The Empyrean's Reign

The Empyrean's Reign
Ch.12- Si Kembar dan Berita buruk



"Ah, akhirnya kita sampai juga di Istana. Ini melelahkan sekali."


"Tapi Niel, kita kan hanya naik kereta. Apanya yang melelahkan?"


Niel yang malas untuk menanggapi hanya mengabaikan pertanyaan Enzo. Mereka berdua lalu turun dari kereta setelah berterima kasih kepada sang kusir yang mengantar mereka dari kota sampai ke Istana Malchus.


"Kalian sudah kembali, Enzo, Arthos."


Niel dan Enzo yang baru saja turun dari kereta langsung ditemukan dengan seorang remaja laki-laki dengan rambut berwarna biru. Kedua pemuda itu kemudian menganggukkan kepala mereka kepada orang yang sebelumnya merupakan ketua kelas mereka di Lazarus, Luan Zephyr Ivaylo.


"Kau sedang berlatih, Luan?"


Remaja yang dipanggil Luan oleh Enzo mengangguk, "Aku harap besok kalian berdua bisa datang ke lapangan untuk ikut berlatih bersama kami. "


"Sekarang aku juga bisa ikut berlatih. Kalian belum selesai, bukan?" Enzo menepuk dadanya beberapa kali dengan sombong sebelum bertanya. Niel hanya memutar bola matanya malas ketika mendengar candaan sahabatnya.


Luan terkekeh sebentar sebelum mengangguk, "Tentu saja belum. Bagaimana denganmu, Arthos?"


"Aku akan mengikut latihan besok saja. Aku memiliki hal baru yang harus dicoba. Aku pergi dulu." Niel menolak ajakan Luan dan berpamitan kepada sang mantan ketua kelas dan sahabatnya. Yang ditolak pun hanya mengangguk, sama sekali tidak merasakan sakit hati atas tolakan Niel.


Kedua pemuda yang tersisa akhirnya menatap figur Niel yang perlahan menjauh. Luan lalu bertanya kepada Enzo, "... Apakah Arthos berafinitas es?"


Enzo mengangguk terhadap pertanyaan Luan walaupun dia tahu bahwa Niel tidak hanya berafinitas es saja.


***


"…. Apa yang sedang kalian lakukan di kamarku?"


"Ah, Niel! Kau sudah kembali! Lihat Arshe, dia sedari tadi tidur di kasurmu!"


"Hei, kau ingin mati?"


Kini Niel malah dipusingkan dengan sepasang anak kembar yang entah mengapa memilih untuk berjambakan di kamarnya. Padahal dia tadi telah dengan bahagia kembali ke kamar karena sudah terpisah dengan Enzo,


"Panggil aku kakak, dasar kurang ajar! Beraninya kau memanggilku dengan cara informal?!"


"Kita hanya berjarak beberapa menit, kau orang gila!"


Jtak!


""Agh! Niel!""


"Jika kalian ingin bertengkar, jangan bertengkar di kamarku. Kembali sana ke kamar kalian." Niel memicingkan matanya kepada dua orang didepannya, tidak sedikitpun merasa gentar karena telah menjitak kepala mereka.


Dua orang yang sedang berbicara dengannya sekarang adalah sepasang anak kembar, Arche yang lebih tua dan Arshe yang lebih muda. Mereka berdua termasuk orang yang cukup dekat dengannya di Lazarus. Enzo berkata bahwa menurutnya mereka cukup hebat karena dapat bertahan dalam bersosialisasi dengan Niel yang memiliki pribadi eksentrik.


"Sudah lama kita tidak berjumpa. Bagaimana kabar kalian?"


"Sebenarnya kita baru saja bertemu empat hari yang lalu saat sedang berlatih bersama, tapi baiklah! Tentu saja kabar kami berdua baik walaupun Arche meminta untuk dibunuh setiap detik." Sang kakak tersenyum lebar sebelum berdiri dan merangkul bahu Niel yang sedang tersenyum kecil.


Arshe membantah perkataan Arche dengan mata yang berkedut kesal, "Hei, kau sedang membicarakan dirimu sendiri?"


"Apa kau bilang?!"


Niel mengabaikan si kembar yang memulai pertengkaran mereka kembali dan memutuskan untuk membersihkan diri.


'Hmfh, aku masih harus mencoba saran yang diberikan oleh pria bernama Frederick itu.'


***


"Ini tidak masuk akal…"


Warna rambut Niel benar-benar bersedia untuk berubah setelah ia mencoba saran yang diberikan Frederick untuk tidak langsung mengubahnya menjadi warna hitam. Sekarang rambut yang awalnya berwarna putih bagaikan kapas berubah menjadi biru keperakan yang benar-benar membuatnya terlihat seperti pemuda berafinitas es.


Yang tidak masuk akal adalah, bagaimana bisa Frederick mengetahui cara mengatasi masalahnya?!


"Memang benar firasatku bahwa dia adalah orang yang mencurigakan…"


Niel keluar dari kamar mandi berkemeja putih biasa didampingi dengan celana kain hitam sembari mengusak rambutnya yang basah dengan handuk berwarna putih bersih. Saat ia baru saja keluar, penglihatannya dikotori dengan tiga pemuda kurang ajar yang sedang berbaring dengan malas di lantai kamar miliknya.


Tentu saja pemuda satu lagi selain si kembar yang baru saja bergabung adalah Enzo.


"… Bukankah kau sedang latihan? Perasaanku baru setengah jam berlalu sejak kalian latihan…"


Enzo menanggapi pertanyaan Niel dengan suara yang yang kecil dan mata yang perlahan menutup, "Kamu tidak lihat sekarang sedang hujan, Niel? Tentu saja latihannya diakhiri."


"Benarkah? Aku tidak sadar."


Niel dibingungkan dengan tanggapan Enzo sebelum saat membuka tirai kamar yang berwarna merah, dia diperlihatkan dengan lapangan kerajaan yang diguyuri oleh air hujan. Pemuda dengan surai berwarna putih itu lalu menutup kembali tirai kamarnya.


"Ah iya, Enzo. Aku ternyata dapat mengubah warna rambutku menjadi biru keperakan."


Enzo yang awalnya akan segera tertidur langsung membuka matanya yang mendadak segar dan segera terbangun dari posisi berbaringnya setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Niel, "Kau serius?! Kenapa tiba-tiba bisa?!"


Niel mengangkat kedua bahunya sembari melafalkan mantra Transformio. Rambut yang awalnya putih dengan perlahan berganti menjadi warna biru keperakan, mengejutkan ketiga pemuda yang ada di hadapannya.


Arche menepuk tangannya sekali dengan ekspresi senang, "Dengan begini kau bisa dengan tenang belajar di akademi, Niel! Ini sangat bagus!"



""Hm?""


***


"Bukankah Jenderal Aldios telah mengatakan bahwa setelah dua bulan berlalu, kita semua akan didaftarkan ke Academy of Heroes sebagai murid baru? Sangat terlihat bahwa kalian tidak menyimak penjelasan Jenderal."


Niel mengusap wajahnya keras dengan frustasi, "Baru saja kemarin aku berpikir bahwa setidaknya kita terbebaskan dari sekolah. Argh! Menyebalkan sekali."


Academy of Heroes atau yang biasa disebut sebagai Acero adalah Akademi unggul yang berada di pusat Benua West Manvit. Akademi ini terletak di tengah-tengah antara wilayah Isychos dan Yin. Acero telah bertahun-tahun menjabat sebagai Akademi terbaik di benua manusia yang posisinya tidak tergeserkan oleh pihak manapun.


Ternyata Akademi yang terdengar luar biasa ini telah mengundang para pahlawan generasi ketiga untuk turut serta dalam berpartisipasi menjadi murid baru tahun ini. Menurut rumor, alasan Akademi melakukan itu adalah untuk membantu mendidik lebih jauh para pahlawan yang tidak lama ini dipanggil.


"Dua bulan… Berarti tiga hari lagi?! Hei, ini terlalu tiba-tiba! Mengapa kau baru mengatakannya sekarang, bodoh?!" Arche menggoyang-goyangkan Arshe dengan cara menarik kerah kemeja yang dipakai oleh adiknya. Sang adik yang tidak terima kemudian menggigit lengan Arche yang tak lama menjerit kesakitan.


"Jangan menyalahkanku atas kelalaian bodohmu itu, sialan!"


Kepala Niel yang sudah pusing bertambah pusing ketika dihadapkan dengan lengkingan lumba-lumba yang dikeluarkan oleh kedua pemuda kembar berambut biru dan si tosca dengan kondisi si biru menjambak rambut si tosca yang sedang menggigit lengannya.


Enzo menggerutu kesal dengan bibir bawah yang dimajukan, "Apakah ini artinya aku akan dihadapkan dengan pekerjaan rumah dan ujian lagi? Ah… Aku tidak mau…"