
Keesokan harinya semua peserta telah berkumpul jika diperhatikan lagi hampir separuh peserta sepertinya terelimnasi
"Hari ini adalah babak ketiga sekaligus babak terakhir dari kompetisi, sebelumnya saya mengucapkan selamat bagi para pangeran dan putri yang sudah lolos" Ujar salah satu penguji, semua peserta bertepuk tangan dengan meriah
"Babak kali ini adalah satu lawan satu, nama kalian akan diundi secara acak untuk memilih lawan hingga pada akhirnya kita akan memilih satu orang sebagai pemenang" lanjutnya setelah itu suasana menjadi ramai karena mereka semua terkejut akan ketentuan yang baru dari kompetisi ini, biasanya mereka akan memilih tiga orang sebagai pemenang utama
"Diam!" Teriak salah satu penguji "Kali ini peraturan memang berbeda namun pada kesempatan ini kami harap kalian menunjukkan kemampuan kalian dengan baik karena ketiga pimpinan perguruan akan memilih beberapa orang untuk dijadikan murid" Lanjutnya, raut wajah yang awalnya suram seketika menjadi baik dan timbulah sebuah keinginan untuk menunjukkan diri mereka sebaik mungkin
"Wah Yue! bukankah ini kesempatan yang bagus aku benar benar ingin masuk kedalam salah perguruan itu" Pekik Wanmei bersemangat
"Ya kau benar" Jawab gadis itu seadanya, sejujurnya ia tak terlalu tertarik, ia lebih suka belajar sendiri atau minimal ia ingin menjadi murid pribadi saja agar bisa lebih fokus
"Eiii kenapa dengan respon itu? Kamu tidak tertarik?" Ujar Wanmei mengerucut sebal karena watak temannya ini benar benar dingin
"Hm jika masuk itu baik jika tidak aku sama sekali tak kecewa" Ujar gadis itu sambil mengangkat pundak acuk
"Lupakan orang hebat memang berbeda ya huh" Gumam Wanmei kecil yang masih dapat didengar oleh Yue, senyum tipis itu terbit sebentar lantas kembali menjadi datar
Semua peserta digiring menuju tepian arena untuk menonton pertarungan satu lawan satu, para raja juga diundang untuk menyaksikan festival tahunan ini. Dengan martabat masing masing hati mereka seakan menjadi tinggi tidak semuanya namun hanya beberapa saja namun itu tak membuat hati Yue menjadi gentar
Hari ini ia memiliki niat untuk mengalahkan adiknya, benar sekali adik yang tidak bermartabat juga kejam itu. Sejujurnya itu tidak membuat Yue tertarik namun karena terakhir kali ilusi itu diciptakan sehingga ilusi kakaknya juga ikut muncul hal ini membuat hatinya sakit karena rasa rindu, beberapa bulan sudah ia habiskan didunia ini namun ingatan itu begitu nyaman menetap dikepalanya
"Sebenarnya hal apa yang harus kulakukan didunia ini?" Hanya itu yang ia pikirkan selama ini.
Nama mulai diundi secara acak, wadah berisi nama nama peserta diacak menggunakan kekuatan spiritual kemudian muncul lah dua nama pertama sebagai pembuka untuk kompetisi ini dan pas sekali nama Ming Hao keluar melawan seorang dari keluarga Long, kepala keluarga adalah salah satu perdana mentri dari kerajaan Wang sendiri. Keduanya pun maju menuju arena dengan senjata masing masing
Peraturannya mudah siapa yang tumbang terlebih dahulu maka akan dinyatakan kalah, pertraungan akan dilaksanakan dalam kurun waktu satu dupa (15 menit) jika dalam waktu tersebut keduanya belum ada yang tumbang maka akan dinyatakan seri, peraturan yang paling utama adalah dilarang saling bunuh jika melanggar akan terkena hukuman dari keluarga korban terlepas dari status siapa pelaku tersebut, cukup adil bukan? namun begitu masih banyak yang melanggar nya dengan alasan alasan yang sangat klise
"Mohon bantuan anda putra mahkota" Ujar Long Jia Er sembari membungkuk memberi salam
"Jangan sungkan" Ujar Ming Hao sembari tersenyum
Setelah itu keduanya siap diposisi masing masing hingga aba aba mulai terdengar, tanpa ampun keduanya saling menyerang, Jia Er sudah mencapai level tiga ranah awal karena memang dia adalah pewaris utama keluarga tersebut jadi wajar saja meski kekuatan mereka berbeda satu tingkat namun jika dilihat secara sekilas tidak akan ada perbedaan namun sudah dipastikan bahwa Ming Hao lah yang lebih unggul
pedang hijau milik Ming Hao mengayun dengan sangat kuat mengarah ke titik vital musuh namun dengan imbang Jia Er mampu mengimbanginya, pedang milik Jia Er tidak lah lebih besar dari milik Ming Hao namun ia terbilang cukup fleksibel, saat Ming Hao sedikit lengah pedang Jia Er menggores pipi sebelah kirinya namun dengan lihai Ming Hao bisa menghindar untuk mengurangi dampak goresan
"Sangan bagus, aku terkesan dengan teknik milikmu" Ujar Ming Hao sembari menyeringai, ia tidak marah meliankan ia sedikit bangga dengan calon pewaris utama keluarga Long
"Namun sayang nya ini akan segera berakhir" Setelah berbicara seperti itu Ming Hao menghunuskan pedang miliknya kearah dada Jia Er yang memiliki reflek bagus menahannya dengan pedang miliknya sehingga ujung runcing bertemu pada bilah tengah pedang, ujung runcing milik Ming Hao ia geser sedikit kesudut bawah lantas dengan cepat memutarnya sehingga pedang milik Jia Er terlempar dan menancap tepat disamping Ming Hao pada saat itu satu dupa juga telah habis
"Pemenangnya adalah Putra Mahkota Wang Ming Hao!" Teriak sang penguji lantas sorak sorai mulai terdengar riuh, para wanita itu dengan semangat meneriakkan nama Ming Hao sebagai bentuk pujian
"Saya kalah anda memang sangat hebat seperti yang dirumorkan" Ujar Jia Er sembari tersenyum pasrah sedikit kecewa
"Kau juga hebat, jika ada waktu luang aku akan mengundangmu untuk bermain main sejenak" Ujar Ming Hao menghibur laki laki yang ada kehidupannya
Setelah pertarungan pertama selesai penguji mulai mengundi kembali, satu demi satu peserta mulai tereliminasi dan Yue hanya memandang kedalam arena bosan meski ada beberapa yang membuatnya tertarik namun itu tidak banyak juga sedari tadi namanya tidak kunjung muncul hingga membuatnya mengantuk, nama Wanmei lah yang terlebih dulu muncul darinya
"Yue aku sangat gugup bagaimana inii" Ucapnya panik
"Tarik nafas dan hembuskan, kamu pasti bisa" Ujar Yue menyemangti Wanmei
Gadis itu masuk kedalam arena yang ia lawan adalah putri dari kediaman Xie dan itu adalah adik dari Zeming, Xie Huanran. Matahari sudah berada tepat diatas kepala dan itu membuat suasana menjadi sedikit pengap Wanmei membawa sebuah senjata berbentuk bola dengan ukuran sebesar kelereng, ada banyak didalam kantong miliknya sebenarnya kemarin Wanmei akan membawa sebuah busur namun Yue melarangnya karena itu tidak terlalu efektif jika digunakan untuk serangan ìjarak dekat alhasl kemarin mereka berdua memesan bola bola besi itu secara mendadak. Bola bola besi itu penggunannya hampir mirip dengan busur hanya saja penggunaanya langsung dilempar dan mengandalkan energi Qi, Yue menyarankan itu karena ia tau betur kemampuan otot tangan Wanmei yang terbiasa menggunakan busur
Aba aba sudah terdengar keduanya pun sudah pada posisi masing masing, Huanran yang menyerang duluan gadis itu mengayunkan pedangnya namun berhasil dihindari oleh Wanmei dengan sempurna. Kedua tangannya mengambil bola bola besi yang ada di kantong kemudian ia mulai mengalirkan energi Qi miliknya ke kedua lengannya lantas segera melemparkan beberapa bola besi tersebut kearah Huanran dengan target pergelangan tangan juga bagian atas tubuh
Huanran yang awalnya mengira serangan itu tidak terlalu mematikan akhirnya ia menelan ludahnya sendiri, pedang ditangannya hampir jatuh juga dahinya terluka akibat pukulan bola besi
"Ck" Huanran berdecih kesal karena tidak terima ia langsung menyerang Wanmei dengan brutal ia tau Wanmei adalah tipe pengguna senjata jarak jauh jadi reflek gadis itu sedikit lambat namun dugaannya salah total meski Wanmei terlihat lemah nyatanya dalam waktu setengah dupa ini ia dengan sempurna menghindari serangan Huanran yang menurutnya kacau ia juga berhasil melukai beberapa bagian dari tubuh gadis itu
Pada puncaknya Huanran yang sudah terlanjur emosi pun ia berniat menusuk Wanmei, pada saat itu Wanmei terdesak hingga ia ingat salah satu teknik yang pernah Yue ajarkan kemarin malam, teknik itu emmang dirancang ketika Wanmei mulai terdesak
Saat pedang Huanran maju Wanmei mundur kebelakang untuk mengulur waktu sembari menyiapkan teknik tersebut, enam bola besi ia ambil kemudian energi Qi ia alirkan kedalam bola bola itu sehingga menciptakan sebuah lingkaran
"Ikat" Ucap Wanmei pelan
Keenam bola itu berputar dengan sangat cepat kemudian menjebak Huanran didalam sana layaknya sebuah kurungan, Huanran yang panik pun mengayunkan pedang miliknya untuk membebaskan diri namun itu sama sekali tidak berguna karena teknik itu diciptakan untuk memperlemah energi Qi lawan dan ini termasuk formasi spiritual yang sudah dimodifikasi sendiri oleh Yue khusus untuk Wanmei. Satu dupa pun akhirnya sudah habis
"Selamat kepada Putri Zhao Wanmei" Ucap sang penguji, soarakan mulai terdengar dan senyum secerah matahari itu terbit dengan sendirinya lantas ia berteriak
"Yue lihat! Aku berhasill!" Pekiknya senang sembari melompat lompat, Wanmei itu dikenal dengan Putri yang lemah, secara fisik dan kemampuan dia baik baik saja namun diantara para pewaris basis kultivasinya lah yang paling lambat kemjauannya alhasil ia selalu minder dengan para putri yang lain. Yue yang melihatnya pun tersenyum cerah kali ini senyuman yang jarang ia tunjukkan di depan umum sehingga membuat pangeran yang ada disekitarnya terpana sejenak melihat senyuman itu
"Selamat" Ucap gadis dingin itu