
Suhu dingin udara pagi ini di pusat kota Florence membuat atap kamar apartemen Luna menjadi lebih membeku dari sebelumnya. Salju turun lebih deras dan terlihat padat dari jendela besar di kamar Luna. Dia memang sengaja tidak menutup tirai yang ada di jendela, karena dia tertidur lebih dahulu setelah meminum beberapa gelas alkohol. Namun dia masih tetap saja bermimpi hal yang sama yang membuat Luna terjaga setelah bermimpi. Kini jam menunjukkan pukul 8 pagi. Dia melihat ke jendela dan merasakan dinginnya suhu ruangan apartemen. Uap yang muncul dari bibir manisnya membuat ia langsung mengambil jaket bulu dan segera mengecek keluar kamarnya.
Whooooossss!
Luna secara spontan mengacungkan pisau yang terletak dibalik pintu kamarnya. Dengan cepat tangannya mengambil pisau tersebut karena sesosok lelaki asing yang sudah berdiri tepat di balik pintu kamar Luna. Ia refleks dengan mengarahkan pisau tajamnya tepat ke leher lelaki tersebut. Luna terdiam, begitu juga lelaki yang penuh balutan perban. Mereka berdua terdiam dan kedua bola mata mereka terfokus satu sama lain. Nafas yang pendek karena kaget, tak ada gerakan ataupun suara yang keluar dari kedua mulut mereka.
"maafkan aku.....kamu membuatku kaget dengan berdiam diri seperti hantu di depan pintu kamarku" Luna kemudian menurunkan pisaunya dan menaruh kembali di belakang pintu kamarnya. Dia mengecek ke leher lelaki tersebut untuk melihat apakah dia melukainya atau tidak.
"aku..." dia menarik nafas,
"aku mendengar suara teriakan dari kamar mu pada pukul 3 pagi ini..." dia melirik ke arah kamar Luna dari luar pintu,
"aku mengira terjadi sesuatu atau kamu sedang kesulitan jadi aku mencoba mengetuk pintu mu beberapa kali dan menunggu di sofa itu" dia menunjuk ke ruang tamu tempat dimana sofa itu berada.
"aku tak mengira kalau kamu akan siap untuk membunuh ku seperti ini..."
Luna terdiam melihat tubuh lelaki itu, yang bernama Kyle, dia melihat tubuh yang mulai pucat serta uap yang keluar dari mulutnya seraya dia berbicara di depan Luna.
"kamu membuatku kaget saja di pagi hari, jadi aku refleks mengambil pisau itu" Luna masih memperhatikan tubuh besar didepanya.
"ngomong-ngomong, apa kamu tidak kedingin, Kyle? Aku rasa pemanas di apartemen ku rusak, aku saja kedinginan. Dan kamu..." dia memperhatikan bahwa Kyle hanya memakai celana kain saja tanpa memakai satu potong kaos di tubuh kekarnya.
"aku kedingin setengah mati, maka dari itu aku mengetuk pintu mu berkali-kali tapi kamu tak mendengarnya.." suara Kyle yang menggigil seraya menjawab semua pertanyaan Luna. Lalu Luna memberikan jaket bulu yang dia pakai. Menutup sebisa mungkin agar dia tidak hipotermia dia apartemennya.
"duduk sebentar di sofa, pakai jaket ku dulu, aku akan mengambil jaket mu di kamar"
"jaket ku?" tanya Kyle,
"iya jaket mu, tunggu sebentar" kemudian Luna berjalan menuju ruang pakaian di kamar Kyle, dan mengambil jaket panjang tebal berwarna hitam. Berlari menuju arah Kyle yang sudah menggigil memainkan giginya.
"terakhir aku kemari, aku hanya mengingat memakai flanel ku saja, kemana baju itu?" tanya Kyle saat Luna memakaikan jaket tebal tersebut.
"oh baju itu....aku sudah membuangnya. Sobek dan banyak darah di seluruh flanel mu, jadi aku membuangnya setiba kamu disini" Luna mengambil jaket bulu yang dipakai Kyle, kemudian berdiri menghubungi seseorang untuk mengecek apartemennya.
"ciao Marco, bisakah kamu menyuruh ......" suara Luna yang menjauh dari Kyle. Dia menuju ke dapur agar Kyle tidak mendengar percakapannya, beberapa menit kemudian dia menghampiri kembali tubuh Kyle yang mulai normal di sofa.
"addios.." sapa terakhir Luna di telepon genggamnya.
"apakah kamu bekerja untuk seseorang?" Kyle tiba-tiba menanyakan ke Luna yang baru saja duduk di kursi sampingnya.
"apa maksud mu?"
"kamu....kemampuanmu menggunakan pisau, apartemen mewah, pakaian serba hitam mu, aksesoris mahal yang kamu kenakan...apakah kamu bekerja khusus untuk seseorang? Atau mereka menyuruh mu untuk membawa ku?" tanya Kyle yang melihat tajam ke arah Luna. Ia sudah memikirkan hal ini, karena dia sudah menyiapkan sejuta alasan untuk pertanyaan spontan Kyle tentang dirinya.
"hahahahaha" Luna tertawa,
"tidak..tidak... Aku hanya bekerja sebagai pengawal untuk sebuah perusahaan wine. Keterampilan ku juga dilatih oleh mereka" jawab Luna dengan santai.
"tetapi, aku melihat kelulusan mu di foto itu..." Kyle menunjukkan foto yang berada di laci tepat di depan tembok kamarnya.
"kamu mempunyai gelar botani, aku mengira kamu seorang profesor ahli botani"
"apakah kamu mengira semua orang Asia bekerja sebagai profesor?" kini Luna menyodorkan wajahnya ke Kyle. Kyle menatap dan terdiam sejenak, kemudian melihat ke arah ruangan kembali.
"aku memang mengambil kelas biologi, karena aku menyukai tumbuhan hidup. Tetapi mencari pekerjaan di Itali bukan hal yang mudah setelah itu, kemudian beberapa temanku yang memberi informasi yang sama untuk bekerja sebagai pengawal" Luna menyenderkan punggungnya ke sofa kembali.
"kata temanku gaji sebagai pengawal profesional juga tinggi, dan mereka diberi apartemen mewah sesuai dengan siapa aku bekerja. Lagipula aku juga mempunyai kemampuan bela diri dari kecil, hihihi..."
"jadi kamu bukan seseorang yang dikirim kesini untuk membunuh ku, kan?" tanya Kyle sekali lagi.
"kalau aku berniat membunuhmu, seharusnya yang aku bawa kemari adalah tubuh rusa, bukan tubuhmu. Lalu seharusnya membiarkan tubuh mu mati kedinginan di jurang"
"ngomong-ngomong mengenai rusa, kenapa kamu memanggilku cervo ?" Kyle melirik ke arah Luna kembali.
"hahahahaha, waktu di Hutan Timur aku memang sedang berburu rusa waktu itu. Dan memang melihat rusa jantan tepat 500 meter dari senapan ku. Aku yakin bahwa mengenai tubuh rusa itu, tapi ketika aku telusuri di dalam hutan itu, malah aku melihat kamu sudah tergeletak di jurang. Aku mengira kalau kamu adalah arwah rusa yang berubah menjadi rusa jantan. Hahahahaha" Luna tertawa terbahak-bahak mendengar alasan konyolnya sendiri ke Kyle. Kyle tampak mengernyitkan dahi dan tak menikmati gurauan Luna terhadapnya.
"baiklah aku tak akan memanggilmu lelaki rusa lagi, lagipula namamu Kyle, kan? Baiklah, Kyle" Luna berdiri berniat membuat sarapan untuk mereka berdua. Kyle melihat Luna yang mulai berdiri meninggalkannya. Mencerna semua omongan Luna tentang dirinya. Dia kembali mengobservasi seisi ruangan yang ada di depannya tersebut.
Apartemen yang luas bahkan mungkin terlihat seperti semi-penthouse, dengan dua kamar utama dan diisi lemari pakaian lebar yang setengah dari ruangan kamarnya. Jendela kaca menempel megah dengan tirai putih di sebelah kanan, melihatkan pemandangan langsung ke kubah Galleria del Uffizi, jalanan utama kota Florence yang ramai serta pertokoan dan restoran. Ornamen-ornamen mewah, lampu kristal dan vas kecil hingga besar, kepala rusa yang diletakkan di tembok ruang baca, buku-buku yang tertata rapi di lemari, di urutkan dengan abjad nama depan sang penulis, beberapa buku dibiarkan tergeletak di bawah berpadu dengan vas bunga tulip. Warna tembok yang terkesan megah, perpaduan biru gelap, putih, abu-abu, dan cokelat. Sofa berkain biru safir dan kayu krem yang sempurna. Kyle kemudian terpaku dengan bingkai foto kecil yang menghadap ke bawah. Dia membalikkan kembali posisi foto tersebut ke atas laci. Dia melihat foto keluarga yang manis dan lengkap, ayah, ibu, dan dua wanita kecil nan lucu.
"terlihat bahagia sekali keluarga ini... Aku merindukan mereka juga" desis Kyle yang memegang foto tersebut. Dia berjalan tertatih karena perban di pahanya masih ada. Dan jaket tebal yang dia pakai sekarang membuat dia berjalan sangat pelan agar tidak membuat lukanya semakin sakit. Kemudian dia duduk di sofa seperti semula setelah melihat isi ruang tamu dan ruang baca. Dia meletakkan kepalanya di sofa tersebut, menarik nafas untuk mengatur agar luka di dadanya tidak tergesek.
"makanlah sereal ini dulu. Setelah itu minumlah obat. akan aku ambil nanti di kamar" Luna menghampirinya dengan nampan makanan di tangannya.
"baiklah terima kasih, tapi aku masih kesusahan untuk menggerakkan kedua tanganku" Kyle menunjukkan kembali kedua tangannya. Luna mengernyitkan dahinya, melihat kesal atas sikap Kyle sekarang.
"jika saja kamu..."
"jika apa?" Kyle mendengarkan gumaman Luna. Lalu Luna mendongak ke atas wajahnya.
"tidak, tidak ada apa-apa. Baiklah buka mulutmu" Luna menyodorkan sendok sereal ke mulut Kyle. Dia menuruti apa yang Luna perintah, kemudian dengan perlahan mengunyah sereal yang ada di mulutnya.
"apa benar bos mu yang memberikan apartemen ini?" tanya Kyle kembali
"ya benar, aku tak mampu membeli semua ini. Aku hanya membawa pakaian dan menggunakan bayaran ku untuk membeli beberapa perabotan, hanya itu saja" jawab Luna yang masih menyuapi Kyle.
"aku sudah menghubungi suster untuk memeriksa luka mu nanti, mungkin setelah makan siang mereka akan tiba disini"
"kamu tidak bekerja hari ini?" tanya Kyle kembali untuk memastikan alasan Luna. Luna tahu bahwa dia mungkin tidak akan langsung percaya tentang alasan yang dia berikan ke lelaki itu, namun itu tak membuat Luna berhenti memberikan alasan terbaik agar dia tidak mengetahui tentang silsilah keluarganya.
"tidak... aku mengambil cuti untuk seminggu, atasan ku juga menyetujuinya karena aku terlalu lama bekerja keras"
"cuti? Apakah pengawal bisa mengambil cuti?" tanya Kyle kembali
"ya tentu saja, pengawal juga butuh liburan kan? Lagi pula perusahaan tempatku bekerja juga sangat besar dan banyak sekali pengawal yang bergantian bekerja"
"hmmmmmmmm" terlihat Kyle berpikir sejenak, mencerna ucapan Luna yang menyuapinya.
"oke sudah selesai, aku ambil kan dulu obat mu. Tunggu..." Luna dengan cepat berjalan menuju kamar Kyle. Menutup rapat pintu kamarnya. Dia menarik nafas panjang seraya mengatur nafasnya.
'dia banyak sekali bertanya, seharusnya aku biarkan saja tubuhnya di jurang. Sialan'
Dia kembali menemui Kyle dengan membawa beberapa butir obat ditanganya. Kemudian menyuruh Kyle untuk meminum obat tersebut. Luna yang memperhatikannya membuat Ia memegang jaket tebalnya rapat-rapat. Membuat Luna menjauhkan kepalanya yang terfokus melihat dirinya.
"apa kamu pikir aku seorang wanita mesum?" tanya Luna penasaran
"kamu melihat tubuhku dari mulai kemarin, jadi aku takut kalau kamu tiba-tiba menerkamku jika ada kesempatan" kini Kyle bisa menjawab pertanyaan Luna dengan santai, mencoba berbaur dengan seseorang yang menyelamatkan dan membantu dirinya sekarang.
"kamu ingin mati?" Luna kesal dan mengepalkan tangan kanannya. Kyle pun tersenyum melihat kelakuan sang penyelamatnya kini.
Ting. Tong. Ting. Tong
Terdengar suara bel berbunyi dari pintu depan apartemen milik Luna. Luna yang kesal karena candaan Kyle langsung berdiri menghampiri suara tersebut. Terlihat dua orang yang diperintahkan Marco untuk mengecek penghangat ruangan di apartemennya. Luna menyuruh mereka langsung ke arah dapur dan membiarkan mereka untuk mengecek ruangan.
'apa yang aku lakukaaaan... Kenapa aku memanggil tukang sendiri untuk memperbaiki apartemen ku'
Luna mencaci-maki dirinya didalam hati, melihat kelakuan anehnya yang bahkan tak pernah dia lakukan 5 tahun belakang. Luna memperhatikan kedua orang tersebut dari jauh dan melihat juga ke arah Kyle yang sedang menutup matanya setelah meminum obat. Dia memperhatikan keadaan lelaki tersebut, melihat rambut cokelatnya yang masih berantakan namun masih terlihat cocok dengan struktur wajahnya yang tegas. Luka lebam di sekitar wajah mulai memudar seiring dengan obat yang dia minum, terlihat kulit dadanya yang mencuat dari dalam jaket tebal hitam yang terbuka dengan sendirinya, melihatkan otot tulang perut tepat dibawah dadanya.
'sial. Apa aku semesum itu.....!!!'
Luna menyadari matanya yang tak berhenti bergerak melihat tubuh Kyle yang duduk di sofa. Kemudian menggelengkan kepalanya seraya menyadari suara mendekat ke arahnya.
"semua baik-baik saja nona...."
"sssttttt...." Luna mencoba membuat kedua orang tersebut diam untuk tidak memanggilnya nona Brown.
"baiklah, hmmmmm, Lunaa...." salah satu tukang melihat keadaan lelaki yang duduk di sofa depannya.
"semua baik-baik saja, Luna. Sudah saya setel dari awal, dan mungkin 5 menit lagi penghangat akan bekerja seperti biasa"
"nanti kalian..." Luna mengajak mereka berdua keluar dari pintu apartemen,
"nanti jangan bilang ke Marco, laporkan seperti biasanya saja. Mengerti?"
"untunglah aku tidak mati menggigil.... Sekarang sudah agak hangat" Luna mulai melepas jaket bulunya dan meletakkan ke kursi di meja makan. Dia berjalan menuju ruang tamu, melihat Kyle yang menutup matanya. Melihat alis dan bulu mata yang tebal, menambah kesan mewah pada wajah Kyle.
'siapa kamu sesungguhnya, Kyle...'
gumam Luna pelan. Dia kemudian berdiri tepat di sofa tempat Kyle duduk.
"Oi cervo, maksudku, Kyle..." dia menyenggol kaki Kyle untuk membangunkanya. Kyle terbangun dan membuka kedua matanya, kini Ia menatap gadis cantik dengan baju satin berwarna putih tepat di depannya. Tubuh yang langsing, rambut hitam di kuncir kebelakang, disisakan beberapa helai di depan untuk menghiasi kelopak matanya. Bibir merah merona dan hidung yang mancung, dagu tajam dan tulang pipi yang membawa kesan berwibawa untuk seseorang yang bekerja sebagai pengawal.
"apaa.... ? Apa semua sudah selesai?"
"ya sudah hangat seperti biasa, kamu bisa melepas jaket tebal mu, atau kamu nanti akan berkeringat seperti orang bercinta" celetuk Luna
"kamu seperti anak berumur 19 tahun, kenapa kamu selalu menggunakan kata bercinta disetiap kalimat mu"
"hey!" teriak Luna kesal,
"aku sudah berumur 26 tahun! Tinggi badanku juga rata-rata..... Rata-rata di negaraku"
"apa kamu berasal dari Filipina?" tanya Kyle yang sudah melepaskan jaket tebal hitam tersebut. Kini tubuh kekarnya terlihat jelas hingga ke pusar. Luna mencoba untuk tidak menggerakkan kedua bola matanya menyelusuri tubuh Kyle, namun cahaya dari luar jendela dan lampu yang menerangi dengan jelas, membuat kedua matanya tak bisa menghindari pandangan tersebut.
"apa aku terlihat seperti orang Filipina? Kita mungkin satu ras, tapi aku berasal dari......" Luna diam sesaat, "dari Indonesia"
"Indonesia? Oohh, lalu apakah itu keluargamu?"
"tak bisakah kamu berhenti bertanya?" potong Luna,
"baiklah baiklah, aku menggunakan kedua mataku yang masih berfungsi untuk melihat apartemen mu, aku hanya takut kalau kamu diam-diam menyembunyikan mayat disini" Kyle mencoba untuk meredakan emosi Luna. Dia kemudian mencoba untuk berdiri, namun karena luka yang masih ada, dia kesulitan dan tertatih.
"sudah kubilang jangan banyak bergerak..." Luna segera menghampirinya dan mengangkat tangan kanannya. Kemudian dia membantu Kyle untuk masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuh kekarnya. Setelah itu Luna segera pergi dari kamarnya, terburu-buru untuk menutup kamar. Dia kemudian duduk di sofa kembali, mencoba melirik bingkai foto yang sudah diletakkan di tempat semula, mencoba mengingat keluarganya, mengingat dari mana dia berasal. Sesaat setelah dia puas melihat bingkai foto kecil itu, dia masuk kembali ke kamar.
Beberapa jam dia habiskan di dalam kamar, membenamkan tubuhnya di air hangat penuh busa yang beraroma bunga mawar di bathup. Tertidur beberapa saat dan memikirkan tentang hal yang dia lakukan beberapa hari terakhir. Kemudian mengeringkan rambut hitamnya yang terurai hingga sepunggung, memakai dress satin panjang dengan belahan sepaha di sebelah kiri. Sesekali dia juga membersihkan pistol dan pisau yang berada disamping ranjangnya, kemudian meletakkan kembali ke tempat semula. Suara bel berdering kembali beberapa kali. Luna keluar kamar dengan tubuh yang sudah bersih dan segar, membuka pintu apartemen dan melihat dua suster yang diperintahkan oleh Josh untuk mengecek Kyle.
'untung saja Joshua tidak mengikuti mereka...' nafas panjang terdengar dari tubuh Luna.
"selamat siang nona....."
"sssstttttt, untuk saat ini jangan panggil aku nona Brown. Kalian bisa memanggil nama depanku saja, Luna" potong Luna.
"tetapi nona nanti kami..."
"tidak apa-apa, aku tidak akan memberitahu Joshua atau siapapun, hanya untuk sehari ini panggil aku Luna. Okay?" pinta Luna sebelum membiarkan mereka masuk kedalam apartemen miliknya.
"baik no...maksud saya Luna" mereka terbata-bata menuruti kata atasanya. Kemudian Luna membiarkan mereka masuk ke kamar Kyle.
"selamat siang tuan rusa..." salah satu suster memanggil nama lelaki di balik ruangan tersebut. Luna yang menyadari akan hal itu langsung tertawa dengan sapaan suster ke Kyle. Kemudian langsung menghampiri sang pasien yang terbaring di ranjang.
"maafkan teman saya tuan" sela salah satu suster,
"kami sebelumnya tidak mengetahui nama anda, jika saya boleh tahu, siapakah nama anda, tuan?"
"namaku Kyle"
"baiklah tuan Kyle, kami akan memeriksa tubuh dan luka di perban anda" kedua suster tersebut kemudian duduk di samping kanan. Memeriksa denyut nadi dan dadanya. Memeriksa luka lebam di kepala hingga ke paha. Setelah itu membuka perlahan perban satu persatu dari tubuh Kyle. Mereka membuka perban yang ada di dada kanannya terlebih dahulu, dilanjutkan dengan mengecek luka yang sudah mengering dan tertutup sempurna oleh jahitan Joshua, kemudian membuka perban di pahanya.
Luna tersipu untuk sesaat ketika celana kain tersebut di buka oleh kedua suster. Dia menundukkan kepalanya dan kemudian berjalan keluar dari kamar, membiarkan kedua suster tersebut mengerjakan urusannya. Dia menunggu di ruang tamu dan mengecek informasi melalui telepon genggam. Beberapa saat kemudian kedua suster keluar dengan membawa beberapa bekas perban dengan darah yang mengering di sekitarnya, stetoskop dan alat pompa.
"tuan Kyle kini bisa dimandikan, namun kami sarankan dibilas dengan air hangat secara merata di tubuhnya, dan jangan sampai terkena luka yang baru saja mengering" salah satu suster menghampiri Luna dan memberikan resep dari Joshua. Salah satunya lagi sedang membuang bekas tersebut ke tong sampah di dapurnya.
"ini resep yang diberikan oleh dokter Joshua, nona Luna bisa membeli ini di apotik terdekat"
"okay aku bisa membeli ini, tapi membasuh tubuhnya? Maksudku dia sendiri?" Luna memiringkan kepalanya kepada suster tersebut dan mencerna perintah yang baru saja dia dengar.
"tangan tuan Kyle mungkin sudah bisa digerakkan, namun akan berisiko jika terkena luka yang ada di tubuhnya. Jadi... saya menyarankan untuk nona Luna... Nona Luna sendiri yang membantu untuk membersihkan tubuhnya" suster yang baru saja membuang bekas perban kini tersenyum melihat reaksi Luna yang tersipu.
"maksud mu...seluruh tubuhnya? Seluruh? Tutto il suo corpo?" Luna menggerakkan bibirnya dengan jelas agar kedua suster tersebut menjelaskan kembali maksud dari ucapannya.
"si.. Si signora" suster tersebut menegaskan kembali perintah yang harus dilakukan oleh Luna. Kemudian mereka berdua membereskan alat kesehatan itu, kemudian memasukkan ke dalam tas hitam. Mereka kemudian pergi meninggalkan Luna yang masih terdiam mematung di sofa. Membiarkan Luna mencerna semua perkataan kedua suster itu, membiarkan pikiran liarnya untuk menyentuh badan lelaki asing yang baru saja dia kenal.
'kenapa aku harus takut'
'tubuh mereka pasti sama saja, ya benar, aku hanya tinggal membersihkannya saja'
'kamu sudah berumur 26 tahun, sadarlah kamu sudah dewasa dengan hal ini Luna!'
Dia membiarkan pikirannya berdebat satu sama lain, membiarkan apa yang akan dia lakukan jika kebiasaan wajah meronanya muncul kembali. Dan sudah sangat lama dia tak pernah siap untuk berpikir tentang hal itu.
'apa aku harus menembaknya saja, selalu bikin repot'
'tapi aku yang menyelamatkan dia dari jurang'
'kenapa aku baru sadar apa yang aku lakukan.....'
Luna mengangkat kedua tangannya untuk menyembunyikan wajahnya yang kini sudah mulai merona. Kedua pipi yang terlihat dingin, kini sedikit berwarna merah yang menambah kesan anggun di wajahnya.
Kurang dari setengah jam Luna membatu di sofa memikirkan apa yang akan dia lakukan nantinya. Berulang kali memegang rambut panjangnya, menguncir, mengurainya, kemudian menguncir lagi, dan berulang kali mengurai rambutnya. Dia lalu berdiri menuju ke kamar mandi utama di sebelah dapur dan ruang laundry, mengambil beberapa handuk kecil dan air hangat yang dia isi ke dalam ember berukuran sedang.
Cuaca di luar sudah menunjukkan hari mulai sore, Luna mulai membuka tirai putih di sekitar ruang tamu dan ruang baca, agar lampu dari jalanan Florence memantul ke dalam ruangannya. Dia hanya membiarkan lampu sorot di pojokan ruangan. Kemudian mengecek kembali ember yang ia isi apakah sudah penuh atau belum.
Luna kini sudah siap untuk memasuki kamar Kyle. Dia mengatur nafas sejenak dan kemudian mengetok pintu kamar Kyle. Tubuh Kyle yang sudah menunggu Luna di ranjang yang ditutupi bagian bawahnya dengan selimut, terlihat jelas karena semua perban tidak melekat di tubuhnya. Luna membuka tirai jendela yang ada disamping ranjang Kyle, menyalakan lampu utama dan lampu laci sebelah ranjang. Luna duduk tepat di samping tubuh atletis Kyle. Dia mengambil handuk dan memasukkan sedikit lavender fragrance ke dalam ember yang penuh air hangat.
"apa aku harus membuka seluruhnya?" tanya Kyle. Dia sedikit tersenyum kepada Luna, seolah menunggu reaksi dari wajah Luna yang menurutnya sangat dingin.
"ya, buka saja. Apa perlu aku bantu melepaskan celana mu?" Luna kini berani melihat mata Kyle yang juga sedang tertuju di wajahnya.
"mmmmmm" Kyle menggerakkan tangan untuk membuka selimut yang menutupi bagian bawahnya, membuka seluruh selimut yang menutupi bagian bawahnya.
'sialan suster itu....!'
Luna tertegun melihat tubuh Kyle yang ternyata tidak memakai celana kainnya. Kedua suster sudah membuka juga celana kain yang dipakai Kyle agar Luna lebih mudah untuk membersihkan semua tubuhnya. Luna dengan cepat mengambil kembali selimut yang dilepas Kyle, mencoba menutupi bagian sensitif yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
"kamu bisa menutup bagian ini saja, sisanya biar aku bersihkan dengan handuk" Luna bergegas mengambil handuk dan mulai memerasnya.
"kamu tak pernah 'melihatnya' sebelumnya?"
"melihat apa maksud mu?"
"kamu terlihat gugup ketika menutup itu. Aku yakin kalau kamu berbohong dengan umur mu. Tubuh mu saja seperti anak sekolahan yang baru saja lulus" Kyle tertawa melihat ekspresi Luna yang kaget dengan kejadian tadi,
"Ouch Luna...!" Kyle merengek kesakitan karena handuk yang di pegang Luna menyentuh lukanya.
"kalau kamu banyak bicara, akan aku gosok luka mu dengan handuk ini" ancam Luna. Dia kemudian memeras kembali dan melanjutkan membasuh dada dan tangannya.
"ngomong-ngomong, wajahmu merona. Apa suhu disini terlalu panas?" Kyle mencoba menggoda kembali karena melihat pipi Luna yang merona.
Luna sendiri tak bisa menghindari untuk melihat dan memegang tubuh Kyle yang berotot. Sesekali dia menelan ludahnya untuk menyegarkan pikiran kotornya. Dia terdiam tak menjawab pertanyaan Kyle, hingga tiba saatnya membersihkan kaki panjangnya. Luna mulai membersihkan dari paha atas sebelah kanan hingga ujung kaki, dilanjutkan dengan sebelahnya dengan cara yang sama. Dia tak berani melihat lebih atas dari paha Kyle karena dia tahu pipinya akan lebih merona dan Kyle akan tertawa melihat wajahnya.
"hmmmmmm, bisakah tanganmu lebih ke atas" Kyle membuat suara berat yang membuat Luna berhenti membasuh paha kirinya. Luna terdiam melihat ekspresi menjijikkan dari lelaki yang baru dia kenal.
"hahahahahaha baiklah-baiklah, aku hanya menggodamu, aku berhenti, aku akan diam" Kyle tertawa melihat ekspresi kesal Luna dengan godaanya. Luna yang kesal akan godaan Kyle, sudah bersiap untuk menggosok luka yang ada di pahanya. Namun tidak dia lakukan karena Kyle sudah meminta maaf dan tidak menggodanya lagi.
"baiklah sudah selesai. Kamu bisa membersihkan bagian itu dengan tanganmu sendiri. Akan aku ambil kan baju untuk kamu pakai malam ini" Luna berdiri menuju lemari pakaian, menutup pintu tersebut rapat-rapat.
"sialan kamu Kyle. Bisa-bisanya membuat lelucon dengan ituuuuuu... "
Luna memaki lemari yang ada didepanya. Dia mengaca di kaca besar di lemari itu, melihat wajahnya yang merona kembali, setelah lebih dari 5 tahun. Dia merasakan gejolak aneh di dalam dadanya yang membuat nafasnya tersengal yang tak seperti biasa. Dia mencoba menenangkan pikirannya dan mencari pakaian yang pas untuk Kyle pakai malam ini.
"apa itu? Kenapa wajahmu sudah normal lagi?" tanya Kyle ke Luna yang baru saja keluar dari pintu ruangan pakaian.
"apa yang kamu maksud? Wajahku memang seperti ini" lalu Luna menaruh pakaiannya di kursi pojok, mengangkat kembali ember beserta handuk yang dia pakai.
"keluarlah untuk makan malam setelah ini, akan aku masakan sesuatu dari negaraku. Dan...aku perlu bertanya sesuatu padamu" Luna kemudian pergi dari ruangan tersebut. Membiarkan Kyle memakai pakaian yang dia berikan. Lalu dia beranjak menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.