
Hampir setiap hari Alex datang ke tempat ini untuk menanyakan Neila. Tetapi Aiko masih memberi jawaban yang sama bahwa Neila belum kembali. Sejak hari Neila kabur bersama Jairaj itu, Alex sudah tidak pernah lagi melihat Neila. Dia berusaha mencari ke beberapa tempat sekitar kos-kosan ini tetapi tidak terlihat. Lelaki yang diam-diam memiliki rasa pada Neila ini tak kunjung lelah mencari Neila.
Dia juga tahu kalau Matthew juga masih ingin mencari Neila tetapi jadwal sekolah di Indonesia membawa mereka berdua harus kembali ke sana. Cowok yang sedang bersiap-siap belajar untuk IELTS ini masih belum bisa fokus pada latihan soal online yang ada di layar laptop depannya.
Nei.. kamu di mana?
Seluruh pesan whatsappnya pun masih centang satu. Pertanda pesannya tidak terkirim hingga saat ini. Apa dia sedang mematikan ponselnya karena ingin menyendiri? Alex bingung dengan semua ini. Misteri hilangnya Neila. Suara pesawat terbang terdengar dari dalam ruangan ini. Dari jendela kamar ini, sebuah pesawat terlihat di langit sana. Entah ke mana pesawat itu pergi, Alex tidak peduli. Dia kembali berusaha fokus pada latihan soal itu demi mengejar sekolah di luar bersama dengan Neila.
***
Di waktu yang sama, Matthew terus memperhatikan foto masa kecilnya bersama Neila dan Purim. Seandainya mobil saat itu tidak eror.. Seandainya Purim masih terselamatkan... Matthew tahu demi nama baik orang tuanya, dia tidak boleh menyebarkan kecelakaan itu pada siapapun. Cukup hanya orang sekitar mereka yang tahu. Jangan sampai menyebar lebih lagi. Nama baik demi usaha mereka yang sudah sangat sukses tidaklah dapat menggantikan rasa bersalah ini. Matthew merasakan terlalu banyak tuntutan demi karir orang tuanya. Di lubuk hati, dia ingin sekali mengakuinya dan meminta maaf pada Neila.
Aku enggak perlu akui, Neila juga pasti sudah tahu dari orang-orang. Dia menemui Neila di Singapore hanya untuk meminta maaf dan ingin memperbaiki hubungan mereka berdua yang sudah terbentuk sejak kecil. Karena kesalahan fatal ini, hubungan mereka menjadi hancur. Tanpa harus diucapkan, orang tua Matthew pun tahu perasaan Matthew pada Neila sangatlah spesial sejak dulu. Begitu juga perasaan Neila pada Matthew.
Matthew belum pernah mengungkapkannya pada Neila. Dia tidak berani menyampaikan isi hatinya ini karena takut merusak hubungan mereka sebagai teman sejak kecil. Tetapi yang merusak justru kesalahan fatal yang tidak dapat diperbaiki lagi ini. Tidak mungkin pula dia menghidupkan kembali orang yang sudah pergi ke dunia sana.
“Matthew, ayo makan.” suara seorang wanita terdengar dari balik pintu kamarnya.
Sudah pasti orang itu adalah ibunya.
“Iya, Ma! Matthew selesaikan dikit lagi!” balas Matthew. Dia ingin menyelesaikan nomor terakhir PR matematika ini. Tidak jauh beda dari Alex, Matthew juga tidak dapat fokus pada tugasnya ini. Tahun depan ia sudah harus persiapan UNAS. Matthew tahu tahun depan Alex akan menyusul Neila sekolah di negara singa itu. Dia ingin menyusul ke sana juga tetapi rasa bersalahnya membuat dia tidak percaya diri. Jangankan mendekati, untuk memperbaiki hubungan ini saja sudah membutuhkan mukjizat. Belum tentu Neila mau memaafkannya.
Setelah menyelesaikan soal nomor tiga ini, lelaki ini berjalan menyusul makan malam bersama orang tuanya. Makanan sudah tersedia di atas meja makan. Ibunya segera mengambilkan nasi dan meletakkannya di atas piring kosong. Tempat duduk yang berada di ujung kanan menghadap ke jendela ini merupakan posisi kesukaan Matthew sejak kecil.
“Ini sudah mama siapkan. Ayo makan. Mama masak sate kambing.”
Sebuah senyuman tersungging pada bibir Matthew. “Thanks, Ma.”
Matthew duduk di posisi tempat duduk kesukaannya ini. Orang tua Matthew masih merasa kalau semangat Matthew belum kembali seperti awal mula. Masih terlihat letih sejak kecelakaan itu.
“Katanya Alex anaknya pak Surya akan sekolah di Singapore, ya?” tanya Edmun.
“Iya, pa.”
“Kamu enggak mau sekolah di luar juga?”tanya Edmun.
Lidya merasa ganjil dengan tawaran itu. Dia tahu akan berat untuk Matthew sekolah di negara yang sama dengan Alex karena ada Neila. Kaki Lidya menendang kaki Edmun di bawah meja dengan pelan. Merasakan tendangan itu, Edmun sadar kalau tidak benar untuk membicarakan hal ini saat ini.
“Belum tahu, pa.”jawab Matthew dengan lemas. Selera makan menjadi lenyap seketika.
“Ya sudah. Kamu makan dulu. Sate handalannya Mama ini enak lho!”
***
Ruangan yang memiliki design simple modern ini sedang diramaikan oleh suara ketikan tangan banyak orang di atas keyboard komputer masing-masing serta suara printer yang sedang bekerja. Di dalam ruangan luas ini masih ada ruangan terpisah yang bersambung dengan ruangan ini. Hanya sebuah dinding dan pintu berwarna hitam yang menjadi penghalang antara dua ruangan ini.
Seorang pria duduk di dalam ruangan terpisah itu dan memandang pada pemandangan luar dengan tatapan kosong. Sebuah informasi yang tidak pernah dia sangkat terdengar semalam dari sekolah Neila. Suara ketukan pintu terdengar.“Permisi.” suara berat seorang pria lain terdengar dari luar.
“Ya.”
Donny, Asisten nan juga sekertaris Surya masuk ke dalam ruangan dan menundukkan kepalanya.
“Ada apa?”
“Selamat siang, pak Surya. Saya mendapatkan informasi penting mengenai Neila.”
“Apa?”
“Minggu lalu Alex anak pak Edmun dan Matthew anak pak Leo bertemu dengan
Neila di Singapore.”
Informasi ini membuat Surya tercengang. Dia sangat khawatir karena tiba-tiba tidak ada kabar dari Neila sama sekali sejak minggu lalu. Donny sudah mencoba menghubungi sekolah Neila dan hasilnya, sejak hari senin Neila tidak masuk sekolah. Tidak ada keterangan kenapa ia tidak masuk juga.
“Tolong hubungi mereka, saya ingin bertemu nanti sore jam lima di cafe La
Fonde.”
begitu, saya permisi terlebih dahulu.” Dia segera keluar dari ruangan ini dan
mendatangi sekolah Neila untuk menunggu mereka berdua.
***
“Sebelah sini.”tunjuk Donny. Dia mengantarkan Alex dan Matthew ke tempat Surya duduk menunggu mereka. Terlihat wajah pria tak asing di ujung sana. Alex dan Matthew tahu orang tua Neila karena orang tua mereka yang saling mengenal satu sama lain juga. Meski orang tua saling mengenal, Alex baru bertemu Neila saat SMA ini karena hubungan orang tuanya dengan orang tua Neila yang tidak
sedekat orang tua Matthew dengan mereka. Surya masih belum bisa memandang wajah Matthew terlalu lama. Terasa berat karena sebuah kejadian mengenai Purim itu. Oleh sebab itu saat ini, dia lebih banyak memperhatikan Alex. Matthew menyadarinya. Surya lebih banyak melihat pada Alex daripada dirinya tetapi dia juga tahu kalau dia yang merusak hubungan kedekatan mereka.
“Alex, Matthew.”panggil beliau sambil mengangkat tangan kanannya.
“Silakan duduk.” Surya menunjuk sofa panjang yang ada di depannya.
Mereka berdua duduk.
“Gimana kabar kalian? Sekarang kalian sudah besar, ya.”kata Surya.
“Baik om.”respon mereka berdua dengan sopan. Mereka tidak mengerti dengan pertemuan ini.
“Dengar-dengar, kalian habis dari Singapore, ya?”
Mendengar topik ini, mereka menjadi saling menatap sesaat.
“Iya, om.”
Surya pun mulai mengarahkan pembicaraan.
“Kalian bertemu dengan Neila?”
Mereka pun meresponnya. Surya kembali bercerita kalau biasanya dia kontak dengan Neila setiap malam. Namun, dari sabtu malam kemarin, Neila tiba-tiba tidak pernah menghubunginya lagi. Mereka juga bercerita saat itu ada pria yang tiba-tiba menarik Neila. Mereka coba mengejarnya tetapi tiba-tiba keberadaan mereka tidak terlihat. Tidak tahu juga di mana mereka bersembunyi saat itu.
Di hari Minggu, mereka juga sudah mencoba datang kembali ke kos-kosan Neila tetapi Neila tidak ada di sana. Sampai sekarang mereka juga tidak pernah kontak lagi dengan Neila. Surya merasa kecewa dengan jawaban ini. Tidak ada informasi yang dapat membantunya untuk mencari Neila.
***
Alex masih belum menyerah. Dia kembali ke Singapore di hari Sabtu pagi itu. Penerbangan hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Dia mengambil flight pagi agar memiliki banyak waktu untuk mencari Neila kembali. Setelah mengambil bagasi, dia segera mencari taxi untuk mengantarkannya ke tempat dia menginap. Dia menginap di hotel yang ada di seberang kos-kosan Neila.
Seusai dia check in, dia menitipkan barangnya di lobby dan bergegas menyeberang ke tempat Neila tinggal itu. Dia menemui wanita Jepang itu kembali. Aiko tetap memberi jawaban yang sama bahwa Neila belum kembali dan jika ia belum kembali saat kontrak sudah habis, kamar itu akan dia beri pada orang lain serta barang-barang Neila akan dia simpan di gudang hingga Neila
datang sendiri untuk mengambilnya. Alex tidak tahu lagi harus mencari di mana. Dia hanya turun dan berjalan di sekitar sana. Di tengah dia memperhatikan sekitarnya, terlihat seorang lelaki yang
sangat dia ketahui. Bukan dari Indonesia. Lelaki yang membawa Neila pergi. Pasti
dia tahu di mana Neila saat ini.
Tanpa pikir panjang, Alex langsung menyeberang jalan dan mengejarnya. Lelaki yang mengenakan celana selutut itu tahu kalau ada yang ingin mendekatinya. Dia memang sengaja menampakkan dirinya karena mendapatkan tugas dari Raja untuk membawanya dan memintanya menyampaikan pada Floria tentang keadaan ini.
Akan susah untuk menemui Floria di Indonesia karena saat ini Floria menjadi ibu rumah tangga dan jarang sekali membuka sosmednya. Apalagi suaminya, Surya yang sangat sibuk dengan pekerjaan. Tidak ada waktu untuk membuka sosmed. Hanya melalui ini mereka dapat mencari celah untuk berkomunikasi kembali pada Floria.
“Excuse me.”ujar Alex sambil memegang pundak Jairaj.
Jairaj segera memberikan respon pada panggilan itu.
“Are you the one who took Neila in last week?”
“Yes, I am. Do you want to meet her?”
“Of course. Tell me where she is.”
Tanpa mengucapkan kata, Jairaj berjalan ke arah barat. Alex tidak mengerti kenapa dia justru pergi.
“Hello. Where is she?”
“Just follow me!” soraknya tanpa menengok ke belakang.