
Niel melanjutkan sesi penyangkalannya di dalam kamar tidur setelah ia kembali dari Aula Kerajaan. Pria yang kini memiliki rambut seputih salju itu berbaring di atas kasur seperti sebuah mayat.
'Mengapa Divine Oracle menarik paksa kami untuk datang ke Zendia? Padahal Yang Mulia mengatakan bahwa krisis terbesar yang melandai Zendia telah ditangani oleh para pahlawan generasi pertama dan kedua.'
Niel mengingat kembali sosok Raja Reagon yang berlutut di atas lantai sambil mengutarakan permintaan maaf. Para Ksatria dan Tetua yang ada disana bahkan berusaha untuk mengangkat Sang Raja dari posisi berlututnya meskipun pada akhirnya akan dengan keras ditolak oleh pria tersebut.
Raja Reagon akhirnya baru bersedia untuk bangkit setelah Niel dan yang lainnya meminta Sang Raja untuk berdiri kembali. Niel yang awalnya ingin mengeluarkan semua emosinya langsung terdiam melihat itu dengan perasaan yang rumit.
'Aku juga ingin marah, tapi aku tidak seharusnya meletakkan amarahku kepada Yang Mulia karena dia juga tidak menyangka bahwa Divine Oracle akan dengan tiba-tiba datang dan melemparkan kami ke Kerajaan Malchus begitu saja.'
'Sosok yang harus bertanggung jawab saat ini tentunya adalah Dewi Synthia dan The Divine Oracle. Tetapi alasan mereka mengirimkan kami kesini saja belum jelas.'
'Ah, Kakak, tolong berikan aku kekuatan untuk melalui semua rintangan ini.'
Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar, Niel mengangkat kepalanya dengan lemah, "Silahkan masuk..."
Kriet...
"Niel, ini aku, Enzo."
Pria dengan iris berwarna biru tersebut segera bangkit dari posisi berbaringnya, menatap Enzo yang langsung memasuki ruangannya setelah mendapatkan izin masuk.
"Apa aku boleh ikut berbaring di sampingmu?"
Niel menganggukkan kepalanya kecil, sedikit menggeserkan tubuhnya untuk memberi tempat kepada Enzo sebelum kembali berbaring. Enzo yang melihat itu langsung melemparkan tubuhnya ke samping Niel.
"Gawat, Niel. Sepertinya aku akan menangis lagi..."
"Hei, jangan meninggalkan jejak ingusmu di kasurku!"
***
"Bagaimana kabar Arche dan Arshe? Aku tadi tidak sempat menyapa mereka."
"Mereka juga mengalami syok berat. Mereka khawatir dengan nasib kakak dan ayah mereka yang ada di Lazarus."
Enzo menjawab pertanyaan Niel setelah dia sudah merasa cukup tenang. Mereka berdua kemudian bercakapan akan bagaimana nasib mereka untuk kedepannya, menyebabkan suasana di dalam ruangan itu menjadi sedikit suram.
"Ah ngomong-ngomong, rambutmu itu diwarnai, ya? Dasar Niel, aku tahu kamu memang ingin kelihatan keren, tapi ini bukan saat yang tepat kau tahu?" Ledek Enzo yang sedang berusaha untuk mencairkan suasana. Mengabaikan fakta bahwa dia terkejut setengah mati ketika menyadari bahwa rambut putih Niel yang dilihatnya tadi bukanlah sekedar halusinasi.
"Bukan begitu... Rambutku sudah seperti ini semenjak aku bangun. Aku curiga bahwa mereka telah mewarnai rambutku diam-diam. Tapi apa manfaat dari mewarnai rambutku untuk mereka?"
"Entahlah. Mungkin mereka ingin menjadikanmu seorang Idola? Seperti yang ada di dalam televisi-televisi."
"Hei, jangan bicara sembarangan."
Mereka berdua kemudian tertawa kecil. Meskipun menurut Niel candaan Enzo itu tidak lucu, candaan dari sahabatnya itu tetap dapat membantu Niel untuk mengurangi perasaan sedihnya.
Niel tersenyum kecil sebelum senyumannya itu terjatuh kembali. Pria itu menghembuskan nafas lelah sambil menutup matanya pelan.
"Padahal tinggal beberapa bulan lagi... Kita akan lulus sekolah dan dapat menjadi seorang Hunter... Tapi tentu saja Dewa Dewi tidak akan mengizinkan semuanya berlalu begitu mudah." Niel mengutarakan isi hatinya kepada Enzo, merasa bahwa usahanya selama ini sia-sia.
"Ah, maksudmu Leila? Kau tidak perlu khawatir. Gadis gila itu akan dengan mudah berdiri di atas rantai makanan Lazarus dengan sifatnya itu. Yang perlu kau khawatirkan adalah bagaimana dia akan menjadi semakin gila ketika tahu bahwa abangnya telah memasuki daftar orang hilang."
Enzo tertawa kecil ketika mendengar perkataan Niel. Kesunyian kemudian kembali menyelimuti ruangan yang sedang mereka tempati. Enzo yang merasa tidak nyaman langsung membuka topik pembicaraan yang baru agar mereka dapat melanjuti obrolan mereka, "Niel, kau tidak mau membaca buku yang tadi diberikan oleh Yang Mulia? Yang Mulia juga memberitahu kita bahwa bahasa yang kita pakai dan bahasa yang ada di Zendia itu sama, jadi kita tidak perlu khawatir dengan yang namanya pembatas bahasa."
"Ah, iya juga." Niel langsung berdiri dari kasurnya sebelum bergerak untuk duduk di kursi yang ada di samping tempat tidurnya, membuka buku yang sedari tadi terbaring diam di atas bantal empuk.
"Guide to Zendia, ditulis oleh Nemina."
Zendia terbagi oleh lima benua. Namun jangan salah sangka, masing-masing dari benua ini sangatlah luas. Benua-benua tersebut adalah West Manvit, East Aeflgar, South Aguares, North Aglaeca, dan Mid Eldrida. Benua-benua ini dipisahkan oleh samudra yang dikenal dengan nama Dwilyn Tears.
West Manvit merupakan benua yang didominasi oleh ras manusia, sekaligus merupakan benua yang tengah ditempati Niel dan yang lainnya saat ini. West Manvit terbagi lagi menjadi dua bagian, yaitu Isychos dan Yin. Isychos merupakan bagian selatan dari West Manvit dan Yin adalah bagian utara dari West Manvit.
Kerajaan Utama dari Isychos adalah Kerajaan Valdis yang sekarang berada di bawah kekuasaan Raja Derek Valdis VI dan Ratu Elina Valdis.
"Banyak sekali hal yang perlu kita serap..." Mata Enzo sudah mulai berputar saking banyaknya informasi yang wajib ia pahami.
East Aelfgar adalah benua yang populasinya didominasi oleh ras Elf. Ras mereka adalah ras yang memiliki kapasitas Mana tertinggi jika dihitung secara rata-rata.
"Mana? Jadi disini terdapat sihir juga..."
South Aguares, adalah benua yang dipenuhi oleh Ras Demon. Benua ini dikabarkan merupakan satu-satunya jalan yang dapat digunakan untuk masuk ke Underworld tanpa harus menjadi sebuah roh terlebih dahulu.
North Aglaeca, merupakan benua yang ditinggali oleh para Demi-Human. The Forest of Death, hutan paling mematikan yang telah menyebabkan kematian ribuan petualang merupakan hutan yang berada di ujung utara benua North Aglaeca. Diberitakan juga bahwa alkohol nomor satu di Zendia berasal dari benua ini.
"Apakah hal ini memang harus disebutkan?"
"Entahlah, sepertinya penulis dari cerita ini merupakan seorang alkoholik?"
Benua yang terakhir, yaitu benua Mid Eldrida, merupakan benua yang terletak di tengah-tengah Zendia dan dikelilingi oleh keempat benua lainnya. Mid Eldrida ditempati oleh berbagai macam ras tanpa ada satupun ras yang mendominasi populasi benua tersebut sehingga diskriminasi ras sangatlah jarang ditemui di dalam benua itu.
The Yotier Tower, menara yang dapat mewujudkan hampir segala macam permohonan juga terdapat tepat di tengah-tengah benua itu. Kabarnya, kau dapat memasuki The Heavenly Abode, tempat tinggal para Dewa, Dewi, dan Malaikat jika telah menaiki lantai ke-89.
"Menara Yotier?!" Mata Niel dan Enzo seketika membulat ketika melihat nama tersebut.
"Ini tidak mungkin... Menara ini juga ada di dalam Zendia?!"
Menara Yotier merupakan menara yang telah menyebabkan berbagai macam penderitaan dari umat manusia di Lazarus, tempat kelahiran dari Niel dan Enzo.
Menara itu muncul pertama kali sejak 18 tahun yang lalu. Saat itu, semua penduduk Lazarus tengah menikmati kehidupan mereka dengan damai. Akan tetapi, menara itu dengan tiba-tiba muncul entah darimana dan mengeluarkan berbagai macam monster mematikan yang telah merengut banyak korban jiwa.
Beruntung para Dewa Dewi tidak berniat untuk memusnahkan umat manusia di Lazarus dengan begitu saja. Bersamaan dengan munculnya Menara Yotier, beberapa manusia juga diberi kekuatan luar biasa yang dapat digunakan untuk membunuh monster-monster tersebut.
18 tahun telah berlalu dan hampir semua lubang tempat keluarnya monster-monster mematikan telah disegel oleh para Hunter yang ahli.
Niel dan Enzo menatap satu sama lain.
Sepertinya Dewi Synthia dan The Divine Oracle tidak memanggil mereka kesini hanya untuk bercanda gurau saja.