
"Arvin? Apa yang kamu pikirkan tentang saya?" Tiba tiba saja om Arwin menanyakan hal itu padaku. Aku pun kaget dan sempat gelapan menjawabnya
"Ah, t ti tidak ada om. Sa sa saya tidak memikirkan om" ucapku.
"Ha! Bagaimana bisa kau tidak memikirkan ku? Apa kau tak menghargai ku sebagai ayahnya Nara?" Sahut Om Arwin
Belum sempat aku membalas ucapan om Arwin, tiba tiba Nara berbicara "ayah.... Memang benar yang di katakan sama Arvin, memangnya Arvin harus memikirkan apa tentang ayah?"Sahut Nara
"Sudah sudah.... Kamu ini" ucap Dokter Fey menasehati suaminya. "Arvin .. maafkan kami ya. Silahkan dilanjutkan makanannya"
"Iya tante" ucapku. Karena aku didekat Nara, aku bisa modus sedikit dengan Nara tanpa om Arwin mengetahuinya.
Tiba tiba saja aku ingin menggenggam tangan Nara. Aku pun memberanikan untuk diri untuk memegang tangan Nara dan ku arahkan ke bawa agar tak ada yang tau.
Lalu Nara pun tersenyum padaku, dan aku membalas senyuman Nara. Lalu aku melanjutkan makanku dengan satu tangan.
"Ehe'hem 🤨"
Tiba tiba saja om Arwin berakting batuk dan melihat ku dengan wajah seperti itu. "Ada apa lagi sih..." Pikirku sepertinya om Arwin curiga denganku
"Kamu kalo keselek nih minum" ucap dokter Fey sembari memberi gelas yang berisi Air dan memaksa Om Arwin untuk meminumnya.
"Apaan sih, uhuk uhuk kok kayak gitu kamu" sahut Om Arwin
"Pfffttttt" Nara tertawa kecil
"Arvin, kamu tinggal sama siapa dirumah?" Tanya om Arwin
"Ah, saya tinggal sendiri om" sahutku
"Apa!" Ucap om Arwin yang ingin marah padaku
"Wahhh Arvin kamu berani ya tinggal sendiri gentleman banget kamu" sahut Dokter Fey
"Nara, kamu tidak boleh lagi kerumah Arvin, bahaya kamu anak perempuan"
"Apa sih lebay banget, orang anak muda biasalah.... Kalo Tante sih suka laki laki yang kayak Arvin" sahut Dokter Fey
"Apa? Bisa bisanya kamu menyukai anak kecil seperti dia" sahut Om Arwin
"Memangnya kenapa, Nara juga suka sama Arvin karena kepribadian Arvin yang sangat gentleman"
"Aku kan juga gentleman"
"Enggak kamu nggak gentleman"
"Terus apa?"
"Kamu laki laki galak dan pemarah"
Aku dan Nara Diam tak berbicara apapun, menyaksikan kedua orang tua Nara yang sedang ribut.
"Sudahlah... Ayah ibu...." Sahut Nara
Aku begitu sangat senang bisa dinner dengan keluarga Nara meskipun ayahnya begitu sangat galak. Entah kenapa hatiku begitu sangat sejuk dirumah ini.
Tak lama kemudian, Kami pun telah selesai makan. Sebelum aku pulang tiba tiba dokter Fey menyuruhku untuk menunggunya.
"Arvin, tunggu sebentar disini ya?" Ucap dokter Fey
"Ah, i iya tante" sahutku
"Mau kemana kamu" sahut Om Arwin, namun Dokter Fey tak menghiraukannya
Aku begitu menahan tawa, ternyata om Arwin begitu sangat bucin dengan Dokter Fey. Keluarga Nara memanglah lucu.
Tak lama kemudian, Dokter Fey kembali ke meja makan dan memberiku sebuh kotak "Arvin, ini Salad buah dan sayur, kamu harus makan ini ya, biar sehat" ujarnya
"Ah, terimakasih banyak tante. Tante nggak perlu repot-repot" ucapku dengan setulus hati. Aku benar-benar tidak menyangka bagaimana bisa ada seorang seperti dokter Fey.
"Hati hati kamu jangan terlalu banyak senyum" sahut Om Arwin dengan wajah yang garang
"Ah iya Tante, om terimakasih banyak, saya pulang dulu" ucapku. Aku pun diantarkan pulang dengan kedua orang tua Nara sampai depan rumah. Lalu Nara juga melambaikan tangannya untuk ku.
***
Sesampainya dirumah, aku langsung membuka apa yang Dokter Fey berikan padaku. Saat aku membukanya aku begitu sangat merasa senang.
Dokter Fey memberiku sebuah salad sayur dan buah dengan potongan yang sangat rapi. Karena malam ini aku sudah kenyang, aku masukkan Saladnya ke kulkas dan akan ku makan besok pagi.
Lalu aku pun Pergi ke kamarku untuk mandi dan merapikan diriku. Malam ini adalah malam yang sangat bahagia untuk ku. Aku tidak merasa ngantuk karena aku baru saja bangun 3 jam yang lalu.
Karena malam ini bagiku malam dimana aku penuh dengan teman. Aku tidak sendirian lagi, bahkan aku mendapat perhatian dari seseorang yang seperti ibu.
Selesai mandi, aku berbaring di ranjangku dengan menyalakan musik yang slow malam ini. Badan ku rasanya segar, hatiku sangat sejuk, selimut yang ku pakai sangat hangat. Pikiran ku tenang. Aku suka zona ini. Perlahan lahan aku pun ketiduran.
***
Keesokan harinya
Nara pov
Hari ini seperti biasa aku bangun pagi karena aku akan pergi ke sekolah. Aku merapikan tenis tidurku dan segera mandi. Setelah itu aku pergi ke bawah untuk sarapan.
Setibanya di meja makan, Ternyata sudah tidak ada orang yang ada dimeja makan. "Mungkin ibu dan ayah sudah berangkat bekerja" pikirku
Aku pun menyelesaikan makanku dan langsung pergi kesekolah. Hari ini aku pikir aku akan berangkat bersama Arvin, namun Arvin tak memberitahu ku. Saat ku telpon tak Aktif, lalu aku pun memutuskan untuk naik bus.
Saat aku keluar dari rumahku, tiba tiba saja ada mobil datang dirumahku. Aku tau itu mobil ayahku "kenapa ayah balik lagi?" Batinku
Lalu ayah membuka kaca mobilnya "Nara, ayo masuk nanti telat" ujar ayah. Aku kebingungan namun aku menuruti perintah ayahku.
Aku pun masuk ke mobil ayah. Saat aku masuk, aku kaget tib tiba ada Arvin di sampingku. "Ha? Arvin?" Ucapku pelan sembari melototkan mataku
Aku pun kebingungan, kenapa Arvin ada dimobik ayah "apa kau dimarahin ayah?" Tanyaku ke Arvin. Namun Arvin menggelengkan kepalanya sembari tersenyum
"Mana ada ayah memarhin Arvin" sahut Om Arwin yang mendengar pembicaraan Nara dan Arvin
Cerita dipagi Hari
Pagi pagi, tiba tiba Arvin mendapat telepon dari nomor tak dikenal "siapa ini?" Ujarnya. Lalu Arvin pun mengangkat telepon itu
"Halo"
"Halo Arvin, sudah bangun kamu" Arvin pun kaget mendengar suara itu, ia seperti mengenal suaranya
"Kamu nggak ingat suara saya? Kenapa diam saja?"
"Ah, iya ini Om Arwin ya... Ah,,, ada apa ya om pagi pagi telepon saya"
"Kirim alamat rumah kamu, saya akan menjemput kamu untuk pergi kesekolah bersama Nara"
Arvin yang mendengar itu pun sangat kaget "apa om? Mau menjemput sa saya? Memangnya kenapa om?"
"Banyak Nanya kamu, hari ini ada operasi, kamu kan belum punya SIM. Cepat mandi dan kirimkan alamat mu Tut!" ucap om Arwin, belum Arvin membalasnya om Arwin sudah mematikan teleponnya.
"Serius om Arwin, mau menjemput ku hanya karena itu, hanya karena aku belum punya SIM? Ini tidak masuk akal, bukankah semalam ia marah padaku?"
Arvin pun tak berfikir lama, ia langsung memutuskan untuk memberi alamat rumahnya, dan setelah itu ia segera mandi, agar om Arwin tak menunggunya terlalu lama.
...Terimakasih sudah membaca teman...
...Jangan lupa like, komen, vote, dan Favorit nya...
...Semoga kalian suka...
...Terimakasih...