The Brown'S Sister And City Of Arts

The Brown'S Sister And City Of Arts
Luna



'aroma tubuh ini....sepertinya aku mengenalnya'


Luna membuka matanya pelan, melihat dada bidang yang menutup kepalanya sambil memeluknya erat. Bernafas pelan dan teratur dibalik dada lelaki yang menemaninya, Kyle. Dia mendongak ke atas seraya melihat tubuh yang sedang memeluknya erat, mata yang masih tertutup rapat, hidung yang mancung dan bibir merahnya yang terlihat dari wajah Luna, menatapnya tajam sambil menyaksikan alur nafas yang kembang-kempis dari hidungnya. Lalu meletakkan kembali kepalanya di dada Kyle dan menghirup aroma tubuhnya.


Beberapa saat setelah memeluknya, Luna terbangun di kamarnya sendiri. Meraba suhu hangat tubuh yang semalaman menemaninya, kemudian membuka matanya untuk mencari keberadaan tubuh tersebut.


"mmm ini mimpi ternyata" desis pelan Luna.


Kemudian dia bangun dari ranjangnya dan membuka tirai jendela untuk melaksanakan kegiatan awal paginya, yaitu menyapa pemandangan kubah Uffizi dari balik tirainya.


Salju tebal yang menyelimuti tepi jalan, pohon oak dan atap toko juga terlihat dari balik tirainya. Kubah galleri Uffizi yang biasanya terlihat berwarna merah, jingga, dan kayu pahatan khas Eropa kuno juga tertutup putihnya salju.


Luna mengingat kembali ramalan cuaca semalam tentang derasnya salju hingga dua hari kedepan tak akan membuat dirinya pergi menemui neneknya. Dia mempunyai alasan untuk tidak datang sarapan ataupun makan malam di kastel tua tersebut.


Setelah puas memandangi pemandangan bersalju dari balik tirainya, Luna memutuskan untuk keluar kamarnya. Dia melihat Kyle yang sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Saking sibuknya dia tak mendengar langkah kecil Luna yang sudah berada tepat dibelakangnya. Dia hanya memandangi punggung kekar lelaki itu sambil menikmati segelas susu dari dalam lemari pendingin.


"shit..!" teriak kaget Kyle,


"shit???" Luna juga kaget yang mendengar umpatan pagi hari Kyle di depannya.


"kamu membuatku kaget, lagi pula apa yang kamu lakukan di belakang ku...."


"aku tak tahu kalau kamu bisa mengumpat ckckck.." Luna berbalik arah menuju sofa,


"lagian aku sudah memanggil mu tapi kamu sibuk memotong brokoli itu"


"ah itu ...maafkan aku hihi..." Kyle melanjutkan kembali memasak sarapanya dan setelah itu menemui Luna dengan nampan masakan.


Kyle menghampirinya dengan pelan, mengangkat menu sarapan yang lengkap dengan susu hangat kesukaan Luna. Piyama garis horisontal dari atas hingga bawah yang Ia pakai, membuat Luna tak berhenti tersenyum melihatnya.


"apa ada yang lucu?" tanya Kyle yang kini sudah duduk di samping Luna,


"uuumm... Sepertinya piyama yang aku beli terlihat imut di badan kekarmu" Luna menekuk bibir bawahnya seraya untuk menahan tawa.


Kyle yang mendengarnya langsung mengernyitkan kedua dahinya, melihat ke arah piyama yang dia pakai sekarang. Kemudian menatap sini s ke samping Luna untuk tak menyetujui perkataannya.


"oh iya Kyle, apa semalam teriakan ku mengganggu mu lagi?"


"yaaaa.." dia menelan makanannya,


"seperti biasa kamu berteriak, tapi kamu langsung tertidur dipelukanku.."


Luna langsung menoleh ke Kyle, terkejut mendengar ucapannya. Makanan yang di kunyah saat itu langsung mencoba untuk keluar dari bibir kecilnya. Matanya terbuka lebar sambil mencoba untuk mencerna makanan yang dia kunyah.


"tunggu! Dimana kamu tidur semalam?" tanya Luna kaget,


"aku? Tidur di kamarku, tapi kamu berteriak di jam yang sama, jadi aku langsung menemani mu sampai pagi" jawab santai Kyle yang sambil mengunyah brokoli hijau di piringnya.


"hei jangan melamun!" teriak Kyle lembut di kuping kiri Luna. Luna yang mendengarnya langsung membuyarkan lamunannya tentang hangat tubuh Kyle yang dia rasakan.


---


Sore ini Luna menghabiskan waktunya di kamar untuk membersihkan semua pistol dan senjatanya. Mengelap semuanya hingga bersih kemudian meletakkan kembali ke tempat semula. Kyle juga menghabiskan waktunya di dalam kamar dan terkadang membaca buku yang ada di ruang baca. Tak ada percakapan apapun tentang kejadian memalukan Luna ataupun pelukan hangat di pagi hari yang menemaninya, hanya kedua tubuh yang menyibukkan diri sendiri di dalam satu apartemen. Luna berinisiatif untuk memasakan makan malam untuk Kyle, karena sudah menjaganya ketika mimpi buruk tiba. Melihat ke arah menu makanan di layar ponselnya dan memutuskan untuk memilih beberapa makanan utama dan penutup. Tak lupa dia juga mengecek informasi yang diberikan oleh Marco tentang perusahaannya ataupun kedua neneknya.


Kyle yang tidak keluar dari kamar sepanjang sore ini, membuat Luna langsung menyiapkan bahan dan makanan di dapur. Memotong sayuran, meracik bumbunya dan kemudian menyiapkan botol wine di gelasnya. Tanpa sadar dia selalu memperhatikan pintu kamar Kyle, menatap beberapa saat dan memasak kembali, kemudian menatapnya lagi.


'Kreet...'


suara pintu terbuka dari kamar Kyle. Tubuh tinggi dan rambut yang berantakan baru saja keluar dari kamar tersebut. Mata yang dia usap berkali-kali untuk menyadarkannya. Luna melihat Kyle yang baru saja terbangun dari tidur sorenya, dengan menggunakan piyama yang masih sama serta rambut cokelatnya yang berantakan namun tetap tampan baginya.


"Lunaaaaa..." suara teriakan menghampirinya,


"kenapa kamu memasak? Apa tidurku terlalu panjang?"


"aku hanya ingin memasakan mu karena sudah bekerja dengan keras disini, jadi biarkan sekarang aku yang memasak untuk kita" tawa pelan mengiringi ucapannya, dia tertawa karena tingkah Kyle yang lucu ketika bangun tidur.


"teri...ma kasih..."


Luna tersenyum melihat Kyle, lalu menyiapkan bahan terakhir untuk dimasukkan ke dalam masakannya.


"kamu berantakan sekali.... Gantilah baju yang pas dengan mu sanaa" perintah Luna yang masih sibuk memasak,


"kamu menertawakan ku karena piyama ini kan? Awas saja" Kyle menatapnya sinis dan meninggalkan Luna di dapur. Kemudian berlari menuju kamarnya untuk bersiap.


Semua masakan sudah siap, Luna meletakkannya ke dalam nampan beserta semua peralatannya. Kini dia berjalan perlahan menuju ruang baca untuk makan malam. Dia mengatur posisi dan letak piring untuknya dan Kyle, menata sendok dan garpu di samping dan wine putih di sampingnya. Lalu berdiri mengambil vas bunga Daisy berwarna jingga di tengah meja. Tak lupa membiarkan tirainya terbuka agar pemandangan pusat kota terlihat ketika makan. Kini dia sudah siap untuk menyantap hidangan utama, namun tubuh tampan Kyle belum keluar dari kamarnya.


'Kreet'


Pintu terbuka kembali dari kamar Kyle. Terlihat tubuh tingginya menjulang dengan berpakaian flanel hijau tua dengan kancing biru menghiasi tubuhnya, tak lupa celana panjang dan slippers untuk menghangatkan tubuhnya. Rambut cokelatnya tertata rapi dengan disisakan beberapa helai di untuk menutupi dahinya. Bibir merah yang menyatu dengan kulit wajahnya yang putih begitu sepadan seperti natal di malam hari. Dia kemudian langsung duduk di kursi kayu depan tempat Luna berada. Melihat makanan utama dan penutup yang baru saja Luna masak untuknya. Bunga Daisy yang mekar di samping piring dan wine putih sudah tersedia di gelas cembung.


"ada apa hari ini?" tanya Kyle,


"kenapa semuanya terlihat istimewah..."


"hihihihi ini bayaran untukmu karena sudah menjagaku.... grazie Kyle" jawab Luna.


Senyuman manis Luna yang menampakan secara tiba-tiba membuat Kyle terdiam menatapnya. Ekspresi dingin yang biasa Luna berikan, kini berubah menjadi sangat ramah. Kyle tersenyum balik ke arahnya dengan khas matanya yang tertutup.


"selamat makan..." ucap keduanya.


Cahaya lampu dari pusat kota dan derasnya salju yang turun menemani mereka untuk menyantap makan malam. Kedua tubuh indah yang duduk dengan anggun tersinari jelas dan membuatnya semakin indah. Ekspresi dingin yang biasanya menemani selama beberapa minggu kini berubah hangat dengan acara makan malam ini. Senyum Luna yang tak pernah terlihat tulus hampir lima tahun lamanya, bahkan terlihat sangat mudah di hadapan Kyle. Mereka menyantap dengan lahap di dampingi dengan percakapan dan narasi lucu dari masing-masing. Mencoba menghangatkan diri dengan mengenal dua tubuh asing tersebut.