The Brown'S Sister And City Of Arts

The Brown'S Sister And City Of Arts
Acara Lelang Keluarga Brown III



"nona Brown, apakah kamu masih sendiri?" tanya Derrel penasaran,


"aku? Marco selalu menemani ku setiap saat, terkadang paman Daniel menghubungi ku untuk menemaninya minum di pub"


Derrel kemudian tertawa mendengar candaan Luna, menatapnya geli dan tersenyum lebar,


"aku masih menikmati diriku yang saat ini tuan Derrel, kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Saat ini Derrel Beaufort dan Luna sedang menikmati malam yang dingin di beranda. Menikmati salju tipis turun menutupi ladang anggur di depannya. Lampu temaram yang dihasilkan melalui dalam aula dan ladang anggur, menghasilkan pemandangan yang menawan ketika malam hari tiba. Derrel begitu bersemangat mengajak Luna untuk berjalan berdua, seperti tersihir dengan kecantikan dari persaudaraan Brown yang terkenal.


Acara lelang Brown hari ini berjalan dengan lancar. Semua tamu undangan bisa menikmati makan malam yang disediakan dan menikmati dansa malam yang diiringi oleh pemain orkestra. Alunan musik jazz yang dinyanyikan oleh penyanyi terkenal dari Italia mengiringi tamu untuk berdansa di lantai aula. Para ketua dan pemilik perusahaan bercengkrama dan berdansa dengan pasangannya.


Tak luput Gita dan Dans Beaufort juga berdansa mengikuti iramanya, sedangkan Myria juga masih bercengkrama dengan ketua lainnya untuk membicarakan bisnis. Di ruang utama juga disediakan meja kasino untuk mereka yang ingin bermain bersama tamu yang lain. Mereka juga bertaruh dengan jumlah uang yang mereka sumbangkan, dan sesekali menikmati Blanc Wine di gelas mereka.


"aku kira wanita Brown yang terkenal sifat dinginnya tak akan bisa membuat lelucon seperti itu.." Derrel tersenyum di samping Luna,


"ekspresi wajahmu sangat manis ketika tersenyum"


"hahaha semua itu hanya sandiwara bisnis kami agar bisa berjalan lancar, tuan Beaufort" lalu Luna mengedipkan mata kirinya ke arah Derrel.


Derrel dan Luna terdiam sesaat sembari berjalan menuju gudang penyimpanan wine. Sesekali tangan Derrel memegang pundak Luna agar tidak terjatuh saat berjalan. Mereka juga sesekali tersipu malu dengan sikap masing-masing.


"ada apa tuan Derrel?" tatap Luna yang melihat wajahnya yang tiba-tiba berubah,


"ah tidak ada apa-apa, aku hanya teringat akan paman ku yang sangat menyukai wine kalian"


"oh baiklah nanti akan aku suruh pelayan untuk membawakan wine lebih untuk keluarga Beaufort"


"mereka semua..." Derrel menarik nafas,


"paman ku meninggal dalam kecelakaan pesawat bersama dengan kedua ponakanku"


"Ya Tuhan.. Maafkan aku tuan Derrel, aku tak mengetahui sebelumnya" Luna yang mendengar hal itu langsung berhenti berjalan, kedua tangannya memegang tangan Derrel untuk menenangkan suasana.


"kamu tak perlu meminta maaf nona Brown, kami sudah berduka minggu lalu, dan aku tak akan membiarkan kamu juga bersedih mendengarnya" Derrel tersenyum ke arah Luna, memegang tangannya dan mencoba untuk berjalan kembali ke arah gudang.


Keduanya kini sudah sampai di depan gerbang gudang penyimpanan wine keluarga Brown, melihat ramainya tamu yang membeli wine ataupun sesekali mengikuti tur untuk melihat jenis wine Brown. Luna terkejut melihat antusias tamu yang membeli winenya. Beberapa tamu yang melewati mereka berdua, menundukkan kepala ke arah Luna untuk menyapanya bergiliran.


"nona Brown..." sapa lelaki tua yang didampingi dua wanita muda di sampingnya dan 2 kardus wine ditanganya,


"aku tak menyangka akan di sapa langsung oleh cucu pemilik wine ini"


"selamat malam tuan William.. Sepertinya malam ini anda akan memanjakan mereka dengan wine kami.. Terima kasih telah datang untuk malam ini, tuan" Luna langsung mencium kedua pipi lelaki tersebut, dan menyalami kedua wanita di sampingnya


"nona Brown.. Sepertinya akan ada pengumuman tentang pertunangan? Apakah tuan muda Beaufort yang memenangkan hati dingin mu?" tangan William menyapa Derrel, tersenyum ramah ke arahnya.


"selamat malam tuan William, aku hanya sedang menemani nona cantik ini agar tidak tersesat" canda Derrel yang membuat semua orang tertawa mendengarnya. Luna juga tersenyum ke arah Derrel mencoba untuk menikmati obrolan yang dia ikuti.


Beberapa saat setelah mereka bercengkrama dengan tamu yang menyapa mereka berdua, akhirnya berjalan kembali ke arah aula. Tubuh Luna yang mulai menggigil karena lupa menaruh jaket hangatnya di ruangan tersebut.


"aduh!" Luna terjatuh tepat disamping Derrel,


"nona Brown, apa kamu baik-baik saja? Astaga, wajahmu memerah" tatap khawatir Derrel,


"ummm sepertinya kepalaku sudah mulai pusing, aku lupa berapa gelas wine yang aku habiskan" jawab lemas Luna.


"mari aku tuntut, aku takut nanti kamu akan terjatuh, sebentar lagi kita akan sampai di pintu aula. Bertahan lah nona Brown" Derrel memeluknya, membopong pundaknya yang tak seimbang, sesekali melihat ke mata Luna yang mulai sayu namun tetap menawan baginya.


"kamu sangat cantik sekali malam ini, aku sangat ingin menciumu" bisik pelan di kuping Luna. Dia lalu melihat ke arah Derrel yang sudah menuntunya ke arah aula, menatap bibirnya untuk menelaah apa yang dia ucapkan tadi. Luna hanya tersenyum karena ketidaksadaran dirinya malam ini.


"tunggu sebentar aku akan memanggil asisten ku" Derrel meninggalkannya di depan aula untuk mencari semua pengawalnya di dalam. Luna mengangguk menuruti perintahnya, namun sesaat setelah Derrel pergi, dia melihat pelayan lelaki berjalan tepat di depannya dengan satu botol wine di atas nampan. Luna memperhatikan wine tersebut dan akhirnya mengikuti botol wine yang dibawa pelayannya.


"a..aku sangat ingin meminumnya.." tubuh Luna yang tak seimbang, berjalan sempoyongan mengikuti pelayan tersebut dari belakang. Berjalan masuk ke dalam aula, hingga berhenti beberapa menit setelahnya tepat di meja panjang di samping kamar tamu.


'aaaahhh yes yes remas... aaah'


Suara asing yang beradu di dalam kamar membuat Luna berhenti, mendengarkannya dari balik pintu yang tidak dikunci. Suara tersebut sangat familiar bagi Luna. Dia mencoba untuk menggelengkan kepalanya, menyeimbangkan kesadarannya.


"aku pasti sudah sangat-sangat mabuk"


Luna yang mengintip dari balik pintu yang sudah dia buka, melihat neneknya Gita dan lelaki tuan bernama Dans Beaufort sedang bercinta di atas ranjang.


Tubuh Gita yang seksi dan tak sama dengan umurnya, berlenggak-lenggok menaiki tubuh Dans. Tangan Dans yang kekar juga meraba dada dan bokongnya. Suara yang dihasilkan oleh mereka berdua, membuat mata Luna berhenti berkedip.


suara Dans yang menikmati gerakan sensual Gita di atasnya. Jari telunjuknya meraba bibir Gita dan akhirnya dihisap olehnya.


"sialan! Kenapa aku menikmati pemandangan ini" Luna kemudian menutup kembali pintu tersebut dengan rapat. Memegang botol wine yang dia dapatkan dan berjalan sempoyongan ke arah pintu aula.


Wajahnya yang memerah, kini merasakan panas yang ditimbulkan oleh pemandangan tadi. Telapak tangan kanannya sesekali memegang pipi dan lehernya yang mulai panas. Dia berhenti setelah menemukan pilar besar untuk menyenderkan punggung dan kepalanya.


"Luna! Aku mencari mu kemana-mana!" teriak Marco dan langsung berlari ke arahnya,


"oh mio Dio! Berapa gelas yang kamu minum? Tubuhmu... tubuhmu sangat panas, aku antar kamu pulang sekarang saja"


Tangan Luna langsung melepaskan genggaman Marco, melihat ke arahnya dengan sempoyongan,


"Marco! Pengawal ku yang tampan... Ckckck aku bisa menjaga diriku sendiri" Luna memegang kembali pilar yang baru saja dia lepaskan,


"apa kamu tahu apa yang aku lihat tadi?"


"Luna aku mencari mu..." suara berat datang dari belakang tubuh Luna dan Marco.


"hallo aku Derrel Beaufort, apakah kamu Marco pengawal nona Brown?"


"selamat malam tuan muda Beaufort, saya pengawal nona Brown, dan saya yang akan menjaganya dari sekarang"


Marco menundukkan kepalanya untuk menyapa tuan muda tersebut. Melihat dia membawa beberapa pengawal dibelakangnya, dan jaket hangat untuk Luna. Kemudian Marco memanggil pengawal yang lain melalui radio dari balik telinganya.


"kalian berdua...." Luna menata tubuhnya,


"kalian tak perlu mengantar ku, biar supir saja yang mengantar ku pulang.. Kalian berdua silahkan nikmati malam yang panjang ini"


"nona Brown izinkan saya..."


"ssstttt tuan muda Beaufort.." sela Luna,


"aku tak ingin merepotkan mu, biarkan supir saja yang mengantar ku hehehe" tubuh Luna yang sudah tak bisa Ia kendalikan kini mulai terbentur di pilar di sampingnya,


"ouch!"


Luna hanya tersenyum merasakan rasa sakit yang baru saja dia lakukan, terbentur secara tak sengaja dengan pilar tinggi, kemudian memegang kembali untuk menata tubuh anggunya yang mabuk.


"Luna...." desis Marco melihat keadaannya,


"kamu tak perlu khawatir, aku akan ditemani supir saja... ciao Marco.." Luna membalikkan tubuhnya,


"selamat malam tuan Derrel Beaufort"


Tubuh Luna dibopong oleh Derrel dan meletakkan tubuhnya di tempat duduk di belakang supir. Marco yang berdiri di belakang memerintahkan supir tersebut untuk mengantarnya hingga masuk ke dalam apartemen. Derrel kemudian juga meletakkan jaket tebal untuk menutupi dress Luna yang melihatkan dada kencangnya dan paha jenjangnya.


"sampai jumpa lagi, Luna" bisik pelan Derrel. Luna hanya tersenyum melihat semua orang di depan sedannya, kemudian menutup kedua mata ketika mobil sudah berjalan meninggalkan kastel Brown.


Mobil sedannya melesat jauh melewati lampu kuning di setiap jalan yang dia lewati. Mengintip dari balik matanya yang berat karena alkohol, dan sesekali memegang botol wine di sampingnya. Dia tersenyum dan mengintip kembali arah jalan tersebut. Sesaat kemudian mobil tersebut sudah tiba di depan gerbang apartemennya, supir yang Marco perintahkan membuka pintu tersebut dan mencoba mengangkat tubuh Luna yang lemas.


"no no no..." Luna menolak bantuan dari tangan yang mencoba untuk memeluk dirinya.


"pergilah, dan laporkan seperti biasa bahwa aku sudah masuk..." tubuh Luna yang sudah keluar dari mobil mencoba untuk berdiri tegak di depan supir tersebut,


"tapi nonaaa..."


"diamlah! Aku ingin kamu langsung pergi saja! Ayo cepatlah!"


"ba..baiklah nona Brown"


Supir tersebut akhirnya masuk kembali ke dalam mobil, meninggalkan dirinya yang sempoyongan sendirian di depan gerbang. Luna yang melihat dari balik matanya yang sayu, melihat mobil sedannya pergi jauh meninggalkannya. Kemudian mencoba masuk dengan memegang apapun yang ada disampingnya. Berjalan dengan matanya yang berat karena wine yang dia minum, dan melepaskan jaket nya di depan pintu.


'beep. beep. beep. beep'


"ah sialan! Siapa yang merubah sandi ku" tangan Luna memencet sandi di pintu apartemennya. Mencoba beberapa kali dan akhirnya terjatuh tepat didepan pintu apartemen.


"hey siapapun tolong, disini sangat dingin..." teriak Luna sembari menggedor pintu apartemen.


Sesaat setelah itu, pintu tersebut terbuka di depannya. Tubuh Luna yang sudah duduk tersungkur di depan langsung mencoba mendongak ke atas untuk melihat seseorang yang membukakan pintu apartemen milknya.


"Moza...!" teriak senang Luna.