
Jam di laci sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Luna yang terjaga setelah mimpi buruknya, melihat ke jam tersebut. Dia bangun dari ranjang, meregangkan tubuhnya yang kecil, kemudian memakai slippers. Berdiri menuju jendela untuk membuka tirai, melihat sesaat pagi yang berkabut hari ini. Dia kemudian mencium aroma wangi dari dalam kamarnya. Dia berjalan keluar kamar dan segera menuju ke arah dapur. Lalu dia melihat lelaki tinggi dengan rambut cokelat berantakan sedang memasak di dapur.
"hai selamat pagi" sapa Kyle lembut
"hai selamat pagi...." Luna memperhatikan tubuh Kyle dari belakang. Kaos polos yang dia pakai cukup tipis untuk memperlihatkan otot punggung dan lengannya yang kekar. Tubuh yang tinggi, kakinya yang jenjang, tampak nyaman untuk dilihat oleh mata Luna.
Sudah berhari-hari dia menginap di apartemen Luna, dan sejak luka Kyle mengering, dia mulai bekerja sebagai asisten pembantu untuk Luna. Dia memasak makanan untuk pagi, siang, dan malam hari, memanggang roti serta membersihkan buah untuk makanan mereka berdua. Dia juga membersihkan debu dan melakukan laundry, sesekali memeriksa pemanas ruangan secara berkala.
Lebam di wajah Kyle yang sudah memudar dan kini hanya tersisa wajah tampan dan kedua mata berwarna hazel. Luka yang mengering juga dapat digerakkan dengan leluasa. Luna yang melihat hal itu kagum dengan mental kesehatan yang dia punya.
"oh iya Kyle.... Mungkin nanti siang aku pergi dan pulang tengah malam" kata Luna yang masih melihat tubuh Kyle.
"kamu pergi bekerja?"
"bekerja? Oh iya aku bekerja nanti. Jadi kamu tak perlu memasak buatku, masak buat dirimu saja" Luna langsung menuju sofa di ruang tamu,
"bagaimana luka mu, Kyle?"
"sudah mengering semuanya, mungkin sedikit sakit jika tegosok kain, tapi sudah bisa aku mandi kan" lalu Kyle menaruh makanan di meja makan. Luna yang melihat hal itu langsung terdiam, Kyle langsung tersadar bahwa Luna membenci makan di ruang makan.
"aku hampir lupa hehe...." tawa Kyle gemas dengan kelakuannya,
"kalau kamu membenci ruang makan, kenapa tak merubah tempat itu saja dengan yang lainnya?"
"nenekku yang masih suka makan di tempat itu kalau dia mampir kesini" Luna yang menjawab, langsung mengambil makanan di depan,
"nenek mu? Aku kira kamu tak ada keluarga lain disini" tanya Kyle penasaran. Luna yang mendengar hal itu langsung berhenti mengunyah.
"oh hahahaha... Aku lupa bilang kalau nenek juga ikut bekerja sebagai tenaga asing disini, aku memboyong dia untuk pindah kesini...." Luna mengunyah terlebih dahulu,
"ini enak! Serius! Tak salah aku merekrut mu bekerja disini..." Luna tersenyum manis ke arah Kyle.
"grazie signora...." Kyle tersipu malu melihat senyum manis luna di sampingnya. Dia melihat cara makan yang anggun, mengunyah dengan posisi badan yang tegap dan posisi menunduk ketika mengambil makanan di meja yang lebih rendah dari posisinya.
"maksud mu membawa serta nenekmu untuk bekerja... Lalu bagaimana keluargamu yang lain?"
"mereka semua meninggal karena kecelakaan" jawab Luna dengan suara datar, untuk sesaat Kyle melihat wajahnya yang menunduk di piring, seolah menghindari pertanyaan tersebut.
"aku tak apa-apa, tak perlu meminta maaf, lagipula itu sudah lama, jadi aku sudah terbiasa" Kyle yang mendengar ucapan tersebut langsung terdiam, melihat senyuman Luna yang dipaksakan. Lalu keduanya melanjutkan kembali memakan sarapan dan terdiam tanpa pembicaraan.
Luna sudah selesai berdandan menggunakan dress panjang dan tak lupa membawa jas tebal untuk menghangatkan tubuhnya. Rambutnya yang panjang di cepol ke atas menyisakan sedikit rambut di bagian depan, anting emas menghiasi kedua telinganya, dan kalung tipis yang menyatu indah di lehernya. Dia tak lupa menyisipkan pistol dan pisau di samping kedua paha, menggunakan high-heels yang membuat kakinya terlihat jenjang. Kini dia berubah bak putri yang anggun, dress satin mengkilap berwarna hitam seperti galaksi luar angkasa. Dia melihat dirinya didepan cermin tinggi di pojok kamarnya untuk melihat kecantikannya dan tak lupa memakai lipstik merah. Kemudian Luna akhirnya keluar dari kamar, membawa tas kecil yang dia sampingkan di sebelah kanan.l dan segera menuju keluar untuk menemui Kyle yang tengah terduduk di ruang baca.
"Kyle aku berangkat dulu, tak perlu menunggu ku, tidur lah terlebih dahulu jika kamu mengantuk" Luna menghampirinya dan membuat Kyle terdiam cukup lama melihat dirinya.
"Kyle.... Kyle!" teriak Luna,
"maaf aku......" Kyle menelan ludah melihat sesosok wanita cantik dengan gaun yang pas dengan tubuhnya, sepatu tinggi dan lipstik merah membuat dia tak bisa berhenti mengaguminya.
"baiklah Luna.... Tapi, apa pakaian pengawal seperti itu?" tanya Kyle yang masih memandang tubuh Luna yang seksi,
"hari ini aku bertugas untuk menjaga atasan ku di perjamuan, jadi aku menyamar menjadi sekretarisnya"
"b...baiklah, semoga beruntung Luna"
Kyle tersenyum manis ke arah Luna. Luna yang memperhatikan senyuman itu, dengan mata yang sedikit tertutup, sangat mirip dengan seseorang di masa lalu. Luna langsung memalingkan wajah dan pergi meninggalkan Kyle tanpa menyapa.
Hati Luna berdegup melihat senyuman yang sama. Rambut cokelat yang sedikit berantakan, mata yang setengah tertutup ketika tersenyum membuat dia bingung dengan Kyle. Dia terdiam di dalam mobil, memikirkan senyuman Kyle yang nampak sama dengan Moza.
'Kring. Kring. Kring'
Suara telepon berbunyi menyadarkan lamunannya, dia melihat nama Marco muncul dan juga beberapa missedcall yang dia lewatkan.
"ciao Marco, aku baru saja berangkat, tak perlu menjemputku kesini.... ya baiklah, addio!" Luna segera menutup teleponnya dan pergi meninggalkan garasi apartemen.
Setibanya di kastel neneknya, Luna melihat begitu banyak mobil mewah di depannya terparkir dengan rapi. Penjagaan di luar kastel semakin ketat mengingat acara lelang yang diadakan oleh keluarga Brown setiap musim dingin. Hari masih siang, namun beberapa tamu mencoba untuk datang lebih awal menikmati ladang anggur yang tertutup salju sambil berjalan, atau melihat anggur yang sudah dipanen, dan juga membeli beberapa botol dari gudang di samping kastel.
"selamat siang nona Brown..." salah satu penjaga berpakaian formal menghampirinya yang sedang mencari tempat untuk mobil sedannya.
"hai...." Luna menyapa dengan sifat dinginnya, dia melihat-lihat persiapan yang dikenakan oleh pengawal tersebut.
"maaf membuat nona menunggu, biarkan kami yang memarkirkan kendaraan nona..." kemudian salah satu asisten menghampiri dan membukakan pintu untuk Luna. Dia masih melihat-lihat mobil mewah dan beberapa orang yang berpakaian mahal.
"kalian jangan lupa untuk berjaga di radius 500 meter, bawa juga anjing pelacak serta hubungi Paman Daniel untuk selalu mengecek di ruang cctv" perintah Luna,
"baik nona!" teriak serentak pengawal yang berada didepan Luna. Kemudian Luna berjalan masuk ke melewati mobil mewah yang terparkir di depan.
Marco mencoba menghubungi Luna kembali, namun tidak dia angkat. Dia kemudian menemukan Marco yang berdiri di samping pintu kastel dengan jas hitam elegan dan rambut yang tertata rapi, melihat cemas ke arah Luna.
"apa kamu baik-baik saja?" Marco langsung menghampirinya seraya mengecek keadaan Luna.
"apa maksudmu? Aku berdiri tepat di depan mu sekarang"
"kamu menolak dijemput untuk acara penting seperti ini, aku takut kamu mengalami sesuatu"
Luna yang mendengar hal itu langsung terdiam, karena dia belum memberitahu tamu asing yang tinggal di apartemennya. Luna menatap Marco sesaat dan melihat wajahnya yang cemas,
"aku hanya ingin menyetir saja untuk hari ini, tak perlu berlebihan"
Luna tetap menjawab dengan dingin, menonjolkan tulang pipi yang tajam namun terkesan anggun. Tubuhnya yang seksi terlihat bak bidadari, kaki jenjang dan leher yang semakin terlihat indah karena rambut hitam panjangnya yang di cepol.
"baiklah nona Brown, silahkan masuk, Nyonya sudah menunggu anda di dalam" Marco membungkuk kan badannya, seraya mempersilakan Luna untuk berjalan terlebih dahulu.
Marco yang berada di belakang Luna, kini memandangi tubuh Luna dari belakang yang berjalan melenggak-lenggok menggunakan sepatu tinggi, dengan rambut hitam nya menambah kesan berwibawa namun tetap seksi. Leher Luna yang panjang, sangat terlihat indah dari belakang. Dipadukan dengan kulit putihnya yang mulus, membuat Marco tak berhenti menatapnya. Sesekali dia berbicara dengan alat bicara di kupingnya, namun matanya tetap tertuju pada atasannya tersebut.