The Brown'S Sister And City Of Arts

The Brown'S Sister And City Of Arts
Hutan Timur



Sial. Aku bermimpi itu lagi.


Luna terbangun dari tidurnya. Jam masih menunjukkan pukul 3 pagi dan dia selalu terbangun pada jam yang sama setiap harinya. Dengan mimpi yang sama berulang-ulang, dengan tokoh yang masih sama, kejadian yang sama, dan perasaan yang tetap sama. Meskipun Luna mencoba lari sejauh mungkin, merusak organ tubuhnya sesering mungkin, dia akan tetap bermimpi dengan kejadian yang sama. Sudah lebih dari 5 tahun lamanya Luna masih merasakan mimpi yang sama. Berkali-kali dia terbangun dari lelap tidurnya, menangis dan terdiam untuk berjam-jam lamanya, menyadari bahwa itu semua adalah mimpi. Mimpi yang sama. Mimpi yang sudah terjadi.


"hhhhfffttt..." Luna menarik nafas. Dia mencoba meregangkan tangannya. Mencoba bangun dari ranjangnya dan melihat jam yang berdiri di sampingnya.


"lagi-lagi jam 3. Apa minuman ku semalam kurang banyak" lirik Luna di botol tequillanya. Dia selalu meminum beberapa gelas alkohol sebelum tidur hingga dia tidak merasakan lagi syaraf di tubuhnya. Dia melakukan ini ketika dia benar-benar kesepian, dengan dalih untuk melupakan kejadian itu.


Pagi ini, kota Florence terlihat menakjubkan dengan lampu kuning yang masih menyala di sepanjang jalan. Luna berjalan menuju jendela besar di depan ranjangnya. Melirik dari balik tirai putihnya, melihat masa depan yang sudah ada di depan matanya. Dia menatap kubah besar galeri Uffizi didepanya, meskipun jarak apartemenya tidak terlalu dekat, namun kubah besar tersebut jelas terlihat dari jendela kamar Luna. Dia terdiam sesaat mengawangkan pandanganya antara pemandangan jalanan sepi Florence dan kubah Uffizi. Bola matanya terdiam, melamunkan mimpi yang dia alami dalam beberapa tahun ini. Jemarinya mengelus tirai chiffon putihnya, mengelus untuk merasakan apakah semua ini kenyataan dan sesekali untuk menyadarkan bola matanya dengan berkedip. Dia terdiam beberapa menit sambil berdiri menggunakan dress pastel tidurnya.


"kriiing...kriiing...kriiing"


dering ponsel Luna tiba-tiba.


Membangunkannya dari lamunan dini harinya. Dia berjalan mencari asal sumber tersebut. Mencari dimana dia meletakkan ponselnya. Dia mencari disudut sofa yang dia duduki untuk meminum tequilla. Tangannya meraba di pojokan sofa dan benar dari situlah sumber bunyi ini.


"ciao. Davvero? Sì..sì...Bene! Sarò lì presto. Addio."


Luna segera menutup setelah mendengar suara asing itu. Serasa informasi penting pada pukul 3 pagi ini. Dia bergegas berganti pakaian dan jaket hangat.


Saat ini di kota Florence hampir memasuki musim dingin, dan suhu di pagi ini sudah masuk 2 derajat celcius. Luna bergegas turun menuju garasi mobil hitamnya. Melesat secepat mungkin setelah mendapat telepon di pagi ini. Dia melewati sepinya jalanan Florence, melewati galeri Uffizi, jalanan Scalla, melewati Santa Felicia, dan akhirnya dia tiba Giordino di Bobali. Sebuah hutan dan taman kota yang dikelilingi Gereja kuno dan Museum tertua di kota ini. Luna tiba lebih cepat dari biasanya, karena jalanan pagi hari yang sepi membuat dia melesat cepat dan tiba di Piazza ini. Letaknya tepat di belakang Giordino di Bobali dan tertutup dari Gereja itu. Dia memarkirkan mobil sedan hitamnya di pojok paling timur taman agar dia dekat untuk berjalan menuju pagar tua Piazza. Dia berjalan anggun dengan dress hitam panjang dibalut dengan jaket bulu hangat berwarna hitam dan perak di pinggirnya, dipadukan dengan celana hitam dan sepatu boots berwarna senada dengan pakaiannya. Dia sudah terlihat seperti malaikat pencabut nyawa.


"beep"


suara gerbang yang terbuka dengan kartu yang Luna bawa. Dia memasukkan kembali kartu tersebut kedalam saku bajunya. Kemudian berjalan masuk lebih dalam ke ruangan yang di maksud dari informasi tadi.


"ciao, Marco!" Luna menyapa dan menghampiri Marco, tangan kanan Luna beberapa tahun kemarin. Marco adalah mata, tangan, dan kaki Luna. Dia begitu berharga untuk mencari informasi dan melindungi Luna dari berbagai keadaan.


"nona, saya sudah menemukan yang nona maksud, dan dia..." Marco berhenti berbicara. Dia melihat ke arah seseorang yang sudah terikat di kursi kayu kecil, tidak memakai baju dan hanya tersisa celana panjang nya saja, dengan dikelilingi beberapa orang berpakaian formal dan tangan yang penuh darah.


"apakah dia mati?" tanya Luna. Dia mendekati orang itu, dan berusaha menerangi wajah yang babak belur tersebut dengan bohlam lampu di atasnya. Tangan Luna memegang dagu orang tersebut dan mencoba mengenali raut muka yang dia maksud.


"hmmmm, Marco, kamu bekerja dengan baik. Ini lelaki yang aku maksud. Kenapa kalian masih memakaikan celananya. Biarkan dia hipotermia untuk hari ini. Manusia ini tidak pantas untuk hidup" Luna berdiri dan menjambak rambut lelaki tersebut.


"ciao, Marcus. Bagaimana sekarang? Kamu bisa merasakan dingin kan? Beraninya kamu membunuh 5 anak buah ku? Ayo coba bicara seperti di video kemarin lusa yang kamu kirimkan..?" Luna mendekatkan telinganya di bibir Marcus.


"nggghh..hhhh...aku...ngghh.." nafasnya tersengal-sengal, mencoba menjawab pertanyaan Luna. Dia mencoba untuk melihat Luna, namun tak mampu karena sudah terlalu banyak kehilangan darah dan menggigil karena kedinginan.


"ngg?... Sekarang kamu tak bisa bicara kan? Kamu membunuh orang yang salah Marcus. Siapapun yang membuat onar dengan anak buah ku, berarti mengganggu keluargaku juga.." Luna melihat tajam ke mata Marcus. Dia menjambak dengan keras rambutnya saat ini, hingga Marcus mampu berteriak kembali meskipun tidak terlalu kencang.


"ingat wajah ku untuk terakhir kalinya. Ingat-ingat wajah orang tak berdosa yang kamu bunuh melalui wajah ku. Ingatlah wajah ku ini!" teriak Luna,


"tolong...to..long maaf kan aku, tolong beri aku...ke..."


DOOOORR.


Suara tembakan tiba-tiba berbunyi sebelum Marcus menyelesaikan kalimatnya. Semua orang dan Marco melihat ke arah Luna. Dia menembak tepat di kepala Marcus, dan darah sudah jatuh ke tubuhnya dan lantai. Dia membersihkan noda darah yang mengenai pistolnya dengan sapu tangan yang dia bawa. Kemudian memasukan kembali pistol tersebut ke tempatnya yang diselipkan di samping paha kanannya.


"hmmmmm" Luna menghela nafas.


"kalian bisa kremasikan tubuhnya sekaligus di Piazza ini. Kemudian buang abunya di manapun, terserah aku tak peduli"


"baik nona Brown, kami akan segera melaksanakannya" jawab Marco.


"kalian bisa bawa tubuhnya untuk di kremasikan seperti biasa. Pastikan semua bersih dan kalian bisa kembali ke markas setelahnya" perintah Marco kepada pengawal lainnya.


"baik Pak!" jawab serentak semua lelaki berpakaian formal hitam. Kemudian mereka bergegas membawa tubuh Marcus.


"nona Brown, Anda diminta untuk datang hari ini oleh Nyonya Brown. Dia meminta untuk berkunjung dan ada sesuatu hal penting untuk dibicarakan" Marco melihatnya, seakan dia tahu keadaan Luna yang lelah akan kejadian pagi ini. Dia masih terdiam menunggu jawaban Luna yang menutup matanya.


"nona.." Marco kembali memanggil untuk menyadarkan lamunan Luna.


"iya aku mendengar mu" Luna mengelus alis dan dahinya untuk melemaskan syaraf matanya.


"bisakah kamu menyetir untukku, Marco? Aku lelah dan masih mengantuk"


"apakah nona masih bermimpi tentang hal itu?" Marco bertanya sebelum Luna menyelesaikan kalimatnya.


"kamu sudah bekerja untuk nenekku sebelum aku dipindahkan ke sini. Kamu bahkan sudah mengerti aku daripada diriku sendiri" Luna berjalan tepat di samping Marco untuk menuju mobilnya. Marco hanya terdiam melihat nonanya yang selalu bermimpi buruk, sebagai asisten, penjaga, dan tangan kanannya bertahun-tahun membuat Marco hafal apa yang Luna rasakan.


"ciao, dovete andarvi tutti subito dopo averlo fatto, dan beritahu Charles untuk membawa mobil ku" perintah Marco melalui telepon ke bawahannya. Dia mulai menyalakan mobilnya dengan Luna duduk disampingnya. Dia melesat menuju rumah Nyonya Brown, nenek Luna, sesekali dia melirik untuk memastikan keadaan Luna.


Dia sudah mengenal Luna ketika pertama kali dia dipindahkan ke Italia. Dan atas suruhan Paman Daniel dan Nyonya Brown dia dipindahkan untuk menjaga dan memberikan ilmu tentang bisnis neneknya. Umur Marco yang tak terlalu tua, dan terkadang dia terlihat lebih muda sebagai pengawal Luna yang tampan.


Setelah kurang dari 1 jam dari Piazza ke tempat Nyonyanya, mereka berdua tiba dan memarkirkan mobil sedan hitam Luna. Marco melihat bahwa Luna tertidur lelap ketika di perjalanan, dan dia melihat Luna dalam waktu yang cukup lama untuk memastikan apakah dia bermimpi buruk atau tidak. Dia memanggil lembut Luna dengan suaranya, mencoba untuk mengelus rambutnya, tetapi dia terbangun sebelum Marco melakukannya.


"ah sudah sampai ya" Luna terbangun dari tidur lelapnya. Meregangkan kedua tangannya dan kakinya. Dia melihat ke arah Marco yang terdiam melihatnya.


"apa.. Ada yang salah, Marco?" goda Luna ke Marco,


"ah tidak nona, baiklah saya bukakan pintu anda terlebih dahulu" Marco terburu-buru turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Luna. Luna tersenyum melihat kelakuan Marco, dia tahu bahwa Marco terkadang melirik dan memperhatikannya, tapi Luna sudah terbiasa karena memang mereka selalu bekerja bersama-sama selama beberapa tahun ini.


Luna keluar dari mobil, membenarkan dress dan jaket bulunya. Sekarang sudah pukul 9 pagi tapi udara masih dingin dan embun masih menempel di beberapa dahan di taman. Dia berjalan didepan Marco yang berjaga di belakangnya. Pagar besi yang dijaga beberapa penjaga mengelilingi rumah Eropa kuno dengan pilar khas yang tinggi menjulang berada di depan pintu masuk. Pintu langsung terbuka setelah Luna berdiri tepat di depan pintu. Pembantu dan pengawal berjejer menyapa Luna dan Marco yang berjalan masuk. Marco berhenti tepat setelah mereka menyapa dan membiarkan Luna masuk ke ruangan nyonya Brown.


"hai nek, selamat pagi" Luna menyapa wanita berambut perak dengan potongan pendek sebahu. Mengenakan jaket tebal berwarna putih dengan dress hijau satin dan slippers, anting-anting dan kalung mutiara menyatu dengan kulit putihnya. Dia sedang sibuk memperhatikan laptopnya dan mengenakan kacamata yang menyatu dengan lehernya.


"Lunaa.... Astaga kamu ini, sudah seminggu kamu ga berkunjung sama sekali kamu ingat kalau..."


Nenekku tetap tak berubah dari tahun ke tahun.


Gumam Luna didalam hati seraya melihat neneknya yang marah dan memeluknya.


"kamu ini cucu nenek satu-satunya, berhentilah hidup sendiri, pindah ke rumah nenek ya. Nanti kamu juga bisa berdebat dengan Gita. Oke?" dia memegang dagu Luna dan mengelus rambutnya setelah memeluknya.


"aku baik-baik aja, meskipun aku selalu terbangun, you know. Aku bisa merawat diriku sendiri" Luna mencoba menghindar dari neneknya dan mencoba duduk di sofa ruangan tersebut. Mencari alkohol yang bisa diminumnya. Dia meraih gelas kecil dan berniat mengambil vodka yang ada di meja tersebut, namun sebelum menuangkannya, nenek Luna mengambil dan menjauhkan dari tangan Luna.


"JAN LUNA SUNGKONO!"


dia berteriak didepan Luna yang terduduk di sofa biru safir. Luna langsung mendongak ke atas, melihat ekspresi dari wajah neneknya yang marah. Dia akan tahu jika neneknya menyebut nama panjang aslinya berarti dia sangat marah kepadanya.


"berhentilah memanggilku dengan nama itu. Marga kita sekarang Brown, nek. Luna Brown. Bahkan di paspor ku juga begitu" Luna menjawab teriakan neneknya dengan nada malas dan matanya tetap tertuju ke botol vodka yang dipegang neneknya.


"astaga Luna, ini masih pagi. Tak bisakah kamu meminum jus jeruk saja atau susu dan sereal seperti dulu. Dulu kamu.."


"dulu? Dulu semua masih hidup dan berwarna nek" sela Luna. Dia menutup matanya dan meletakkan kepalanya di punggung sofa.


"aku tak mau membicarakan hal itu nek, aku akan makan di dapur saja. Nenek bekerjalah seperti biasa. Beritahu aku jika ada masalah" Luna mernarik nafas panjang dan berdiri meninggalkan neneknya yang terdiam dengan botol vodkanya. Dia pergi menutup pintu ruangan tersebut dan menuju dapur untuk mengambil susu dan sereal kemudian membawanya ke beranda belakang, tepat di depan kebun anggur neneknya.


Dia mulai memakan serealnya dan melihat kegiatan petani yang ada di kebun tersebut. Beranda yang bercat putih dan tempat duduk dari kayu oak dipadukan dengan busa berkain biru. Dia merenung melihat kegiatan tersebut sambil mengambil beberapa sendok sereal di mangkokmya. Sesekali dia akan menangis, kemudian mendongak ke atas melihat cerahnya awan dan melihat daun-daun anggur tersebut berguguran yang berwarna kuning, cokelat, keemasan, dan terkadang hanya tersisa ranting cokelat tuanya saja.


Sesekali di menoleh ke kiri, tempat pabrik pembuatan wine Brown's Vine, bisnis keluarganya. Dia mencoba untuk mengalihkan pikiran kacaunya dengan melihat sekitar, tetapi Luna selalu kalah dengan suasana hatinya yang tak karuan.


"ha..sial aku menangis lagi" dia tersenyum sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh.


"hai Moza" dia mendongak ke atas langit di beranda,


"Moza, aku hidup sangat menderita, kamu sudah berjanji kan? Kembalilah kesini?" dia menutup matanya dan mengingat kenangannya yang singkat bersama Moza.


Air mata yang turun di pipinya mulai mengalir deras, kepala Luna tetap mendongak merasakan hembusan angin akhir musim gugur. Merasakan sedikit cahaya matahari yang muncul beberapa kali melalui awan yang bergantian menutupinya. Luna membuka matanya, mengusap kembali air matanya dengan tangan kirinya. Kemudian melanjutkan memakan serealnya.


"kamu bodoh Luna, benar-benar bodoh" gumam Luna sambil tersenyum dan tetap memakan serealnya.


"buongiorno bellissima signora" suara lembut datang dibelakang Luna. Mengelus rambutnya yang panjang terurai. Membuat Luna menoleh kebelakang dan tersenyum menyapanya juga.


"hai nenek Gita" Luna tersenyum namun tak berani melihat wajahnya.


"kenapa manggil aku nenek, sih?" rengek Gita. "iya tahu aku adik Myria, tapi kan aku lebih muda dari dia dan lihatlah ini.." dia mencoba mendekatkan dadanya ke mata Luna untuk menunjukkan betapa indah dan kencang dari dadanya. Luna berkedip dan memundurkan kepalanya agar tidak terkena dadanya.


"lihat kan lihat? Bagus mana? Aku apa Myria?" tanya Gita.


"aaa...hmmmm..." Luna terpaksa melihat adik neneknya yang berdiri tepat didepanya.


"masih cantikan nenek Gita, muda, kencang, dan besar" Luna mencoba menahan tawa dengan mengalihkan pandanganya ke mangkok serealnya.


"iyalah, inilah kekuatan del Bronz hospital. Hahaha" dia tertawa lepas dan bergerak menjauhi Luna untuk duduk di sofa di depannya. Kemudian Gita menelaah keadaan cucu cantiknya ini yang sedang memakan serealnya. Memperhatikan seolah ibu dan anak yang sedang bercerita satu sama lain.


"sudahlah nek, aku tak apa-apa. Mataku tadi terkena serbuk, jadi sedikit merah, dan aku tadi bangun pagi untuk membereskan urusan" Luna menjawab pertanyaan yang ada di pikiran neneknya. Dia melihat ke arah kebun dan sesekali melihat wajah neneknya yang ada didepanya.


"aku ga tanya apa-apa" goda Gita,


"aku cuman mau bilang, nanti sore kita bisa coba wine yang baru saja di ekstrak. Lagipula, sebentar lagi kan musim dingin, nenek harus meliburkan semua petani disini, dan memanen semua anggur setelah semua sudah disortir sesuai bulannya masing-masing" dia menunjuk para petani yang bekerja dan menjelaskan alasan dia menyapa cucunya.


"tadi sudah ketemu nenekmu, Myria?" tanya Gita.


"iya udah kok, tadi dia melarang ku minum vodka yang ada di ruangannya. Tau gitu kenapa dia tetap minum, kan dia sudah berumur 64" Luna menjelaskan kekecewaannya karena tak mencicipi vodka neneknya.


"apa itu rahasia kulit muda kalian?" Luna menatap nenek Gita yang didepanya.


"semua rahasia itu ada di rumah sakit ku hahaha" Gita menjawab dengan tertawa serta membuat promosi tentang rumah sakit kecantikan miliknya.


"tidaklah, itu karena kebahagiaan dan cucunya yang tumbuh dengan sangat cantik"


"membosankan nek. Nanti aku bakal mencoba wine mu jika begitu" Luna terdiam sesaat dan melihat kebun wine bersama nenek Gita. Lalu Luna sesekali melirik ke arah adik neneknya itu. Rambut cokelat terang panjang yang di kuncir kebelakang. Kulitnya putih karena sudah terlalu lama tinggal di Italy, tubuhnya yang ramping dan bentuk tubuh yang bagus meskipun umurnya 54 tahun, terpaut jauh dengan kakaknya.


Waktu itu nenek Gita, adik nenek, masih berumur 8 tahun, dan setelah menikah orang tua nenekku pindah ke Perancis untuk bisnis keluarga. Jadi, aku punya dua nenek yang masih muda, dan nenek Gita sangat mencintai ladang anggur dan rumah sakitnya, sehingga dia menikahi pekerjaannya dan tak menikah dengan manusia manapun.


Luna mencoba untuk merilekskan tubuhnya yang lelah di ranjang miliknya untuk pertama kali dia pindah ke sini. Sejak kejadian itu, hanya tersisa dia dan nenek Myria saja. Jadi, mereka berdua meninggalkan negaranya untuk memulai hidup baru. Dia melirik jaket bulunya yang ia letakkan di kursi rias didepan ranjangnya. Melihat ke atap langit yang berhias dengan lampu dan lukisan malaikat. Dia melihat bulan dan dua malaikat yang bergandeng tangan dengan sayap di punggung. Burung merpati yang terbang disampingnya hingga menyentuh bulan dan bintang di sekitarnya. Luna menutup matanya, mencoba untuk menjernihkan dan menghilangkan ingatannya. Menghapus kejadian 5 tahun yang lalu, kejadian yang dimana dia kehilangan hampir seluruh orang yang dicintainya. Mimpi dan harapannya untuk menikah dengan lelaki dan ciuman pertamanya. Perasaan yang hampir sempurna, bahkan tak henti-hentinya dia bersyukur kepada Tuhan atas kebahagiaan yang dia rasakan saat itu.


Air mata mulai menetes dari matanya. Dia mengingat semuanya. Suara dentuman kencang yang berasal 4 kilometer dari posisi dia berdiri. Suara yang berasal dari hotel JS Suites. Suara yang menghilangkan mimpi dan cintanya. Hanya kurang sendikit untuk jadi kenyataan. Hasrat dan kenangan indah yang dia tunggu dari mulai umur 6 tahun, kini hancur berkeping-keping bersama dengan tembok dan pilar di hotel itu. Kini air mata mulai deras berjatuhan di pipi Luna. Tak ada suara ataupun nafas yang tersengal. Hanya air mata yang deras turun di pipi kemudian hingga dagunya. Dan karena hal itu, otak Luna mengingat dan membuatnya menangis, dan tertidur karenanya. Tertidur dalam kesedihannya sendiri. Tenggelam dalam air matanya, dia tertidur.


"jangan membuat Luna bekerja seperti ini" Gita menjelaskan sambil meminum wine yang ada di gelasnya.


"aku melihat bercak darah di sepatunya lagi, dan dia selalu membawa pistol kemana-mana. Apa kamu tidak khawatir, kak?" dia melihat ke arah Myria yang masih sibuk di depan laptopnya.


Kini dia terdiam tak melanjutkannya, lalu dia meletakkan kepalanya di punggung kursi hitamnya. Menutup matanya dan terdiam sejenak.


"aku yang membawanya kesini. Tapi bukan aku yang menawarkan ini. Dia sendiri yang meminta ku untuk melatihnya, dia juga sendiri yang meminta Daniel untuk berlatih menembak" Myria membuka matanya dan menutup laptopnya. Kini dia mengambil gelas dan menuangkan botol vodka yang dia sita dari Luna.


"aku sudah menyuruh dia berhenti ketika mereka semua tertangkap, tetapi Luna terus terjebak dalam kesedihannya, bersikeras menolak untuk berhenti bekerja di bidang ini" dia meneguk sedikit minumannya.


"dia selalu menyibukkan diri untuk melindungi keluarganya yang sekarang, hingga bisnis ku menjadi sesukses ini juga semua karena Luna" Myria menghela nafas panjang.


"aku tak tahu lagi harus bagaimana git" kini Myria tertunduk melihat ke gelasnya yang kosong. Mencoba untuk menelan dan menegakkan kepalanya.


"bisnis kita sudah besar, dan kita juga sudah menguasai hampir semua organisasi. Mereka juga menyetujui kita hanya dijalur bisnis saja, tidak yang lain" Gita menanggapi.


"lagipula, sekarang hanya tersisa kita bertiga anggota Brown. Luna juga memutuskan untuk menggunakan marga Brown dan melupakan semuanya. Aku tak mau jika terjadi sesuatu dengan Luna, kak"


"aku tahu, tapi dia selalu keras kepala seperti anaku, ayahnya. Aku juga merindukan mereka semua git" kini air mata jatuh di mata Myria.


Dia mencoba menghapusnya, namun Gita lebih cepat untuk menghampirinya. Memeluk kakaknya dengan erat. Mereka berakhir untuk menenangkan diri mereka berdua. Berharap semua kenangan buruk akan dihapus dengan pelukan.


Luna terbangun karena ketukan pintu yang disebabkan oleh pembantu yang membangunkanya. Ketukan tersebut membuat Luna terbangun dan sadar bahwa dia berjanji akan menemani nenek Gita untuk mencoba ekstrak wine baru. Dia bergegas bangun dan pembantu tersebut memberikan baju hangat dan jaket untuk dipakai.


"grazie"


Luna segera mengambil dress yang dia dapatkan sore ini. Kemudian dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia sadar, bahwa ada noda darah Marcus yang tertinggal di pahanya. Dia kemudian menggosok lembut dan membersihkan semuanya dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


Luna segera memakai dress dan jaket yang diberikan oleh pembantu tadi, tak lupa dengan kalung yang disiapkan di meja rias untuknya. Tak lupa mengalungkan kantong pistol di paha kanannya setelah dia bersihkan tadi. Rambut hitamnya dibiarkan terurai panjang. Lalu dia pergi untuk menemui neneknya.


"ciao Luna" sapa Marco. Dia sudah tampan dengan pakaian formalnya dan jaket cokelat untuk menghangatkan tubuhnya yang tinggi.


"Marco" Luna tersenyum,


"kamu tampan juga kalau berpakaian seperti ini"


Marco tersenyum namun tetap menegakkan kepalanya didepan. Bagaimanapun juga, Luna adalah atasannya, dia tak boleh berbuat lancang ataupun tak mengenakkan.


"apa nenek Gita menyuruh mu untuk mencicipi wine barunya juga?" tanya Luna dengan menoleh untuk mencari keadaan neneknya.


"tidak. Tapi sudah tugasku untuk mengawal mu ke manapun kamu pergi. Aku tak bisa melalaikan pekerjaanku kan" Marco menjawab dengan santai namun tegas. Dia berjalan disamping Luna, dengan tubuhnya yang tinggi dan atletis dia nampak seperti tameng bagi Luna.


Luna mendongak ke atas, mencoba melihat ekspresi Marco yang serius, tetapi berakhir dengan mengaguminya. Lelaki berumur 30an, berambut pirang dan bermata biru terang, hidungnya yang mancung dan badannya yang tegap, struktur wajah yang tegas dengan garis dagu yang tajam.


Marco tak begitu buruk bagiku.


Luna bergumam sembari melihat keadaan Marco disampingnya. Karena dialah orang kepercayaan Luna dari sekarang.


"bellisimo..bellisimo" teriak nenek gita yang sudah menunggunya di beranda. Luna mengenakan dress satin panjang dan jaket hangat, dan disampingnya pengawal tampan Marco yang sangat pas dan cocok.


"kamu cantik sekali sore ini, tunggu. Kenapa Marco mengikutimu?" tanya Gita.


"ah iya, dia selalu mengikuti kemana pun aku pergi. Kalau tidak nenek Myria akan marah besar ke Marco. Aku tak mau dia juga mendengar ocehan bahasa lamanya, hahaha" aku tertawa menggoda Marco yang mencoba untuk menahan tawa agar tetap terlihat tegas di mata kami.


"kalau begitu, biarkan saya mengawal kalian berdua" Marco menjawab dengan serius.


"hahahahaha" Luna dan nenek Gita tertawa bersama mendengar Marco. Luna dan nenek Gita selalu bercanda tentang Marco, Myria, ataupun orang-orang yang di kastel ini. Meskipun Gita merupakan adik dari nenek Luna sendiri, Gita selalu menempatkan dirinya untuk mengikuti trend yang ada dan berbaur dengan Luna maupun pengawal muda.


Kini mereka sudah sampai di gudang penyimpanan wine tersebut, dan Gita menerangkan setiap tanggal dan tahun untuk disendirikan. Dia menerangkan bahwa ini dari tahun 1912 hingga seterusnya. Semakin lama wine disimpan, semakin mahal untuk dijual.


Brown's Vine adalah bisnis turun-temurun dari orangtua nenek. Dikatakan keluarga mereka adalah seorang Don di Perancis, kemudian menyebar luaskan ladang dan bisnis winenya hingga ke Italy. Selain itu, nenek Gita, merupakan lulusan dokter spesialis kulit, dan dia mendirikan rumah sakit kecantikan del Bronz Hospital, dan ada juga beberapa bisnis lainnya.


Mereka bertiga mengelilingi gudang tersebut dan mengecek satu-persatu. kemudian Luna berhenti ketika ada hal yang menarik yang membuatnya tertarik.


"Omana's Vine, Jan Oditi's Vine, Sinta's Vine, Jan Luna's Vine, Jan Lily's Vine" semua nama wine yang tertulis lengkap di rak kayu dan dibedakan dan berjajar, lengkap dengan tahun pembuatan yang sama dengan tanggal lahir.


Luna terdiam, mencoba untuk membacanya sekali lagi. Mengingat nama yang tak asing tersebut. Kemudian air matanya jatuh ketika melihatnya.


"ini...i...ini..." Luna terbata, dia menoleh ke arah Gita.


"ini wine yang dibuat ketika kelahiran kalian semua. Omana dibuat oleh papa dan mamaku" Gita menerangkan maksud nama wine tersebut ke Luna. Dia memegang pundak Luna seraya menenangkan apa yang baru saja dia lihat.


"kemudian, lahirlah ayahmu, Oditi dan tanggal kelahiran ibumu Sinta, ini dibuat khusus oleh papa sebelum dia meninggal. Lalu lahirlah kamu Luna, dan tahun kelahiran adikmu, Lily" jawab gita sambil menenangkan Luna yang terdiam dan menangis.


"semua dibuat khusus ketika kalian lahir, dan akan dibuka jika sudah waktunya. Tapi..."


"semua sudah pergi sebelum waktunya kan?" Luna menyela Gita dan menoleh kearahnya. Gita mengangguk dan memeluk Luna saat itu juga.


"semua akan berakhir bahagia pada waktunya. Seperti wine yang awalnya akan terasa pahit namun lama-lama rasa pahitnya akan hilang dan tergantikan dengan rasa manis. Kamu harus percaya dan menunggu rasa manis untukmu sendiri" bisik pelan Gita.


Marco yang berdiri tegap, kini melihat dua orang wanita lemah didepanya sambil berpelukan. Dia hanya bisa melihat keduanya bersedih dan menyaksikan nama-nama yang dimaksud. Beberapa saat Luna mulai tenang, akhirnya mereka berjalan kembali ke kastel untuk makan malam.


Sekarang sudah pukul 7 malam, dan semua makanan telah disiapkan oleh pembantu dirumah itu. Semua berjalan normal pada malam hari, bercanda, tertawa, meminum wine, tetapi Luna masih tak merasakan kehangatan lagi di kastel ini.


"oiya, Marco. Besok aku mau berburu rusa atau bebek di hutan. Kamu tak perlu ikut juga tak apa-apa. Jika aku membutuhkanmu aku akan segera menelepon mu" Luna menyela obrolan makan malamnya.


"apa kamu yakin?" tanya Marco serius.


"lagi pula aku sudah hafal, dengan mata tertutup juga aku bisa keluar dari hutan itu" jawab Luna dan melirik tegas ke Marco.


"aku hanya ingin latihan saja, sudah lama tak membawa rusa atau bebek ke rumah. Paman Daniel juga lama sekali di Perancis. Ngomong-ngomong, kapan dia pulang?" dia memberi isyarat ke nenek nya, yang dimana Paman Daniel yang sudah lama memendam rasa cinta ke nenek Myria.


"apa? Aku tak tahu" jawab neneknya ketus, "mungkin seminggu lagi dia akan kembali ke Florence"


"hahahahaha" Luna dan nenek Gita tertawa akan candaan Luna. Dan selalu mencoba untuk menjodohkan mereka berdua jika ada kesempatan.


"hutan mana yang kamu maksud?" Gita bertanya sembari meminum wine yang ada ditanganya.


"Hutan Timur" jawab Luna.


Suhu pagi ini lebih dingin dari kemarin. Luna yang berniat untuk berburu rusa kini mulai dihinggapi rasa malas. Melingkari selimut tebalnya dan merilekskan syaraf matanya yang lelah akibat terbangun dari mimpi yang sama.


"brrrrr....aku membenci musim dingin"


dia melihat ke arah jendela berharap matahari terik namun musim kali ini tak berpihak padanya. Luna bangun dari tempat tidur, bersiap-siap untuk berburu di Hutan Timur. Memakai pakaian cukup hangat dan celana serta sepatu boots. Kini dia meninggalkan pistolnya, berganti dengan senapan laras panjang model single-shot, Ruger Nomer 1S Medium Sporter. Itu adalah hadiah dari Paman Daniel ketika dia tahu saat Luna mahir menembak. Membawa beberapa peluru cadangan dan dimasukkan ke dalam tas hitamnya dengan bordir nama 'Brown'.


Luna akhirnya tiba di pinggir Hutan Timur, mencari posisi yang pas untuk memarkirkan mobil sedannya. Menyiapkan botol minum dan pemantik api, handuk, dan kereta kayu dorong untuk membawa rusa. Dia mulai berjalan menelusuri peta tempat dimana rusa berkumpul. Mencari dengan teropong yang ada di senapannya. Memutari kembali tempat baru dan terus berjalan dengan membawa kereta kayu dorong.


"ckckck kemana semua rusa ini" gumam Luna. Dia masih mencari dengan teropong senapanya. Kemudian, setelah beberapa jam dia berada di hutan, dia menemukan gerakan di semak-semak, tepat 200 meter dari keadaannya. Dia meluruskan senjatanya dan melihat dengan seksama agar bisa jatuh dalam satu tembakan. Dia bersiap-siap menarik pelatuk, namun rusa tersebut mendengar langkah Luna.


Merde!


Luna mencaci di dalam hati. Dia kemudian berlari sekencang mungkin, meninggalkan kereta dorongnya, kemudian mencoba kembali menarik pelatuk dan..


DOORR!


Peluru Luna melesat jauh, dan mencoba mengikuti kemana suara rusa itu berlari.


"seharusnya dia sudah jatuh disini. Kenapa larinya cepat sekali. Sialan" Luna mencari di antara semak belukar dan berjalan di antara pohon pinus.


"apa rusa itu berlari ke jurang?" dia mencoba menengok tepi jurang dan menemukan darah. Kemudian melihat sesuatu tergeletak. Bukan tubuh rusa tapi tubuh manusia, tubuh yang penuh luka lebam, terdapat tusukan di paha dan tembakan di dada kanannya.


"apa aku menembaknya..." dia berpikir dan melihat bercak darah dan bekas noda lumpur yang ada di tanah. Dia melihat sekitar dengan teropongnya,


"coba aku cek....mmmmm...tidak ada siapa-siapa" dia melihat ke bawah lagi.


"apa kamu membuat kesalahan hingga kamu dibuang seperti ini? Ckckck" Luna masih menatap tubuh yang tak bergerak itu. Dia memeriksa sekitar untuk menemukan identitasnya, tapi tak menemukan apapun disini.


Hutan Timur adalah hutan liar yang ditumbuhi pohon pinus, oak, dan beberapa pohon berbahaya. Terdapat semak berduri dan hewan buas juga masih ada disini. Memang sangat banyak ditemukan tubuh manusia untuk dibuang sebagai santapan hewan buas, dan jauh dari kawasan perumahan. Hutan Timur adalah pilihan pas jika kamu tak menginginkan kehidupan kembali.


Luna berjongkok memperhatikan tubuh itu. Kemudian menghampirinya. Tubuh ini sengaja tidak digulingkan terlalu ke bawah, jadi hanya digeletakkan saja agar hewan buas bisa menghirup aroma darah segarnya.


"darahmu masih segar" dia menggesekkan kedua jarinya untuk memastikan darah tubuh ini.


"kenapa mereka membunuhmu? Apa aku harus ikut campur?" Luna berbicara di depan tubuhnya yang tengkurap. Dia membalikkan tubuh tersebut, dan melihat sesosok lelaki berambut cokelat, dengan kulit putih namun penuh luka, dengan memakai fennel dan celana kain saja. Luna memperhatikan sesaat untuk melihatnya. Kemudian dia berdiri berencana untuk meninggalkan lelaki tersebut.


"ngg.....nggg....ai..aitu..aiutatemi.."


suara pelan yang berasal dari lelaki ini. Luna sontak kaget dan menoleh ke bawah untuk memastikan bahwa dia mendengar suara lelaki ini.


"tolong aku..." suaranya semakin pelan dan pudar. Luna melihat kembali ke wajahnya lebih lama.


"apa aku harus ikut campur?" dia bertanya ke lelaki itu.