The Empyrean's Reign

The Empyrean's Reign
Ch.1- Ah... Gawat



"Ugh..."


'Apa ini? Perasaan kasur milikku tidak senyaman ini.'


"Tuan Danniel Arthos, selamat pagi."


Niel langsung membuka matanya lebar dan bangun dari posisi berbaringnya. Rasa sakit yang luar biasa langsung menyerangnya dari ujung kepala sampai jari kaki, menyebabkan tubuhnya untuk jatuh dan kembali ke posisi berbaring.


Niel menggerakkan bola matanya ke samping kiri kasur tanpa mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang mengutarakan salam tersebut, menyebabkan orang yang menjadi objek tatapannya merinding.


"Tolong jangan menatap saya dengan tatapan seperti itu, Tuan Arthos. Nama saya adalah Aldios Xellqa, salah satu dari Lima Jenderal di Kerajaan Malchus. Saya merasa sangat terhormat karena dapat bertatap muka dengan Pahlawan yang akan menjadi cahaya umat manusia di masa depan nanti."


Niel yang mendengar ucapan panjang kali lebar itu seketika terdiam karena kebingungan, "... Apa maksudmu?"


Jenderal Aldios menutup matanya sejenak seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Setelah beberapa detik berlalu, pria paruh baya itu membuka kembali matanya dan memberikan senyuman kering kepada Niel,


"Saya rasa hal-hal yang dasar sebaiknya dijelaskan terlebih dahulu oleh Yang Mulia Raja. Setelah anda selesai mendengarkan penjelasan dari Yang Mulia, anda dapat menanyakan hal apapun kepada saya. Untuk sekarang... Sebaiknya anda beristirahat dulu sejenak. Saya akan mengantar anda untuk pergi ke Aula Kerajaan dalam kurun waktu lima jam."


Aldios membungkukkan badannya sebelum keluar melalui pintu berwarna cokelat tua yang berada di seberang kasur yang sedang Niel gunakan.


Mulut Niel terbuka sedikit setelah figur dengan punggung yang lebar itu menghilang dari pandangannya. Pemuda itu mencubit pipinya dengan keras untuk memastikan apa yang sedang dialaminya sekarang itu nyata.


Mata Niel berkedut, "Kerajaan? Jangan bilang aku sedang mengalami kejadian yang dialami oleh pemeran-pemerah utama di ratusan novel yang aku baca? Apa-apaan ini?!"


"Ini tidak mungkin! Kembalikan aku ke Lazarus!" Amuk Niel sambil mencengkeram kepalanya. Amarah Niel semakin bertambah ketika melihat helaian rambut putih yang tergeletak di telapak tangannya,


"Apa-apaan lagi ini? Aku langsung menua setelah pergi ke dunia lain?!"


***


"Wajahku tidak berkeriput walaupun rambutku berubah menjadi warna putih. Apakah mereka diam-diam mewarnainya saat aku sedang tidak sadar? Tapi, untuk apa?" Curiga Niel. Saat ini, ia tengah berdiri di depan sebuah cermin yang cukup panjang untuk memperlihatkan sekujur badannya. Seragam sekolah yang ia pakai barusan telah diganti dengan kemeja putih bersih dan celana panjang hitam.


'Aku masih ingin percaya bahwa semua ini hanyalah sebuah mimpi. Namun dengan pipi yang merah merona ini, sepertinya itu tidak akan pernah terjadi.'


Sesi penyangkalannya telah berakhir setelah empat jam berlalu. Dengan pipi yang merah karena dicubit berkali-kali, Niel menghembuskan nafas lelah karena masih banyak hal yang tidak dapat ia serap ke dalam kepalanya.


"Kenapa ini harus terjadi tepat sebelum aku akan lulus dan dapat menjadi seorang Hunter..."


'Aku akan membunuh semua orang jika mereka memberiku alasan yang bodoh atas mengapa aku dipanggil kesini.' Niel menggigit kuku ibu jarinya dengan kuat, memasang ekspresi yang akan menakuti semua yang melihatnya.


Suara derit pintu menginterupsi Niel dari lamunannya. Niel mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan langsung menemukan Jenderal Aldios yang sedang tersenyum kecil.


"Tuan Arthos, apakah anda sudah selesai menyiapkan diri anda?"


Niel mengangguk terhadap pertanyaan Jenderal Aldios dengan lesu.


Jenderal Aldios yang melihat itu kemudian tersenyum lebih lebar, "Kalau begitu, tolong ikuti saya."


***


'Ada 12 orang termasuk aku yang sudah terpanggil. Apakah Enzo dan si kembar itu ada disi-'


"Niel!"


Tepat setelah Niel memikirkan itu, sebuah suara yang lantang langsung menyahutkan namanya. Pria dengan surai putih itu menghelakan nafas lelah, sudah mengetahui apa yang akan terjadi kepadanya setelah ini.


"Halo, En-"


Baru saja saat ia ingin menyapa sahabat karibnya itu, Niel langsung dikejutkan dengan mata sahabatnya yang sangat bengkak,


"Ada apa denganmu?!" Tanya Niel terkejut.


"Ah ini? Aku sedikit terkejut tadi, jadi air mataku keluar secara terus menerus. Hahah, ini lucu sekali. Aku terlihat seperti ikan buntal." Sahabatnya— Theodoric Enzo, mengoceh dengan lesu. Melihat Enzo yang biasanya sangat bersemangat menjadi seperti ini membuat Niel merasa sedikit khawatir.


"Hm? Maaf Niel. Sepertinya aku sedang berhalusinasi. Rambutmu berwarna putih! Hahah, ini lucu sekali..." Enzo mengulang kalimat yang sama dengan jiwa yang seperti sudah melayang pergi dari tubuhnya.


"Enzo..."


"Selamat datang di Zendia, para Pahlawan Suci yang telah dipilih oleh Dewi Synthia sendiri! Saya adalah Raja kesembilan dari Kerajaan Malchus yang terletak di Benua West Manvit, Reagon Qioer Malchus IX."


Suara seorang pria paruh baya dengan rambut yang sudah mulai beruban memotong percakapan Niel dan Enzo. Entah mengapa tubuh Niel dengan refleks langsung berdiri tegap ketika mendengar suara yang berwibawa tersebut.


"Sebelumnya, saya ingin mewakili Dewi Synthia untuk meminta maaf karena telah memanggil kalian semua untuk datang ke Zendia. Kalian... Telah dipanggil untuk menyelamatkan Zendia dari bencana besar yang telah diramal oleh The Divine Oracle."


Semua orang yang telah dipanggil terkejut bukan main, bahkan ada beberapa yang mulai bergetar panik.


"Bagaimana bisa sebuah kerajaan mengharapkan bantuan dari tiga belas remaja biasa? Apakah kalian sudah kehilangan akal kalian?"


"Alan-"


"Aku tidak mengatakan hal yang salah, Luan. Dilihat dari sisi manapun, ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana dengan keluarga kami yang ada di Lazarus? Kalian pikir kami akan melupakan semuanya dan menjadi seorang "Pahlawan" hanya karena permintaan kalian?"


Urat nadi Alan menonjol keluar leher ketika memikirkan akan bagaimana nasibnya untuk kedepannya.


Raja Reagon menutup matanya sebentar, "Sejujurnya, saya tidak tahu mengapa Dewi Synthia tiba-tiba mengirimkan seorang Divine Oracle.


Saya juga tidak tahu tentang "Bencana Besar" apa yang dimaksud oleh Dewi Synthia. Yang pastinya, saya juga enggan menaruh beban ini kepada tiga belas anak remaja yang seharusnya menikmati kehidupan mereka sekarang.


Hanya saja... Kalian semua tidak dipanggil melalui Rite of Summoning secara biasa, tetapi kalian telah ditarik secara paksa oleh sang Divine Oracle itu sendiri."


Mata Niel dan yang lainnya membulat ketika mendengar pernyataan dari Raja Reagon.


"Tentu saja, kami, sebagai Kerajaan yang menyembah Dewi Synthia, harus melakukan kewajiban kita untuk melaksanakan perintah dari Sang Dewi. Saya sekali lagi mewakili Dewi Synthia, meminta maaf atas permintaan yang egois ini."