
Suara burung berkicau terdengar di pagi hari. Dedaunan berterbangan ke arah mana angin pergi, meninggalkan pohon yang sedari awal menjadi tempat hidupnya.
Langit biru dipenuhi dengan serpihan-serpihan awan putih yang berbentuk seperti kapas. Matahari bersinar dengan terang seolah-olah ia ingin menunjukkan bahwa sinarnya tidak terkalahkan.
Hari itu terkesan begitu damai dan indah, sampai semuanya berakhir ketika terdengar suara teriakan dari salah satu kamar di dalam Istana Malchus.
"SIAL!"
"Menyerah saja, Niel. Rambut ajaibmu itu tidak akan hilang bahkan jika kamu mengguntingnya dengan gunting ajaib."
Niel melirik sahabatnya dengan sinis, berpikir bahwa apakah dia boleh melempar gunting yang tengah ia pegang sekarang ke kepala Enzo. Lelaki dengan surai putih salju itupun kembali menatap dirinya di depan cermin.
"Ugh, rambut panjang ini sangat mengganggu." Niel memegang beberapa helai rambutnya dan menghela nafas lelah.
Tanpa terasa, Niel dan kawan-kawannya telah menetap di Zendia selama hampir satu bulan. Ia telah jauh lama beradaptasi dengan kehidupan barunya di Istana sebagai salah seorang Pahlawan. Hal-hal mengenai Lazarus yang mengganggu pikirannya pada minggu pertama juga telah ia relakan kepada yang di atas sana.
Lagipula Niel tidak memiliki orang yang ia sayangi tertinggal di Lazarus.
Dan sekarang yang menjadi masalah utama adalah rambutnya yang tidak pendek-pendek bahkan setelah dipotong ratusan kali!
"Ngomong-ngomong, aku kemarin mendengar bahwa Jenderal Aldios akan mengajak kita berdua untuk mengelilingi Kota Malchus pertama kalinya hari ini! Aku sangat tidak sabar, sudah berapa hari sejak kita datang ke Zendia?!"
"Uhuk- Uhuk! Khek, Apa kau bilang?!"
Niel tersedak oleh ludahnya sendiri ketika mendengar perkataan dari sahabatnya sampai bahkan gunting yang berada di tangannya hampir saja terjatuh.
"Jenderal berkata bahwa kita sudah berdiam di Istana terlalu lama. Jadi sudah saatnya bagi kita untuk mengambil satu langkah maju agar kita dapat berkembang."
Niel menutupi wajahnya menggunakan salah satu tangannya sambil menghembuskan nafas berat setelah mencerna apa yang Enzo katakan. Padahal ia sudah mulai nyaman saat tinggal di Istana dan sekarang ada saja hal yang mengganggu kedamaiannya.
Sebenarnya Niel juga ingin-ingin saja untuk menelusuri kota. Hanya saja hari ini adalah hari dimana dia memiliki jadwal membaca buku di Perpustakaan Kerajaan!
"Bisakah kita pergi besok saja? Aku memiliki urusan penting hari ini..."
Enzo meletakkan kedua jari telunjuknya dalam posisi silang sembari menggeleng kepada Niel, "Tidak bisa. Kata Jenderal dia juga mengajak kita karena terdapat sebuah masalah yang melanda Desa Bluetears. Kabarnya kita akan membantu dia memburu sekelompok Hell Beast yang menyerang Desa itu."
"Ugh..." Niel juga tidak dapat menolak jika itu adalah alasan mereka pergi. Dia masih memiliki rasa simpati, oke.
Beast yang dimaksud oleh Enzo adalah sekelompok binatang-binatang yang memiliki Mana di dalam tubuh mereka. Beast terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu Sacred Beast, Common Beast, dan Hell Beast. Hell Beast merupakan Sacred Beast atau Common Beast yang sudah kehilangan akal mereka. Itulah mengapa orang-orang biasanya memilih berburu Hell Beast untuk meningkatkan pengalaman mereka.
Niel dan Enzo sudah beberapa kali memburu Hell Beast di hutan khusus milik Kerajaan meskipun Beast yang mereka buru adalah Beast tingkat rendah. Jadi Azure Dia Wolf yang akan mereka buru kali in adalah Beast tingkat tengah pertama yang akan mereka buru pertama kali.
Yah, meskipun terdapat Jenderal Aldios di sisi mereka.
Tetapi mereka juga berpengalaman, kok! Mau bagaimanapun mereka adalah calon Hunter di dunia sebelumnya, Lazarus.
Semoga mereka dapat kembali dengan selamat.
***
"Wah... Ini sangat menakjubkan!"
Mata hijau Enzo bersinar bagai permata ketika menatap pemandangan Kota Malchus.
Di mata pemuda itu terdapat refleksi dari rumah-rumah berdesain abad pertengahan yang biasa mereka lihat di buku sejarah, tersusun rapi terjajar di masing-masing sisi kota dengan beberapa bangunan yang memiliki papan nama toko untuk mempromosikan toko mereka. Lampu-lampu jalan yang biasanya mengeluarkan cahaya kuning terang masih redup karena menunjukkan waktu masih siang hari.
Obrolan dan tawaan dari warga Kota Malchus mengisi alun-alun kota dengan hawa bahagia. Sesekali juga terdengar melodi dari para Musisi Jalanan yang ternyata merupakan salah satu alasan mengapa Kota Malchus termasuk dalam daftar Kota West Manvit yang harus dikunjungi oleh para Turis.
Jenderal Aldios tersenyum senang ketika melihat Enzo dan Niel terkagum-kagum oleh Kota tempat tinggalnya, "Saya juga pernah seperti kalian beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya baru saja menyelesaikan masa latihan sebagai seorang Prajurit dan mengambil cuti untuk beberapa waktu. Ketika saya keluar dari gerbang Istana setelah berapa tahun lamanya, saya kembali terpukau dengan pemandangan Kota ini. Padahal saya adalah warga asli dari Malchus."
"Siapa yang tidak akan terpukau dengan pemandangan ini? Saya merasa seperti baru saja masuk ke dalam dunia kartun Putri Dongeng yang disukai anak-anak." Niel menimpa pembicaraan sambil melihat ke sana kemari. Sesekali mengedipkan kedua matanya yang kering karena terlalu lama membukanya.
Jenderal Aldios tertawa ketika mendengar timpaan Niel sebelum menolehkan kepalanya ke arah Enzo yang masih berada di dalam dunianya sendiri, "Baiklah, Tuan Enzo, sebaiknya anda mengedipkan mata jika tidak ingin kelilipan debu. Tujuan kita selanjutnya adalah sebuah Toko Blacksmith. Pemilik toko itu adalah teman lama saya jadi mungkin dia akan memberikan beberapa diskon."
"Hee? Saya baru tahu bahwa Jenderal adalah tipe orang yang memanfaatkan harga teman." Enzo mengejek Jenderal Aldios sambil mengetuk tangan Jenderal pelan dengan sikunya.
Pria paruh baya yang diejek itu pun merasa sedikit malu dan menggaruk tengkuknya, "Bukan seperti itu Tuan Enzo... Old Lavi adalah kenalan saya yang merupakan mantan pemandai besi Kerajaan. Kami teman yang cukup baik karena dulu saya sering mencarikan material-material untuknya. Zirah yang biasa saya pakai juga merupakan salah satu hasil karyanya."
Niel dan Enzo menunjukkan ekspresi terpana ketika mendengar kisah Old Lavi dan Jenderal Aldios.
"Ah, lihat. Kita terlalu seru berbicara sampai tanpa sadar kita telah sampai di toko Old Lavi."
Jenderal Aldios tersenyum kecil sembari mendongakkan kepalanya untuk melihat papan nama toko bangunan di depannya sebelum tindakannya itu diikuti oleh kedua pemuda di belakangnya.
"Ini dia toko yang saya maksud. Toko dari Blacksmith yang paling terkenal di Kota Malchus, O'Smith."
Di papan nama dari toko tersebut, terdapat sebuah logo palu baja di samping tulisan 'O'Smith', menggambarkan apa yang dipromosikan oleh toko itu. Di bawahnya, terdapat jendela kaca dengan bingkai kayu yang menampakkan dua buah zirah besi berwarna perak dan merah yang mengeluarkan aura mewah dan berwibawa. Hanya dengan melihat, orang-orang sudah akan tahu bahwa harganya tidak murah.
Jenderal Aldios kemudian melangkah masuk ke dalam toko melalui sebuah pintu kayu yang memiliki papan gantung bertuliskan 'Open' di tengahnya. Bunyi gemerincing bel terdengar saat pria berambut merah itu melangkahkan kakinya masuk.
Niel dan Enzo pun mengikuti tindakan Jenderal Enzo seperti biasanya.
"Ah, Aldios sobatku! Sudah lama kau tidak menunjukkan batang hidungmu padaku dan sekarang kau malah membawa dua bocah kecil ke tempatku?"
Suara tawaan yang menggelegar terdengar membuat Niel terkejut. Sebuah pria paruh baya berbadan pendek kemudian menunjukkan dirinya sambil memasang senyuman yang lebar di atas janggut miliknya.
"Salam kenal, Niel dan Enzo. Aldios telah sering membicarakan kalian akhir-akhir ini ketika kami bertukar surat. Namaku adalah Old Lavi, seorang Dwarf yang dulu merupakan pemandai besi Kerajaan Malchus. Senang bertemu dengan kalian berdua."