah satu lengannya. Sepertinya dia meraih sesuatu dari sihirnya.



Busur es bersama anak panahnya sudah ada digenggamannya, lalu memasangnya. Kemudian, membidik anak panahnya ke arah Avis, tepat dikepalanya.


Saat ini Avis merasa tertekan dan gemetar ketakutan, entah apa yang merasukinya, dia terus bertekuk sujud meminta Elivia menghentikannya.


"Aku mohon hentikan, hentikan..aku mohon, aku mohon, mohon..a-aku...


...AKU MENYERAH..!"


Mendengar Avis begitu cepat menyerah, anak panah itu terlepas dari tangan Elivia dan terbang cepat ke arah Avis.


"H-huh? T-ti-tidak, a-anak panahnya!" (Avis)


Dia ketakutan dan panik sampai teriak-teriak. "Aaagrrggghhhh...!"



Dan anak panah es itu pecah tepat dihadapan mata Avis yang gemetar dan sulit berkedip, menyadari ada pelindung kuat menyelimutinya.


"Huh?"


Avis sangat lega dan sempat berpikir jantungnya akan melayang. Dan sosok Elivia sudah ada di hadapannya.


"Kau baik-baik saja?" (Elivia)


Sambil mengulurkan tangannya pada Avis.


Mata Avis terbuka lebar melihat wajah Elivia sangat familiar.


"T-tunggu.. K-kau adalah-.." (Avis)


"Jangan sekarang." (Elivia)


Namun, dia meminta Avis tidak mengatakannya.


Tes pertarungan itu akhirnya lulus, di sisi lain para murid Gyxcels tampak menyaksikan tes masuk para calon melalui sihir layar. Mereka sedikit kagum bercampur jenuh dengan tes itu.


"Tidak menyangka bawahan Gyxcels dikalahkan dengan mudah."


"Siapa pria itu? Caranya sangat kejam dan sulit bekerjasama."


"Dan lagi wanita itu, bukankah boneka rusak itu sudah dibuang ya? Kenapa dia kembali?"


"Apa dia ingin balas dendam?"


"kita harus waspadai dua orang itu, walaupun hebat tapi mencurigakan."


Elivia menghampiri ku dengan memuji kemampuan ku.


"Areez hebat." (Elivia)


"Hanya biasa saja kok." (Areez)


Elivia tetap memuji ku. "Tapi, Areez tetap hebat."


"Kau juga." Balas ku memberikan senyum hangat padanya.


Mengingat cara pertarungan tadi membuat ku bernostaliga dua sosok yaitu Sheila Lora dan Evol Waigel. Cara tadi nyaris sama, tentu saja membuat ku penasaran dengan gadis cantik di samping ku.


Apa Elivia salah satu orang bereinkarnasi?


•••


GIMANA PENDAPAT KALIAN CHAPTER HARI INI?


ADA YANG BERPENDAPAT ATAU BERTANYA?


SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK KALIAN.


JANGAN LUPA VOTENYA, LIKE DAN RATE SECUKUPNYA.


TERIMA KASIH DAN DI TUNGGU CHAPTER BERIKUTNYA MINGGU DEPAN.