
Menurut Yue negeri Feng ini sangat menakjubkan dari segi masyarakat dan juga negaranya sendiri, warga disini pun ramah dan minim dari tindak kejahatan mungkin ini faktor dari negaranya yang begitu teramat damai dan pemenuhan dari segi ekonomi pun juga seimbang. Dia membayangkan andai saja kekaisaran Wang seperti ini pasti tak banyak orang yang menderita akibat perekonomian sekaligus dari segi politik juga, Yue mendengar akhir akhir ini pajak di kekaisaran milik ayahnya itu juga dinaikkan
Sambil duduk di atas pohon dia memakan makanan yang dia beli tadi, mengingat misinya yang hampir selesai dan satu hal yang Yue lupa. Di tak pulang selama semalaman karena menjaga para pejabat itu, ah sungguh pelupa bahwa dia memiliki keluarga didunia ini. Ya sudah lah
Matahari akan segera terbit Yue memutuskan untuk sedikit jalan jalan dinegara Feng ini, jarang sekali kan dia bisa ke negri orang. Dia menuju pasar yang rupanya sudah buka dari beberapa waktu lalu, saat berjalan tiba tiba ada seorang anak kecil yang tidak sengaja menabraknya. Anak itu pun jatuh
"M-maaf tuan saya tidak sengaja" Ucap anak kecil itu meminta maaf terhadap Yue sembari membungkuk takut takut. Yue tak menjawab dan hanya mengusap kepala anak kecil itu dengan lembut lantas dia bergegas pergi dan melanjutkan perjalanan. Saat dia rasa cukup untuk mengelilingi pasar Yue pergi menuju hutan berniat mencoba pedang baru miliknya yang kemarin dia beli
Yue mengeluarkan pedang miliknya dari balik jubah, dia menyadari hawa yang dikeluarkan pedang bertambah kuat setelah terakhir kali ia beli kemarin. Karena Yue bisa menggunakam seni pedang maka dia tak ragu lagi untuk mencoba pedang tersebut, Yue mengayunkan pedang tersebut dan memang sangat ringan seperti yang ia duga kemarin. Saat diayunkan menuju pohon pedang itu mengeluarkan energi Qi yang membuat pohon tersebut membeku, Yue terkejut dan memandang pedang putih miliknya
"Hebat" Ucap Yue singkat kembali melanjutkam latihannya, dia masih belum bisa naik tingkat menuju level 2 karena memang rintangan untuk naik tingkat sedikit sulit dan juga dengan keadaannya menerima misi ini
"Pedang mu sangat hebat tuan" Ucap seseorang yang tiba tiba berada dibelakangnya, Yue terkejut karena dia tak bisa merasakan aura milik orang itu sama sekali sekaligus pergerakannya. Yue mulai was was karena dia merasa orang ini berada diatasnya dan lebih hebat darinya. Hey seorang pahlawan tak akan menjadi hebat secara instan kan, nyawa menjadi taruhannya kawan
"Tenanglah tuan saya tidak berniat jahat, hanya tertarik pada pedang anda saja" Ucap nya sembari tersenyum kepada Yue, Yue masih tak percaya dan berusaha mencari kebohongan dari mata pria itu namun nihil, pria itu benar benar jujur
"Hm" Yue berdehem kemudian beranjak pergi dari sana. Dia tak peduli dengan pria itu, dalam keadaan latihan seperti ini Yue sangat membenci ada seseorang yang mengganggunya
"Tunggu tuan bolehkah anda menjual pedang tuan? Berapapun yang anda ingin akan saya berikan" Ucap laki laki itu
"Maaf pedang ini tidak dijual" Ucap Yue kemudian dia kembali ke istana Feng karena dia akan pulang kembali ke negara nya
Disisi lain. . .
"Astaga nona ini kemana sih?! Apa aku perlu melaporkannya ke pada kaisar?" Ucap Ye Lin mondar mandir didalam ruang tidur nonanya, dia khawatir terjadi apa apa kepada nya. Kemarin nonanya pamit ingin pergi ke pasar sendirian namun sekarang malah belum pulang pulang
"Aduh bagaimana ini?!" Ucap Ye Lin bingung
Tiba tiba saja dari arah jendela muncullah seseorang yang sangat Ye Lin kenal
"Nona!! Akhirnya anda kembali. Nubi sungguh khawatir pada nona" Ucap Ye Lin senang
"Aku sedikit ada urusan, kau melapor?" Tanya Yue sambil melepas jubah yang ia kenakan tadi
"Tidak nona, nubi masih belum melapor" Ucap Ye Lin
"Bagus" Ucap Yue sambil tersenyum singkat
Kemudian menyuruh Ye Lin untuk menyiapkan air mandi sementara itu dia melihat pedang miliknya, pedang ini ternyata memiliki hawa es dan cocok dengan hawa Qi miliknya juga sungguh dia berjodoh dengan pedang tersebut, kemudian dia ingat giok es yang ia beli kemarin saat akan menemui guru besar. Dia mengambil giok tersebut dan meletakkan didekat pedang tersebut
Beberapa menit tiba tiba saja muncul cahaya dari giok dan pedang miliknya dan lebih terkejut lagi giok dan pedang miliknya menyatu. Yue terkejut sungguh ajaib, setelah penyatuan selesai dia mengambil pedang miliknya. Dia memutuskan untuk segera berlatih dan menaikkan level kultivasinya dan mengikuti kompetisi 1 minggu lagi
"Nona air mandi sudah siap, apakah nona butuh bantuan nubi lagi?" Tanya Ye Lin
Saat sampai dikediaman prajurit mengumumkan kedatangan Yue, gege nya yaitu putra mahkota langsung datang menyambutnya dengan tatapan tidak suka
"Salam Huangtaizi" Ucap Yue memberi salam pada gegenya, sejujurnya dia tak menganggap putra mahkota sebagai gege nya karena dia hanya memiliki satu kakak yaitu Xiao Yan, sekilas dia memikirkan kakaknya yang ada disana
"Ada gerangan apa meimei datang ke kediaman benwang?" Tanya Ming Hao dingin dan teramat tak suka dengan adiknya
"Apakah salah adik mengunjungi kediaman kakak?" Tanya Yue dengan tanpa emosi
"Masuklah" Ucap Ming Hao setengah setengah, disisi lain hatinya teramat benci kepadanya namun disisi lain hatinya menerima kehadiran sang adik, sungguh plin plan pangeran ini
Yue beserta pelayannya memasuki kediaman sang pangeran, yang dia rasa dikediaman milik putra mahkota ini sangat hangat dengan suasana pohon persik yang sedang bermekaran hari ini adalah musim semi, berkebalikan dengan kediamannya disana suasana sangat dingin semenjak dia datang dia merubah seluruh desain, furnitur dan yang lainnya. Yang awalnya serba merah menjadi putih kecuali bagian taman, dia tak merubahnya sedikitpun karena menyukai bunga bunga yang ada disana, dia juga menambah pohon berwarna putih
(n): Kalian bisa bayangin pohon putih tuh kek terkena salju tapi bukan salju, author search ga ketemu nama pohon warna putih hehe
Yue berjalan menuju gazebo yang ada di taman persik milik putra mahkota, dia memandang sekitar tanpa berkata kata
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan terhadapku? Tak biasanya kau datang ke kediaman milikku. Dulu kau pernah bilang bahwa kakimu tak sudi kau injakkan disini" Ucap Ming Hao dengan penekanan disetiap kata yang diucapkannya. Yue diam dan tetap memandang kedepan dengan tenang tanpa emosi
"Kau tuli hah?!" Bentak Ming Hao karena tersinggung atas reaksi yang Yue berikan
"Setiap orang akan berubah dengan berjalannya waktu, sejahat apapun dia sebaik apapun dia itu akan terjadi" Ucap Yue tenang, mata indahnya tetap menatap ke depan terfokus pada salah satu pohon persik disana, dia memperhatikan seekor induk burung yang tengah melindungi telurnya dari ular pohon
"Apa yang kau maksud sebenarnya? Kau berubah? Hahaha sungguh lelucon yang bagus cih!" Ucap Ming Hao sarkastik
"Dia sudah mati, hal apa yang kau benci dari Wang Xiao Yue terlepas dari dia berbuat buruk?" Ucap Yue lagi, tangan mungilnya mengambil tusuk konde dan melemparkan nya ke arah ular yang sudah siap memangsa burung sekaligus telur yang dilindunginya. Ming Hao terdiam dan mencerna setiap perkataan yang Xiao Yue ucapkan, dia terlihat bingung dan ragu
"Ingatlah tak selamanya yang ada disamping mu akan terus bersamamu. Semua ada dalam keputusanmu putra mahkota, memaafkan atau tetap membenci" Ucap Yue sekali lagi kemudian berdiri
"Terimakasi, gege telah menjamu saya yang rendah ini" Ucap Yue kemudian pergi dari kediaman Ming Hao menyisakan tanda tanya besar baginya, apa yang di maksud oleh Xiao Yue tadi?? Mati? Siapa?
Continued. . .
(Gambar Yue saat dia menjalankan misi)
So guys terimakasih pada readers yang senantiasa menunggu author update. Huft entah kenapa akhir akhir ini perasaan author tuh kayak kosong gitu, ga dapet feel nya nulis cerita jadi maap ya kalau jelek
🍁Arvi
Ig: @arvi_24