
'om santi santi santi om'
Aku membuka kedua mataku dan perlahan meletakkan kembali bunga mawar dan kenanga di sela jariku ke tanah. Menghirup aroma wangi dupa didepanku dan suasana sunyi di pagi ini yang menjernihkan pikiran ku. Nenek dan kakek, ayah, ibu, serta saudara ku, terlihat anggun duduk bersimpuh, jarik motif batik yang membalut kaki dan kebaya putihnya. Cahaya matahari mengintip perlahan dari bawah pohon kamboja yang kemudian menyinari seluruh rambutku , terlihat pas dengan baju adat yang aku pakai sekarang. Semua sangat sempurna. Suara bel yang berdering mengikuti panjatan doa untuk Sang Pencipta, doa untuk mensucikan pada hari ini, Hari Nyepi tahun ini, diiringi gelak tawa dan tangisan bahagia menyambut hari raya ini. Semua orang sangat sempurna dengan bija di dahi, dan bunga warna-warni di pinggir telinga, "ya Tuhan, terima kasih ini sangat sempurna".
"ayo cepat berdiri geg, semua ingin salaman. Jangan lupa salaman sama pedande buat minta maaf ya. " kata kakek ku dan segera mengambil langkah untuk berbaris menyalami semua orang yang ada di Pura ini.
"kak, jangan bengong aja. Pasti nyari kak moza ya" adikku menarik lengan dan menggoda ku, mengangkat kedua alis dan mengedipkan bulu matanya yang lentik berkali-kali.
"apa? Engga. Apaan sih. Udah ah aku mau ke depan minta maaf, ayok keburu dimarahin ayah sama kakek kamu"
Aku segera berlari kecil, dan memalingkan pandanganku untuk tidak mencari moza di keramaian ini.
"aduh! Maaf ga sengaja" rok kebaya ku terselip di antara kaki ku, dan tak sengaja menabrak seseorang.
"Luna, kamu ternyata di barisan depan? Aku mencari mu daritadi" suara yang berat dan familiar ini, aku mengenalnya.
"kak Mozaaaaaa!" teriak lily.
"kak moza darimana aja, huh! Aku cari daritadi tau, aku kangen nih sama kak moza, udah lama kakak ga pulang di Indonesia. Kak moza tahu, si Luna ini selalu menanyakan kakak terus"
astaga mulut anak kecil ini ingin aku jahit saja.
"Lily, sudah aku bilang panggil aku kakak!"
Aku sangat malu. Di hadapan ku ada Moza. Mozatria Logan yang sebenarnya.
Apa yang harus aku lakukan Tuhan, aku tidak siap.
Aku segera menarik Lily dan segera mengajaknya ke depan untuk meminta maaf ke pedande. Tapi karena tubuh Moza yang besar, dia segera menarik tanganku kembali.
"Luna, apakah kamu tidak menyapaku?"
Astaga dia tersenyum, aku ingin pingsan!
"oh hai, ha.. hai mo.. moz.. moza" suaraku gugup didepanya. Aku tak berani melihat matanya kembali. Ini terlalu sempurna untuk dilihat. Bija di dahinya, rambut coklatnya yang terkena air suci dan tersisa sedikit air yang menetes, mata hazel yang sempurna dengan kulit putihnya, tubuhnya yang tinggi dan punggung yang lebar, lengan yang atletis, wangi parfum dia, Alexander Mozatria Logan Sungkono, kenapa kamu sangat sempurna....
"Luna? Apakah kamu melamun?" tanya moza menggodaku, dia meletakkan tangannya yang besar ke dagu ku.
"Luna pipimu merona, kamu sakit?" tanya moza khawatir.
"hahahaha kak Moza, Luna sangat malu melihat mu, lihat saja dia sudah merona" goda Lily, andai saja dia bukan adikku, sudah aku jahit mulutnya daritadi.
"apaan sih moz, engga kok" aku segera melepaskan tangannya dan berusaha mundur sedikit dari tubuhnya.
"aku merona karena terkena matahari, sekarang makin siang, jadi aku buru-buru ke pedande di depan" jawabku ketus.
Tidak, dia sangat tampan. Aku tidak kuat.
"aku senang melihatmu kembali ke sini, jadi nanti aku bisa bermain dengan mu lagi ya kan, hahaha" aku berusaha menutupi maluku, berusaha agar dia tidak menggodaku lagi.
"apa yang kamu maksud bermain di kamar?" moza semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"apa?" sial, wajahku merona kembali.
"aku sebaiknya pergi dulu sama Lily, bye.. " aku segera menarik Lily dan menyeret lengannya dengan berlali kecil.
"eh kak, aduh pelan-pelan, kak moza nanti ketemu di rumah yaaaa..." teriak Lily ke moza yang berusaha mengimbangi lari ku.
Aku tak akan melihat kebelakang, aku akan sangat malu jika dia melihat wajah merah ku, awas kamu mozaaaa...
Setelah beberapa jam di Pura, akhirnya kami kembali ke rumah kakek. Karena setiap hari raya, aku dan keluarga selalu mengunjungi rumah kakek, bercengkrama, meminta maaf dan yang utama untukku kembali kesini adalah keluarga Sungkono. Paman Richard Jones Sungkono adalah ayah dari Moza, dia merupakan pengusaha properti di Kota ini. Mempunyai beberapa Villa dan menjadi Vice President dari hotel ternama, Hotel JS Suites, dan beberapa perumahan bintang 5. Dia adalah warga negara asing yang sudah lama tinggal di Belanda dan akhirnya kembali ke Indonesia untuk bekerja, dan juga menemukan wanita yang sekarang menjadi istrinya. Dia adalah Anak Agung Ayu Swastika, seorang anak keturunan keluarga kerajaan kuno Pulau ini, lulusan Universitas ternama di Indonesia dan juga seorang designer terkenal. Mereka bertemu seakan ditakdirkan bersama, Paman Richard yang tampan serta pengusaha kaya dan Tante Swastika yang pintar dan cantik, mereka menikah dan hidup bahagia, melahirkan anak lelaki yang sempurna, Alexander Mozatria Logan Sungkono.
"Lunaaaa...." teriak ibu mencariku.
"Luna kamu tidur? Di depan ada Paman Richard dan..."
Aku langsung bergegas keluar kamar dan berlari menuju ruang tamu,
"Luna apa kamu ga lihat ibu di depan kamar mu" ibuku bergumam, dengan nada jengkel dengan lengannya yang ditekuk menyilang.
Aku langsung berhenti berlari dan menoleh ke ibuku yang tidak ku hiraukan dari awal aku membuka pintu kamar.
"hehehe iya maaf bu maaf" aku menghampirinya dan menggandeng lengan kanannya.
"ibu jangan cemberut dong, nanti... Aduh" ibu menjewer telingaku gemas
"aduh sakit ibu, iya iya maaf deeh..." rengek manjaku ke ibu,
"kamu ini, ibu belum nerusin Paman Richard ke sini sama siapa udah nyelonong aja. Kangen banget kan kamu sama Moza?" goda ibuku.
Ah sial, apa aku begitu kentara menyukainya.
"hahahaha apaan sih, kan aku lama ga ketemu Paman Richard buuu, lagian tante Swastika juga sangat baik, kan biar aku dikasih dress gratis terbarunya, hahaha.." jawabku mencari alasan.
"kamu ini anak ibu, ya ngertilah kamu sering tanya ke nenek, apa moza udah pulang apa belum"
Aku langsung mencari pembicaraan lain agar wajahku tidak merona ketika di ruang tamu
"ibu liat deh foto keluarga kayaknya kurang pas kalo di taruh disini, pas nya di ruangan belajar ya" sambil menunjuk foto keluarga nenek dari turun temurun ini, dan sambil berjalan menuju ke ruang tamu.
"hush, jangan asal mindahin barang nenekmu, nanti dikirim ke Perancis loh kamu, hahaha"
Ibuku selalu menggagalkan rencana becanda ku, dia selalu tahu perasaan yang aku punya untuk dia.
Aku dan ibu sudah sampai di tembok pembatas ruang tamu dan ruang baca. Sebelum melihat Paman Richard, dan disebelahnya adalah Moza, aku berhenti dan berbelok ke ruang baca. Melihat tangan Moza saja wajahku sudah memerah, kamu memang bodoh Lunaaaa. Tak hentinya aku mencaci diriku sendiri didalam hati sambil melihat-lihat ruangan baca kakek. Ruangan ini mempunyai banyak sekali buku dan peninggalan sejarah. Sangat luas dan desain interior berwarna coklat, dan lemari-lemari buku berjajar rapi, sudah mirip seperti perpustakaan pribadi. Kakek dan Nenek adalah anggota keluarga kerajaan kuno, mereka turun-temurun meneruskan bisnis keluarga, dan untuk keturunan kakek dan nenek, mereka menjadi kolektor barang antik dan ahli dalam bidang seni dan sejarah. Banyak jenis buku di rumah ini, dari buku sangat kuno, hingga buku di abad ini. Beberapa peninggalan kerajaan dahulu juga disimpan disini, dan terkadang barang antik yang telah diselamatkan kakek juga disimpan disini untuk di cek dan diperbaiki.
Aku mencoba mengintip pembicaraan keluarga ku dan Paman Richard. Iya, ini tidak pertama kali, karena biasanya setelah sembahyang mereka akan mengunjungi rumah sesepuh di keluarganya, dan keluarga Suwoko kami sudah dianggap Paman Richard sebagai saudara. Aku bertemu pertama kali dengan Moza ketika berusia 6 tahun. Saat itu pertama kali kami mengunjungi rumah Paman Richard saat dia sedang sakit. Jadi ayah dan ibu mengajakku menjenguknya. Aku ingat saat itu Tante Swastika membuka pintu untuk kami dan aku melihat dibelakang kaki Tante terdapat seorang anak lelaki asing dengan rambut coklatnya dan mata hazel yang tak pernah aku temui di TK. Saat itu Moza sangat lucu dan tetap tampan sampai sekarang, tetapi bedanya dia sangat pemalu untuk bertemu dengan ku.
"ayo disapa, ini Tante kamu juga Moza"
Dia maju dari kaki mamanya, dan mencoba untuk bersalaman dengan ku.
"hai namaku Luna, kamu Moza?" tanyaku dengan riang. Aku sudah menyodorkan tangan kecilku, dan... Dia memelukku. Moza berbisik,
"kamu sangat cantik Luna" dia melepaskan pelukannya dan memegang tanganku. Lalu dia menciumku. Mencium bibirku. Menciumku didepan ibu dan mamanya. Di saat aku berumur 6 tahun. Moza menciumku!
"kenapa aku malah mengingat itu. Itu sangat memalukan, andai saja aku bisa mencobanya kembali, hehe.. "gumamku sambil menutup mataku. Aku masih tetap didepan rak buku dan menghadap ke lemari dan menempelkan kepalaku.
"kamu bicara sama buku lagi? Kebiasaan mu ga bisa hilang ya" suara berat dibelakang ku dan gesekan badan yang hangat menempel tepat dipunggung ku.
Aku kaget dengan keberadaannya dan tak sengaja menubrukkan kepalaku ke lemari buku.
"Ouch!" aku segera memegang dahiku dengan telapakku. Tapi orang dibelakang ku membalikkan tubuhku.
"Luna, kamu tak apa-apa?" tanyanya.
Aku mendongak ke atas, karena badannya yang tinggi dan aroma parfum yang familiar ini, wajahku merona.
"wajahmu merona, aku rasa kamu sakit" wajah dia mendekat ke arahku, dan meletakkan tangannya ke dahiku,
"Luna kamu sangat cantik hari ini" Moza berbisik pelan tepat di wajahku. Kurang 3 centimeter bibirku dan bibirnya pasti akan menempel jika aku bergerak.
Tetapi aku tidak bisa bergerak. Kedua tangannya menempel di lemari buku dan mencoba untuk menahanku agar tidak lari. Aku melirik ke kanan dan ke kiri untuk mencari celah agar bisa lari dari tangkapannya. Tapi...
"Luna, kalau kamu bergerak nanti akan terulang kejadian 15 tahun yang lalu" wajah Moza semakin mendekat. Dia membungkukkan badannya agar sejajar dengan wajahku. Tangannya yang lebar membuat ku tak bisa lari dari lemari ini.
Situasi macam apa ini.
"Moza" suaraku menjadi berat, bukan karena terintimidasi olehnya, tetapi karena perasaan tak enak dihatiku disaat situasi seperti ini. Wajahku sudah merona, dan keringat dingin disekujur tubuhku.
"Moza.. Hentikan, kita sedang di rumah dan banyak orang" gumam ku dengan pelan.
Moza tersenyum menggoda ku, melepaskan tangannya di lemari buku, dan menempelkan jarinya ke pipiku.
"kamu sangat cantik waktu kamu malu. Hai, Luna, bagaimana kabar mu"
AAAARRRRRRGGGHH aku tidak tahan!
Aku terus-menerus berteriak di dalam hati agar tidak membuat suara memalukan dihadapanya.
"hentikan moz, disana banyak orang" aku mencoba untuk meminggirkan badan ku lebih jauh agar terhindar dari situasi ini,
"aku kira kamu ga akan kembali lagi kesini, dan terakhir kita ketemu juga 3 tahun yang lalu, dan aku tidak tahu harus menghubungi teman kecil ku melalui apa" ku pindahkan obrolanku agar dia tak menggodaku lagi.
"kamu benar, terakhir kita bertemu 3 tahun lalu, dan terakhir aku mencium mu waktu umur mu 6 tahun, sebatas itu juga yang aku ingat darimu" rayu moza. Dia tetap berada di jalur playboynya hingga akhir.
"sudahlah aku kedepan saja" aku berlari dengan wajah yang masih memerah.
Sialan, dia tetap konsisten menggoda ku hingga sekarang.
Aku duduk tepat disamping ibuku, lalu disamping ayah tempat sofa kakek dan nenekku duduk. Didepan ayah ada Paman Richard dan Tante Swastika. Mereka sangat sempurna, dipadukan dengan keluarga besar ku, seperti membicarakan hal pernikahan. Hehehe aku terlalu berharap.
Kemudian tidak lama setelah itu, Moza datang dengan senyuman yang menawan, mengambil teh yang letaknya di meja paling pojok dari ruang tamu ini, kemudian duduk tepat disamping kakekku. Kakekku sudah menganggap dia sebagai anaknya juga, terkadang dia mengirim barang atau sesuatu yang Moza perlukan selama bersekolah di Belanda. Pada saat kakek berkunjung ke Belanda untuk urusan bisnis, dia juga mengunjungi Moza saat itu, membawakan oleh-oleh dari Indonesia serta mengajak Moza untuk berbelanja, seperti cucu sendiri. Terkadang aku selalu menanyakan ke nenek, apakah Moza sudah kembali dari Belanda atau kakek ada urusan di Belanda lagi atau tidak. Bahkan nenekku selalu bisa menebak disaat aku menelepon dia untuk memastikan, nenek akan selalu menjawab untuk pertama kali,
"om swastiastu, kamu pasti tanya Moza disini atau kakek sekarang di Belanda, kan?".
Terlalu sering jika dikatakan aku merindukan Moza.
"Moz, kamu ini udah mirip kakek lama-lama, sepertinya cucuk kakek kamu, bukan Luna sama Lily" canda kakek dan menoleh kepada ku,
"ih kakek, lagian aku sama kak Luna selalu telepon kakek terus dan kesini setiap Lily kangen kakek" Lily bangkit dari tempat duduknya dan menempatkan dirinya tepat ditengah-tengah kakek dan nenek sekarang.
"kamu benar telepon tanya keadaan kakek sama nenek, ga kayak kakakmu tanyanya malah Moza terus, kalau ga Moza udah balik atau Kakek sekarang di Belanda atau engga" nenek melirik kepada ku dan mulai tertawa bersama orang-orang disini.
"hahaha.. hahaha" semua orang tertawa menggoda ku. Untuk saat ini aku tak bisa menghindar. Aku hanya bisa tersenyum paksa dan meminum teh ku dan melihat ibuku, agar dia bisa membelaku. Aku memberi kode dengan melihat mata ibuku dan berkedip padanya.
"ya sudah, mereka juga sudah dewasa kan. Lagi pula Moza dan Luna sudah kenal dari kecil kan, Tik" jawab ibuku untuk membantuku, dia juga memberikan kode ke Tante Swastika.
"kita juga lama-lama sudah tua, masalah anak muda seperti ini kayak keinget dulu waktu muda, hahaha.." Tante Swastika meminum teh nya. Kemudian, "oh iya, sebenarnya kami kesini ingin membicarakan sesuatu yang serius. Kakek dan nenek, kami kesini, khusus ingin membicarakan soal Moza"
Kenapa Moza...?
Aku mengambil minuman ku dan memainkan gelasku dengan bibirku, mencoba untuk menerka apa yang sedang terjadi dengan Moza.
"kami kesini karena Moza yang minta kek" Paman Richard menyahut tanggapan istrinya. "Moza terus-terusan minta untuk kembali dan bertemu kalian semua, sekaligus ingin bertanya Luna secara langsung, apakah dia masih sendiri atau sudah punya pacar" kaki Paman Richard menyenggol kaki Moza, seolah memberi isyarat untuk bicara.
Aku masih memainkan gelasku dan merasa bingung maksud dari omongan mereka.
"ah... Ehem.." Moza berusaha untuk membersihkan tenggorokannya, kemudian menaruh gelasnya yang dia pegang.
"ummmmm, Luna" mata dia melihat kearahku,
"huh? Aa..apa?" aku melihat dia dan tetap memainkan gelasku dengan bibirku.
"kamu sudah punya pacar belum? Kalau belum, kamu mau menjadi pacarku ga? Terus nanti kita bisa membicarakan tentang pernikahan kita" tanya Moza
Seketika mataku berhenti berkedip, bibirku yang aku mainkan di gelas menjadi diam, teh yang aku minum keluar secara spontan dan tanganku menjadi lemas.
MOZA MELAMARKUUUUUU??? AARRRRRGGHHH
"aaa...ap..aa..apa..apaa...?" aku terbelalak serius melihat wajahnya. Wajahku merona karena kaget, spontan, apakah ini prank.
Ibu mengambil gelasku agar tidak jatuh dan pecah ke lantai. Dia tahu aku kaget dan mungkin bahagia mendengar ucapan Moza. Aku memegang telapakku dan tetap melihat wajah Moza.
"iya, aku serius datang kesini untuk melamar mu. Aku menyukai mu dari dulu. Kakek yang selalu bercerita tentang dirimu waktu aku di Belanda... "
Jangan, ini terlalu indah
"kakek selalu bilang kalau kamu khawatir, dan memberikan foto-foto mu dari mulai kamu masuk sekolah hingga kegiatan mu.."
Tuhan, ini terlalu sempurna
"aku bisa saja menghubungimu, tapi aku terlalu takut untuk berbicara padamu. Dan aku selalu memikirkan kamu di Belanda hingga membuat ku kacau dan tak tenang..."
Apa ini. Aku dimana. Aku siapa. Mereka siapa.
"aku takut kamu sudah punya pacar, apa kamu tak mengingat ku lagi, atau apa kamu membenci ku, tapi kakek yang memberitahuku kalau kamu tetap Luna yang sama yang aku kenal..."
Tidak... Tidak... Jangan katakan itu... Ini terlalu banyaaak...
Tidaaaaaaaaakkkkkk...... Ini sangat sempurna!
Aku terdiam. Mendengar ucapan Moza. Terdiam, kikuk, bahkan aku tak berkedip. Aku tetap melihat Moza. Apakah ini sungguhan atau ini hanya mimpi belaka?
"sepertinya Luna saking shock nya sampai diam ya.. Hahaha" ibuku mencoba menetralkan suasana.
"Luna..Luna..." ibuku menyenggol bahuku mencoba untuk menyadarkanku. Dan secara spontan, aku..
"aku tak punya pacar, hanya kamu yang aku pikirkan, selama ini aku selalu sendiri dan menghindari banyak laki-laki demi menunggu mu. Mari kita menikah saja"
Sial. Apa yang bibirku lakukan. Ya Tuhan, kenapa Engkau menciptakan bibir bodoh ini**.
"hahahaha.. Hahaha astaga Luna, dia sangat jujur sekali. Hahahaha" semua tertawa geli dengan tanggapanku. Aku terdiam sejenak, mencoba untuk menelaah apa yang aku ucapkan tadi. Wajahku merona. MERONA LAGI.
Moza melihat ku, dan tersenyum kepadaku, seakan dia tahu kalau semua ini akan terjadi. Kemudian Moza memberikan isyarat ke papanya.
"baik, semua sudah jelas. Mereka berdua sudah suka dari dulu. Ini sudah jelas, bagaimana kalau langsung kita membicarakan pertunangan saja" timpal Paman Richard seraya melihat ke istrinya seakan mimpi mereka terwujud untuk menjadi seorang kakek dan nenek.
Nenekku tak berhenti tertawa hingga menggoda ku dengan menempelkan tangannya ke pipiku, dan kemudian menyadarkanku yang sedari tadi tetap melihat ke arah Moza.
"Lunaaaa, lihat wajahmu sangat merah sekarang. Hahaha, astaga Moza, lihatlah dia tak berhenti melihatmu. Hahaha..." nenek menggoda ku lagi.
Aku langsung berkedip, mencubit pahaku, seakan menyadarkanku, apakah ini mimpi atau tidak.
"ouch.." desisku pelan. Ternyata pahaku merah dan sakit. Ini kenyataan. Aku mulai menutup wajahku dengan kedua telapakku, seakan malu dengan apa yang aku ucapkan tadi.
"hahahaha, baiklah-baiklah, kita jangan mengganggu Luna dan Moza lagi. Lihatlah Luna, dia sangat malu sekarang. Bagaimana kalau kita bicarakan hal itu sekarang saja ya.. " kakek mencoba menyudahi godaan orang-orang disini. Ayahku hanya tersenyum melihatku, kemudian memelukku, mencoba menenangkanku, kemudian ayah berbisik,
"Luna, sekarang kamu ga perlu tanya terus ke ayah ya" sambil memelukku erat didepan mereka. Ayah memberikan kode ke Moza untuk mengajak Luna pergi dari ruang tamu agar para orang dewasa membicarakan hal serius tentang kami berdua.
"yasudah Moz, kamu ajak Luna dulu sana ke taman atau ke ruang baca. Biar kita yang bicarain hal ini ya.." jawab ibuku membantu ayahku yang memberikan kode ke Moza.
"ah iya tante, saya pergi dulu" Moza berdiri dari sofa dan menghampiriku. Dia berdiri tepat dibelakang sofa yang aku duduki. Ayah mencoba menyadarkanku bahwa aku tidak perlu ikut untuk obrolan serius ini.
"Luna, Luna.. Sudah sana sama Moza dulu. Udah jangan malu, lagian sebentar lagi kamu bakalan ketemu Moza terus kan" bisik ayahku.
Ini keterlaluan sempurna. Aku malu ayaaah.
Aku menetralkan pikiranku, dan mencoba menenangkan hatiku yang dari tadi berdegup sangat kencang seperti jogging di pagi hari.
Oke Luna, tenang. Tenang, calm down your mind. Be cool, jangan awkward. Be awesome.
Aku membuka kedua tangangku. Mencoba mengambil minuman ku kembali dan tersenyum untuk menyapa semua orang yang duduk di sofa ini. Aku meminum sedikit teh ku. Dan mencoba berdiri sedikit dan melihat Moza yang dari tadi setia menunggu dibelakang ku.
"lihat kan kaak, kamu bakalan ketemu kak Moza teruus, jadi jangan repotin aku dengan curhatanmu terus, weeek..." goda Lily kepada ku. Dasar rubah kecil.
Aku tak menghiraukan Lily, dan langsung berjalan kebelakang mengahampiri Moza. Badannya yang tinggi dan senyum yang diberikan tepat didepanku, membuat kakiku lemas karena gugup. Moza tersungging, dan berjalan dahulu, seakan berbicara dalam hatinya 'ikuti aku' . Akupun langsung mengikuti langkahnya tanpa melawan, dengan warna wajahku yang masih merona, aku mengikuti kemauan Moza.
Akhirnya kita menjauh dari ruang tamu. Moza mengajakku ke Taman belakang, tepat disamping kamarku. Kemudian dia duduk di sofa kecil dan menatap tajam ke arahku. Aku masih berdiri tegak di depannya, dengan jarak kurang 1 meter, aku masih menatap dia. Moza memiringkan kepalanya ke kanan, tersenyum melihat ku dengan matanya yang sedikit tertutup ketika tersenyum.
Ya Tuhan, dia sangat tampan.
Aku tetap melihatnya, seolah tak mengerti isyarat Moza.
"apa?" jawabku ketus.
"kamu lucu ya saat gugup" moza menegakkan kepalanya, kemudian mengulurkan tangannya kepada ku.
"kemarilah, duduk dipangkuanku"
Sepertinya hidungku akan mimisan
Aku mengernyitkan dahiku. Mencoba untuk tidak melihatkan kebodohanku dalam bertindak.
"kamu gila ya" aku menjawab sinis, membohongi diriku sendiri agar tidak tergoda akan cobaan ini. Aku berjalan mengambil boneka beruangku yang besar ke dalam kamar. Mencoba untuk mengangkatnya. Namun, sebelum sampai mengangkat boneka besar ini untuk inisiatif duduk disamping nya, Moza memelukku dari belakang.
"jangan bergerak. Aku sangat ingin memeluk mu, Lun" dia berbisik pelan di telinga kanan ku. Badannya yang tinggi mencoba mengimbangi tinggi badan ku yang sebahunya. Meletakkan kepalanya ke pundakku, dan mengepaskan kepalanya agar nyaman untukku.
Jujur saja, kepala dia sangat berat. Dan nafasnya yang hangat sangat terasa di leherku. Parfumnya bisa kuhirup dengan jelas sekarang. Aku terdiam mengikuti apa yang moza perintahkan untuk tidak bergerak. Tanganku yang tadi mengangkat boneka beruang, terlepas setelah kedua tangan Moza melingkar di perutku. Denyut jantung ku meningkat. Nafas ku mulai tak teratur. Dan dadaku semakin terlihat kalau nafasku tak beraturan.
Aku ingin pingsan!!!
"Moo..moz..mozaa..moza" aku mencoba mengatur suaraku agar tidak gugup.
"Moza, lepaskan. Aku takut nanti dilihat Lily. Lagipula masih ada keluarga mu disini" wajahku tetap melihat kebawah. Melihat tangan Moza yang besar melingkari tubuhku yang terlihat sangat kecil sekarang.
"aku kangen kamu. Sudah lama aku ingin memeluk mu. Aroma tubuh mu sangat enak" Moza menjawab dengan nafas yang sengaja dia hempaskan tepat di leherku. Dan dia mulai menggerakkan kepalanya untuk menelusuri leherku. Dia mulai menghirup aroma yang ada di leherku.
"moza hentikan, aku geli..." aku menggerakkan kepalaku, dan menoleh ke kanan. Aku terbelalak karena jarak wajahku dan wajahnya kini sangat dekat, lebih dekat daripada di ruang baca. Hidungnya yang mancung menempel di hidungku. Aku melihat mata hazel nya dengan jelas sekarang. Sangat indah. Matanya yang tajam melihat mataku sekarang. Kini jantung ku tidak berdegup dengan kencang, tapi kini aku lemas karena tak kuat melihat wajahnya dari dekat.
"sekarang kita jauh lebih dekat dari sebelumnya. Kalau aku bergerak sedikit apakah kamu akan berontak pergi?" tanya Moza.
Aku bisa merasakan nafasnya di pipiku. Nafasku mulai tersengal karena gugup. Hangatnya tangan Moza yang merangkul di perutku masih kurasakan. Malahan aku bisa merasakan betapa panasnya suhu dia sekarang karena badannya juga mulai menempel di punggung ku. Aku berusaha untuk menjawab pertanyaannya tadi, tapi aku terlalu fokus dengan wajah Moza.
Dia tersenyum dan matanya melirik ke bibirku. Aku bisa melihat jelas kemana arah bola matanya bergerak. Tangannya mulai merapatkan ke perut ku. Wajah Moza mulai maju dan diiringi eratnya pelukan Moza. Aku mulai perlahan mengikuti apa yang dia lakukan. Melirik perlahan bibirnya yang tipis dan merah. Nafasku masih tersengal, dagup jantung ku mulai tak menentu lagi. Bibir Moza mulai mendekat perlahan. Aku masih melihat bibir dia dengan jelas sekarang dan perlahan aku mulai menutup mataku karena dia semakin mendekat. Moza memiringkan kepalanya ke kanan, mengimbangi posisi ku sekarang. Nafasnya sudah dekat dengan bibirku sekarang. Dan semakin dekat. Tambah dekat.
Aku merasakan dingin bibirnya karena minuman tadi. Bibir ku menyentuh dengan bibir atasnya. Dia mengecup perlahan dan melepaskannya. Nafasku tersengal dan membuka mataku untuk melihat dia yang menatap ku. Mata Moza kini lebih indah dari sebelumnya, kemudian dia menutup matanya dan menciumku lagi. Sekarang bibir ku dan bibirnya mencoba merasakan satu sama lain dari rasa minuman yang aku dan dia minum. Pelukannya kini lebih erat. Badannya kini lebih menempel ke tubuhku. Tanganku yang tadi memegang tangannya, kini perlahan berpindah ke leher Moza dan perlahan menyentuh ke rambut coklatnya. Sekarang, dari bibir yang aku rasakan, berpindah ke lidah Moza yang terasa seperti leci. Kami merasakan satu sama lain. Dan tubuhku kini menjadi panas dari sebelumnya.
"moz..hmmm...mm.." aku mencoba untuk menghentikan ciuman kami. Ini adalah ciuman kedua kami setelah lebih dari 15 tahun lamanya.
"mozaa..mo...moza hentikan...mm" aku mencoba menarik bibirku dari bibirnya. Mata ku yang sayu kini melihat mata Moza yang sayu karena situasi ini. Nafasku yang tak beraturan, dan pipiku yang memerah karenanya, melihat bibirnya dan mengecup perlahan dan meletakkan tangan kanan ku ke pipinya.
"kita masih punya banyak waktu untuk melakukan ini...mm" Moza kembali mengecup bibir bawahku.
"kita bisa melanjutkan besok kan, sekarang masih banyak orang diluar.." aku membalikkan badan ku dan meletakkan kedua tangan ku ke wajahnya yang juga merona. Aku merasakan panas di kedua pipinya. Aku tersenyum dan mengecupnya sekali lagi.
"kita lanjutkan nanti ya.."
Gerimis membasahi tanaman bonsai dan kamboja kakek di taman. Air hujan yang turun seakan bahagia melihat kami dipertemukan setelah sekian lama memendam perasaan dan hasrat masing-masing. Hawa yang sejuk dan bau dari hujan membuat aroma kamarku dan aroma tubuh Moza menyatu memanjakan pikiranku. Aku menatap mata Moza yang masih sayu, melihat bibirnya yang basah karena ulahku. Kemudian melepaskan kedua tanganku di wajahnya sembari tersenyum dan sesekali melirik ke bibirnya yang merah. Dia sangat tampan seperti ini. Tangan Moza yang melingkari pinggulku kini bergerak ke atas rambutku dan mengelusnya beberapa kali. Dia menegakkan badannya yang tinggi dan kini aku terlihat kecil dia tubuhnya. Dia tersenyum dan mengusap rambutku, kemudian jemari kirinya turun ke bibirku yang basah. Aku mendongak ke atas untuk melihat Moza.
"hmmmm..." Moza menghela nafas,
"sekarang dan seterusnya, bibir kamu dan tubuhmu hanya milik ku saja, kamu ga boleh sakit ataupun merona karena kelakuanku. Karena aku akan menciumu setiap hari, dan kamu ga akan punya waktu untuk malu" jemari Moza menyentuh bibirku dan kemudian berlanjut mengelus pipiku yang merona. Dia tersenyum hangat dan matanya yang tajam berubah menjadi sayu.
Aku terpana melihat matanya yang bersinar ke arahku. Aku kini terfokus untuk membaca gerak bibirnya yang membuat untuk mengulanginya lagi.
Tidak, hentikan pikiran kotor mu Lunaaaa...
Aku menutup mataku dan menggelengkan sedikit kepalaku untuk tidak tergoda dengan bibirnya lagi. Lagipula, aku lah yang menghentikan situasi ini. Aku harus sadar.
"kamu mau mencobanya lagi?" tanya Moza menggodaku. Dia tersungging dengan bibir atasnya mencoba memberi isyarat apakah aku menginginkannya lagi.
"ha? Engga kok enggaaaa heheh..." aku mencoba untuk menenangkan diriku di hadapannya. Kini Moza mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.
"aku sangat bahagia hari ini. Aku tak perlu lagi menahannya sekarang, kan?" jawab Moza sambil tersenyum padaku, kemudian dia mendekatkan tubuhku lebih erat dan memelukku dengan hangat. Tangan kanannya yang masih mengelus rambutku yang panjang dan tangan kirinya yang melingkari pinggulku, seakan aku mengikuti alur yang dia lakukan kepadaku. Aku benar-benar tak menolaknya. Kami berpelukan diiringi dengan suara gerimis yang terdengar dari kamarku. Kepalaku yang berada tepat di bawah pundaknya, dan lengan ku yang sedari tadi diam, kini bergerak melingkari tubuhnya yang kekar. Mencoba untuk mengelilingi punggungnya dan memanfaatkan situasi ini untuk menikmati aroma tubuh Moza yang aku rindukan. Bersatu dengan aroma hujan, situasi ini sangat-sangat sempurna untukku.
Sesaat kemudian, kedua orangtua Moza berpamitan tepat setelah gerimis reda, kurang lebih sore hari, mereka pergi untuk mengunjungi sanak saudara yang ada di kota ini. Moza berpamitan denganku setelah kami berbincang dan bercanda. Seperti yang aku bilang, aku dan Moza akan menikah. Entah cepat atau lambat, karena obrolan yang tidak kami ikuti ketika di ruang tamu. Rumah Moza dan rumah kakekku tidak terlalu jauh. Tepatnya tiga rumah dari rumah ini. Mereka sudah tinggal sangat lama di daerah ini, namun setelah nenek Moza, Ibu dari Paman Richard sakit, mereka akhirnya terpaksa untuk pindah ke Belanda. Beberapa bulan kemudian, Paman dan Tante Sungkono, kembali lagi ke Indonesia untuk mengurus rumahnya dan bisnisnya kembali. Semenjak itu aku tidak melihat Moza kembali dan aku mendengar berita bahwa Moza bersekolah di Belanda dari Tante Swastika. Saat itu aku berpikir, apakah bisa bertemu lagi dengannya, ataukah dia melupakanku, atau dia baik-baik saja disana, semua hal buruk aku pikirkan dalam beberapa tahun. Namun, akhirnya semua kembali sesuai harapanku bahwa Moza dan aku tak akan berpisah lagi. Aku akan membahagiakan dia selalu. Terima kasih Tuhan.
Keadaan Hari Raya di kota ini sungguh ramai, setelah beberapa hari tidak diperbolehkan adanya aktivitas di kota ini, membuat masyarakat memanfaatkan untuk berkunjung ke tetangga. Beberapa tamu silih berganti datang ke rumah kakek dan nenekku. Karena memang, mereka adalah sesepuh di banjar ini. Malam ini, cuaca di sekitar sangat sejuk, sesaat setelah gerimis datang untuk membahagiakan Hari Raya ini. Aku masih harus membantu ibu dan nenekku untuk menyiapkan makanan dan cemilan untuk para tamu yang datang berkunjung tiada hentinya. Sesekali aku bertanya apa yang kalian bicarakan tadi tanpaku dan Moza, tetapi ibu dan nenek hanya tersenyum menggodaku dan tak menjawab apapun dari pertanyaanku.
Aku terus-menerus bertanya ke ibu dan nenek ketika ada kesempatan, tetapi mereka tetap saja kekeh dan tidak memberitahuku soal obrolan siang tadi. Setelah hampir tengah malam, dan tak ada tamu yang berkunjung ke rumah, nenek dan ibuku serta aku mulai membereskan sisa gelas dan bantal yang ada di ruang tamu. Karena ini adalah Hari Raya, semua pembantu nenek diliburkan untuk 5 hari dan mereka diperbolehkan bertemu dengan anggota keluarga mereka. Jadi keadaan dirumah sungguh kacau dan kami dibuat sibuk tanpa adanya mereka. Rumah kakek ini sangat besar, karena rumah adat dan setiap ruangan dipisah-pisah, sebagian besar rumah ini dibuat outdoor, jadi rumah kakek seperti kerajaan didalam benteng.
Puri Suwoko, inilah nama dari tempat tinggal kakek dan nenekku. Rumah kami dipagari tembok batu pualam yang tinggi dan sebagian sudah ditumbuhi oleh tanaman liar, kemudian dipojok sebelah kiri ialah pintu masuk utama yang terbuat dari kayu yang tingginya sesuai dengan pagar kami, dan dipojok kanan adalah pagar kayu yang memotong tembok pagar batu pualam yang digunakan untuk garasi kendaraan. Di pintu masuk utama terdapat 7 anak tangga dan dilanjutkan dengan 7 anak tangga yang menurun masuk kedalam. Di sini tidak ada genteng ketika masuk, hanya genteng untuk garasi kendaraan dan ruangan. Setelah dari pintu utama, terdapat jalan setapak yang terbuat dari batu alam dan di kanan dan kiri terdapat berbagai tanaman serta kolam ikan favorit kakekku. Dari taman depan terlihat langsung joglo utama yang berada ditengah dan anak tangga lagi karena setiap ruangan dibuat lebih tinggi dari tempat jalan. Joglo utama ini adalah ruang tamu dan ruang baca. Dikelilingi dengan kaca besar berbentuk persegi panjang dan atap yang tinggi berwarna cokelat, selambu putih di sebelah kanan dan kiri untuk penghias dan kemudian terdapat sofa yang diperuntukkan oleh tamu yang berkunjung. Kemudian terdapat tembok penghalang berwarna krem yang hanya setengah, menutupi ruang baca atau ruang rekreasi. Tepat di belakang ruang baca terdapat kamar utama, yaitu kamar kakek dan nenek serta toilet utama. Di joglo utama ini dikelilingi atap penghubung ke setiap ruangan untuk melindungi tempat jalan dari panas dan hujan. Di sebelah kiri ruang tamu dan ruang baca, terdapat ruang perkakas, toilet tamu, ruang penyimpan perabotan dan pendingin bahan dan sayuran, kemudian terdapat dua kamar pembantu. Di sebelah kanan joglo utama terdapat kolam ikan yang lain yang juga diselimuti tanaman hias nenek dan juga tempat duduk gantung kayu favoritku dan Lily.
Di belakang kolam ikan dan tepat di samping ruang baca terdapat kamar tamu, berurut dengan kamar kedua, kamar ketiga, kamar keempat paling pojok terdapat taman favoritku karena pohon kamboja putih dan cahaya matahari akan lebih muncul terlebih dahulu di taman ketika pagi hari. Didepan kamar ketiga terdapat kolam renang dan ruang makan dan di samping pojok kiri terdapat tempat cuci, toilet, kemudian dapur. Dan taman-taman kecil serta pohon akan tampak banyak jika dilihat. Rumah kakek menerapkan rumah alam, yang dimana tidak disatukan dengan genteng dari depan pintu masuk hingga kebelakang, melainkan dihubungkan dengan atap penghubung yang menjulang dari atas ke bawah agar terhindar dari panas dan hujan. Genteng hanya untuk ruangan saja, tetapi tidak untuk sisanya. Benar, kakek masih menjaga melestarikan adat dan budaya Pulau ini. Dan rumah ini sangat sejuk ketika pagi hari.
Cahaya matahari melirik pertama dari dalam jendela kaca kamar ku. Aku tertidur ketika semua sudah rapi dan bersih. Semalam ibu dan nenek menyuruh ku untuk tidur lebih awal. Aku memang berencana untuk tidur lebih awal karena imun kebahagaianku berlebihan ketika berciuman dengan Moza kemarin. Aku terbangun dengan semangat, menyapa boneka beruang, tanaman kamboja diluar, serta mengecek handphone ku, apakah ada telepon untukku atau tidak. Aku terbangun dan mulai merapikan ranjang tidurku. Berjalan perlahan ke depan dan mengecek aroma makanan yang enak. Aku berjalan menyusuri jalan setapak ini, mentari menyinari kolam renang dan tanaman yang berembun di sini. Berjalan melewati jalan dari kamar ketiga menuju langsung ke dapur, melihat ibu dan nenekku memasak nasi goreng.
"tumben cuman masak nasgor doang nek" tanyaku sambil membuka kulkas.
"iya nanti kan kita makan di luar sama-sama" ibu menimpali. Aku menoleh dan segera menutup kulkas ku.
"huh? Keluar? Maksud ibu? sama sekeluarga?" aku kebingungan maksud kata 'sama-sama' . Aku meminum susuku dan mencerna kata ibu.
"kita makan siang hari ini sama keluarga dan keluarga Sungkono" nenek menjawab dengan nada tegas. Membuat lamunan pagi ku menjadi buyar. Makan siang dengan keluarga Sungkono. Paman dan Tante Sungkono. Paman Richard, Tante Swastika, dan Moza. Moza Sungkono.
Aku tersedak dan membuatku terbatuk, menoleh ke arah nenek dan ibuku yang sedang sibuk merapikan piring dan menata nasi goreng ke dalamnya.
"jadi kita kemarin ngobrolin hari pertunangan kalian, kita pikir siang ini pas dan sekalian cek venue tempat kalian bertunangan" ibu mencoba menerangkan keadaan kemarin.
"kemarin kalian kayaknya ngobrolin serius kata Lily, jadi kalian ga jadi dipanggil ke ruang tamu. Lily bilang kalau kalian lagi ngobrol serius..."
Tunggu.. Lily mencoba memanggil kami. Apa Lily melihat kami berciuman...
"jadi Lily balik deh, dan kebetulan Richard minta makan siang bersama di hotelnya, katanya mendingan diadakan di hotel JS Suites" ibu memberitahuku dan menghampiri ku perlahan. Aku masih terbengong, memahami arti 'Lily mencoba memanggilku'. Menerka apa Lily melihat ku dan Moza berciuman
"Luna! Kok bengong sih, kamu ga dengerin ibu ngomong?" ibu menyenggol bahu ku. Menyadarkan lamunanku tentang Lily.
"iya denger kok bu, bentar aku kebelet, nanti aku langsung mandi terus ke sini yaaaaa" aku berlari dan langsung menuju ke kamar Lily untuk menanyakan kejadian kemarin. Aku tak menghiraukan panggilan ibu lagi, entah dia ingin aku mandi, atau membangunkan, atau bagaimana. Aku harus segera ke kamar Lily.
Aku berlari dari dapur menuju ke kamar Lily yang tepat di samping kamarku. Aku buka pintunya dan menghampirinya yang masih memeluk gulingnya.
"Lily! Lily adekku yang cantik...bangun ayoook..kakak mau tanya sesuatu..." rayu ku sambil memeluk Lily yang didalam selimut.
"nnnggg, hmmm, ap...apaan..." Lily mencoba untuk menjawab semampunya. Aku memeluknya erat karena malu akan pertanyaanku selanjutnya.
"aduh kak, sakit tauk" tepuk Lily ke lengan ku. Kini di menggeser tubuhnya agak jauh dari tubuhku.
"iya iya maaf, anu...kakak mau tanya, kemarin siang kamu liat ap..."
"kakak ciuman sama kak Moza" jawab Lily yang bahkan belum aku teruskan pertanyaanku.
Aaarrrrrghhhh ini memalukan
"apa... Lily kamu..." aku memeluk erat kembali tubuhnya, dan menundukkan kepala ku untuk menyembunyikan wajah malu ku ke Lily.
"tolong jangan bilang ke ibu atau siapapun yaa, adekku yang cantik. Nanti kakak kasih sesuatu deh. Yaa yaaa...please...?" rayuku kepada Lily dan mencoba menukar sesuatu yang berharga agar dia tidak membocorkan kejadian apapun yang terjadi di kamarku.
"hmmmm iya deh aku ga bilang ayah, tapi..."
"tapi apa..tapi apa? Bilang ke kakak mu yang baik ini..." sela ku
"dress yang kemarin oleh-oleh dari Tante Sungkono aku tukar sama kamu, aku ga suka warnanya" jawab Lily malas.
Huh, dress itu bagus dikulitku, kalau aku tukar sama Lily aku bakalan kelihatan kayak cakwe berjalan huhuhu
"hmmmmm..." jawabku sambil berpikir
"apaan hmm doang, kalo gamau yaudah siap-siap aja nanti ayah ngomelin kakak pakek ayat-ayat" jawab sinis Lily seraya memeluk gulingnya. Tubuhnya seakan mengejek ku dengan gestur yang tidak aku sukai
"ya ya ya, baiklah. Nanti kita tukeran, tapi janji yah jangan bilang siapapun" aku terpaksa menjawab dan menyerah ke Lily agar dia tak membocorkan rahasia ini ke siapapun. Aku pun bangun dari ranjang Lily dan beranjak mengambil dress Lily di meja belajar, kemudian mencoba kembali ke kamarku lagi. Dasar rubah kecil.
Semua orang sudah siap, kakek, nenek, ayah, ibu, rubah kecil, dan aku, sudah bersiap memasuki mobil dan berencana untuk pergi langsung ke hotel JS Suites. Semua orang berpakaian sangat bagus, kakek dan nenek memakai pakaian resmi dengan ornamen adat khas Pulau ini, dipadukan dengan aksesoris serta riasan nenek yang terlihat muda. Ayah dan ibu memakai baju berwarna biru tua, senada dengan cincin kesukaannya, kemudian si rubah kecil, si Lily, memakai dress berwarna hijau muda dan terdapat bunga dandelion kecil melingkar di bawah rendanya, sedangkan aku memakai dress panjang dengan belahan samping selutut berwarna hijau tua dan kerah berwarna putih dan krem. Rambutku aku biarkan terurai, karena aku sedang memakai anting silver yang sepadan dengan sepatu kets ku yang berwarna putih. Setelah lebih dari 30 menit, kami sampai di JS Suites, dimana tempat kami akan makan siang. Karena posisi duduk ku di belakang dengan Lily, kami bergantian untuk keluar dari dalam mobil.
"aku sama Lily mau ambil barang dulu ya di Djelantik, kemarin aku lupa ambil, jadi sekalian, lagian dekat dari hotel" nenek memberitahu ke kakekku dengan posisi masih duduk ditempatnya
"yaaah nenek, kok aku sih, pasti barangnya banyak kan.." Lily merengek dengan mencoba memeluk lengan ayah
"kamu ini nenek lagi minta tolong.." ayah menjawab dan melirik ke nenek
"yaudah biar aku aja yang bantu nenek aja, toh ya dekat kan" aku mencoba untuk menghibur Lily karena dia sudah menepati janjinya untuk tidak bercerita tentang kejadian kemarin. Aku segera berpindah tempat duduk di tengah tepat di samping nenek.
"kamu sudah ditungguin Moza di dalam, yakin ga Lily aja yang bantuin nenek?" ibu membelaku yang seakan tahu jika Lily sedang mengerjaiku.
"hihihi engga kok bu, lagian barang yang dipesan nenek pasti banyak. Lily kan lemah ga bakalan mampu.." aku melirik ke Lily sambil berkedip kepadanya, dengan isyarat agar janjinya ditepati.
"tuh kan kak Luna yang baik yang maksa sendiri bu.."
"yaudah yaudah.." nenek menyela,
"kalau gitu biar Luna aja yang bantuin, kalian masuk aja dulu"
"bilangan ke kak Moza kalau aku datang telat yah..." aku melirik lagi ke Lily agar dia saja yang memberitahukan pesan ku ke Moza
"siap kakakku yang baik hahaha" Lily tertawa dengan gembira karena dia terlihat ingin segera makan di hotel. Kemudian mereka melambaikan tangan kepadaku dan nenek, mobil kami semakin menjauh dan mereka semakin pudar, seakan ini adalah perpisahan terakhir
BBBHUUUUUUMMMMMMMM.