The Empyrean's Reign

The Empyrean's Reign
Ch.10- Ziv dan Pria Menyeramkan



"*******! ****, ***** ****-"


"Niel!"


Kejadian yang familiar kembali terulang ketika mereka menggunakan Transportation Point untuk pulang ke pusat kota. Tetapi bedanya Jenderal Aldios tidak berada di samping mereka karena sang Jenderal masih berada di Desa Bluetears untuk menginformasikan warga desa bahwa Azure Dia Wolf telah berhasil mereka singkirkan.


"Aku tidak akan pernah terbiasa menggunakan benda sialan ini."


Niel menepuk pakaian yang ia kenakan beberapa kali untuk menyingkirkan debu yang bertengger. Keinginan untuk menghancurkan teknologi transportasi itu ia tahan sekuat mungkin agar ia tidak merepotkan Jenderal Aldios.


"Jenderal berkata kita dapat bersantai dan berjalan-jalan di pusat kota sampai sore sebelum kita kembali ke Istana. Lihat, dia bahkan memberiku sebuah peta!" Seru Enzo dengan bersemangat sembari menunjukkan peta Kota Malchus untuk para turis.


Sepasang sahabat itu berjalan keluar dari tempat pusat Transportasi sambil berbincang mengenai pengalaman mereka melawan Azure Dia Wolf.


"Jenderal mengatakan kemampuanmu berkembang dengan sangat pesat, Niel! Beliau mengatakan terakhir kali kau melafalkan mantra Swallowing Dusk, bayangannya malah memakan bayangan dari salah seorang pelayan kerajaan."


"Tolong jangan membawa-bawa kejadian itu lagi." Niel mengerutkan dahinya dengan telinga yang memerah karena malu. Ia masih ingin membunuh dirinya sendiri karena kejadian yang diceritakan oleh Enzo.


Enzo tertawa jahil dan segera mengganti topik pembicaraan sebelum Niel membunuhnya, "Sebaiknya kita pergi mengunjungi Old Lavi terlebih dahulu dan memberikan bahan-bahan yang kita dapatkan untuk dibuatkan tongkat. Setelah itu kita dapat pergi ke Guild Petualang untuk mendapat kartu identitas."


Niel mengangguk menandakan bahwa ia menyetujui saran Enzo. Pikirannya kemudian tanpa waktu lama terganggu kembali dengan pengalaman yang dialaminya di Tregwey Forest setelah mendengar kata 'tongkat' keluar dari mulut Enzo.


Niel menghela nafas berat.


***


Satu hari yang lalu.


Niel menatap lokasi tempat rusa itu berubah menjadi tongkat dengan pikiran kosong. Masih terbeku dengan kejadian yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Netra birunya kemudian bergerak untuk melihat tongkat putih yang berada di genggamannya, menatap benda itu dalam diam karena tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukannya sekarang.


Tongkat itu memiliki warna putih dengan aksen biru yang menghiasinya. Desainnya yang seperti tanduk rusa mungkin disebabkan karena tongkat ini memang sebenarnya berasal dari seekor rusa yang mampu melakukan perubahan bentuk terhadap tubuhnya sendiri.


Garis-garis berliku berwarna emas yang sama persis dengan garis di tubuh rusa yang dilihatnya tadi tampak mendekorasi sekujur tubuh tongkat di genggamannya. Hal ini membuat Niel semakin yakin bahwa hal yang dilihatnya tadi bukanlah sebuah imajinasi.


Syat.


"Agh! Hei, apa-apaan kau ini?!"


Mendadak ujung dari tongkat tersebut menjalar keluar dan menyayat jari Niel sehingga membuat darah dari lelaki muda itu menetes ke permata berwarna biru aquamarine yang berada di tengah gagangnya dan terserap masuk. Serangan mendadak itu menyebabkan Niel terkejut dan mendesis perih, membuat ia melepaskan pegangannya dan menjatuhkan sang tongkat.


Sebelum Niel dapat meraih kembali tongkat itu, benda yang dimaksud telah dengan ajaib melayang ke genggamannya.


"?"


Niel melempar tongkat itu takut sebelum dipertemukan dengan kejadian yang sama dengan sebelumnya.


"Ah... Aku benar-benar bisa gila."


Niel akhirnya menyerah setelah sang tongkat tetap dengan nyaman hinggap di genggamannya walaupun telah ia lempar puluhan kali.


Lelaki berusia 17 tahun itu lalu berpikir bahwa mungkin tongkat ini dapat ia gunakan sebagai senjata sehingga ia tidak perlu lagi mencari bahan untuk diberikan kepada Old Lavi.


"Sebaiknya aku tes saja sebentar. Fire Magic: Blazing Rhythm."


Api yang biasanya akan terjatuh dan menembus tanah entah mengapa tiba-tiba dapat dengan mudah sampai dan membakar tanaman yang menjadi targetnya. Mata Niel terbelalak sebelum menatap tongkatnya dengan mata yang berbinar-binar.


***


'Aku juga lalu menemukan bahwa tongkat ini bisa memanjang dan memendek sesuai dengan keinginanku. Ziv sayangku memang benar-benar sangat konvenien.


Yah, walaupun aku ingin waspada, tongkat ini terlalu menguntungkan untuk dibuang.'


"...Berarti Niel, kau tidak perlu diberikan tongkat oleh Old Lavi lagi, bukan?"


Pikiran Niel seketika terbuyarkan saat Enzo memegang bahunya sembari melontarkan pertanyaan. Ia lalu menyadari bahwa lelaki marga Theodoric itu tengah berbicara kepadanya dan mengangguk pelan.


"Karena aku sudah memiliki Ziv, aku tidak memerlukan senjata lain lagi. Jadi sebaiknya kau saja yang pergi ke O'Smith, Enzo. Aku akan duduk sebentar di sana." Niel beralasan dengan membawa nama tongkatnya sebelum menunjuk ke arah kiri tempat mereka berdiri sekarang.


"Baiklaaaaah...?" Enzo memicingkan matanya kepada Niel dengan curiga walaupun akhirnya ia meninggalkan Niel setelah mengatakan bahwa ia akan kembali dalam waktu setengah jam.


"Hah..."


Niel menghela nafas lega karena akhirnya ia lepas dari pegangan Enzo yang sangat teramat cerewet meskipun hanya untuk sesaat. Ia kemudian berjalan dengan pelan ke arah bangku yang baru saja ia tunjuk pada sahabatnya dan membuka buku yang baru-baru ini ia gemari.


Sebelum memulai aktivitas kesukaannya, Niel dengan tanpa alasan melihat ke sekelilingnya untuk menikmati suasa kota dan karya-karya seni yang melengkapi keindahan Kota Malchus. Saat sedang asik melihat-lihat, suatu tempat dengan mudah langsung menangkap perhatiannya.


Di pandangan Niel, terdapat sebuah air mancur megah yang dikelilingi oleh kolam air yang sangat besar. Air mancur tersebut ditopang oleh bebatuan berlumut sehingga menambahkan kesan fantasi yang mistik. Ditengah air mancur tersebut, terdapat patung seorang pria tampan memakai zirah yang mengacungkan pedangnya ke arah langit dengan gagah.


'Sepertinya itu patung dari pahlawan generasi pertama...'


Niel lalu menyadari bahwa terdapat sebuah bangunan besar yang warnanya didominasi oleh putih dan emas di belakang air mancur tadi. Tanpa ia pikirkan pun sudah dapat tertebak bahwa itu adalah sebuah gereja.


"Aku penasaran mengapa masih ada yang belum melakukan aksi vandalisme terhadap patung itu..." Niel bergumam dengan santainya mengetahui bahwa apa yang baru saja ia katakan barusan dapat membuatnya dihukum penjara puluhan tahun.


"Karena ini adalah pusat tanah suci dari ras manusia. Tidak akan ada yang berani melakukan tindakan bodoh disini. Jika ada pun mereka akan menderita oleh hukuman yang diatas kita."


Suara berat seorang pria tiba-tiba terdengar di samping Niel. Niel sontak terkejut dan langsung menoleh ke arah sampingnya, menemukan seorang pria tampan berambut hijau tua dan bermata hitam legam tengah tersenyum kecil kepadanya.


"Siapa..?" Niel bertanya karena ia tidak menyadari bahwa pria ini telah duduk disampingnya dari tadi.


"Perkenalkan, namaku adalah Frederick Al Gael. Seorang murid tahun pertama dari Academy Of Heroes." Pria tersebut memperkenalkan diri sambil meletakkan tangannya yang dilapisi sarung tangan putih di dadanya. Ia lalu mengulurkan tangannya kepada Niel.


"Ah... Namaku Danniel Arthos. Kenapa kamu ada disini?" Niel bertanya sembari menjabat tangan yang diulurkan Frederick sebelum melepasnya.


Ia cukup kagum dengan desain seragam yang dipakai oleh lawan bicaranya. Seragam hitam legam dengan aksen biru membuat kesan mewah bagi penglihat, ditambah dengan aksesoris-aksesoris perak yang menambah kesan kebangsawanan. Kedua hal itu tak lupa dilengkapi dengan sebuah jubah putih yang menambah nilai estetikanya.


Atau mungkin memang hanya pemakainya saja yang tampan.


"Angkatan kami sedang mengadakan karyawisata. Sekaligus kami juga diharuskan untuk mencatat sejarah dari Pahlawan Adonias. Kau lihat patung itu? Dia adalah Adonias dengan pedang kesayangannya, Aegeus." Frederick menjelaskan dengan senyum yang tak pernah terlepas dari wajahnya.


"Gael!"


Frederick menoleh ke arah suara itu berasal sebelum bangkit dari posisi duduknya, "Ah, rekanku telah memanggilku. Terima kasih telah mengisi waktu luangku, Saudara Arthos. Semoga kita dapat bertemu lagi."


"Ah ya, rambut putihmu cukup menangkap mata. Jadi saranku ubahlah dengan warna biru keperakan agar terlihat seperti kamu berelemen es. Rambutmu memang tidak akan berubah jika kau ingin warna gelap."


Niel yang mendengar perkataan Frederick langsung terkejut sebelum ingin menanyakan maksud perkataan yang lebih tua. Namun sebelum bertanya, lawan bicaranya telah menghilang dari pandangan.


Niel bergidik ngeri.


"... Orang-orang Zendia ini apa memang pada umumnya menyeramkan semua?"