The Empyrean's Reign

The Empyrean's Reign
Ch.7- Berkemah



"Lihat, Jenderal! Saya telah menemukan bahan yang terakhir!"


Enzo berseru kepada Jenderal Aldios dengan penuh semangat membuat pihak yang lainnya ikut gembira. Jenderal Aldios menerima bahan senjata yang diberikan Enzo sebelum memuji pemuda itu, "Bagus sekali, Tuan Enzo! Sepertinya anda memiliki bakat untuk menjadi seorang Researcher. Bidang mencari-cari seperti ini merupakan keahlian mereka."


Niel yang sedari tadi diam karena tidak ingin terlibat dengan pembicaraan aneh hanya terus mengamati sekelilingnya dengan perlahan. Satu jam telah berlalu dan dia sudah menemukan dua dari empat bahan senjata yang dia perlukan.


Sepertinya dia tidak terlalu beruntung jika dibandingkan dengan Enzo yang telah menemukan semua bahan yang dibutuhkannya.


Ssshh...


Niel dengan spontan memutar kepalanya ke arah sumber suara yang baru saja ia dengar. Entah mengapa bulu kuduknya seketika naik ketika mendengar bunyi itu.


"Niel?"


"Apa anda baik-baik saja, Tuan Niel?"


Niel menatap ke arah kedalaman hutan tempat suara tadi terdengar untuk lebih lama sebelum menggelengkan kepalanya ketika melihat Enzo dan Jenderal Aldios yang khawatir.


"Tidak apa-apa."


***


"Hari sudah mulai malam. Tuan Niel, Tuan Enzo, mari kita membangun tenda dan beristirahat dan melanjutkan perjalanan kita pada esok hari. Kita tidak boleh terlalu kelelahan."


Kedua orang yang lebih muda menganggukkan kepala mereka serentak, setuju terhadap saran sang Jenderal tanpa melawan sedikitpun. Mereka juga sudah mulai lelah karena dihadapkan dengan para Beast yang menghambat jalan mereka sepanjang hari.


Saat berjalan-jalan sebentar menelusuri hutan, mereka akhirnya menemukan kawasan yang tepat untuk beristirahat. Jika dilihat dari kondisinya, sepertinya kawasan ini memang kerap dijadikan sebagai tempat perhentian para petualang yang mengunjungi Tregwey.


Niel menatap lampu dekorasi redup yang digantung di pohon sekitar area itu dengan aneh. Orang seperti apa yang kehilangan akalnya sampai menghias hutan menyeramkan dan gelap ini?


Orang itu sepertinya memiliki kepribadian yang cukup... Unik.


Yah, lebih baik tidak usah dipikirkan terlalu dalam.


Jenderal Aldios tanpa ekspresi mengacak tasnya sendiri untuk mencari suatu benda sebelum menemukannya. Yang sedang berada di dalam genggamannya saat ini adalah tiga miniatur tenda yang anehnya terlihat amat sangat detail.


Enzo dan Niel menatap yang paling tua di antara mereka dengan linglung setelah menyaksikan kejadian yang sangat tidak sesuai dengan perawakan Jenderal Aldios. Mengapa tiba-tiba sang Jenderal mengeluarkan miniatur?


Apakah dia ingin bermain rumah-rumahan?


Semakin banyak pertanyaan yang muncul di benak masing-masing pemuda walaupun mereka hanya menutup mulut dan tidak melontarkan sepatah katapun. Tanpa adanya komunikasi, mereka sepakat memutuskan untuk tidak mengomentari tingkah Jenderal Aldios yang seaneh apapun karena sang Jenderal selalu beraksi dengan menggunakan logika.


Jenderal Aldios kemudian menyusun ketiga minatur tenda tersebut di atas permukaan tanah yang dilapisi dengan rerumputan. Pria tersebut setidaknya meletakkan miniatur-miniatur itu dengan jarak di masing-masing antaranya sekitar dua meter lebih.


"Jenderal, apa yang sedang anda lakukan sekarang...?" Enzo tidak dapat menahan rasa penasaran dan akhirnya menyampaikan pertanyaan yang didasari kekalahan atas rasa ingin tahu miliknya.


Niel dan Enzo menatap Jenderal Aldios yang kemudian mundur dari lokasi miniatur yang ia tempatkan sebelum mengeluarkan sesuatu kembali dari tas miliknya yang tampak seperti tas ajaib lama-kelamaan. Jika penglihatan Niel benar, benda yang dikeluarkan Jenderal Aldios adalah sebuah bola kaca transparan dengan asap berwarna biru kehijauan yang memenuhi isi bola tersebut.


Kedua pria yang berasal dari dunia lain itu kemudian mencoba untuk menerka apa yang akan sang Jenderal lakukan selanjutnya. Mengomentari segala hal yang dilakukan oleh si paling tua di antara mereka bagaikan komentator dari olahraga sepak bola.


Tanpa disangka, sang Jenderal melempar bola itu ke arah lokasi dimana ketiga miniatur tadi berada!


BOOM!!!


Suara ledakan kemudian terdengar sebelum asap mengelilingi ketiga pria di tengah hutan tempat mereka berdiri sekarang. Bunyi batukan langsung mengisi seisi hutan setelah asap itu mulai berkeliaran.


"JENDERAL! JIKA ANDA INGIN MENINGGAL JANGAN MENGAJAK KAMI!!!"


Seorang pemuda lagi sudah sejak sekian lamanya menghentikan batuknya dan menatap pemandangan di depannya dengan terkesima.


"... Sihir macam apa ini?"


Tiga tenda berwarna abu-abu dengan sentuhan hijau hutan kini berdiri dengan kokoh di hadapan mereka. Jika mengintip isi dari tenda tersebut dari kain terbuka yang menjadi pintu masuk tendanya, kamu dapat melihat matras panjang dengan bantal dan selimut yang terlihat nyaman.


"Ini adalah ciptaan dari Researcher Mavis Lotus, Researcher terhebat ketiga di wilayah Isychos. Dia adalah teman sekelas saya saat kami masih menempuh pendidikan di Academy of Heroes Kerajaan Valdis." Jenderal Aldios menjelaskan beberapa hal kepada mereka setelah menerima lirikan kebingungan dari kedua pemuda yang lebih muda darinya.


"Yah... Dia juga sering mengusik saya tetapi hal itu tidak perlu dibicarakan..."


""Apa?""


"Tidak apa-apa." Sang Jenderal langsung menggelengkan kepala ketika Niel dan Enzo ingin mengkonfirmasi kembali ucapannya sebelumnya.


Aldios kemudian kembali mengalihkan pembicaraan mereka, "Yah, dapat saya akui, ini memang salah satu dari ciptaan-ciptaannya yang luar biasa. Mavis sudah menginovasikan berbagai ide kreatif selama kurang kebih 31 tahun masa karirnya sampai sekarang. Jika kita ingin mengembalikan bentuk tenda-tenda ini kembali ke semula, kita dapat melemparkan bola berwarna merah yang sedang saya pegang ini dengan cara yang sama seperti tadi."


Niel dan Enzo terkagum-kagum ketika mendengarkan pernyataan yang keluar dari mulut sang Jenderal Aldios itu sendiri. Jika bahkan seorang Jenderal mengakui seseorang sampai seperti itu, sudah tidak dapat diragukan bahwa orang itu adalah orang yang luar biasa.


"Baiklah, Tuan-tuan sekalian. Bagaimana jika sekarang kita pergi ke sungai terdekat untuk membersihkan diri agar besok kita dapat melawan Azure Wolf dengan semangat?"


Enzo mengangguk dengan antusias terhadap ajakan Jenderal Aldios sambil menahan tangan dari Niel yang sedang mencoba untuk kabur.


"Ayolah, Niel! Ini pengalaman seratus tahun sekali!"


"Ugh..."


***


"Jenderal, apakah gambar bunga mawar yang ada di pinggang kanan anda itu sebuah tato? Tato anda keren sekali!"


Kini ketiga pria yang berpetualang tadi telah memulai aktivitas mereka untuk membersihkan diri di sungai yang tidak jauh dari tempat persinggahan mereka. Enzo yang melihat sesuatu seperti tato di pinggang Jenderal Aldios sontak menanyakan tentang itu untuk memeriahkan suasana.


Niel menatap sahabatnya yang baru saja bertanya dengan aneh, "Hei, apa matamu sudah rusak? Itu jelas-jelas gambar seekor harimau."


"... Sebenarnya ini luka yang berbentuk menyerupai Dewi Synthia."


"...Oh!"


Suasana di antara ketiga pria itu seketika berubah menjadi canggung ketika kedua tebakan dari yang lebih muda ternyata keliru. Salah satu oknum dengan rambut berwarna putih awan yang menebak dengan salah sekarang tengah berusaha untuk bersikap tidak peduli agar dapat menutupi rasa malunya.


Jenderal Aldios tertawa ketika melihat tingkah laku Niel dan Enzo. Sudah cukup lama semenjak dia dapat bersikap santai dengan orang di sekitarnya yang lebih muda sedari ia mendapatkan pangkat Jenderal. Rasa lelah akan pekerjaan yang terus menumpuk kian hari perlahan-lahan mereda saat pria dengan luka unik itu berbincang dengan Niel dan Enzo.


"Darimana anda mendapatkan luka ini, Jenderal? Luka yang sangat unik, apakah orang yang membuatnya itu seorang pengukir?"


Niel seketika menyikut Enzo ketika merasa bahwa pertanyaan yang dilontarkannya terdengar insensitif. Enzo yang juga merasa seperti itu spontan melontarkan kata maaf kepada sang Jenderal.


Aldios tertawa lepas saat mendengar pertanyaan itu sampai air bergelinang di matanya karena terlalu banyak tertawa.


"Yah... Dia memang seorang pengukir yang hebat. Saya bahkan dapat bertaruh bahwa dia adalah salah satu dari kandidat pengukir terhebat di Zendia pada abad ini." Jawab Jenderal Aldios terhadap pertanyaan Enzo setelah menyeka gelinangan air matanya.


"Sayangnya, ada sebuah kejadian yang membuat saya dan dirinya tidak berhubungan dengan baik. Saya bahkan tidak dapat melakukan apa-apa untuk mengembalikan hubungan baik kami.


Yah, begitulah. Semua kata sapa pada akhirnya pasti akan berakhir dengan ucapan selamat tinggal."


Niel dan Enzo terdiam sebentar sebelum sepakat secara batin untuk tidak membicarakan perkara luka unik dari Jenderal Aldios untuk kedepannya.