
Brak!
"Selamat pagi, Niel!"
Niel yang sedang membaca sebuah buku hampir saja menjatuhkan bukunya karena dikagetkan oleh sahutan Enzo.
"Ketuklah pintu terlebih dahulu sebelum kau ingin memasuki kamarku! Dasar, baru saja lewat beberapa hari dan semangatmu sudah pulih seratus persen."
Enzo tersenyum cengengesan sambil menggaruk tengkuknya, "Hehe, apa boleh buat. Jenderal Aldios memberitahuku bahwa kita akan mempelajari sesuatu yang spesial hari ini!"
Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar, menginterupsi percakapan mereka. Niel berjalan ke arah pintu kamarnya dan membuka pintu tersebut, terlihatlah seorang gadis dengan seragam pelayan yang sedang membawa troli berisi makanan.
"Maafkan saya telah menginterupsi istirahat anda, Tuan Arthos, Tuan Theodoric. Namun saya telah ditugaskan untuk mengantar sarapan Tuan Arthos hari ini menggantikan Pelayan Chire yang sedang mengalami penyakit demam. Tolong izinkan saya yang lancang ini untuk memasuki kamar Tuan agar saya dapat menata meja yang akan Tuan gunakan untuk makan."
"Ah, terima kasih atas kerja kerasmu. Silahkan masuk saja."
"Terima kasih, Tuan."
Mulut Niel dan Enzo menganga ketika mereka menatap tangan gadis pelayan tersebut yang sedang bergerak dengan kecepatan cahaya. Hebatnya lagi, makanan-makanan yang dipegangnya tetap berada di dalam kondisi sempurna.
"Sarapan anda telah selesai dipersiapkan, Tuan. Menu sarapan pagi ini adalah Golden Feathered Chicken Soup with Bread didampingi dengan Stellar Drink dan Silked Choco Pudding. Saya harap anda menikmati sarapan anda. Saya permisi." Gadis dengan senyuman yang tidak pernah luntur itu kemudian keluar dari kamar tidur Niel setelah mempermisikan dirinya.
"Tidak peduli berapa kali aku melihatnya, pelayan-pelayan disini memang menakjubkan sekali. Bagaimana bisa makanan-makanan ini tetap berada dalam kondisi sempurna setelah melewati hal secepat itu?"
"Mereka sudah terbiasa setelah melakukannya selama bertahun-tahun." Niel menjawab pertanyaan Enzo sambil menduduki kursi yang ada di depan meja makannya. Pria dengan iris berwarna biru laut itu kemudian memilih sebuah sendok dari sekian banyak sendok yang tertata rapi di samping kanan meja sebelum akhirnya mulai menyantapi sarapannya.
"Kau tidak sarapan?" Tanya Niel kepada Enzo. Enzo menggeleng, "Aku meminta mereka untuk mengantarkan sarapanku pada jam delapan. Satu jam lebih awal darimu, hehe."
Niel terjeda sebentar sebelum kembali bertanya, "Untuk apa?"
"Agar dapat mengobrol denganmu!"
Niel menatap Enzo dengan lelah, "Lakukan sesukamu."
***
"Ini minuman yang sangat mencurigakan. Ada apa dengan titik titik putih yang bersinar ini?" Niel mengamati cairan yang ada di dalam gelas transparan dengan seksama.
Enzo mengangkat bahunya, "Aku juga berpikir begitu awalnya, namun karena aku tersedak jadi aku meminumnya. Rasanya seperti teh biasa."
"Benarkah?" Niel kembali menatap Stellar Drink dengan curiga sebelum akhirnya memutuskan untuk meminumnya. Raut wajah Niel langsung berubah menjadi biasa saja, "Kau benar. Rasanya seperti teh biasa."
"Iyakan? Awalnya aku mengira Stellar Drink ini rasanya akan mirip dengan minuman-minuman aneh yang biasa dijual di bermacam cafe Lazarus."
"Tapi bagaimana kalau minuman ini beracun?"
...
Tok... Tok... Tok...
"Tuan Niel, ini saya, Aldios."
"Silahkan masuk." Niel yang baru saja ingin mengutuk dirinya sendiri langsung teralihkan perhatiannya dengan suara berat Jenderal Aldios.
"Selamat pagi, Tuan Niel‐ Ah, ternyata Tuan Theodoric sudah berada di sini. Kalau begitu, ini akan jauh lebih mudah."
""?""
Jenderal Aldios menggaruk pipinya bingung sebelum matanya melebar seperti sedang takjub, ia menepuk tangannya sambil tersenyum, "Ah, lihat. Metamorfosi-nya sudah terjadi."
"Apa maksudmu- ENZO?!"
"KENAPA?!" Enzo yang baru pertama kali sejak sekian lama mendengar Niel berteriak, secara tidak sadar berteriak kembali kepada pemuda tersebut.
"Rambutmu... Rambutmu sedang mewarnai dirinya sendiri!"
***
"Ini seperti transformasi-transformasi yang ada di film B*rbie... Perbedaannya Enzo tidak mendapat gaun berkilau berwarna merah muda-"
"Berhenti menggunakan itu sebagai perbandingan!"
Enzo menyahut kesal sambil mencengkeram rambutnya yang sekarang berwarna pirang.
"Hal ini memang sudah umum terjadi kepada para pahlawan yang dipanggil ke dunia ini. Warna rambut dan mata anda akan berubah setelah meminum minuman yang tadi telah disediakan pada saat sarapan. Anda telah mengonsumsi minuman dengan kumpulan titik cahaya seperti bintang, bukan? Minuman itu bernama Stellar Drink." Jelas seorang pria paruh baya dengan warna rambut merah membara kepada dua orang pemuda di hadapannya.
"Transformasi ini bernama Metamorfosi. Hal ini berguna untuk membantu kita mengetahui elemen yang kita miliki."
"Hee.. Begitu ya.." Kedua pemuda tersebut menghela nafas lega. "Tapi mengapa pelayan yang tadi mengantarkan kami sarapan tidak mengatakan apa-apa?" Tanya Niel.
"Ah... Itulah sebabnya mengapa saya segera datang ke kamar anda setelah latihan pagi saya. Hari ini Pelayan Chire yang bertugas melayani anda mengalami penyakit demam yang lumayan tinggi. Itulah sebabnya dia digantikan dengan sebuah robot bionik yang dikirimkan oleh Kerajaan Ehoarn. Robot-robot mereka hanya mampu untuk menerima beberapa informasi sehingga informasi-informasi yang lebih spesifik tidak dapat disampaikan kepada mereka."
Mata Niel dan Enzo bersinar karena takjub, "Gadis yang tadi itu adalah sebuah robot?! Itu sangat menakjubkan..."
"Baiklah, mari kita tinggalkan pembicaraan ini dan bergerak ke topik yang lebih serius sekarang."
Raut muka Jenderal Aldios berubah menjadi serius. Niel dan Enzo yang melihat itu tanpa sadar menjadi tegang dan menegakkan posisi duduk mereka.
"Seperti yang dapat kita lihat, Tuan Enzo memiliki afinitas yang tinggi kepada elemen cahaya. Saya bisa melihatnya dari partikel-partikel Mana berwarna emas yang bercahaya di sekitarnya." Jenderal Aldios menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang.
"Benarkah? Apakah aku akan menjadi seorang Pendeta?!"
"Eh..."
"Abaikan saja dia, Jenderal. Bagaimana dengan situasi saya?"
Jenderal Aldios memegang dagunya sambil mengkerutkan alis. Niel yang melihat prilaku Jenderal Aldios menjadi semakin cemas bahwa ada sesuatu yang salah dengannya.
"Saya telah mendiskusikan kondisi anda dengan Yang Mulia.
Yang Mulia mengatakan bahwa Beliau pernah membaca tentang riwayat hidup seorang Pahlawan yang mengalami hal yang sama dengan anda, Tuan Niel. Di dalam buku tersebut dikatakan bahwa Pahlawan itu terbangun dalam kondisi berambut pirang tanpa mengonsumsi Stellar Drink dalam bentuk apapun. Ia adalah Pahlawan Rhysand Priel dari Pahlawan Generasi Kedua."
"...Rhysand Priel? Saya sempat membaca namanya di buku Guide to Zendia. Dari yang saya ingat, dia adalah orang yang memisahkan Crawford Village dengan The Forest of Death karena Hutan tersebut mengontaminasi Desa itu."
"Benar. Dia juga merupakan penemu dari Library of The Wise. Obsesinya terhadap pengetahuan adalah yang menjadi kunci dari kesuksesannya dalam menghadapi The Corruption."
"The Corruption... Bencana kedua dari Lima Ramalan The Divine Apostle Cassandra?"