
"Sudah lama kita tidak berjumpa, Lavi. Bagaimana kabarmu?"
"Hohoho! Kabarku sangat luar biasa sampai aku tidak bisa mendeskripsikannya! Bulan ini ada banyak hal baik yang terjadi! Kedatanganmu juga termasuk, Aldios."
Jenderal Aldios tertawa lepas ketika mendengar ucapan Old Lavi yang penuh dengan semangat, "Baguslah jika begitu. Hari ini aku mengunjungimu karena dua pemuda ini membutuhkan senjata yang akan mereka pakai untuk beberapa tahun ke depan. Bisakah kau menempakan senjata untuk mereka?"
Old Lavi langsung mengangguk tanpa hesitasi, menerima permintaan yang dikeluarkan oleh Jenderal Aldios kepadanya tanpa pikir panjang, "Tentu saja bisa! Siapa juga yang akan menolak. Aku juga akan menempanya secara gratis sebagai imbalan dari Mana Core Nightfall Mixed Lion yang kau bawakan kepadaku beberapa tahun yang lalu. Tidak lupa, bahan untuk senjatanya harus kalian cari sendiri!"
Jenderal Aldios melebarkan matanya terkejut ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut sahabatnya, "Apa kau yakin?! Ekspetasiku kau hanya akan memberi diskon untuk beberapa persen saja, aku tidak menyangka kau akan melakukannya dengan gratis!"
"Hei, hei, aku tahu aku orang yang cukup pelit namun tentu saja aku juga tahu apa itu balas budi. Aku orang yang memegang teguh prinsipku, kau tahu!" Old Lavi mendengus berpura-pura kesal karena hal yang dilontarkan oleh pria di hadapannya.
Jenderal Aldios tertawa lepas sampai terlihat kerutan di ujung matanya. Niel yang melihat pemandangan menghangatkan itu kemudian mengajak Enzo untuk melihat-lihat ke sekitar toko sambil memberikan Old Lavi dan Jenderal Aldios waktu untuk berbincang setelah reuni mereka.
Sembari berjalan, lukisan-lukisan yang terpajang di sepanjang dinding toko entah mengapa menarik perhatian kedua pemuda itu. Niel berjalan mendekat ke salah satu lukisan bergambarkan seorang pria dengan tombak perak yang pegangannya didekorasi dengan permata berwarna ungu, mengobservasi lukisan itu untuk sesaat sampai akhirnya membaca tulisan yang terdapat di bawah lukisan itu.
Elijah the Mighty Spearman
Tombak yang terbuat dari Perennial Niz Iron dan Elven Violet Gemstone.
Ditempa oleh Old Iev, Generasi ke-XX
Enzo berseru, "Wah, aku tahu orang ini! Dia sering dibicarakan oleh para pelayan di Istana sebagai salah satu dari Five Lilies, lima pria tertampan di West Manvit!"
"Sebutan macam apa itu?" Niel menatap Enzo dengan hina, bingung mengapa sahabatnya itu dapat mengingat hal-hal yang tidak berguna namun tidak pernah mengingat informasi yang sebenarnya bermanfaat.
Enzo yang mendapatkan tatapan hina Niel merasa tersinggung, "Hei! Bukan salahku juga untuk tahu tentang Five Lilies. Hariku tidak akan pernah lengkap tanpa pelayan-pelayan membicarakan mereka tanpa henti!"
"Ya, ya, baiklah. Lakukan saja sesukamu." Niel tidak menghiraukan pembelaan Enzo dan lanjut berjalan mengamati lukisan-lukisan yang terpajang di dinding O'Smith.
Niel menghentikan langkahnya ketika mendengar suara yang familiar memanggil namanya dan Enzo, "Tuan Niel, Tuan Enzo, saya sudah selesai berbincang dengan Old Lavi. Dia merekomendasikan kita untuk pergi ke Tregwey Forest sebagai tempat mencari material senjata kalian. Kebetulan sekali hutan itu merupakan tempat yang paling dekat dengan tujuan kita, Desa Bluetears. Sebaiknya sekarang kita segera pergi ke Pusat Transportation Point untuk pergi ke hutan yang dimaksud."
"Siap, Jenderal!" Enzo memberi ibu jarinya kepada Jenderal Aldios sambil tersenyum konyol. Niel hanya mengangguk setelah mendengar saran Jenderal Aldios walaupun entah mengapa tiba-tiba dia mendapat firasat buruk.
***
"******* ******, *******! ****** *****!"
"NIEL, JAGA MULUTMU!"
Rentetan sumpah serapah seketika keluar dari mulut Niel begitu saja sehabis ia terlempar dari udara kosong ke atas tanah dalam posisi telungkup setelah menaiki Transportation Point.
Seketika rambut putih bersih yang dimiliki pemuda itu dijatuhi dedaunan berwarna ungu dengan gradasi biru tua yang dipenuhi dengan bintik putih, seakan daun-daun itu merupakan cerminan dari angkasa dan bintang-bintang cemerlang yang mengisinya.
"Aku tidak akan pernah menggunakan alat terkutuk itu lagi." Ujar Niel dengan ekspresi gelap.
Niel meraih tangan dari Jenderal Aldios untuk meringankan beban dari tubuhnya sebelum mengucapkan terima kasih kepada sang Jenderal. Pemuda dengan netra biru tersebut lalu mengusak rambutnya untuk menjatuhkan dedaunan yang hinggap di kepalanya.
Jenderal Aldios menunjukkan senyuman yang telah menjadi ciri khasnya sebelum mengeluarkan sesuatu dari tas selempang yang dibawa olehnya, "Sebaiknya kalian membawa sebuah senjata untuk digunakan dalam situasi-situasi berbahaya. Saya sudah menyiapkan dua buah belati untuk masing-masing bisa anda gunakan."
"Oh, terima kasih sekali lagi, Jenderal."
"Terima kasih, Jenderal! Walaupun saya tidak yakin apakah saya akan dapat menggunakannya." Enzo tertawa cengengesan saat menerima tatapan yang tidak mengenakkan dari Niel.
Saat mereka memulai perjalanan, tidak tahu mengapa tiba-tiba terdengar suara geraman menyeramkan yang keluar entah darimana. Daun yang mengeluarkan suara karena bertabrakan dengan satu sama lain yang disebabkan oleh angin semakin menambah perasaan takut yang dialami oleh seseorang.
"Entah mengapa, hutan ini memiliki suasana yang sedikit menyeramkan?", Enzo tersenyum kering sambil berjalan menelusuri hutan Tregwey. Bayangan dari daun-daun pohon terpapar di wajahnya, suara injakan yang renyah terdengar setiap kali ia mengambil langkah.
"Hutan ini dipenuhi aura negatif karena banyak Hell Beast yang bersemayam di hutan. Aura negatif ini berasal dari para Beast itu." Jenderal Aldios menanggapi pernyataan Enzo. Niel mengangguk sedikit, menyetujui penjelasan Jenderal Aldios.
Setelah itu, suasana kembali sunyi. Niel terus berjalan sebelum menyadari terdapat sebuah bayangan hitam yang mengikuti Enzo. Niel menyipitkan matanya sebelum menyadari bahwa bayangan hitam itu melesat dengan cepat ke arah Enzo.
"Hati-hati!", Niel melompat ke arah bayangan hitam yang dengan gesit berlari untuk menyerang Enzo, pemuda itu langsung menebas mahluk tersebut sebelum mendarat di samping sahabatnya.
Jenderal Aldios yang baru saja mengamati mereka kemudian segera mendatangi mahluk yang dibunuh oleh Niel. Jenderal Aldios memakai sarung tangan berwarna hitam pekat di kedua tangannya sebelum mengangkat mahluk itu dan melebarkan matanya sedikit karena takjub.
"Kerja yang sangat bagus, Tuan Niel. Anda bisa membunuh seekor Vicious Agile Squirrel yang terkenal dengan kegesitannya dalam sekali tebasan. Sangat jarang ditemukan seorang pemula yang dapat melakukan hal seperti itu." Jenderal Aldios menatap kagum kepada Niel yang sedang menggaruk tengkuknya karena malu. Enzo masih berkeringat dingin ketika mengingat bahwa tadi dia hampir terluka jika Niel tidak dengan cepat membunuh mahluk itu.
"Anda juga beradaptasi dengan cukup cepat, Tuan Niel. Mendiang Kakek saya mengatakan bahwa salah satu pahlawan pada zaman dahulu bahkan tidak berani untuk membunuh seekor kucing." Jenderal Aldios tersenyum kecil, mengingat kembali masa kecilnya untuk bernostalgia.
Enzo bergidik ketakutan ketika mendengar perkataan dari yang paling tua di antara mereka, "Siapa juga yang tega membunuh seekor kucing, Jenderal? Mereka adalah orang yang jahat dan tidak memiliki hati!".
Niel menatap Enzo dengan lelah sebelum menanggapi Jenderal Aldios, "Sebenarnya ini bukan hal yang baru bagi kami, Jenderal. Kami sebelumnya sudah terlatih baik dalam bela diri ataupun menggunakan senjata saat berada di Lazarus karena itu telah diajarkan sejak kami masih anak-anak. Hanya saja memang si bodoh ini yang selalu tidak tega untuk membunuh apapun."
Niel menggelengkan kepalanya saat memberikan penjelasan kepada Jenderal Aldios. Enzo hanya dapat pura-pura tidak mendengar apa-apa dan lanjut mencari bahan senjata yang dibutuhkannya dengan bantuan sebuah buku bergambar.
"Hmm, Lightfall Line Flower, bunga dengan kelopak seperti bintang, bunga dengan kelopak seperti bintang... Ah, aku menemukannya!"
Jenderal Aldios yang mendengar seruan Enzo langsung berjalan cepat ke arahnya untuk melihat apakah apa yang dikatakan pemuda itu benar atau tidak. Saat melihat bunga yang dimaksud oleh Enzo, Jenderal Aldios langsung mengusak berantakan rambut yang lebih muda.
"Bagus sekali, Tuan Enzo! Anda menemukan bahan yang paling susah dicari sebagai bahan yang pertama!" Enzo tersenyum sumringah ketika Jenderal Aldios memberikan dua ibu jari kepadanya.
"Ini karena Niel sebelumnya menjelek-jelekkanku sehingga Dewa kini memutuskan untuk membantuku." Canda Enzo sambil memetik beberapa kelopak dari bunga tersebut dan memberikannya kepada Jenderal Aldios.
Niel yang awalnya berusaha untuk mempertahankan ekspresi datar akhirnya tak sanggup sehingga memecahkan sebuah senyuman kecil, ia lalu berusaha untuk menutupinya dengan salah satu tangan.
"... Konyol sekali."