The Brown'S Sister And City Of Arts

The Brown'S Sister And City Of Arts
Moza?



Tubuh lelaki tinggi kekar yang berdiri di hadapan Luna, kini melihatnya yang tengah duduk dengan lemas. Wajah dan tubuhnya yang lemah tak bisa dikendalikan, mencoba meraih tangan Kyle untuk meminta tolong. Wajah Luna yang merona karena wine, membuat mata dinginnya terlihat sayu dan polos.


Kyle yang melihatnya terduduk, mencoba menggendong tubuhnya yang ramping. Dan ia mengangkat juga botol wine yang dia bawa dan kemudian menaruhnya di meja makan. Dia menggendong Luna perlahan menuju ke ruang tamu. Suara lembut memanggil nama asing yang tidak Kyle kenal, memanggilnya berkali-kali dengan menyebut nama 'Moza' di hadapannya.


Kini Kyle sudah menidurkan tubuh kecil Luna di atas sofa. Dia merasakan tubuhnya yang memanas, lalu meraih tangan kanannya yang jatuh dari sofa. Dia menatap tubuh Luna cukup lama, membelai rambut hitamnya yang berantakan. Menaruh helai demi helai di belakang telinganya dan mencoba menutup belahan dadanya yang mulai terlepas dari dress satin miliknya.


"Moza kenapa kamu pergi?" Luna terbangun dan langsung memeluk tubuh Kyle dengan erat di depanya,


"Moza aku hidup sangat menderita, aku mohon kembalilah huh" suara Luna terdengar bergetar, kedua tangannya kini melingkari leher Kyle. Dadanya yang kencang mulai menempel erat tepat di jantungnya.


Kyle hanya terdiam tidak membalas pelukan Luna. Mendengarkan suaranya yang mulai bergetar dengan air mata yang mulai membasahi kerah kaosnya. Kemudian ia mencoba untuk melepaskan pelukan Luna dengan kedua lenganya. Melihatnya dengan serius memperhatikan wajah Luna yang merah dan sembab karena menangis.


"Luna..." suara lembut memanggil namanya,


"Luna aku Kyle, aku buka Moza, aku tak tahu siapa dia" Kyle memegang wajahnya dan mencoba sedikit demi sedikit mengusap air mata yang menetes.


"tidak kamu Moza.. Kembalilah seperti ini, aku sangat merindukan mu. Aku mohon kembalilah" suara tangisan Luna di hadapannya.


Kini dia bisa menatap betapa rapuhnya wanita yang menyelamatkan hidupnya. Menatap wajah dan tubuh Luna yang melemah karena nama asing yang tidak dia kenal. Melihat hal itu, akhirnya Kyle menarik lembut pundak Luna dan meletakkan kembali tubuhnya di pelukanya. Dipeluk dengan erat hingga tangan Luna melingkari lehernya kembali.


Kyle yang tadi hanya terdiam kini juga berani melingkari pinggang Luna yang ramping. Menepuk sesekali pundaknya untuk menenangkan tubuhnya yang tak sadar. Tidak butuh waktu lama untuk menangis, kini suara hening dari tubuh Luna yang sedari tadi bergetar karena tangisan di ruang tamu. Sekarang tak ada tangisan maupun nama asing yang diucapkan kembali dari bibirnya.


Kecupan lembut terasa di leher samping kiri Kyle. Terasa basah dan dingin karena lidah yang di julurkan Luna menyentuh tepat di leher kirinya. Lidah Luna yang basah tak berhenti merasakan leher Kyle, hingga akhirnya tubuh Luna terangkat dengan sendirinya dan duduk di atas pahanya.


Tangannya yang melingkari lehernya, berpindah ke rambut cokelatnya. Memainkan sedikit helai rambut di belakang, menelusuri leher dan kepala Kyle. Kemudian mengecup dengan lembut sembari menikmati aroma yang ditimbulkan dari leher Kyle.


"Luna apa yang kamu lakukan..." desis Kyle geli.


Dia sesekali menyadarkan tubuh Luna yang sudah duduk di pangkuannya tepat di atas sofa. Tangannya mencoba mendorong tubuh Luna agar menjauh dari dadanya.


"mmmmmm" Luna tak mendengarkan perintah Kyle, bahkan dia semakin menikmati lehernya hingga mengarah ke kuping dan semakin melekatkan pahanya ke pangkuan Kyle.


"Luna...mmmm..."


"kalau seperti ini aku tak bisa menahannya"


Kini lengan kekarnya berhasil melepaskan tubuh Luna. Nafas Luna yang tersengal karena hasrat yang tak bisa dia kendalikan, membuat tubuh dan wajahnya yang memanas, terdiam melihat Kyle di depannya.


Tubuh Kyle yang juga mulai memanas, melirik ke arah belahan dadanya yang terlihat kencang karena dress hitam miliknya. Nafasnya juga tersengal karena hasrat yang Luna lakukan terhadapnya.


"Moza..." gumam Luna dihadapanya,


"mmmmmm ah" bibir Kyle sudah menempel tepat di bibirnya.


Kepala Luna kini mengikuti alur dari kepalanya, dan menempatkan kedua tangannya untuk memeluk rambut cokelatnya. Telapak Kyle sudah merangkul erat pinggul serta pahanya. Menciumi bibirnya dan bermain dengan lidahnya yang dingin. Menggigit beberapa kali kemudian berhenti sesaat ketika Luna berteriak kesakitan.


"aaah Moza!" teriak manja Luna.


Belahan dress yang memperlihatkan pahanya yang jenjang, membelah di pangkuan Kyle. Dia yang melihat wajahnya mulai merona, membuat hasratnya semakin besar dan kemudian meletakkan kedua tangannya untuk mengelus paha Luna. Kemudian menaruh lidahnya tepat ke leher Luna.


"aaaaahh!" erangan terdengar dari bibir kecil Luna.


Kyle yang mendengarnya, membuat gairah tubuhnya memuncak. Tangan yang mengelus paha Luna, kini berpindah ke pinggulnya, dan kemudian meremas bokongnya. Lidahnya yang tak berhenti menikmati leher anggun Luna, sesekali mengigitnya dan mengecup kembali ke arah leher sampingnya.


"aaaa Moza mmmm.... " desis Luna,


Kini tangannya berpindah ke rambut cokelat Kyle. Mencoba mengangkat tepi kaosnya yang tipis untuk ditanggalkan, kemudian memeluk erat kembali tubuh kekarnya.


Kyle sudah melepas kaosnya, dan kembali mencium bibir Luna. Menggerakkan kedua tangannya untuk menelusuri tubuh seksinya. Meremas bokongnya dan mencoba melepaskan kantong senjata yang ada di kedua pahanya. Kemudian kembali mengelus pahanya yang mulus dan berpindah ke atas dadanya.


"ah!"


suara erangan Luna saat tangan Kyle berpindah ke dadanya, membuat Kyle semakin gemas menciumi lehernya. Kepalanya berlanjut ke arah dadanya yang kencang, dan menyumbui bagian atasnya. Suara kecupan dari bibir Kyle membuat Luna mengerang menikmati lidahnya.


Tak beberapa lama Kyle langsung mengangkat tubuh kecilnya untuk dilingkarkan ke tubuhnya, sambil memegang bokong Luna agar tidak terjatuh saat diangkat menuju kamarnya. Kemudian tetap melanjutkan ciumanya hingga di atas ranjang.


"tubuhmu sangat indah Luna"


Kini tubuh Kyle sudah di atas tubuh Luna, mengerang karena ciuman di belahan dadanya yang kencang. Mereka bermain dengan lidah masing-masing, bertukar rasa wine yang Luna minum, menggigit bibir atas dan bawah dari keduanya. Kedua tangan Luna yang mengikat di leher Kyle, mencoba menyelusuri kulit punggungnya. Kemudian mencoba untuk menarik kancing dari celana kainnya.


Kyle melepaskan ciumananya setelah merasakan tangan kecil Luna meraba celananya, lalu melihat ke arah mata sayu yang baru saja dia lihat. Wajah cantik dan bibir nya memerah karena ulahnya. Sesekali melirik ke arah dada Luna yang masih tertutup oleh dress hitam dan hanya menyisahkan paha nya yang sudah terbuka lebar. Kyle melihatnya dengan tajam, menatap tubuhnya sesaat. Luna yang melihat hal tersebut, mencoba untuk melepaskan dress dari atas dadanya.


"kamu yakin Luna?" tanya pelan Kyle di atasnya.


Dia hanya terdiam melihat wajah lelaki yang menyumbui tubuhnya. Kemudian dia mengangguk menuruti pertanyaan Kyle. Dia melihat tangan Luna yang mulai menanggalkan drees dari atas tubuhnya.


Terlihat dada yang kencang dan mulus yang sudah terlepas setengah dari drees tersebut. Kyle menelan ludahnya melihat tubuh indah dari wanita yang berada tepat di bawahnya. Lalu mengelus rambut hitamnya dan bibirnya sesaat, dan mencium kembali bibir merah Luna. Akhirnya, mereka menikmati hangatnya tubuh masing-masing dari gairah yang mereka timbulkan.


"Moza mmmm ahhh.... Aku geli Moza"


"ucapkan namaku Luna, aku mohon" desis suara Kyle dari wajahnya yang sudah menyumbui dada kencangnya.


Dia menjilati seluruh tubuhnya dari atas hingga ke pusarnya. Mencoba menanggalkan dress hitamnya hingga ke kaki, serta melepaskan kedua heels yang masih dipakainya, kemudian mencium mata kaki kirinya. Dia melihat Luna yang bernafas tak beraturan dengan kedua telapak menutupi mulutnya. Tak hentinya nafas Kyle tersengal melihat penampakan indah dari atas hingga bawah yang hanya meninggalkan g-string hitam menutupi sensitifnya. Dengan sendirinya, Tangan Kyle mulai meraba kaki hingga ke atas paha Luna yang ramping.


"aaaaaaaahhh!" teriakan Luna yang seirama dengan tangan Kyle yang berjalan ke arah pahanya.


Dia lalu menjulurkan lidahnya untuk menyumbui pahanya. Kepalanya yang semakin ke atas membuat teriakan manja Luna semakin keras. Lalu kedua tangan Luna mulai meremas rambut cokelatnya.


Nafas kencang dari Kyle mulai terasa dari paha Luna. Dia tak berhenti mengerang nikmat karena nafasnya terasa panas di bagian sensitifnya. Jemari Kyle yang mulai meraba tali g-string di pinggulnya, membuat Luna menggigit bibir bawahnya. Kemudian terasa dingin di pusar Luna karena lidah Kyle mencium tepat di atasnya. Kenikmatan yang ditimbulkan membuat teriakan Luna semakin kencang memanggil namanya.


"Moza aaah!"