The Brown'S Sister And City Of Arts

The Brown'S Sister And City Of Arts
Acara Lelang Keluarga Brown II



Para pelayan sudah menata semua makanan, kue, dan wine di seluruh meja yang terletak di ruang utama kastel Brown. Beberapa pelayan yang memakai pakaian rapi juga mengantarkan gelas wine cembung dengan nampan perak berkeliling di seluruh rumah. Menjamu seluruh tamu yang hadir dan memberikan pelayanan terbaik untuk mereka.


Tamu-tamu yang hadir di acara pelelangan tahun ini lebih di dominasi oleh orang-orang penting, seperti ketua dari grup William, perusahaan terkenal di bidang tekstil, Presiden dari pemilik saham di Amerika, pemilik dan pemimpin dari organisasi cendekiawan dari Vatikan, kolektor ternama Hans Sakamoto dari Jepang, dan beberapa politikus serta kurator seni dari seluruh dunia berkumpul menjadi satu di acara ini pelelangan tahunan musim dingin.


Beberapa merk terkenal juga ikut meriahkan dalam pelelangan, terlebih lagi ingin memberikan souvenir untuk para tamu yang datang, brand tersebut lebih banyak di dominasi oleh merk mahal yang berasal dari Italia dan Perancis.


Ini semua berkat dari nenek Luna yang kedua, Gita Brown, yang membuat acara ini lebih meriah. Dia juga memberikan tur gratis kepada para tamu yang hadir untuk mengunjungi gudang wine miliknya. Dia juga ikut berkontribusi untuk pelelangan 2 botol wine. Wine ini sudah di simpan dari tahun-ke tahun oleh nenek buyut keluarga Brown sebelumnya, disimpan dengan baik dan di cek suhunya agar rasa khas wine Brown tetap ada dan itu yang akan menjadi nilai lebih dari dua botol tersebut.


Hiruk-pikuk yang ada di ruangan utama maupun di luar kastel didominasi oleh baju dan perhiasan mahal. Luna yang berjalan masuk ke ruangan neneknya juga tak luput dari semua pandangan orang-orang yang menatapnya. Wajahnya yang anggun dengan tatapan dingin dan tajam membuat mereka kagum dengan penampilan Luna.


"buonasera, nonna...!" sapa Luna yang masuk ke dalam ruangan neneknya.


Marco yang mengikutinya dari belakang juga menundukkan kepalanya untuk menyapa pemilik kastel besar ini.


"mia bella cara, Luna....." nenek Myria menoleh dan langsung memeluk cucunya tersebut.


Mencium pipi kanan dan kirinya kemudian juga menyapa Marco di belakangnya.


"kamu sudah melihat suasana di luar? Benar-benar raaaaamaaaaiii....! Aku tak menyangka Gita akan membuat brand itu bertekuk lutut juga"


"tadi aku juga melihat Nyonya Hansen dengan suami barunya, aku tak tahu kalau dia akan menikah lagi untuk ketiga kalinya ckckck" jawab Luna yang masih berdiri di depan neneknya.


"oh iya... Marco bilang kalau kamu menyetir sendiri kesini? Apa benar?"


'sialan Marco! Kenapa kamu melapor ke nenek' desis Luna dalam hati,


"benar. Aku hanya ingin mengendarainya, sudah lama aku tak menyetir sendiri" jawab Luna yang kini mulai menuju sofa di ruang tersebut,


"apa Marco selalu melapor ke nenek lagi? Dia kan bekerja untuk ku sekarang" Luna yang terlihat kesal dengan Marco, mencoba untuk melirik sinis ke arahnya,


"Marco memang bekerja denganmu, tapi nenek yang menyuruhnya. Jadi..... Dia harus masih melapor ke atasanya" neneknya mencubit pipi Luna gemas, Marco yang melihat akan hal itu hanya tersenyum dan tertunduk di hadapan Luna.


Myria yang masih sibuk memilih kalung untuk yang dia pakai hari ini, mencoba meminta saran ke Luna dan Marco. Kemudian sesekali menghubungi Gita dan Daniel untuk menanyakan apakah sudah bisa dimulai acara pelelanganya atau tidak.


"kalau ini gimana?" Myria menunjukkan kalung berlian dengan liontin bulan di tengahnya.


"hmmm ya bagus itu saja terlihat pas dengan kulit dan rambut nenek" Luna mengangguk, melihat pakaian dan riasan neneknya yang sangat cantik. Di umurnya yang sekarang, Myria masih terlihat seksi.


"nah! Aku sekarang sudah siap. Bagaimana penampilan ku?" Myria berdiri dan bergaya di depan Luna yang duduk anggun di sofa dan Marco yang masih berdiri tegap di depan pintu.


"seksi dan terkesan menggoda.." Luna tersenyum dan melirik ke arah Marco yang juga tersenyum menunduk melihat kelakuan bosnya.


"ya ya... Ayo keluar sekarang"


Akhirnya mereka bertiga keluar bersama menuruni anak tangga dan menuju ke ruang utama untuk memulai pelelangan. Mereka bertiga turun dari tangga dan masih terlihat anggun, dress dengan merk mahal yang menyentuh anak tangga satu-persatu, terlihat mengalir sempurna, serta aksesoris berlian yang pas di tubuh Luna dan Myria menambah kesan berkelas di tubuh mereka. Marco yang tampan dan gagah mengawal dari belakang, juga terlihat seperti dewa dan dewi Yunani.


"selamat siang semua para tamu yang saya hormati..." sapa sopan Myria,


"baiklah kita akan langsung memulai untuk melelang barang-barang antik ini. Acara lelang tahunan musim dingin oleh keluarga Brown, dimulai!" suara bel kemudian berbunyi pertanda pelelangan dimulai.


Barang-barang yang di lelang merupakan barang antik yang Myria selamatkan dari pasar gelap. Beberapa dari mereka rusak dan sobek, karena dia juga seorang kurator seni dan kemampuannya untuk mengembalikan ke bentuknya semula, terutama jika itu adalah lukisan. Myria juga menyukai vas atau barang antik berharga lainnya yang dia selamatkan dari orang-orang tak bertanggung jawab. Sesekali dia membeli dari orang kaya lainnya karena tak mampu untuk merawat dan menghargai barang antik atau dia juga menemukan barang-barang tersebut disebuah toko kecil di seluruh negara.


Orang-orang kaya yang antusias untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan, berlomba dengan menawar harga lebih tinggi dari lainnya, mereka melakukan hal tersebut untuk menjaga kehormatan dari jabatannya sebagai penguasa.


"500 jutaaa!" seseorang berteriak mengangkat nomor identitas dari seorang pelelang,


"terjual!! Selamat signor!!" vas giok antik yang didasari dengan warna putih dan hijau. Ukiran dan pahatan yang khas dari China pada tahun 1900-an yang Myria dapatkan dari seseorang yang meninggal. Dia terpaksa menjual ke Myria karena membutuhkan uang untuk kesehatannya, dan dia melihat potensi dan sejarah yang dia pelajari tentang vas giok China, kemudian menjual kembali dalam pelelangan tahunan keluarga Brown.


Luna yang menyaksikan hiruk-pikuk orang kaya yang mencoba membeli barang antik di acara pelelangan ini, hanya duduk di pojok bersama Marco yang menjaganya. Sesekali neneknya akan memperkenalkan kepada para petinggi yang datang untuk menyapa nona muda dari keluarga Brown. Sejujurnya Luna tak menyukai suasanya yang terlalu ramai, jadi dia hanya diam dan mengikuti arahan neneknya untuk menyenangkan hatinya.


"170 juta...!" teriak wanita muda cantik dengan dress satin perak dan jaket bulu putihnya,


"200 juta..!" teriak lelaki yang duduk di depan dengan Nomer 15,


"250 juta...!" terdengar kembali dari lelaki tua yang di dampingi wanita muda disampingnya,


"500 juta untuk setiap botol!" teriak salah satu lelaki tua dengan pakaian jas hitam dan tongkat jalan yang berukir naga di depannya. Semua orang yang mendengar langsung terdiam dan tak membuat penawaran lagi,


"baiklah 500 juta... Ada lagi penawaran lain?... Tidak ada?" tanya Gita ke yang lainnya,


"baiklah terjual oleh tuan dengan nomer 6 disana untuk 1 miliar Brigitte Brown's Vine 1812 dan 1912!!!!"


Semua orang langsung bertepuk tangan menyambut penawaran tertinggi oleh tuan dengan Nomer 6 tersebut, dia langsung berdiri menundukkan kepala untuk menyapa semua orang disana. Luna yang juga kaget dengan penawaran tertinggi langsung tertuju ke lelaki tersebut, memperhatikan lebih jauh dan mencoba untuk mengobservasi penampilannya.


Beberapa jam setelah acara pelelangan yang kini sudah berakhir, ditandai dengan penawaran tertinggi dari 3 buah lukisan kuno abad pertengahan dan 2 botol wine dari gudang Brown. Luna yang duduk sedari tadi dengan anggun sambil memimun hampir 3 gelas wine, kini sudah mulai bosan. Marco yang tadi menemaninya untuk mengobrol juga telah meninggalkannya, dan hanya tersisa kedua neneknya saja.


Jika diperhatikan, tiga generasi keluarga Brown duduk bersama memandang riuhnya acara pelelangan musim dingin. Myria Brown, generasi tertua dan pemilik serta kurator seni dari Brown's organization. Gita Brown, generasi kedua dan pemilik ladang dan pabrik Brown's Vine serta Bronz del Hospitale. Luna Brown, generasi ketiga, pemimpin dan pemilik Brown's Air. Mereka bertiga tampak saling menjaga satu sama lain, dengan sesekali bercanda dan tertawa dengan kelakuan para tamu yang datang.


"Luna..." tanya Gita yang terdengar pelan karena kerasnya suara dari pelelangan,


"Luna...! Bagaimana kabar saham mu sekarang?"


"oh maaf nek aku tidak mendengar suaramu tadi... Semua berjalan baik-baik saja, Marco dan Charles yang selalu mengecek keadaan seluruh saham" Luna kemudian mendekatkan dirinya ke Gita.


"semalam aku juga menerima telepon dari Marco, kalau salah satu keluarga dari Italia memesan satu pesawat pribadi dengan kualitas VVIP. Kalau tak salah Beaufort adalah nama belakangnya" jawab Luna.


"Beaufort?? Benarkah?" Gita yang mendengar nama itu langsung mengeraskan suaranya agar lebih jelas,


"benarkah Beaufort?"


"iya benar nek, apa ada yang salah dengan mereka?" tanya Luna penasaran,


"Beaufort adalah tuan nomer 6 yang duduk disana tadi, tuan yang baru saja membeli wine kita.. Kamu tak tahu?" mata Gita terbuka lebar dihadapan Luna. Luna yang masih kebingungan mendengar nama itu hanya bisa melihat ekspresi senang dari wajah neneknya Gita.


"hmmm aku tak mengenal siapa itu Beaufort, tetapi mereka langsung membayar penuh di depan" jawab Luna kebingungan,


"baiklah.. Nanti tuan Beaufort akan menyapa kita setelah ini..." jawab Myria yang mendengar percakapan antara Gita dan Luna.


Myria langsung berdiri mengambil wine yang di bawakan khusus oleh pelayan, dan kemudian memanggil salah satu asisten yang mengurusi pelelangan tersebut.


Tak lama kemudian 2 lelaki dan didampingi beberapa pengawal berpakaian formal yang berjalan di belakang mereka, mulai berjalan menghampiri kami. Lelaki tua dengan jas yang terlihat mewah dan tongkat jalan berukir naga di depannya, serta lelaki muda tampan berambut hitam dengan tubuh yang tinggi berjalan tepat ke arah mereka bertiga. Myria dan Gita yang mengenali mereka berdua langsung tersenyum dan mencium pipi kanan dan kiri untuk menyapanya. Luna yang tak mengenal tuan dengan nomer 6 tersebut hanya berdiri dan meminum gelas winenya kembali.


"perkenalkan ini cucu ku, Luna Brown..." tangan Myria langsung meraih lengan luna untuk memperkenalkan kepada lelaki kaya tersebut.


"hallo selamat sore, saya Luna Brown..." Luna tersenyum manis dan bersalaman dengan lelaki tersebut.


"Oh Mio Dio!" jawab kaget lelaki tua tersebut,


"Myria, Gita! Kalian tak pernah cerita kalau cucumu sangat cantik sekali..." lelaki tersebut mencoba untuk memeluk tubuh Luna yang berdiri di depanya, dia hanya tersenyum manis dan terdiam.


"perkenalkan aku adalah rekan bisnis nenekmu Gita, namaku Dans Beaufort. Kamu bisa memanggilku paman Dans, Luna" kemudian mencoba meraih tangan lelaki muda di sampingnya,


"ini anakku satu-satunya, Derrel Beaufort" lelaki muda tersebut langsung menyalami tangan Luna yang berdiri anggun didepannya,


"hallo namaku Derrel Beaufort, senang berkenalan denganmu, Luna"