
"The Corruption... Bencana kedua dari Lima Ramalan The Divine Apostle Cassandra?" Niel menggaruk pipinya pelan.
Jenderal Aldios mengangguk menanggapi Niel, "Yah, walaupun dia berhasil menghadapi The Corruption, masih menjadi misteri bagaimana dia mengetahui bahwa apa yang diramalkan Cassandra benar-benar akan terjadi di masa depan. Banyak yang berspekulasi bahwa dia datang dari masa depan mengingat dia adalah seorang Anomaly, ada juga yang berteori bahwa dia adalah seseorang yang begitu luar biasa sampai dapat mengkonfirmasi ramalan Cassandra."
"Anomaly? Istilah apa lagi itu? Argh, banyak sekali istilah-istilah asing yang membuat kepalaku serasa ingin pecah!" Enzo mencengkeram rambutnya kembali setelah mendengar omongan Jenderal Aldios. Niel sampai khawatir jika hal itu terus dilanjutkan oleh Enzo, dia akan menjadi botak selang beberapa waktu.
"Em, bagaimana cara menjelaskannya... Ah, singkatnya, Anomaly adalah julukan kepada para Pahlawan yang tidak datang dari dunia yang sama dengan Pahlawan-Pahlawan lainnya."
""?""
Jenderal Aldios yang melihat raut bingung kedua pemuda di depannya kembali memperjelas penjelasannya, "Begini, anda tahu benar bahwa Pahlawan-Pahlawan lain yang datang bersama anda kemarin adalah orang-orang yang anda kenal, bukan? Tentu saja begitu, itu karena sihir yang digunakan Divine Oracle memang bekerja dengan hanya menangkap mereka yang berada di suatu area yang sama. Bisa saja jika salah satu dari anda tidak berada di lokasi saat itu, Divine Oracle tidak akan membawanya ke Zendia.
Namun, terdapat lagi satu peristiwa yang langka. Terdapat beberapa Pahlawan yang asal dunianya jauh berbeda dari rekan-rekan mereka. Entah karena apa, sihir dari Rite of Summoning menarik mereka yang berasal dari lokasi berbeda. Merekalah yang disebut dengan Anomaly.
Nah, Rhysand adalah salah satu dari Anomaly yang dimaksud. Itulah mengapa tercatat dalam salah satu karyanya, "Their R'd Fing'r", bahwa salah satu alasan mengapa dia berkomunikasi seperti bangsawan-bangsawan pada zaman dahulu adalah karena dia terpengaruh oleh kebiasaan di dunia lamanya."
"Itu sangat menarik." Ujar Niel dengan mata yang bercahaya, mengabaikan asap yang keluar dari kepala sahabatnya.
Jenderal Aldios yang tertawa canggung melihat kondisi Enzo akhirnya memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan, "Hmm, bagaimana jika kita langsung saja mempelajari cara menggunakan sihir hari ini? Menurut saya, anda berdua cukup antusias ketika membahas tentang sihir."
""BENARKAH?!""
Gendang telinga Jenderal Aldios hampir pecah ketika mendengar teriakan kedua pemuda di depannya. Ia akhirnya mengangguk pelan sambil tersenyum kaku setelah memencet telinganya beberapa kali.
"Namun sebelum itu, sebaiknya kita mempelajarinya di Lapangan Latihan Kerajaan."
***
"Fire Magic: Blazing Rhythm!"
Gelombang api merah membara tiba-tiba muncul dari belakang tubuh Jenderal Aldios, melesat dan menciptakan efek angin yang menggerakkan rambut pendek pria tersebut sebelum akhirnya membakar habis papan target yang menjadi sasarannya.
"KEREN!!!" Seru Enzo ketika menyaksikan hal yang baru saja dilakukan oleh Jenderal Aldios. Beberapa prajurit yang sedang berlatih juga mengambil kesempatan untuk mengintip mengingat Jenderal Aldios adalah seseorang yang sangat jarang untuk menunjukkan kemampuannya di dalam Lapangan Latihan Kerajaan.
"Menakjubkan! Di Lazarus hanya ada beberapa orang yang dapat menggunakan sihir hanya dengan mantra sederhana..." Niel teringat kembali dengan dunia lamanya setelah menonton aksi Jenderal Aldios.
Jenderal Aldios menggaruk kepalanya sembari tertawa pelan, "Hahah, sebenarnya Blazing Rhythm hanyalah sebuah sihir tingkat rendah. Itulah mengapa saya dapat dengan mudah menggunakannya. Ah, prajurit yang di sebelah sana, tolong bawakan beberapa papan target untuk digunakan!"
"Siap, Jenderal!"
Niel yang mendengar pernyataan pria di depannya langsung memberi pertanyaan, "Sihir di Zendia memiliki tingkatan?"
Enzo menghela nafas lelah ketika mengetahui pertanyaan Niel akan membawa mereka ke sesi pembelajaran yang tanpa diragukan akan membuatnya mengantuk dengan mudah.
""Benar sekali, Tuan Niel. Sihir terbagi dalam tiga tingkat yaitu tingkat rendah, tingkat menengah, dan tingkat tinggi. Sihir tingkat rendah tanpa terkecuali dapat digunakan oleh siapapun! Biasanya sihir ini hanya merupakan sihir kombat sederhana maupun sihir yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.
Terdapat juga sihir tingkat menengah. Hampir semua jenis sihir tingkatan ini merupakan sihir kombat. Tetapi tentu saja cukup banyak yang merupakan sihir jenis lain. Sihir ini umumnya dapat digunakan oleh para Petualang, Prajurit, dan profesi-profesi lainnya yang melibatkan sihir.
Akhirnya yang terakhir, sihir tingkat tinggi. Sihir ini hanya dapat digunakan oleh seseorang yang memiliki afinitas elemen tertentu yang tinggi dan kapasitas Mana yang luar biasa besar. Contohnya, sihir tingkat tinggi elemen cahaya hanya dapat digunakan oleh orang yang afinitas elemen cahayanya cukup tinggi dan memiliki energi Mana yang melimpah. Mungkin saja di masa depan nanti Tuan Enzo akan dapat melakukan hal itu jika anda terus berlatih dan memperluas Laut Mana anda."
"Jika istilahnya sama dengan Lazarus, Mana itu energi yang dibutuhkan untuk mengeluarkan sihir dan Laut Mana adalah tempat dimana kita menampung Mana bukan, Jenderal?"
"Tepat sekali! Nah, jika anda berdua telah memahami dasarnya, bagaimana jika kalian mencoba untuk menggunakannya? Hmm, mari kita mulai dengan sihir tingkat rendah, Transformio."
Rambut merah Jenderal Aldios yang mengedarkan aura gagah tiba-tiba digantikan dengan warna hitam kecokelatan setelah ia merapalkan mantra pendek dari sihir tadi. Mulut Niel dan Enzo sedikit terbuka ketika menyaksikan hal tersebut karena sangat jarang ditemukan sihir yang dapat mengubah penampilan di Lazarus.
"Saya yakin anda berdua memiliki Mana yang telah banyak ditampung oleh Laut Mana anda masing-masing. Sekarang, bayangkan warna asli rambut dan mata anda, kemudian bacakan mantranya. Tetapi jika anda ingin memakai warna lain, tentu saja tidak apa-apa. Tinggal bayangkan saja warna apa yang anda inginkan lalu bacakan mantra dari sihir tersebut. "
Niel dan Enzo menganggukkan kepala mereka kepada Jenderal Aldios sebelum menutupkan mata. Mereka lalu membayangkan warna apa yang mereka inginkan. Enzo membayangkan rambut pirang seperti sebelumnya dan mata hijau zamrud aslinya. Sedangkan Niel membayangkan rambut hitam dan mata biru, sama seperti fisiknya di Lazarus.
""Transformio""
Zeet-
Enzo akhirnya membuka mata terlebih dahulu dan melihat refleksinya di sebuah gelas berisi air. Enzo kini sudah memiliki mata berwarna hijau bersinar dan rambut kuning keperakan. Jenderal Aldios dan Enzo pun tersenyum kepada satu sama lain karena dia berhasil dalam percobaan pertama. Mereka berdua lalu melihat Niel yang telah membuka mata untuk memastikan hasil percobaannya.
"Kau tidak mengubah warna rambutmu?" Tanya Enzo penasaran.
"Hm? Aku merubahnya kok?"
Enzo dan Jenderal Aldios yang mendengar perkataan Niel hanya mengerutkan dahi kebingungan sembari menatap satu sama lain. Enzo kemudian menatap Niel sekali lagi, "Yang berubah sepertinya hanya warna matamu saja, Niel."
"Benarkah?" Tanya Niel kecewa. Ia menyentuh rambutnya dan masih melihat rambut putih miliknya. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Enzo, "Mataku berwarna apa?"
"Biru."
"Ah... Sepertinya memang mataku saja yang berubah."
Niel menundukkan kepalanya dan tersenyum pahit. Kecewa oleh hasil percobaan miliknya. Enzo dan Jenderal Aldios yang melihat prilaku Niel hanya tersenyum masam.
"Tidak apa-apa, Tuan Niel. Jika nanti dicoba lagi pasti akan berhasil." Jenderal Aldios mencoba untuk menghibur Niel. Niel hanya mengangguk lesu sebelum memutuskan untuk mencoba lagi di kamar tidurnya nanti.
"Ah, tanpa terasa waktu sudah siang. Sebaiknya anda berdua mengganti baju dan pergi untuk makan siang di Ruang Makan Kerajaan." Jenderal Aldios mengingatkan mereka setelah melihat jam kayu yang terpajang pada dinding batu.
Niel dan Enzo membungkukkan badan kepada Jenderal Aldios sebelum akhirnya pergi dari lapangan itu. Jenderal Aldios menatap kedua punggung pemuda-pemuda itu dengan tatapan yang rumit.
"Em."
Syut!
Entah darimana, seseorang dengan jubah hitam yang menyelimuti seluruh badannya tiba-tiba muncul dari udara kosong dan berlutut di hadapan Jenderal Aldios setelah ia mengatakan sepatah kata.
"Hadir, Tuan Aldios. Silahkan berikan perintah anda."
"Berikan kabar ini kepada Yang Mulia Raja. Tuan Danniel Arthos telah dikonfirmasi bukanlah seorang Hollow yang Elementless karena ia dapat menggunakan sihir Transformio. Seorang Hollow tidak akan dapat mengubah penampilannya karena mereka telah terkurung dengan rambut dan mata berwarna putih mereka."
"Baik, Tuan." Sosok dengan jubah hitam itu mengangguk sebelum kembali menghilang dari tempat.