
"Kenapa kau malah berbaring di atas rumput seperti ini. Jika kau tak bangun, bajumu bisa terkena kotoran kucing, burung dan hewan lainnya " ujar Arvin
Lalu aku melirik ke Arvin "kau ini tak tau ya bagaimana nikmatnya tidur di atas rumput"
Arvin yang semulanya menatap ku, ia pun langsung membuang muka "hah! Mana bisa ada kayak gitu yang ada malah kena kotoran" ucap Arvin sembari nyengir
Lalu aku pun bangun dari tidurku yang di atas rumput, tanganku bergerak memegang kedua pundak Arvin dan mendorong Arvin untuk tidur di atas rumput.
"Eh Nara, mau ngapain" ujarnya namun aku tetap memaksa Arvin untuk tidur di atas rumput, dan akhirnya ia pun menurut.
Lalu ia pun sekarang berada di posisi yang Tertidur di atas rumput bersamaku. "Gimana? Enak kan?" Tanyaku
Arvin tak menjawab yang pasti aku sudah tau bahwa Arvin sangat menikmati tidur di atas rumput sembari menikmati udara yang segar di sore hari.
***
Arvin Pov
"Mas mas.... Bangun...." Panggilan seseorang terdengar di telingaku yang sepertinya sedang membangunkan ku. Aku yang mendengar itu pun mulai membuka mataku.
"Byar" saat aku membuka mataku, aku kaget. Aku melihat bahwa langit sudah gelap. Lalu aku melihat di sekitar ku, ada Nara yang sedang tertidur.
Lalu ada seorang petugas berseragam seperti satpam berada di samping ku. "Syukurlah mas saya kira mas pingsan ternyata sudah sadar" ucap petugas itu
Lalu aku pun bangun dari tidurku "ah, maafkan saya pak, sudah malam ya..." Ucapku sembari melihat kanan kiri yang sangat indah karena banyak lampu yang menerangi
"Iya, saya pikir mas pingsan dari tadi sore datang nggak bangun bangun. Itu mbak nya juga nggak apa apa kan? Lain kali kalo tidur bawa tenda mas, biar lebih nikmat"
"Hahaha iya pak saya minta maaf membuat bapak khawatir" ucapku, lalu satpam itu pergi setelah membangunkan ku.
Lalu aku pun melihat kanan kiri yang saat datang masih sepi kini sudah mulai banyak orang yang datang, terlebih mereka semua seperti bersama pasangannya.
Lalu disamping ku, aku melihat Nara yang sedang tertidur pulas, aku tidak tega untuk membangunkannya, wajahnya sangat imut bagiku.
Lalu aku melihat jam yang ada di tanganku "ha? Syukurlah masih jam 19:00 belum jam 10 malam. Bisa mampus aku kalo pulang sama Nara di jam 10 malam" ucapku
Karena sudah malam, aku memutuskan untuk pulang, sebenernya aku masih ingin berasa di danau ini. Aku sangat suka tempat ini. Ada seseorang juga yang bermain piano, suasana sangatlah tenang dan romantis Karena dipenuhi banyak pasangan yang datang.
Aku tak membangunkan Nara, aku menggendongnya dan membawanya ke mobil. Lalu aku menyelimutinya dengan jaket yang ku bawa di mobil.
"Gara gara kamu sih ini aku jadi ketiduran di danau, memang benar katamu bahwa tidur di atas rumput sangat menyenangkan" ucapku sembari menatap wajah Nara yang Tertidur.
Lalu aku mulai menyalakan mobilku dan pergi mengantarkan Nara pulang "brrrmmmm" tak lama kemudian, belum sampai dirumah tiba tiba Nara terbangun.
"Ha? Arvin? Jam berapa ini?" Ujarnya yang melihat ke kaca mobil bahwa hari sudah gelap. "Baru jam setengah delapan malam kok" sahutku
"Ha? Bagaimana ini? Kok bisa sih kita ketiduran, kau kenapa tak membangunkan ku?" Ucapnya lalu tak lama kemudian, aku mendengar suara perut Nara berbunyi
"Krukkkk" memang benar hal itu wajar saja terjadi karena dari tadi siang aku yakin Nara belum makan. Dan pas sekali dari jarak tak jauh aku melihat ada sebuah Restoran kecil, lalu aku pun berhenti di sana.
"Tunggu disini ya?"
"Mau kemana?"
"Sebentar kamu disini aja"
Lalu aku masuk ke dalam Restoran itu untuk membeli burger dan minuman. Tak lama kemudian, aku pun kembali ke dalam mobil.
"Nih Makan dimobil, kamu laper kan?" Ucapku. Aku pun kembali menyalakan mobilku dan melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Aku yang semulanya memakan burger sembari menyetir, Tiba tiba Nara mengambil burger Yanga da di tanganku dan menyuapi ku makan.
"Biar aku aja ya yang suapin? Kamu fokus nyetir aja" ujarnya, lalu aku pun tersenyum dan mengangguk. "Kamu nggak usah khawatir biar aku aja nanti yang ngomongin sama orang tua kamu"
"Em? Haha nggak papa kok, paling ibu dan ayahku belum pulang. Paling nanti kita sampai rumah jam 8" ujar Nara
"Ah, pak Ayah dan ibu sudah pulang?" Tanya Nara ke satpam rumahnya
"Sudah mbak, Ayah dan ibu tadi pulang jam lima sore" ucap pak satpam
Nara yang mengira orang tuanya sudah pulang, ternyata salah. Justru malam ini orang tuanya pulang jam 5 sore. Aku pun tak mau melarikan diri dan ingin berkata maaf pada orang tua Nara.
"Nara udah gapapa aku aja yang ngomong"
"Ha? Nggak usah nanti kamu dimarahin ayah"
"Hey... Nggak, ayo kita masuk bersama" paksaku
Lalu aku pun ikut masuk ke dalam rumah Nara.
Di dalam, saat itu ada kedua orang tuanya yang sedang makan malam.
"Eh, Nara? Kamu baru pulang? Ayo sini makan malam bersama" ucap ibunya
"Ah, selamat malam Tante, om" ucapku Sembari membungkukkan badan
"Siapa itu? Temanmu? Atau pacar mu? Tanya Ayahnya dengan wajah yang sangat galak
Jujur, aku sangat kaget saat bertemu dengan mereka tapi aku nggak boleh takut. Lalu Nara menarik tanganku untuk lebih dekat dengan kedua orang tuanya.
"Silahkan duduk" ucap ibunya yang mengodeku untuk duduk. Aku pun duduk disamping Nara dengan menghadap ke ayah ibunya.
"Namamu siapa?" Tanya ibunya
"Ah, nama saya Arvin Tante?"
"Arvin? Keren sekali nama itu, tapi tidak bagi dirinya" ucap ayahnya
"Huss jangan kayak gitu lahh ini tamu" bisik dokter Fey menyenggol bahu Suaminya
"Ah, maaf Arvin. Itu hanyalah bercanda"
Aku tau wajah Ayah Nara sangat galak. Begitu juga dengan ucapannya, namun entah kenapa aku tak merasa sakit hati, tapi aku malah senang.
"Nara, darimana saja kamu, anak perempuan baru pulang jam segini. Masih pakai seragam lagi" ucap ayahnya yang mengomelin Nara
"Ah, maaf Ayah, Nara tadi..."
Belum selesai Nara berbicara aku memotong pembicaraan Nara. "Ah, maaf Om, Tante saya mengajak Nara untuk jalan jalan tadi sampai nggak sadar pulang sampai malam. Saya benar-benar minta maaf, kedepannya saya tak akan seperti ini lagi."
"Yakin cuma jalan jalan?" Tanya Ayahnya
"Iya om, kita hanya bermain sepulang sekolah"
"Biarin aja lah pah... Anak muda kan begitu" sahut ibu Nara
Entah kenapa dokter Fey begitu sangat ramah padaku. Bahkan aku bisa melihat dari wajahnya, ia sama sekali tak benci kepadaku. Ia pun juga tak merah kepada Nara.
Memang benar kata orang, dokter Fey adalah dokter yang baik, cantik dan keren. Tapi entah kenapa seorang Dokter Fey yang sangat baik bisa bertemu dengan ayahnya Nara yang sangat galak.
...Terimakasih sudah membaca teman...
...Jangan lupa like, komen, vote, dan Favorit nya...
...Semoga kalian suka...
...Terimakasih...