
Pagi yang berkabut menyelimuti kota Florence saat ini. Salju tipis yang ditinggalkan melalui dahan pohon dan pinggir jalanan membuat Florence menjelma bak kota peri yang serba berwarna putih. Lampu kota yang biasanya sudah tak menyala, sekarang masih menyala pada pukul 8 pagi ini untuk membantu menerangi pejalan kaki yang terhalangi oleh kabut.
Cahaya pagi yang biasanya mengintip dari balik tirai putih di jendela kamar Kyle, kini tertutup rapat olehnya. Terlihat kedua tubuh yang bersembunyi dari selimut abu-abu tebal, bersembunyi semakin jauh mencari kehangatan. Kedua tubuh tersebut memeluk erat masing-masing hingga kulit mereka menyatu sama lain.
"merde! Pening sekali kepalaku" suara parau Luna yang terbangun dari tidurnya. Dia terbangun cukup lama dari ketidaksadaran yang ditimbulkan oleh alkohol semalam. Memegang kepalanya seraya menutupi bagian tubuhnya dengan selimut yang dia pegang.
"selamat pagi Luna" suara lembut yang berasal dari pintu kamar yang baru saja dibuka.
"oh hai.... Selamat..." Luna terdiam melihat ranjang yang dia tiduri dengan kondisi telanjang,
"kenapa aku tidur di ranjangmu? Apa yang kamu lakukan?" teriak luna tiba-tiba,
"kamu mabuk semalam... apa... kamu tak ingat apa yang kamu lakukan?" jawab Kyle,
"berhentilah bercanda!" teriak Luna,
"kenapa aku telanjang dan APA YANG KAMU LAKUKAN?" air mata Luna mulai menetes dihadapan Kyle. Dia terisak karena melihat keadaannya yang sudah tidak memakai baju apapun dan tertidur di ranjang lelaki lain,
Kyle yang melihat hal itu langsung menghampirinya, dan mencoba untuk menenangkan tubuh Luna yang kaget.
"jangan mendekat! Katakan apa yang kamu lakukan terhadap ku?"
"Luna aku mohon tenanglah...." jawab Kyle yang kini berdiri di depan ranjang,
"aku tidak menidurimu, tenanglah"
Luna terisak didepan Kyle, dia mencoba untuk menutupi tubuhnya dengan selimut yang dia pegang. Mengusap air matanya beberapa kali dan terdiam mencerna ucapannya.
"tapi... tapi kenapa aku melepaskan..."
"akan aku jelaskan semuanya, tapi aku mohon... Makanlah terlebih dahulu, aku takut kamu akan pingsan" pinta Kyle dengan lembut.
"aku akan menunggu mu di ruang tamu" Kyle menutup pintu kamarnya, dan berharap ajakannya akan dituruti oleh Luna yang kaget dengan situasi pagi ini.
Luna menutupi wajahnya dengan kedua tangan, memikirkan kembali apa yang dia lakukan semalam dengan Kyle. Isak tangis yang tadinya turun, kini mulai hilang dari pipinya. Dia mencoba untuk bangun dan melihat cuaca kota Florence dari balik tirainya. Lalu kemudian mengambil piyama dari sofa yang sudah Kyle siapkan.
'huuuuuh. apa yang terjadi semalam' desis Luna dalam hati.
Kyle yang sudah siap menunggu Luna dengan menu sarapan yang dia buat, juga menatap pintu kamarnya dengan cemas. Berharap Luna akan mendengarkan ceritanya tentang apa yang terjadi semalam.
Kyle yang menggunakan sweater pastel dan celana kain senada, rambut cokelat yang berantakan namun terlihat tampan di wajahnya, menunggu Luna dari balik pintu kamarnya, dan menatap berkali-kali untuk menunggunya membuka pintu.
Beberapa menit setelahnya, Luna membuka pintu dan memakai piyama yang Kyle siapkan. Piyama besar dengan warna abu-abu, serta slippers lelaki yang biasa Kyle gunakan sangat cocok dengan Luna. Kyle menatapnya gemas karena pemandangan ini jarang dilihat olehnya.
Luna akhirnya menghampirinya dan duduk di depan tubuh Kyle. Menatap tajam ke arah makanan yang dia siapkan karena dia merasa sangat lapar.
"sudah lapar?" tanya Kyle,
Luna tak menjawab pertanyaannya dan dia langsung mengambil makanan yang dia siapkan.
Suasana hening mengikuti mereka berdua, tak ada obrolan ataupun pertanyaan penasaran dengan kejadian semalam. Luna sangat lahap menyantap makanannya, dan sesekali melirik ke arah Kyle yang juga menatapnya. Dia hanya menarik nafas panjang setelah melihat Kyle, berharap membuka suasana hening di ruang tamu ini.
"Luna...?"
suara lembut Kyle didepanya. Luna hanya terdiam dan terfokus dengan gelas yang berisi jus jeruk di depannya.
"dengarkan aku dahulu apa yang terjadi semalam" dia menatap ke Luna dan berhenti memakan makanannya.
kini Luna mulai memperhatikannya, dan mencoba untuk menegakkan badannya ke sofa. Mengangkat jus jeruk yang ada ditanganya dan menatap ke arah Kyle.
"kamu mabuk semalam.."
"iya aku tahu" sela Luna,
"hmmm" senyum keluar dari Kyle yang melihatnya,
"kamu mabuk semalam dan tak sadar sama sekali, bahkan kamu memanggilku dengan nama lain"
"apa maksudmu?"
"Moza?" sela Kyle yang sekarang semakin mendekatkan tubuhnya hingga kakinya menempel di meja,
Luna yang mendengar saat nama itu disebut langsung terdiam. Gelas yang daritadi dia putar untuk dimainkan, kini mematung bak mendengar sesuatu yang penting. Kemudian dia menatap ke arah Kyle yang tersinari oleh cahaya dari luar jendela. Memandangnya sesaat dan kemudian menutup matanya.
"kamu memanggil nama Moza dihadapan ku, tapi kamu juga mencoba untuk menciumku" Kyle menghela nafas,
"aku sudah mencoba untuk menghentikan mu, tapi kamu menjadi lebih tak terkontrol dan akhirnya aku menggendong ke dalam kamarku"
"lalu apakah kita?" tanya Luna penasaran.
"tenanglah, aku tak suka tidur dengan seseorang yang salah memanggil namanya" Kyle terkekeh dengan jawabannya.
"lagipula kamu muntah setelah aku pindahkan tubuhmu"
"jadi kita tidak...?" tanya Luna
"aku belum menyentuh mu.. Kalau tak percaya pegang saja sendiri"
tubuh Kyle kini sudah berdiri di depannya. Mencoba mengangkat nampan yang berisi bekas makanan yang tersisa. Dia kemudian meninggalkan Luna yang terdiam mencerna semua ceritanya.
Hujan salju mulai deras di kota Florence hingga malam tiba. Berita mengenai jalan yang sudah tertutup salju dan ramalan hingga dua hari kedepan sudah di siarkan. Kini kota ini sudah membeku berselimut salju.
"aku rasa Kyle mencoba melepaskan celana dalamku.. Atau aku yang sudah menggodanya?" pikir Luna,
"atau aku yang sudah melepaskan bajunya.. " dia menghela nafas,
"aaaaaaakk! Sialan kenapa aku melakukannya!!" teriak Luna di dalam bantalnya.
Kini wajahnya mulai memerah dan suhu tubuhnya memanas karena ingatan tentang semalam sudah terkumpulkan dengan jelas. Dia terduduk di atas ranjangnya dan mulai memegang suhu tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Memegang ke arah pipinya, leher, bahu, kemudian ke arah perutnya. Sambil menutup matanya, dia mengingat hangatnya badan Kyle saat dia memeluknya.
"BODOH!" teriak Luna tiba-tiba,
"sialan kenapa aku terangsang dengannya ...."
dia kemudian menghempaskan tubuhnya kembali ke ranjangnya. Mencoba untuk menenangkan pikirannya yang kotor tentang tubuh Kyle.
'Tok. Tok. Tok'
Suara ketukan dari pintu Luna terdengar. Luna yang menyadarinya langsung terdiam mendengar suara lembut dari balik pintu.
"Luna.. Apa kamu tidak makan malam?" tanya Kyle dari balik pintu kamarnya. Luna kemudian menata suara dari tenggorokannya.
"ah iya aku.. Segera kesana" jawab Luna dari dalam kamarnya. Kini dia mulai berdiri dari ranjangnya dan berdiri di depan kaca. Menata rambut dan dress tidur miliknya.
"kenapa aku seperti ini? Ini bukan aku!" dia memaki dirinya sendiri di depan kaca. Kemudian akhirnya keluar kamar dan segera menuju ke ruang tamu untuk makan.
Kyle sudah menunggunya seperti biasa, dengan nampan yang berisi makanan lengkap dan gelas cembung berisi wine. Dia mengenakan kaos putih dan celana kain seperti biasa, namun otot tubuhnya yang kekar membuat kaos tersebut mengecap jelas dari balik kain itu. Luna mencoba menghindar dari Kyle, agar dia tidak terlalu mendekat dan menata pikiran kotornya tentang kejadian semalam. Kini dia duduk di depan Kyle dan menjauh seperti tadi pagi.
"apa kamu mencoba untuk menghindari ku?" tanya Kyle penasaran,
"tidak. Aku hanya ingin duduk disini. Lagipula ini apartemen ku, aku bisa duduk dimana saja yang aku mau" jawab dingin Luna seperti biasa,
Kini mereka mulai memakan masakan yang Kyle buat. Terdiam tak ada percakapan dan hanya suara dari decitan sendok dan garpu.
Luna makan dengan anggun seperti biasa. Menegakkan tubuhnya dan sesekali mengelap bekas makanan yang meleset dari bibirnya. Kyle juga mulai makan seperti biasa, tak terlalu menatap kondisi Luna. Mencoba menikmati makanan seperti biasa dengan sang penyelamatnya.
"ngomong-ngomong, apa kamu selalu tidak mendengar seseorang ketika kamu bermimpi buruk?" tanya Kyle tiba-tiba,
"apa?? apa aku juga mimpi buruk semalam?" Luna penasaran dengan kejadian semalam, dan bertanya penasaran kepada Kyle yang menemaninya.
"kamu berteriak 'selamatkan aku, aku tak bisa mendengar apapun, tolong' sambil menutup telingamu. Padahal aku sudah berteriak menyadarkan mu tapi kamu sama sekali tak mendengar ku"
"benarkah?"
"benar.. " jawab tegas Kyle,
"lalu apalagi yang terjadi?" sela Luna,
"karena teriakan mu cukup kencang, jadi aku memelukmu semalaman, dan tiba-tiba kamu berhenti berteriak dan langsung tidur"
"langsung...tidur...?" wajah Luna mendekatkan ke arah tubuh Kyle,
"yup. Kamu langsung tertidur semalaman" jawab Kyle yang masih menyelesaikan makanannya yang terakhir.
"pantas saja...." gumam pelan Luna,
"apa?"
"tidak, lupakan saja" suara Luna semakin pelan setelah mendengar cerita tersebut. Memikirkan sejenak apa yang terjadi ketika dia bermimpi buruk.
Kyle dan Luna kini terdiam kembali setelah percakapan tersebut. Kyle menata kembali bekas piring ke atas nampan dan membersihkan sisa yang terjatuh di meja.
Kemudian berjalan menuju dapur untuk membersihkannya.
Luna yang terdiam sambil meminum wine, melihat ke punggung Kyle di dapur. Melihat otot yang kekar di balik kaos tipisnya, dan kaki yang jenjang terlihat pas dari belakang. Luna menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, menarik nafasnya yang mulai tak beraturan ketika melihat tubuh Kyle. Lalu sejenak menggelengkan kepalanya dan menghabiskan seluruh wine yang ada digelasnya.
Kyle yang sudah selesai membersihkan piring, kini beranjak untuk menghampiri Luna. Berusaha untuk menutup tirai jendela besar ruang tamu dan ruang baca. Kemudian menyalakan televisi untuk Luna. Mereka berdua melihat ke acara komedi yang Kyle pilih.
Luna yang hanya duduk anggun melihat ke arah televisinya, sesekali tersenyum dengan ulah aktor di acara itu. Kyle juga sesekali memperhatikan Luna yang menikmati acara tersebut dan kemudian melihat kembali ke televisi. Mereka berdua menikmati malam yang dingin berdua dengan melihat acara komedi di ruang tamu.
Beberapa jam setelahnya, Kyle mulai berdiri untuk mematikan lampu dapur dan tidak lupa mengecek kembali pemanas di dapur. Luna yang mulai mengantuk juga meregangkan tubuhnya untuk bersiap kembali ke kamarnya. Dia juga melihat ke arah Kyle yang mengerjakan tugasnya sesuai dengan pekerjaan yang dia beri. Kemudian akhirnya tiba dimana mereka harus berpisah dengan ruangan masing-masing.
"uuummm Kyle?" tanya Luna yang berhenti di depan pintu kamarnya,
"iya?" Kyle menoleh ke arah Luna yang sudah bersiap untuk masuk ke dalam kamarnya juga,
"apa kamu bisa..." dia mengenal nafasnya,
"apa kamu bisa menjadi tuas pengaman mimpi buruk ku agar aku tak berteriak lagi?"
"tuas pengaman mimpi buruk?" Kyle bingung dengan pertanyaan Luna,
"iya benar... Kalau aku berteriak lagi, bisakah kamu masuk ke dalam kamarku untuk menghentikan ku? Aku tak akan mengunci kamar ku.. Jadi bisakah kamu menjadi tuas pengaman ku?"
Kyle yang mendengar permintaan aneh dari majikannya, menatap sejenak dan mencerna perintah tersebut. Kemudian dia tersenyum ke arah Luna yang berdiri di depannya,
"kalau ini termasuk pekerjaanku juga, aku akan siap membantu mu"
"terima kasih, Marc Kyle" Luna tersenyum mendengar jawaban yang Kyle ucapkan. Bahagia akan jawabannya untuk menjaga dirinya dari mimpi buruk. Kemudian mereka berdua berpisah di depan kamar masing-masing dan menikmati dinginnya kota Florence dan mimpi buruk yang akan datang dari kamar Luna.