
Setibanya dari butik Djelantik, aku dan nenek langsung turun untuk mengambil beberapa tas belanja pesanan beberapa hari sebelumnya yang dikhususkan untuk hadiah keluarga Sungkono. Pemilik toko tersebut merupakan teman dekat dari nenekku, Swi Djelantik. Pemilik itu lebih muda dua tahun dari umur nenek, namun penampilannya masih terlihat lebih muda dari nenek ku sendiri.
"Myria, ini cucumu?" tanya tante Djelantik,
"iya ini cucu pertamaku, anaknya Oditi, cantik kan, apalagi kalau kamu liat Lily, pasti juga cantik? Mirip aku..."
"hahaha kalau ini sih beda jauh sama kamu... lihat saja wajahnya yang ceria, kalau kamu kan dingin, kayak gunung es"
"iya benar tante, muka nenek kayak ga bisa senyum" aku dan tante Djelantik setuju dengan sifat nenek yang dingin. Contohnya saja seperti sekarang, dia tak menunjukkan ekspresi apapun, hanya terdiam sambil memilah kain-kain batik untuk di cek.
"oiya Luna, kata nenekmu, hari ini kamu bertunangan dengan anaknya Swatika? Siapa itu..... Moza ya? Benar ga?" aku yang mendengar ucapan tante Djelantik langsung tersipu malu dengan mendengar kata 'bertunangan' melalui telinga ku.
"hihihihi tanya nenek aja deeeh..." aku langsung berjalan keluar ke mobil kami karena malu dan membuat muka ku merona di depan tante Djelantik. Aku tak mau terlalu merah setibanya nanti di hotel.
"yaaaaah... Luna emang cucu mu, lihat itu, dia seperti kamu kalau malu langsung merona, kayak pertama kali kamu dating sama Omana hahahahaha"
"aku lupa kalau pernah merah pipi ku kayak gitu?" tanya Myria tak percaya
"kamu terus mengelak ya kalau wajah mu suka merah kalau malu"
Aku yang masih menunggu di luar sambil meminum air mineral ku dengan pak sopir, melihat-lihat dan membahas tentang jalanan yang padat dengan turis di depan ku. Sesaat kemudian nenek dan tante Djelantik keluar dengan membawa beberapa tas belanja pesanannya, dibantu dengan tiga asisten dari tante. Aku membantu memasukkannya ke dalam bagasi mobil belakang dengan pak supir dan menata agar rapi ketika di keluarkan nantinya. Ketika aku memasukkan tas belanja ke tiga, aku merasakan getaran yang terasa dari mobil, kemudian terdengar suara yang sangat kencang dari tempat kami berada..
BBHUUUUUUMMMMM!!!!!
Suara keras seperti petasan terasa hingga mobil kami bergetar, aku melihat jendela kaca butik milik tante juga ikut bergetar seiring dengan suara ledakan tersebut. Kami semua kaget dan menundukkan kepala kami agar tidak terkena serpihan kaca. Kuping ku terasa sakit dan beberapa menit aku tak bisa mendengar suara apapun. Aku melihat ke nenek untuk menanyakan apa yang terjadi. Nenek yang kaget karena melindungiku langsung berdiri mencari sumber suara, lalu nenek melihat kepulan asap hitam tinggi dan api yang berkobar dari arah barat tempat kami sekarang.
"asap itu, astaga Tuhan..." nenek segera mengambil telepon genggam untuk menghubungi seseorang, namun nenek berkali-kali menekan tombol yang sama dan meletakkan kembali ke kuping kanannya.
"neeekk... Ada apa nek...?" aku menarik rok adat yang ia pakai. Dia terus-terusan menghubungi seseorang dan tak menemukan jawaban. Tante Djelantik yang bersama kami langsung mencoba mencari tahu dengan masuk ke dalam butik dan menyalakan televisi, namun itu tidak bekerja.
"Myria!!! Tidak ada jaringan televisi!" tante Djelantik yang memeriksa di dalam butik berteriak ke nenekku. Aku yang masih jongkok di samping nenek terus menerus menarik roknya.
"neeek ayo ke papa nek...nek antar aku sekarang juga kesana" aku mulai menangis, pak sopir yang juga masih melindungiku mencoba berdiri mencari kepulan asap yang terlihat tinggi dari tempat kami.
"Nyonya... Asap itu berasal dari...." suara pak sopir menjadi pelan, kemudian langsung mengangkat tubuhku untuk berdiri, dan mencoba menyalakan mobilnya kembali. Aku yang masih terdiam karena kuping ku tidak bisa mendengar suara apapun, melihat nenek yang terisak kebingungan. Tante Djelantik yang berlari menemui nenekku, langsung memeluknya dan memasukkannya ke dalam mobil, begitu pula aku yang disusulnya. Kini tante Djelantik duduk bersama kami di mobil, dengan posisi nenek paling pojok sebelah kiri dan tante di tengah kemudian aku.
Pak sopir melesat cepat, diiringi suara sirine dari mobil ambulan dan pemadam api kebakaran ikut di belakang kami, pak sopir kemudian membiarkan mereka untuk berjalan terlebih dahulu, berharap bahwa bukan tempat kami yang mereka tuju. Namun setelah mengikuti mereka beberapa saat, jalan yang mereka tempuh sama dengan kami. Aku mulai cemas dan air mataku mulai turun lebih deras, jalanan yang bersih dan penuh pejalan kaki, kini berantakan, kursi kayu dan genteng dimana-mana. Polisi yang berjaga kini ikut mengamankan turis dan lainnya untuk diselamatkan. Mobil kami tidak bisa masuk lebih dalam, jadi kami semua memutuskan untuk berjalan. Kuping ku masih berdengung, aku mencoba menggandeng tangan pak sopir disampingku, berharap bukan tempat kami asap itu berasal. Namun setelah kami berjalan lebih jauh, api semakin terlihat jelas, semakin mendekat, dan asap hitam itu berasal dari hotel JS Suites tempat keluarga kami berada.
Pak sopir dan tante Djelantik yang mencoba menenangkan kami, menggeserkan tubuhnya karena arahan dari polisi yang berjaga. Kurang lebih 500 meter dari tempat kami berada, aku yang masih menangis di pelukan, mencoba untuk bernafas teratur mungkin. Namun aku masih tak bisa, kedua telingaku berdengung dan menyakitkan sehingga aku tak bisa mendengar apapun.
BBHUUUUUUMMMM!!!!
Suara ledakan terdengar kembali, namun kini aku mendengar dengan jelas dan membuat tubuh kami serta orang-orang yang ada disana juga ikut terdorong oleh getaran tersebut. Semua orang hampir terjatuh, dan aku terpisah dari pelukan pak sopir. Dia terjatuh dan terdapat luka di kepala dan tangannya. Tante Djelantik yang memeluk erat tubuh nenek pun juga ikut terpental dan terluka akibat melindungi nenekku yang menangis. Aku yang terpisah kini melihat jelas orang-orang terluka didepan mataku. Beberapa suster dan petugas pemadam juga terpental dari hotel. Sebagian kulit mereka mengelupas dan darah mengucur dari tubuhnya. Aku melihat potongan tubuh yang terpental dari dalam hotel. Suara ledakan kedua yang terdengar lebih jelas dari gendang telingaku, kini membuatnya berdengung tambah kencang. Tubuhku menggigil, aku berteriak dan menangis sekencang mungkin melihat dari kejauhan tempat masuk mobil awal kami yang mengantar orang-orang yang aku cintai di dalam. Aku berteriak sekencang mungkin namun kini hanya keheningan yang terdengar dari dalam telingaku. Kemudian pak sopir menghampiri ku dengan tubuhnya yang terluka dan memeluk kembali tubuhku yang menggigil. Kemudian aku tak melihat apapun, gelap, dan sepi.
Aku terbangun dan melihat infus di tangan kiri ku, melihat nenek berada di kursi roda, tante Djelantik, dan pak sopir yang dibalut perban di ruangan serba putih. Aku melihat banyak sekali orang sibuk dengan membawa peralatan kesehatan, dan mereka menangis setelah memeriksa pasien mereka. Disampingku terdapat ibu hamil yang juga di infus ditanganya, alat pendeteksi detak jantung, suaminya yang juga menunggu di sampingnya dengan perban di kepala. Kemudian lampu neon berwarna putih dan tirai disampingku yang berwarna putih juga terlihat sangat sepi bagiku. Tante Djelantik yang melihat ku terbangun langsung berdiri dari tempat duduknya, dan nenekku juga melihat tubuhku yang terbaring. Namun sayangnya, aku tak mendengar apapun dari mereka. Semua hening, sepi, aku tak mendengar apapun dari mulut mereka. Kemudian aku mencoba memfokuskan cara bibir mereka bergerak, dan sesekali aku menangkap kata 'ayahmu..disana.. Ibumu.. Lily.. Sungkono.. Sungkono...' aku mencoba mengerti apa yang diucapkan oleh tante Djelantik, namun badanku mulai menggigil dan kuping ku berdengung sangat kencang. Aku menutupnya dengan kedua telingaku, mencoba berteriak sekencang mungkin dari tubuh lemas ku, namun aku tak bisa mendengar apapun. Aku menangis sekencang mungkin, dan membuat tante Djelantik memelukku erat dan menangis di tubuhku.
Lima hari setelah kejadian, aku menghitung setiap jamnya untuk menunggu keluarga ku kembali. Memastikan koper yang ada di kamar mereka untuk di bawa pulang ke rumah. Aku mengambil koper mereka di kamar ayah dan ibu, serta kamar Lily. Menumpuk menjadi satu dengan koperku. Menunggu mereka untuk mengetuk pintu dan membawaku pulang. Tak ada nafsu makan, aku tak mandi, lemas dan putus asa menunggu mereka muncul di depan pintu. Aku selalu menghitung jam di sampingku. Menunggu mereka sambil terbaring di ranjang. Tante Djelantik dan beberapa asisten di rumah ini bergantian mengecekku, mencoba memberiku makan dan berbohong kepadaku, bahwa aku harus makan terlebih dahulu sebelum keluarga ku menjemputku. Kadang aku mempercayai mereka dan memakan beberapa suap kemudian tak memakannya lagi. Aku hanya bisa melihat dari gerak bibir dari setiap orang yang mengawasiku. Kuping ku masih berdengung dan aku tak bisa merasakan atau mendengar apapun.
Ku habiskan waktu ku dengan menangis melihat bingkai foto keluarga kami dan menangis di pelukan boneka beruang besar yang terduduk tepat di samping ranjang. Aku tak tahu lagi sudah berapa lama, berapa jam lamanya keluargaku tak berniat menjemput dan menyapaku di balik pintu. Bahkan ibu, ayah, atau Lily yang selalu membangunku ketika aku bangun siang, kini hanya cahaya matahari yang menyapa. Aku selalu menunggu mereka dan terkadang tak tidur seharian untuk melihat dari balik pintu.
Tak terasa, tante Djelantik serta nenek yang duduk di kursi roda, menggunakan pakaian serba putih, masuk menghampiriku. Nenek menangis terisak dan tante langsung memelukku. Aku tak tahu lagi apa yang mereka bicarakan, hanya terdengar suara sangat pelan 'tabah... Semua sayang Luna'
Sudah seminggu lebih sejak kejadian tersebut, dokter keluarga juga mencoba memeriksa keadaan ku di dalam kamar dengan bantuan asistennya. Aku hanya duduk terdiam di ranjang sambil melihat taman di luar kamar dari balik jendela. Kemudian nenek yang sudah tak memakai kursi roda tampak keluar dan menutup kembali pintu kamarku. Aku hanya memeluk kembali bingkai foto dan kemudian tertidur di ranjangku.
Setiap hari dokter memeriksa dan membawa alat lengkapnya untukku di kamar. Memberikan ku obat dan membuatku belajar dengan bahasa isyarat jika aku tak bisa mendengar lagi atau tak ingin berbicara lewat suara. Dia memberiku dua buku, satu buku novel dan satunya buku tentang isyarat. Di dalam novel yang aku baca, dia menerangkan tentang trauma dan bagaimana cara menjalaninya. Aku tak tahu apa aku mengidap penyakit ini atau tidak, namun telingaku dan bibirku tak ingin aku gerakkan sesuai yang ingin ku perintahkan.
Beberapa hari ku habiskan dengan membaca kedua buku tersebut, dan mencoba untuk melihat diriku sendiri di dalam bingkai foto. Ayah, ibu, dua gadis lucu dan riang duduk disampingnya. Tersenyum manis. Di saat itu aku mulai menangis, berteriak di dalam bantalku. Dan saat itu pula aku mulai mendengar suara tangisanku yang mulai samar.
Pagi harinya, aku memberanikan diri untuk keluar kamar, berjalan sempoyongan melalui jalan di depan. Tanaman dan pohon yang asri, kolam renang yang sangat bersih karena tidak digunakan beberapa minggu, embun yang masih menumpuk di daun, aku mencoba untuk berjalan perlahan menuju ruang makan. Terdengar suara berita dari televisi yang ada di ruang makan, aku mencoba menghampirinya dan mendengarkan sumber suara tersebut.
'kejadian pengeboman yang terjadi di Hotel JS Suites yang disebabkan oleh anggota *******, sudah tercatat lebih dari 200 jiwa yang meninggal. Saat ini badan intelijen negara dan aparat keamanan sedang menyelidiki kasus ini lebih lanjut....'
Salah satu asisten pembantu yang melihatku langsung mematikan televisi tersebut. Aku yang terdiam di pojokkan kini memberanikan diri untuk duduk di salah satu kursi makan. Mereka hanya melihatku terdiam dan tak berani mengajakku bicara.
"aku...." suara ku terbata-bata,
"aku bisa mendengar suara, tapi masih pelan..." Salah satu asisten tertua langsung memelukku dan menangis di pundakku. Aku juga melihat semua orang di dapur mulai menangis.
".....iya nanti...bantu"
suara samar terdengar dari depanku, aku juga memperhatikan bibir mereka ketika berbicara. Salah satu asisten kemudian memberiku satu mangkok sereal dengan susu hangat. Memberikan isyarat agar aku makan dan tidak terlihat pucat. Kemudian aku menuruti mereka.
Berbulan-bulan aku habiskan waktu ku untuk mengikuti konseling, dokter dan perawat juga selalu mengecek keadaanku dan nenekku. Mencoba belajar untuk mengendalikan gendang telingaku dan bibirku. Meminum obat dan makan teratur. Namun sejak kejadian tersebut aku selalu bermimpi tentang mereka. Ayah, ibu, kakek, nenek dan Lily saudariku, duduk dengan anggun di Pura, Moza dan keluarganya membicarakan pertunangan kami, ciuman kedua ku dengan Moza di kamar, kemudian suara ledakan keras. Semua tertata rapi di dalam mimpiku setiap hari, dan setelahnya aku selalu terjaga hingga pagi hari. Aku mencoba memberitahu nenek dan dokter untuk masalah ini, dan mereka juga sudah memberikan pengobatan dan konseling untuk itu. Nenekku yang dulu selalu terlihat riang ketika bersama kakek, kini selalu menampilkan wajah dingin, dan hanya bereaksi ketika dia khawatir dengan ku atau saat mendengar teriakan ku ketika aku bermimpi buruk. Aku tahu nenek juga terluka, sangat terluka, namun dia lebih memilih untuk menutupinya rapat-rapat dan berjalan seperti biasa. Dia yang selalu menemaniku, menjaga dan merawat ku selama aku mengalami trauma dan ketakutanku. Dan tiba saatnya dia mulai mengajakku untuk pindah ke Italia dan memulai hidup baru dengan marga keluarganya, Brown.