The Empyrean's Reign

The Empyrean's Reign
Ch.8- Trance



"Anda ternyata sangat berbakat dalam hal memasak, Jenderal."


"Yah, sebenarnya kemampuan saya hanya berada di rata-rata. Kemampuan ini memang sudah termasuk sebagai salah satu keterampilan yang wajib dikuasai untuk bertahan hidup."


Langit sudah diselimuti oleh warna hitam yang menandakan bahwa hari telah malam. Bintang-bintang yang tak dapat terkalahkan sinarnya menaburi sang langit layaknya glitter yang digemari oleh kalangan banyak, mengelilingi rembulan jelita sembari memancarkan sinar redup.


Salah seorang pemuda di dalam hutan itu menatap berkah kasih yang alam berikan dengan pikirannya sudah melayang kemana-mana. Walaupun netranya yang bagaikan samudra luas merefleksikan titik-titik kecil di langit, lamunan dari sang anak telah dengan lancar mengalir bagai arus sungai.


Ingatan di dunia sebelumnya kembali menyerang bagaikan anak panah terhadap jantung. Walaupun beberapa waktu telah ia lewatkan di dunia baru ini, semuanya masih terasa seperti mimpi yang tengah berjalan dan dia hanyalah seorang pemimpi yang mengikuti alur cerita tanpa memikirkan logika.


"...el-"


Dan dia akan bangun dari mimpi ini setelah sang cerita selesai dengan ingatan kabur.


"Niel!"


Sontak hal yang ia lamunkan terbuyar setelah nama miliknya diteriakkan tepat di samping telinganya. Perasaan yang sudah buruk menjadi semakin parah ketika melihat ekspresi tengil dari sahabatnya selama lima tahun.


"Jika saja kita tidak saling kenal, sudah aku hancurkan wajahmu dari lama."


Enzo seketika terperangah ketika mendengar pernyataan Niel, "Hei! Aku sudah memanggil namamu berkali-kali tapi kau terlalu sibuk dengan angan-anganmu sehingga tak dapat menanggapi!"


Niel tidak menghiraukan rengekan Enzo sebab perhatiannya dialihkan dengan wangi makanan yang menggugah selera. Perutnya yang sedari siang tak diisi apa-apa mulai meraung untuk diberi makanan.


"Tuan Niel, makanannya sudah siap untuk dihidangkan. Silahkan makan saja sepuas anda karena saya telah menangkap Seaplate Fish yang cukup untuk jumlah porsi tiga orang."


"... Terima kasih, Jenderal." Niel menatap makanan yang dihidangkan oleh Jenderal Aldios dengan intens. Saat ini makanan yang biasanya tidak terlalu ia gemari tampak begitu berkilau di matanya sampai terasa seperti Niel tengah disihiri oleh sesuatu.


Mungkin memang dia saja yang sudah terlalu lapar.


""Selamat makan!""


***


"...gh-"


"Urgh... Akan kubunuh kau, tupai sialan..."


Niel terbangun dengan disambut oleh kata-kata yang tidak mengenakkan telinga terlontarkan dari mulut sahabatnya. Netra birunya juga menyadari bahwa kaki dari si sialan ini menumpuki kaki miliknya sehingga menjelaskan rasa pegal yang belum lama ia rasakan.


Jdeg!


"...Kuh! Maaf... Tupai, jangan tendang kakiku...! Ah, sakit...Hiks."


'Dasar sinting...'


Niel memperhatikan keadaan sekitarnya setelah mengusir kaki Enzo. Sepertinya mereka terlalu asik berbincang sampai ketiduran dan terlupa untuk masuk ke tenda masing-masing.


Karena sedikit tidak masuk akal bahwa Jenderal Aldios seceroboh itu, hal yang paling mungkin adalah sang Jenderal memang sengaja melakukan ini.


Niel masih terlalu linglung untuk memikirkan alasannya sehingga ia memutuskan untuk berhenti berpikir dengan keras.


Mata dari sang pemuda kemudian bergerak untuk memindai kondisi hutan saat itu, yang kemudian juga diikuti dengan gerakan meregangkan tubuh. Dapat terdengar suara kertakan yang terkeluarkan karena aktivitas Niel.


'Suara itu lagi.'


Niel kembali mendengar bunyi aneh yang telah mengikutinya semenjak hari masih siang. Terus terang, walaupun ia telah mendengar suara itu berkali kali, sang suara tak pernah gagal sekalipun dalam membuat tubuhnya merinding.


Fokus Niel dalam sekejap langsung buyar saat kepakan sayap seekor kupu-kupu menginfiltrasi indra penglihatannya.


Kupu-kupu yang dimaksud memiliki tampilan yang tak dapat dikatakan nyata. Sayap sang Mariposa terlihat seperti permata yang telah dipahat seteliti mungkin, mengeluarkan warna cahaya yang identik dengan pelangi walaupun sang sayap tampak sebening kaca.


Entah dari pemikiran siapa, Niel merasa dirinya sangatlah familiar dengan kupu-kupu tersebut. Bagai terhipnotis, Niel perlahan berjalan mengikuti arah kupu-kupu tersebut pergi.


Setelah beberapa menit, kupu-kupu tersebut tiba-tiba berhenti dan langsung berbalik menghadapi Niel. Wujudnya yang seindah rembulan mendadak retak dan berhembus menjadi debu, seolah-olah bahwa dia tidak pernah ada sama sekali.


Niel langsung tersadar dan panik ketika mengetahui bahwa ia sekarang tengah tersesat, dan tanpa waktu lama segera menyesali kecerobohannya. Walaupun begitu, ia tidak dapat menahan namun terpana dengan pemandangan hutan yang ada di hadapannya saat ini.


Cahaya-cahaya redup yang dipancarkan tanaman membuat suasana hutan menjadi teduh dan terasa nyaman. Suasana hutan yang nyaman juga didampingi dengan aura mistik serta indah untuk dipandang. Orang-orang yang sangat mencintai keindahan akan menganggap hutan ini sebagai surga duniawi.


Niel merasa jika bisa, kapan-kapan ia akan tinggal di hutan ini. Suara hutan yang menenangkan pikiran, suasana yang menyamankan hati, sederhananya ini adalah lokasi idaman Niel untuk tinggal!


"... N...""


Sang pemuda tersentak ketika suara halus bergema mendatangi indra pendengarannya. Ia menoleh ke sana-kemari untuk memastikan namun tidak menemukan apa-apa.


""... Ni... E...""


Niel hanya mampu menjadi semakin linglung ketika suara tersebur perlahan membesar dan memanggil nama miliknya.


""Niel!!!""


Pria dengan netra biru itu dapat merasa jantungnya jatuh sampai ke bawah perut ketika tubuh miliknya terlihat seperti terhisap ke dalam pohon di dekat tempat ia berdiri barusan. Ia ingin berteriak meminta pertolongan namun dihalangi oleh tenggorokan kering sembari ditemani oleh ketidakmampuan dalam mengutarakan sepatah katapun.


Akhirnya ia terhisap masuk oleh pohon tersebut tanpa seorangpun yang mengetahuinya.


***


"Ugh!" Niel terjatuh saat pohon tersebut mengeluarkannya. Niel mengusap-ngusap bagian belakangnya sebelum memperhatikan tempat ia berada saat ini.


Perhatiannya teralihkan ketika ia menyadari dia sedang berada di tempat yang berbeda sekarang. Tempat ini memiliki suasana yang sama dengan Tregwey Forest namun dengan perasaan yang berbeda. Niel tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikannya namun ia tahu jelas bahwa tempat ia berdiri sekarang bukan Tregwey Forest.


Niel kemudian bangkit dari posisi duduknya dan perlahan berjalan didampingi oleh perasaan waspada. Ia berjalan terus-menerus sampai melihat suatu pemandangan yang membuatnya menahan nafas.


Seekor rusa putih tengah berdiri tanpa kesulitan diatas kolam air yang merefleksikan cahaya ratusan kunang-kunang di udara. Tanduk panjang bercabang dari sang rusa didekorasi dengan berbagai bunga bercorak biru langit. Rusa itu dapat diibaratkan bagai jelmaan Dewi yang berasal dari dunia atas.


Rusa yang tengah ia kagumi keindahannya perlahan-lahan menyusut dan berubah menjadi sebuah... Tongkat?


"Teteskan darahmu pada inti permata dari tongkat ini dan kontrak abadi akan terjalin antara kau dan aku. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan semua ini.


Jalan untuk pulang dari hutan ini adalah pohon itu. Setelah kau masuk kesana, akan ada kupu-kupu yang menuntun untuk kembali ke tendamu."


Suara surgawi itu perlahan-lahan memudar sebelum menghilang sepenuhnya. Tongkat yang sepertinya terbentuk dari rusa tadi langsung terjatuh ke dalam genggaman Niel yang masih belum mencerna peristiwa barusan.


"Sepertinya sebentar lagi aku akan menjadi gila..."