The Empyrean's Reign

The Empyrean's Reign
Ch.9- Azure Dia Wolf



"Fuah! Selamat pagi Jenderal!"


Tidur nyenyak Niel spontan terganggu ketika suara ceria yang lantang mengisi pendengarannya. Pria yang masih mengantuk itu berdecih pelan, berupaya untuk beristirahat lebih lama setelah dihadapkan dengan kejadian yang dialaminya semalam.


Untung saja walaupun semalam kepalanya sakit karena kejadian yang tidak masuk akal terjadi padanya, ia masih dapat mengikuti instruksi dari rusa tersebut dan dapat kembali ke tempat mereka berkemah.


"Selamat pagi juga, Tuan Enzo. Saya telah memasak ikan sisa tangkapan semalam untuk sarapan. Sebentar lagi kita akan berangkat untuk melawan Azure Dia Wolf, jadi bisakan anda tolong membangunkan Tuan Niel?"


Enzo memberikan ibu jari terhadap permintaan Jenderal Aldios sembari tersenyum simpul. Sang pemuda tidak terlihat gentar walaupun dia tahu benar hal menyakitkan apa yang akan terjadi ketika ia mencoba untuk membangunkan Niel.


"Tidak perlu lagi, Jenderal. Saya sudah bangun."


Pemuda dengan netra biru itu memutuskan untuk bangun dari alam mimpinya karena terlanjur tidak bisa tidur kembali. Ia memutuskan untuk mencabut sepuluh helai rambut Enzo setelah mereka kembali ke Istana Malchus.


"Ah, selamat pagi, Tuan Niel. Silahkan memakan sarapan yang telah saya hidangkan."


Niel menerima piring berisi makanan lezat yang diberikan Jenderal Aldios kepada dirinya. Ia lalu mendudukkan diri di samping Enzo sebelum menyantap hidangannya dengan tenang.


"Tumben sekali kau sudah bangun sebelum aku membangunkanmu, Niel. Apakah kemarin kau terbangun saat sedang tidur dan memutuskan untuk tidur kembali?"


Pertanyaan tepat sasaran yang Enzo lontarkan membuat Niel terdiam beku. Ia tidak menjawab pertanyaan Enzo dan memilih untuk menutup mulutnya sebelum Enzo yang sudah terbiasa dengan tingkah laku Niel mengubah topik pembicaraan.


Niel memperhatikan Enzo dan Jenderal Aldios yang tengah berbincang dengan seru. Matanya yang tajam ia picingkan ke arah punggung Enzo sehingga sang target merasa bulu kuduknya berdiri tanpa alasan yang ia ketahui.


"Jenderal, apakah kita benar-benar akan memburu Azure Dia Wolf setelah ini?" Enzo bertanya sambil mengunyah makanannya.


Jenderal Aldios mengangguk, "Azure Dia Wolf memang memiliki karakteristik unik yang dimana ia menjadi jauh lebih kuat di pagi hari. Jadi jika anda membunuhnya pada saat waktu masih pagi, hasil yang didapatkan juga akan semakin besar. Walaupun tentu saja ada risiko terluka parah yang lumayan besar."


Enzo terdiam dan lanjut menyantap ikannya. Niel menutup matanya terlihat sedang mencerna perkataan Jenderal Aldios. Niel sedikit gugup ketika mengetahui bahwa setelah dia menghabiskan ikannya, mereka bertiga akan menghadapi Azure Dia Wolf yang bertingkat sebagai Hell Beast tingkat menengah.


"Jenderal, menurut perkiraan anda sendiri sebagai seorang Jenderal dari kerajaan yang cukup besar, seberapa kuat tingkatan beast yang menjadi batasan anda?" Niel bertanya sambil menggigit ikan yang ada di genggamannya.


Jenderal Aldios sedikit terkejut ketika mendengar pertanyaan Niel, "Paling banyak saya mampu mengalahkan ratusan Hell Beast tingkat rendah dan sekitar puluhan Hell Beast menengah. Mungkin jika beruntung, saya dapat mengalahkan satu ekor Hell Beast tingkat tinggi."


Niel dan Enzo menahan nafas ketika mendengar pernyataan yang dikeluarkan Jenderal Aldios dengan penuh kepercayaan diri. Gelar Jenderal Elite yang dipegang oleh Aldios memang bukan hanya nama semata!


Srak.


Niel menajamkan indera pendengarannya, "Hei, apakah kalian mendengar itu?"


Jenderal Aldios tidak mengatakan sepatah katapun dan hanya menggerakaan bola matanya untuk melirik ke dalam hutan.


"Aku tidak mendengar apa-apa, pun?" Celetuk Enzo dengan ekspresi heran ketika melihat raut serius Niel dan Jenderal Aldios.


Srak!


Ah, sekarang ia dengan jelas mendengarnya.


Jenderal Aldios langsung berdiri dan mengerutkan dahinya, sedangkan Niel dan Enzo menggigit habis daging ikan di piring mereka terlebih dahulu sebelum memposisikan diri untuk bertarung.


Grr...


Nafas Niel dan Enzo tertahan.


Sepasang mata kuning terang perlahan keluar dari semak tersebut. Bulu lebat berwarna biru dan berdiri tegak, cakar tajam yang dapat dijadikan sebagai alat pertahanan diri ataupun alat berburu, ekor biru panjang itu bergoyang kanan kiri perlahan-lahan dengan gigi runcing yang tidak lupa untuk dipamerkan.


"Ini.. Adalah Azure Dia Wolf." Jenderal Aldios berkata sambil menatap serigala tersebut dengan suram. Niel dan Enzo langsung memasang posisi siaga, Jenderal Aldios maju ke arah serigala itu perlahan-lahan sambil mengacungkan pedang kebanggaannya.


Serigala yang awalnya hanya menggeram langsung menerjang Jenderal Aldios. Jenderal Aldios menangkis serangan serigala tersebut dengan pedangnya, memberi arahan kepada Enzo dan Niel untuk menyerang serigala itu.


"Azure Dia Wolf lemah dengan elemen kegelapan, Tuan Niel!" Jenderal Aldios menyahut sambil terus menahan serigala yang hendak menggigitnya tersebut.


Sebenarnya Jenderal Aldios dapat membunuh serigala tersebut tanpa kesusahan, namun tidak mungkin ia mengambil pengalaman berharga yang diperlukan kedua pemuda di bawah pengawasannya, bukan?


Niel mengeluarkan tongkat sihir berwarna putih yang tingginya sepantaran dengan badannya. Niel menatap serigala tersebut sambil mengarahkan tongkat itu ke tanah,


"Intermediate Dark Magic: Swallowing Dusk!"


Tlak!


Niel menghentakkan tongkat di pegangannya ke atas tanah dengan keras dan seketika bayangan hitam memanjang muncul dan masuk ke dalam tanah. Bayangan tersebut tampak seperti berpacu di dalam sana, berlari ke arah sang serigala.


Setelah itu, bayangan hitam tersebut langsung menyelimuti Azure Dia Wolf seperti bola. Sang serigala sontak melolong dengan panik, segera menyadari bahwa ia sudah 'terjebak' oleh Niel.


Niel meneguk ludah, tangannya perlahan mulai mengucurkan keringat dingin, 'Seperti yang diharapkan dari Hell Beast tingkat menengah, mereka mampu melihat langsung penghalang yang kubuat.'


Jenderal Aldios segera melompatkan dirinya ke belakang untuk menghindari amukan ganas dari serigala yang tengah dilawan. Ia lalu menusukkan pedangnya ke dalam perut serigala yang terperangkap untuk menahannya dalam bergerak dan agar si serigala tetap diam tertancap di tanah.


Niel langsung membuang pikirannya dan menyadarkan Enzo yang bengong, "Enzo, sekarang!"


Enzo langsung sadar akibat teriakan Niel dengan sebuah kilatan yang sekilas muncul di matanya. Ia mengangkat kedua tangan di depan dada, dengan sigap melafalkan mantra sihir sembari mentransferkan Mana ke tangannya.


"Intermediate Light Magic: Glimmers' Veiling!"


Binaran cahaya yang berwujud bola meluncur keluar dari tangan Enzo. Bola tersebut semakin lama semakin membesar seiring memendeknya jarak bola cahaya tersebut dengan Azure Dia Wolf.


Bam!


Suara ledakan terdengar keras sampai rasanya seperti akan meledakkan gendang telinga mereka bertiga.


Niel menutup erat matanya. Menghela nafas lega karena berhasil menghindari kejadian dimana tubuhnya terlempar ke langit jika saja Niel tidak membuat penghalang. Ingin rasanya Niel mengutuk Enzo jika saja kondisinya tidak seperti sekarang.


Pssshhh...


Asap berkumpulan mengelilingi area pertempuran karena ledakan tersebut. Niel mengibaskan tangannya untuk menghilangakan asap-asap tersebut, sesekali terbatuk-batuk karena sang asap.


Setelah asap sudah menghilang, Niel melihat ada sebuah kristal biru menyala terang yang melayang tepat di atas kepala mayat sang serigala. Niel juga melihat Enzo yang mukanya berwarna hitam dengan rambut yang berdiri tegak, membuat sang pemuda berambut putih menyeringai jahat.


'Rasakan karma karena telah membangunkanku!'