
Salju pertama turun melewati jalan Scalla, terlihat dengan jelas putihnya salju melalui kaca dashboard mobil Luna. Dia melihat ramainya jalan ini sembari menunggu lampu lalu lintas bekerja. Ramainya kendaraan dan pejalan kaki di siang ini, tak membuat mereka takut akan dinginnya musim salju pertama. Terlihat beberapa pasangan yang berjalan menggunakan jaket dingin dan saling bergandeng tangan, tertawa dan berjalan ke tempat yang mereka tuju. Sekelompok remaja wanita bergerombol menantikan salju pertama di tepi jalan, bercanda dan tertawa riang membicarakan tentang para lelaki di kampusnya. Kemudian terlihat lelaki tampan menggunakan jas formal berdandan rapi, berjalan cepat serta membawa buket bunga daisy berawarna pastel. Lelaki tersebut nampak bahagia melirik bunga dan melihat jam tangannya, kemudian terburu untuk menuju ke arah Seine's Restaurant.
Suasana siang hari yang ramai di pusat Florence, tepat di depan Piazza St. Lorenzo, dipenuhi turis yang berfoto mengabadikan katedral tersebut. Polizia, mengatur lalu lintas yang padat dan sesekali memberi petunjuk kepada pejalan kaki serta turis yang tersesat. Luna memperhatikan suasana ramai yang dilihat didepanya. Terfokus dengan pasangan yang bergandeng tangan dan dibelakangnya terdapat pejalan kaki yang membawa keluarga lengkap, berjalan bersama menenteng tas belanja, bercanda dengan kakek dan neneknya, kemudian sang ayah mengangkat saudara kecilnya yang merengek kelelahan. Luna melihatnya dan mengingatkan tentang masa lalunya, bercanda, berbelanja bersama, dan rasa kehangatan yang sama.
Luna akhirnya tersadar dan melanjutkan untuk menyetir mobilnya sendiri setelah berbelanja kebutuhannya yang akan digunakan beberapa minggu ke depan. Dia terpaksa membeli kebutuhannya sendiri, karena dia harus membeli beberapa pasang pakaian dan set celana lelaki, jaket hangat dan sweater. Membeli selimut dan 3 pasang sepatu lelaki. Membeli sayur, jus, dan sereal, serta kebutuhan lainnya untuk memenuhi lemari pendingin. Menyiapkan perabotan baru untuk tamu barunya yang akan tinggal untuk sementara waktu di apartemennya. Biasanya dia hanya perlu menghubungi Marco atau asisten pembantu di kastel neneknya untuk mengantar kebutuhanya, dan jika terpaksa harus pergi berbelanja, dia hanya pergi sekali atau dua kali untuk berbelanja sendiri dan itupun Marco yang menemaninya, namun dia tak ingin memberitahukan kepada siapapun, khususnya kedua neneknya, agar mereka tidak mencari lebih tahu tentang tamu lelaki asing tersebut.
"aku memang bodoh..." desis Luna sambil tersenyum. Sesekali mendongak ke atas untuk melihat awan mendung dan salju yang turun semakin deras.
"ciao dottore" sapa Luna melalui teleponnya, "bagaimana keadaannya cervo sekarang? si..si.. Baiklah aku akan sampai sebentar lagi. Si"
Luna segera menutup telepon genggam miliknya dan melesat menuju apartemen. Beberapa saat setelahnya, dia sudah sampai didalam garasi, kemudian membawa semua tas belanjanya masuk ke dalam ruangan utama. Terlihat sang dokter keluar dari bilik kamar tamu dan memasukkan stetoskopnya, dua suster keluar beberapa menit kemudian dan membawa dua kantong bekas infus.
"bagaimana? Apa si cervo sudah bangun?" tanya Luna dan segera menaruh tasnya ke sofa.
"seharusnya lelaki rusa milikmu sudah bangun hari ini, kamu bisa menunggu beberapa jam. Aku sudah memberi penenang dan antibiotik jadi dia akan baik-baik saja" lalu sang dokter mengeluarkan resep dan memberikannya ke Luna.
"Josh, kamu tahu kan ini rahasia kita berdua" Luna melirik ke dua suster tersebut, "maksudku rahasia kita berempat" dia mengedipkan mata kanannya dan tersenyum.
"baiklah akan aku rahasiakan dari kedua nenek cantikmu itu, tapi kamu harus rajin memberinya obat. Mereka sudah menaruh obatnya di kamar dan jumlah dosis untuk beberapa minggu ke depan"
"kami akan mengecek keadaanya untuk dua hari ke depan, dan mohon hubungi kami jika nona mengalami kesulitan" jawab salah satu suster tersebut.
"baiklah aku mengerti. Aku sangat berterima kasih padamu Josh. Aku harus menebus dengan apa untuk mu?"
"kamu bisa makan malam dengan ku, bagaimana?" Josh mencoba menggoda temannya itu, memainkan kedua alisnya untuk menggoda Luna.
"ya baiklah, kalau aku ada waktu"
"huuuufffttt" desis jengkel Josh, "masalahnya kamu selalu tak pernah punya waktu..."
Kini mereka berdua duduk di sofa dan meminum wine yang ada di meja tersebut. Luna duduk menyilangkan kedua kakinya, bersandar di punggung sofa dan memainkan gelas cembung yang penuh wine. Menutup kedua matanya dan menghela nafas panjang berkali-kali. Kalung mutiara yang kembang kempis bergerak sesuai irama dadanya, menarik perhatian Josh yang kini terfokus melihat kondisi sahabatnya. Dia selalu bertanya hal yang sama berkali-kali dalam tiga hari yang lalu,
'apa kamu gila? Kamu yakin?' atau,
'apa ini Luna yang aku kenal?' atau,
'kamu serius?'
Namun untuk hari ini Josh memilih diam dan lebih memperhatikan betapa menawannya Luna dari dekat. Berkat cahaya lampu kristal yang pas dan dipadukan terangnya pantulan cahaya dari jendela kaca di belakangnya, memantulkan kulit putih Luna, rambut hitam terurai yang disampingkanya ke arah kiri, terlihat kedua anting emas panjang menambah anggunya wanita yang ada di depannya.
"kamu mau mengolokku lagi?" tanya Luna yang masih menutup matanya. Dia tahu bahwa sahabatnya itu melihat cukup lama.
"hah?" Josh segera meneguk wine yang ada di gelas tangan kirinya, "tidak sama sekali haha, aku hanya takut otakmu terbentur atau tertukar dengan rusa di Hutan Timur" jawab Josh dan tersenyum melihat Luna. Sesekali dia mengalihkan kedua bola matanya agar tidak terlalu tertegun melihat keindahan di depannya.
"aku juga masih tak menyangka dengan diriku sendiri tiga hari yang lalu" lalu Luna membuka matanya dan melihat ke arah ruangan di depan,
"aku kira peluruku yang membuat dia jatuh, ternyata seseorang membuangnya di hutan itu. Seharusnya aku membawa tubuh rusa untuk pulang, malah yang aku dapat adalah tubuh manusia, ckck"
"apa yang kamu pikirkan? Bahkan dulu kamu tak pernah peduli saat seseorang dipukuli hingga babak belur di depanmu?" tanya Josh serius.
"aku hanya berpikir dia sudah mengotori gelang kaki yang ada di pergelangan kakiku dengan darahnya, jadi aku meminta ganti rugi saat dia bangun nanti. Sialnya aku tak menemukan uang atau kartu apapun disana" jawab Luna sembari menggoda pertanyaan Josh kepadanya.
"apa kamu ingin aku melihat isi otakmu sekarang? Kamu bahkan tak peduli dengan uang ratusan miliar, aku rasa otakmu sudah terjatuh di jurang itu" Josh sekarang terlihat kesal dengan candaan Luna, dia terlihat khawatir dengan keadaannya yang tak sama dengan 5 tahun lalu.
"apa kamu berpikir bahwa lelaki itu mirip seseorang?" kini tubuhnya bergeser lebih dekat dari sebelumnya. Membuat tangan Luna berhenti menggoyangkan gelas wine yang sudah tersisa setengah ditangan kanannya. Luna menatap wajah Josh yang melihatnya dengan tatapan serius.
"aku bahkan tak tahu dia siapa, bagaimana aku bisa mengenalinya pada saat wajahnya babak belur?" Luna menjawab kekhawatiran Josh agar tak menyebut nama lelaki yang ada diingatanya.
"aku tak ada waktu untuk itu, Josh. Aku sedang sibuk menghajar beberapa orang untuk saat ini" Luna tertawa untuk membuyarkan keseriusan wajah Josh yang terus menatapnya. Josh kini menjauhkan tubuhnya dan menegakkan punggungnya di kursi sofa.
"ya aku tahu, hajarlah mereka sepuasmu. Tapi jika kamu datang dengan wajah babak belur ke rumah sakit ku, aku akan menyuruh suster dan pengaman untuk mengusirmu..!"
"apa kamu serius berkata begitu?" Luna mencoba untuk menggoda sahabatnya kembali, dan kini tubuhnya yang mendekat ke Josh.
"ah bodohlah, aku tak peduli" dia berdiri kesal dan merapikan tas dan jasnya ke lengannya. Dia memberi isyarat ke dua suster yang berdiri di kursi dapur untuk pergi dari apartemen Luna.
"aku pergi saja, susah sekali berbicara dengan Brown, kalian semua keras kepala, bye" Josh berbalik dan berjalan menuju pintu keluar bersama kedua suster tersebut.
"jangan lupa resep dan kertas yang aku berikan, jika sampai lupa buang saja tubuhnya lagi ke hutan. Jika kamu kesulitan jangan lupa hubungi aku, atau aku blokir namamu kalau tak menelepon ku!" Josh berteriak sembari berjalan keluar. Dia tak memalingkan wajahnya sama sekali ke Luna dan segera menutup pintu tersebut. Luna hanya tersenyum melihat sifat kekanakan sahabatnya itu. Dia tahu, bahwa Josh sangat peduli dengan dirinya, bahkan ketika Luna datang untuk pertama kalinya ke Itali.
Luna mengenal Josh ketika dia datang ke Italy untuk belajar di kampus yang sama. Namun mereka hanya dua kali didalam kelas yang sama, yaitu virologi dan botani. Luna masih sangat muda saat itu, dia lulus sekolah lebih awal karena mengikuti kelas akseleratif, dan ketika tiba di Italy dia terlihat sangat muda dari yang lainnya yang ada di kelas tersebut. Joshua Martén, lelaki pertama yang mengajak Luna berbicara di kelas tersebut, membuat lelucon, dan bahkan selalu mengikuti Luna jika kelas selesai. Tetapi mereka mengambil jurusan yang berbeda, Josh mengambil kedokteran umum kemudian dilanjutkan dengan ahli bedah, sedangkan Luna mengambil biologi botani. Saat itu Luna sangat malu untuk berbicara dengan siapapun, dan hanya berbicara kepada profesor jika ada hal yang dia tak tahu. Joshua lah teman pertama Luna setelah Marco, pengawalnya. Dan seiring waktu yang ada, Josh akhirnya mengetahui silsilah keluarga Luna.
Luna terdiam dan menghabiskan wine yang ada digelasnya, melihat pintu yang tertutup dan suasana hening ketika Josh pergi. Kemudian dia mengambil kembali tas belanja dan masuk ke dalam kamar tamu. Dia membuka pintu tersebut, melihat lelaki itu tertidur karena infus yang Josh berikan. Perban putih ditangan, dada kanan, dan pahanya, membuat Luna terpaku, berpikir sesaat bahwa lelaki itu cukup kuat untuk bertahan di akhir musim gugur. Dia kemudian menata pakaian dan sisanya ke dalam ruangan pakaian. Ruangan tersebut seperti kamar rahasia, dengan ukuran yang lebar, setengah dari kamar tamu tersebut. Dia menata serasi mungkin dan mencoba mengingat kegiatan pembantu di kastel neneknya.
"apa seharusnya aku letakkan saja disini?" Luna diam sejenak, "hhhhhhh" dia menarik nafas panjang dan kemudian tetap melanjutkan menata belanjaanya kembali. Setelah beberapa menit di dalam ruangan tersebut, dia kemudian keluar dan menutup pintunya. Luna terkejut bahwa lelaki asing tersebut sudah duduk di tempat tidur. Bertelanjang dada dan hanya di tutupi selimut abu-abu tebal. Luna terdiam tepat didepan pintu memperhatikan lelaki tersebut dari jauh. Rambut cokelat berantakan, tubuh yang penuh balutan perban namun masih terlihat struktur tubuh yang gagah dan atletis, nafas yang kembang kempis teratur terlihat di dadanya.
"tu chi sei?" tanya lelaki tersebut. Cahaya lampu yang padam membuat sisi wajah tersebut tertutup dan hanya tersisa bayangan dari tubuhnya.
"apa kamu masih tak mengenal hutan itu? Jika dilihat dari aksen bicaramu, kamu berasal dari Perancis, benarkan?" dia melihat tajam berusaha melihat mimik wajah lelaki yang dia bawa ke apartemennya, namun dia tak bisa menghindari untuk melihat tubuh kekar penuh perban dari lelaki asing itu.
"apa pedulimu? Kenapa kamu biarkan aku hidup? Seharusnya biarkan aku tetap mati saja..!" lelaki tersebut mulai berteriak. Meskipun teriakannya masih lemas dan parau, dia mampu membuat Luna terfokus melihat mimik wajahnya. Kini wajahnya didekatkan dan terlihat jelas dari cahaya yang dipantulkan dari jendela sebelah kanannya. "ouch..." dia mendesis kesakitan karena luka di dadanya.
"kalau kamu ingin mati dan menyesal karena aku menyelamatkanmu, cobalah bergerak sebanyak mungkin dan jangan meminum obat di sampingmu. Aku tak akan menghentikanmu" Luna berjalan keluar dan membanting pintu. Tak menghiraukan lelaki itu lagi. Menutup dengan keras hingga getarannya menjatuhkan foto keluarganya yang ia letakkan di laci sebelah pintu tersebut. Dia menoleh dan membiarkan foto tersebut tengkurap, dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Dia menghela nafas panjang dibalik pintu kamarnya. Menggigit bibir bawahnya dan membanting tubuhnya ke ranjang empuk dibalut bedcover berwarna biru safir. Dia menutup matanya dengan lengan kiri dan menggelengkan kepalanya.
"dia gila..."
"Tidak...aku yang gila telah menolongnya..." dia menghela nafas,
"apa aku harus menembaknya saja sekarang.." Luna melihat ke atap apartemennya. Mencoba memikirkan ucapan lelaki tersebut. Kemudian dia duduk dan berjalan keluar untuk menghampiri lelaki asing itu kembali.
"baiklah, signor cervo" teriak Luna seraya mendekat ke ranjang lelaki tersebut.
"kamu tahu, aku membawa mu kesini karena kamu telah mengotori gelang kakiku dengan...mmm..darahmu.." Luna kini sudah duduk di ranjang samping, mendekatkan wajahnya untuk melihat ekspresi lelaki itu yang masih terdiam,
"aku mencari dompet mu atau kartu kredit, tapi aku tak menemukan apapun, jadi aku meminta ganti rugi untuk itu"
Kini lelaki asing itu terdiam dan melihat wajah Luna yang asing baginya. Dia melihat cukup lama, memperhatikan rambut hitam dan seluruh aksesoris yang menempel di tubuh indah Luna, aksesoris kalung mutiara yang berpadu dengan belahan dada yang kencang, membuat dia menelan ludahnya dan terlihat bergerak di kerongkonganya.
"luka mu baru saja dibersihkan, jadi diamlah dan minum obat mu. Berhentilah berteriak membuat kekacauan, nanti mereka mengira bahwa kita bercinta" Luna menggoda lelaki asing tersebut dan menelaah wajah lebamnya yang sekarang sudah mulai terlihat jelas. Dia memperhatikan rambut cokelat yang berantakan, bola mata berwarna hazel yang terlihat jelas dari cahaya jendela luar, badan yang penuh lebam di bagian bahu namun masih terlihat kekar, punggung yang lebar dan struktur dagu yang tajam, membuat Luna mengingat seseorang yang dikenalnya.
"cobalah untuk tidur beberapa jam, aku akan membangunkan mu nanti" Luna beranjak pergi untuk menjernihkan pikirannya yang tersihir oleh lelaki asing itu. Sebelum sampai keluar Luna kembali menoleh ke arah tubuh lelaki asing itu,
"oi lelaki rusa, kamu sudah tidur di situ selama 3 hari, jadi jangan banyak bergerak atau kamu akan pingsan... " kemudian Luna segera menutup pintu kamar. Dia menghela nafas sesaat dibalik pintu, kemudian berjalan ke kamarnya untuk membersihkan tubuh dan pikirannya.
Malam ini salju turun lebih deras dari siang tadi. Luna mengecek telepon genggamnya untuk melihat informasi yang diberikan Marco. Sesekali dia mengirim pesan kepada kedua neneknya, kemudian kembali mengecek suasana kota Florence dibalik jendelanya. Kedua tangan Luna disibukkan dengan rempah-rempah dan sayur yang dia racik di dapur apartemennya. Dia memasak makanan Asia untuk di makanya, dan juga pasti untuk lelaki asing yang terbaring di kamar tamunya. Setelah semua selesai, Luna mulai menata di nampan untuk membawa ke kamar lelaki itu.
"tunggu..."
Luna tiba-tiba berhenti setengah meter dari pintu tersebut,
"apa yang aku lakukan...merde! Sepertinya Josh benar, otakku terjatuh di jurang hutan" dia melihat kesal ke pintu tersebut, menghentakkan kedua kakinya bergantian karena kesal dengan kelakuannya sendiri.
Tok. Tok. Tok.
Luna mengetuk pintu, kemudian dia membawa masuk nampan yang berisi makanan yang ia masak. Dia lalu menghampiri lelaki tersebut yang berbaring tertutupi selimut. Tersisa hanya wajah hingga dada yang terekspos, membuat Luna mengernyitkan dahi.
'Apa dia sengaja untuk menggodaku...'
"Oi..signor cervo. Oi lelaki rusa, bangunlah" Luna memanggil lelaki asing tersebut dan meletakkan nampan makananya disamping ranjang.
Dia terbangun dan mencoba untuk menata badannya agar dapat sejajar dengan tubuh Luna. Tubuhnya yang tinggi membuat Luna tampak kecil dihadapanya. Kini cahaya lampu menyinari dengan jelas wajah dan tubuh lelaki asing yang ia panggil dengan sebutan Lelaki Rusa. Dia melirik ke Luna, namun bukan lirikan tajam yang ia berikan, akan tetapi lirikan lemas yang terlihat sembab di kedua matanya. Luna yang menyadari akan hal itu kini memalingkan wajahnya dan mulai menggerakkan piring makanan.
"makanlah, aku membuatnya sendiri" Luna menyodorkan piring didepanya. Lelaki tersebut terdiam, Melihat sesaat piring yang disodorkan oleh Luna.
"apa? Kamu melihat racun di piring ini?" Luna tersenyum. Kemudian lelaki rusa mengangkat tangan kanannya yang dipenuhi perban, dan tangan kiri yang masih bengkak. Luna menyadari apa yang dimaksud lelaki tersebut. Dia menghela nafas panjang dan mulai mengambil sendok.
"kamu masih tetap memakannya kalau ada racun di piring ini?" goda Luna kembali. Kini wajah lelaki tersebut melihat ke mata Luna. Tak berkedip dan tak mengeluarkan suara apapun untuk sesaat. Kemudian Luna menyodorkan sendok yang penuh dengan sup tepat didepan bibirnya.
"aku...aku minta maaf" suara parau yang terdengar didepan Luna.
"maaf aku meneriaki mu dan malah memarahi mu. Aku hanya..."
Sluuurrp.
Satu suapan penuh masuk kedalam mulut lelaki asing ini. Luna terpaksa memasukan makanannya ketika lelaki tersebut berbicara. Kemudian Luna menggerakkan bahunya untuk isyarat minta maaf kepadanya.
"maaf kan aku.... dan terima kasih" lelaki tersebut menelan dan melihat mata Luna. Kemudian Luna menyuapinya hingga sup itu habis. Setelah itu ia langsung mengambil obat yang di siapkan Josh untuk diminum. Dia mengecek dosis untuk malam ini. Namun lelaki itu masih melihat wajah Luna meskipun dia sudah selesai disuapi.
"siapa namamu?" tanya lelaki itu.
"untuk apa? Apa kamu mau mengumpatiku?" jawab Luna yang masih menata obat untuk dia.
Lelaki asing tersebut tersungging dan melihat obat yang disiapkan Luna. Kemudian melihat ruangan yang dia tempati, menelaah melalui jendela kemudian kembali ke wajah Luna.
"kenapa kamu memanggilku cervo? Apa aku terlihat seperti binatang rusa bagimu?" lelaki tersebut memiringkan kepalanya dan tetap mengunyah sisa makanan yang ada di mulutnya.
"namaku Kyle. Kamu bisa memanggilku Kyle" lelaki tersebut menyebut namanya. Luna yang dari tadi sibuk menyiapkan obat kemudian terdiam dan melihat wajahnya. Terdiam sesaat melihat struktur wajah yang masih lebam namun dapat dilihat lebih jelas.
"minumlah obat ini" Luna memberi beberapa pil untuknya, dan langsung memberikan segelas air putih dan tisu agar tidak tumpah mengenai luka di tubuhnya. Lelaki tersebut tampak menuruti apa yang Luna perintah. Kemudian menyandarkan kembali kepalanya ke ranjang. Luna membantu merapikan selimut yang dia pakai. Kemudian membantu merapikan agar dia tidak kedinginan karena tubuhnya yang masih bertelanjang dada. Kemudian Luna memperhatikan wajah lelaki rusa yang terbaring dan mereka terdiam melihat satu sama lain.
"namaku Luna. Panggil saja Luna" Luna tersenyum dan kemudian keluar dari bilik kamar tersebut. Kini ia terbaring di kamar masing-masing, menyusun alasan-alasan jika lelaki rusa itu menanyakan hal yang aneh.