The Brown'S Sister And City Of Arts

The Brown'S Sister And City Of Arts
Kyle



Terangnya lampu jalanan di pusat kota Florence yang sudah menyala secara bersamaan, menandakan petang sudah tiba. Pertokoan dan restoran bergantian menyalakan lampu kristal dan lampu utama untuk menarik pejalan kaki dan turis untuk berkunjung. Warna putih salju yang mendominasi pohon dan lampu berwarna kuning menjadi pemandangan yang sangat indah. Udara dingin tidak menyulutkan pejalan kaki untuk keluar menikmati indahnya malam hari di pusat kota.


Suhu dingin di bulan September ini adalah bulan paling dingin dari sebelumnya bagi Luna. Meskipun hari ini salju turun lebih sedikit dari sebelumnya, tetapi suhu yang ditimbulkan jauh lebih dingin. Dia masih fokus untuk melihat resep yang dia lihat dari telepon genggam. Memasak menu makan malam dari negaranya. Sesekali menengok dari arah kamar Kyle yang masih belum keluar. Kemudian menengok kembali pejalan kaki yang menikmati cuaca dingin di jalanan yang terlihat dari atas jendela apartemen.


"ckckck, kenapa mereka begitu menyukai musim dingin" Luna memeluk tubuhnya dengan kedua lengannya. Mengintip pejalan kaki dari bilik jendela dari ruang tamu. Kemudian berlari ke arah dapur untuk mengecek masakannya. Sesaat Luna tiba di dapur, Kyle sudah menggunakan kaos biru laut, dipadukan dengan celana abu-abu, dia juga menggunakan slippers di kedua kakinya yang nampak pas dengan ukurannya. Kyle menghampiri Luna yang sibuk merapikan makanan di piring dan menaruh beberapa perkakas lainnya.


"perlu aku bantu...?" tanya Kyle.


"jalan mu saja sudah terlihat susah... Duduklah saja di ruang tamu, aku bawakan makanannya ke sana"


"kenapa tidak makan di meja makan ini saja" Kyle menepuk kursi kayu putih di depannya.


"aku sangat membenci ruang makan, jadi aku selalu makan di ruang tamu...." Luna tersenyum kepada Kyle yang kebingungan dengan maksud Luna. Luna yang sudah siap mengangkat piring dan gelas serta alat makan lainnya, langsung menuju ke meja di ruang tamu. Kyle hanya mengikuti perintah Luna dan tak berani bertanya apapun soal pernyataannya.


"tangan mu sudah bisa digunakan, kan?" Luna penasaran dengan cara Kyle memakai baju, dia kemudian menata makanan di meja tersebut.


"si... Sedikit... Mungkin butuh waktu lama untuk mengenakan ini" Kyle menunjuk ke kaos dan celana yang dia pakai.


"setidaknya makanlah sendiri dengan tanganmu, perlahan juga tak apa-apa"


"aku juga tidak berencana untuk meminta mu menyuapiku" Kyle tersenyum ke Luna, dan duduk di sofa krem di sampingnya.


"apa ini? Aku tak pernah melihat makanan ini sebelumnya?" Kyle melihat ke arah piring di depannya.


"ini nasi goreng, dan ini sup ayam hangat, lalu ini obat mu" Luna menjelaskan satu persatu menu yang ada didepanya,


"kamu tak pernah makan nasi sebelumnya?"


"nasi.....hmmmmmm....aku pernah, tapi lupa kalau warnanya seperti ini"


"iya ini hanya modifikasi dari nasi itu" Luna kembali menjelaskan sembari memakan makanannya,


"coba makan sedikit, enak kok"


Kyle mengambil sesuap dan memasukkan ke dalam mulutnya, mengunyah perlahan rasa asing yang tidak pernah ia rasakan. Sesekali memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk mengenal rasa yang ada di mulutnya saat ini.


"hmmm... Rasanya enak!" Kyle tiba-tiba mengunyah kembali, satu persatu makanan yang ada di piringnya sudah bersih, begitu juga dengan sup ayam hangat yang ada di mangkok.


"grazie atas makanannya" Kyle melihat Luna yang sedang mencoba merapikan piring dan alat makanan lainnya ke dalam nampan. Dia melihat Luna mengambil gelas bersih dan menuangkan Brown's Vine ke dalam.


"kamu menyukai anggur Brown?" tanya Kyle tiba-tiba,


"bukankah wine itu sangat mahal... jika aku lihat dari tahunnya itu... benar-benar mahal?"


Luna langsung terdiam, dia melihat ke arah botolnya kembali, memperhatikan tahun yang ada di botol tersebut.


"ooohh ini.. Hahahaha aku bertaruh waktu sedang bersama dengan teman-teman kerjaku, siapa yang menang akan mendapat wine ini" dia langsung menutup kembali botol tersebut dan menaruh ke tempatnya semula. Kemudian mengangkat gelas wine dan diminumnya perlahan.


"kamu bilang, kalau kamu bekerja di perusahaan wine, apakah itu Brown's Vine ?"


"iya benar... Atasan ku bilang kalau kami bekerja di Brown's Vine" Luna memutar-mutar memainkan cairan wine yang ada digelasnya, mencoba mengaduk, kemudian melirik ke arah Kyle.


"ada yang ingin aku tanyakan sebelum kamu bertanya terlalu banyak tentang aku" Luna menaruh gelas di depan meja,


Kyle yang mendengar pertanyaan Luna langsung tertunduk, melihat kedua jari yang dia remas. Kemudian dia terdiam sesaat dan menarik nafas panjang.


"maaf kan aku, aku lupa memberitahu soal diriku..." dia kembali menarik nafas panjangnya, terlihat dada yang kekar mengembang lalu mengempis mengikuti alur Kyle, kemudian dia menempelkan punggungnya di sofa,


"aku Kyle... Marc Kyle. Seseorang mencoba membunuh ku untuk merebut perusahaan yang papa pimpin saat itu.."


"saat itu?" potong Luna,


"iya benar, papa baru saja menjadi ketua di perusahaan menggantikan kakekku yang sakit, namun ketika dia mengetahui rahasia perusahaan itu dan menerima semua bukti di tangannya, dia mengalami kecelakaan pesawat. Dan sampai sekarang jasadnya juga tidak ditemukan..." Kyle menarik nafas panjang, dan sekarang dia menutup matanya dengan kepala mendongak ke atas.


"semua keluargaku mati dalam pesawat itu... Dan sebelum papa dan semua orang pergi, dia mengirimkan pesan melalui email yang berisi semua rahasia yang akan papa berikan ke Interpol, dan setelah itu aku mengetahui bahwa mereka mengalami kecelakaan"


"apa kamu kenal orang yang merencanakan semua itu?"


"ya aku mengenal orang itu... Orang itu bahkan sangat dekat dengan keluarga ku, dia adalah paman ku sendiri, kakak kandung dari papaku sendiri, dia juga  yang memerintahkan seseorang untuk membunuh dan membuang jasadku, bahkan pengawal pribadi ku juga mengkhianati ku" kedua telapak Kyle mencoba menutupi air mata yang keluar dari matanya, namun Luna sudah menyadari bahwa dia menangis. Luna yang menyadari akan hal itu, mencoba menarik diri dari posisinya, menjauh dari sebelumnya dengan menyenderkan tubuhnya ke punggung sofa.


"lalu bukti yang kamu maksud, ada dimana?" Luna kembali bertanya,


"aku tak tahu... Aku lupa Luna...." Kyle terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan Luna.


"apa keluarga mu dari perusahaan besar? Dari cerita mu, kamu sepertinya dari keluarga kaya..."


"hhh, papa tak menyukai bisnis itu dari awal, tetapi kakek yang menunjuk papaku untuk mengurusnya dan membongkar seluruh rahasia perusahaan"


"lalu sisa keluarga mu lainnya?


"tak ada.. Papa, mama, dan saudari kecilku ikut serta dalam pesawat itu"


Luna yang mendengar hal itu langsung terdiam memperhatikan Kyle. Dia mengingat dirinya akan kejadian 5 tahun lalu yang ditinggalkan seluruh orang tercinta. Dia melihat Kyle yang rapuh seperti dirinya beberapa tahun lalu. Putus asa, depresi, dan bahkan keinginan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


"lalu bagaimana aku harus meminta ganti rugi padamu kalau kamu tak punya apapun disini" Luna melirik tajam ke arah Kyle, dia juga memainkan gelas wine yang ada di tangannya. Kyle yang mendengar akan hal itu langsung menurunkan kedua lengannya, mengatur posisi untuk melihat kembali wajah Luna.


"aku..mungkin tak mempunyai apapun untuk saat ini. yang hanya aku pikirkan untuk saat ini adalah membalas dendam ke pamanku dan semua orang yang ikut campur dalam membunuh keluargaku" suara Kyle kini terdengar tegas, tatapan matanya yang sayu kini berubah dan membuat Luna semakin tertarik dengan masalah Kyle.


"bagaimana cara mu untuk membalas dendam?"


"bantu aku.... Sembunyikan aku disini.. Aku akan melakukan apapun, atau aku bisa bekerja sebagai pelayan mu di apartemen ini" pinta Kyle


Luna memang sering lupa untuk membersihkan beberapa ruangan, contohnya saja dia hampir lupa mematikan kompor dan mengunci pintu. Atau dia juga tidak mencuci baju beberapa hari dan lebih memilih untuk membuangnya dan membeli pakaian baru.


"aku melihat beberapa debu di laci sebelah situ, dan buku-buku yang tidak kamu letakkan kembali di tempatnya, aku bisa membersihkannya untukmu, tapi aku butuh tempat tinggal untuk sekarang" tangan Kyle kini memegang kedua tangan Luna. Luna menatap mata Kyle dengan jelas, dan dia lebih memilih diam untuk memikirkan apakah untuk ikut campur lebih dalam.


"katakan sesuatu Luna....." suara lembut Kyle membuyarkan lamunannya,


"mmmmmm..." Luna melepas tangan Kyle, "baiklah kamu bisa bekerja disini" Luna kemudian berdiri meninggalkan Kyle yang terdiam mendengar jawaban Luna. Dia menuju dapur untuk menaruh piring kotor.


"biar aku saja yang membersihkannya..." Kyle menghampirinya dan mengambil beberapa piring yang ada di dishwasher.


"ouch..." teriak Kyle karena cipratan air terkena di tangannya yang masih terluka


"biar aku saja... Aku takut kamu nanti akan mati terlebih dahulu sebelum membalaskan denda mu" mereka tertawa bersama melihat air yang ada di lengan Kyle, tertawa dan sembari membersihkan piring kotor satu persatu.