
.
.
.
The Irregular Devil of Academy
Vol 1 : Akademi Gyxcels
Chapter 10 - Tidak Layak
Saat menuju kelas, semua murid memandang sinis ke arah ku. Aku tidak tau, apa yang dipikirkan oleh mereka. Menurutku mereka mungkin tertarik pada ku, ya. Atau mungkin karena memenangkan duel tadi.
Elivia di samping ku juga tampak biasa tanpa memperhatikan orang-orang di sekitarnya, namun dia sadar perasaan dengki dari mereka itu mengarah ku.
Kelas pertama masih jauh terlihat, dan langkah kami terhalang oleh sosok gadis mengenakan seragam Nobleza berdiri dihadapan kami.
"Oh, bukankah dia..."
Aku mengingatnya, dia adalah gadis si pirang kuning yang sempat ku temui didepan gerbang akademi. Saat itu, dia menabrak Elivia hingga keduanya bertatapan mata dan tegang satu sama lain. Bahkan mata iblis ku sadar, disalah satu diantara mereka itu ada yang berhaus darah.
Tidak mungkin itu Elivia, kan?
Gadis itu melangkah ke arah kami, sambil menundukkan wajahnya kesal bercampur muak lalu menatap tajam ke arah ku. Apa yang salah denganku hingga dia berani menatap ku seperti itu?
Semakin mendekat, lalu mengangkat salah satu tangannya dan. . .
PLAKK!
Elivia maju dihadapan ku dengan menerima tamparan hebat oleh gadis tadi.
"Huh?"
Dia benar-benar kaget, kemudian marah.
"Kenapa?!"
Elivia tidak menjawab, tidak merasa sakit apapun bahkan reaksi sedikitpun dari wajahnya. Seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
"Dasar!"
Pada akhirnya gadis itu menyerah, lalu pergi begitu saja. Ku akui tingkahnya benar-benar tidak jelas.
"Kau baik-baik saja?" (Areez)
Mendengar ku bertanya, Elivia menatap ku dengan memiringkan kepalanya,
"Kau khawatir?"
"Tentu saja, sebelah pipimu merah."
Tidak menyangka sebelah wajah Elivia terlihat merah akibat tamparan gadis tadi. Bagi Elivia, ini bukan apa-apa.
"Ini merah biasa, jadi tidak usah khawatir."
"Tapi, kenapa kau menerima tamparan itu? Bukankah itu ke arah ku?"
"Areez tidak boleh terluka."
Aku terdiam, mungkin aku agak berlebihan mengawatirkannya hingga Elivia tidak ingin membiarkan ku terluka sedikitpun hanya karena masalahnya.
Dia berjalan kembali ke kelas. Aku ikut dari sampingnya, sambil bertanya.
"Kau mengenalnya?"
"Tidak tau."
Jawaban yang tidak masuk akal, sepertinya Elivia berusaha menghindari dari pertanyaan ku.
"Maaf atas perkataan ku tadi." (Elivia)
"Tidak juga, aku tidak berhak ikut campur dalam masalahmu dengan gadis tadi kan?"
Elivia menganggukan kepalanya, "..nn.."
"Kelasnya sudah sampai."
Begitu masuk, murid-murid masih memandang rendah pada ku. Aku tidak peduli, Elivia mematung di samping ku. Apa karena tak bisa mendapatkan tempat duduk?
Ku rasa begitu, karena nasib Elivia dan aku bertolak belakang. Tempat duduk sudah dipenuhi banyak murid baru dan tersisa dua bangku paling belakang.
Aku meraih tangan Elivia ikut dengan ku, dia tidak mungkin duduk di bangku lain karena sadar mereka tidak menerimanya masuk di akademi.
"Alangkah baiknya, duduk di sini saja."
"..n.."
Kelas ini juga membuatku tidak percaya bahwa mereka membedakan bangku bangsa Nobleza dan Mezcla. Bangku depan adalah bagian murid berseragam hitam merah alias Nobleza dan bangku belakang adalah bagian murid terendah berseragam putih biru.
Aku memilih duduk bagian paling belakang. Lalu duduk bersama Elivia.
"Apa kau tau dari pandangan orang-orang yang menatap ku?" (Areez)
"Itu mungkin karena lambang itu." Tunjuk Elivia pada lambang di seragam ku bagian lengan kiri ku.
"Lambang ku?"
"Benar, itu lambang berbentuk bulan sabit. Ini pertana kali mereka melihat lambang itu digunakan murid sepertimu bisa di bilang...
...murid tidak layak." (Elivia)
"Lalu, bagaimana dengan lambang lainnya?" (Areez)
"Lambang Nobleza adalah matahari, itu murid teratas dan tidak ada dibawah. Sementara itu lambang Mezcla adalah bintang yaitu murid terendah dan tidak ada diatas." (Elivia)
Tetapi, lambang Elivia berbentuk segitiga. Bahkan terlihat ganjil dan berbeda dari yang lainnya.
"Mengapa lambangmu berbentuk segitiga?" (Areez)
Elivia terdiam sejenak sambil menundukkan wajahnya, dengan cepat dia mengubah topik pembahasan,
"Bagaimana saja kau harus mengetahui 5 akademi terbesar di kerajaan Welt?" (Elivia)
"Dia menghindar? Ku rasa begitu dan sepertinya ada satu hal yang disembunyikan Elivia, yahh saat ini bukanlah waktunya menggali masalahnya."
Perlahan-lahan aku akan coba menggali masalah dan identitasnya. Sebagai alasan ku pastikan diri ku bertingkah tidak tahu apa-apa.
"Ku pikir hanya satu akademi saja di tempat ini." (Areez)
Elivia benar-benar polos dan terlihat semangat menjelaskan 5 akademi terbesar dari kerajaan Welt. Dab kebetulan, aku baru mendengarnya dan sekali ingin tahu sambil mendengar penjelasannya.
"Itu benar, masing-masing ras memiliki akademi masing-masing yaitu...
...akademi Clouvis, Axel, Gyxcels, Jugeon dan Oliones." (Elivia)
Dan pendapat ku, "Nama yang unik."
"Aku sependapat, masing-masing akademi juga memiliki aturan seperti membedakan ras lemah dan kuat kecuali akademi Jugeon." (Elivia)
"Kenapa?" (Areez)
Sambil menatapnya.
"Jugeon adalah akademi pahlawan manusia, mereka tidak menerima aturan itu karena masih punya rasa benci terhadap ras iblis dan dewa-dewi." (Elivia)
"Apa karena lemah?"
"Tidak, mereka dikhianati. Tapi, mereka masih memperlakukan ras hewan sebagai budak senjata itu sama halnya di akademi ini.
...Gyxcels dan Jugeon adalah akademi yang tak pernah akur."
Itu sudah fakta di era sebelumnya, iblis dan manusia itu sulit akur dan juga saling menyalahkan, tidak mau menyerah, tidak hanya itu sama-sama merasakan dendam nan dengki.
Berbeda dengan ku dan pahlawan manusia itu, Zhenon.
"Clouvis adalah akademi dewa-dewi, bisa dibilang paling terkuat dan sangat dibutuhkan oleh kerajaan Welt dan Axel adalah akademi roh, orang-orang di situ sangat baik bahkan tempat itu sangat ahli bidang pengobatan dan....
....Yang terakhir akademi Oliones masih dalam misterius." (Elivia)
"Misterius?"
"Tempat itu baru saja dibangunkan, dan tentunya tidak sebanyak murid mau belajar ditempat itu. Ku dengar, tempat itu menyeramkan dan ada juga berpendapat Oliones mirip dengan Olionz itu nama salah satu pedang iblis penghancur yang ke-55 dimiliki oleh ketua parasit."
Parasit? Itu pasti salah satu keluarga ras ku, seingat ku yang memiliki pedang Olionz adalah Juxzen alias paman ku. Ku harap dia sudah mencapai tujuannya.
"Oiya, apa kau tau siapa pendiri raja Welt?"
Wajah Elivia mendekat kehadapan ku sambil berbisik pelan.
"Maaf, aku tidak bisa menjawabnya dengan keras karena ras iblis tidak diberi izin menyebut namanya."
"O-oh, tidak apa-apa."
Apa segitunya nama sang pendiri Welt tidak diberi izin ya? Mau bagaimana lagi, Elivia menjawabnya dengan mengecilkan suaranya.
"Celvis Mourdieg, raja Welt pertama yang berhasil mengatur dunia ini sampai sekarang."
"Lalu siapa pendiri iblis saat ini" (Areez)
"Raja iblis Evos Caldianza dan ratu iblis adalah Sheila Lora."
Sheila Lora? Benar-benar tidak menyangka namanya di kenang sampai saat ini dan membuat ku tidak percaya ratu iblis adalah Sheila, bukankah Elivia Evol Waigelo ratu yang sebenarnya?
"Bukankah Sheila Lora itu seorang ratu Welt?" (Areez)
"Lebih tepatnya ratu welt tidak berhak menguasai dunia." (Elivia)
"Lalu mengapa kau tau aku adalah raja iblis?"
"Karena kau raja iblis yang hilang."
"Raja iblis yang hilang?"
"Menurut sejarah iblis era ini, mereka tidak mengenal nama raja iblis mu. Tapi, aku menemukan nama mu terukir disalah satu lembaran buku...
...sebuah buku harian milik seseorang."
Apa? Buku harian itu pasti punya permaisuri ku, kan? Mendengarnya saja sangat membuat ku lega, selama ini aku ingin tahu apa yang dituliskan oleh permaisuri ku di buku hariannya.
Itu petunjuk besar mengetahui kejadian di era sebelumnya.
"Lalu, dimana buku itu dan kau tau judulnya?"
Tiba-tiba Elivia tampak ragu mengatakannya sambil menjauhkan wajahnya dari ku, aku sedikit bertanya,
"Apa ada kesalahan?"
Elivia menggelengkan kepalanya, kemudian menjawab,
"Judulnya Queen Waigelo dan saat ini ada ditangan ku."
Queen Waigelo? Itu dia, buku itu benar-benar miliknya. Syukurlah, aku lega menemukan buku itu bahkan sudah ditangan Elivia.
Tetapi, tiba-tiba saja aku ingin sekali membacanya dan meminjamnya. Bukankah tingkah ku sedikit tidak sopan dan tidak nyaman meminjam benda itu di tangan Elivia.
Entah mengapa, aku berpikir Elivia akan menolaknya.
Apa-apa pelan-pelan saja? Suatu saat aku pasti akan membacanya.
"Hmmmm...begitu ya? Dann....kau tau maksud dari kebangkitan Queen?"
Pada akhirnya aku malah menangkap pikiran ku tentang kebangkitan Queen yang saat ini lagi ramai dibicarakan.
"Queen adalah bencana bagi dunia ini." (Elivia)
Aku tau Queen adalah bencana bahkan banyak yang membencinya, akan ku coba menanyakannya siapa Queen itu.
"Kau tau siapa Queen itu?"
Berharap saja Elivia mengetahuinya,
"Tidak ada yang tau sedikitpun tentangnya, kecuali ciri-ciri kebangkitan Queen adalah emosi bisa disebut manusia rusak." (Elivia)
Sayangnya, dia juga tidak mengetahuinya. Tapi, dia memberiku petunjuk yaitu "manusia rusak"
"Maksudmu Queen itu diperankan oleh seseorang memiliki emosi yang rusak."
Elivia membenarkannya, dan lagi aku kepikiran Elivia memiliki sifat yang sama.
"Bukankah kau sedikit mirip dengannya?"
Elivia terkejut dengan cepat menanggapinya, kalau itu bukan sama sepertinya saat ini. Apalagi dibandingkan dengan Queen,
"tidak sama sekali."
Bibirku terangkat senang karena menurut ku Elivia yang ada dihadapan ku kemungkinan besar adalah Queen.
Bisa jadi reinkarnasi atau generasi Queen.
"Tapi aku sudah tau kok, queen itu sudah lama lahir bahkan sudah ada di dunia ini dan sama sekali tidak disedari sesiapapun kecuali queen itu mengungkap identitasnya."
Mendengar tanggapan ku, Elivia terlihat tak berkutip dan sulit mengatur ekspresi wajahnya hingga dia memilih berwajah kosong nan polos. Tapi, kalau dilihat dari matanya yang menunduk ke bawah itu sedikit terlihat sayu seolah mencemaskan sesuatu.
Aku mencoba membahas hal lain yaitu sesuatu berhubungan dengan diri ku. Jujur, aku merasa aneh melihat Elivia diam tak berkutip.
"Sebenarnya tujuan ku bereinkarnasi adalah mencari kedamaian." (Areez)
"Apa karena bosan bertempur?" Tebak Elivia.
Aku membenarkannya, "tapi, aku sedikit menyesal karena aku hanya memikirkan kedamaian diri ku sendiri tanpa memikirkan permaisuri ku."
"Permaisuri? Saudaramu, majikan atau sepupu?"
"Lebih tepatnya pasangan hidup raja iblis."
"Ratu?"
"Ya, dalam perjalanan reinkarnasi ku, aku bertemu dengannya. Bahkan saat itu aku tidak mengerti, tidak tahu harus apa setelah mendengar ada yang mengkhianati kerajaan iblis lalu dia dibunuh."
"Cerita yang memilukan."
"Entahlah, tapi dia berjanji akan menunggu ku kembali dan menceritakan kejadian sebenarnya di era sebelumnya."
"Apa itu berarti permaisurimu juga bereinkarnasi sepertimu?"
"Tepat sekali, dia bereinkarnasi lebih awal dari ku. Sekarang aku masih mencarinya, tapi melihat era ini sangatlah berantakan bahkan kedamaian juga lemah sekali, aku tidak punya waktu memikirkan keberadaannya."
Elivia tersenyum kecil. "Ternyata Areez memiliki sisi lain ya, aku senang....
...menurut ku, saat ini sangat sulit mencari permaisurimu karena mungkin keberadaannya masih samar, tapi kalau saja ada petunjuk maka Areez beruntung...
...Aku akan membantumu."
Entah mengapa melihat Elivia tersenyum membuat ku lega, merasa dia seperti permaisuri ku. Tapi, bagaimana pun itu keyakinan ku masih belum bulat sama sekali.
"Terima kasih, Elivia."
Pelajaran awal di buka dan hal baru di akademi Gyxcels baru saja di mulai.
°° °°
.
.
.
Next Volume 2 : Ikatan Tak sedarah