Still Hope Again

Still Hope Again
bab 3. Neila dan Matthew



Setelah seminggu lebih Neila menyendiri di kamar, hari ke-sepuluh setelah kepergian Purim telah datang. Neila kembali menginjakkan kakiku di SMA ini.Teman-teman semua memperhatikanku dari kejauhan. Mereka terlihat kaget melihat Neila masuk lagi. Dea datang mendekatiku dengan antusias. Sebuah senyuman tersungging di bibir mereka berdua. Dia memeluk Neila.


“Neila.. aku kangen.”bisiknya pada telinga kiri Neila.


Neila balas bisikan itu. “Aku juga.” Kami berpelukan agak lama. Orang-orang sudah tidak lagi memperhatikan Neila. Mereka balik ke aktifitas mereka sebelumnya.


Dea melepaskan pelukan dan menemani Neila duduk di kursi yang biasa Neila gunakan. Tiba-tiba seorang lelaki dari kelas lain masuk ke dalam kelas mereka. Salah satu anggota OSIS yang sering mengantarkannya pulang seusai rapat OSIS. Alex.


Kaki Alex melangkah untuk datang mendekati gadis itu dan Dea.


“Neila. Kamu sudah masuk lagi?”tanya Alex


Neila hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu.


“Belum.”jawab Neila.


Mereka tercengang dengan jawaban iseng Neila. Sebuah tawa tertahan di dalam hati gadis itu.


“Hahaha.. ya sudahlah. Kalau belum, terus kalian lagi sama siapa?” canda Neila


berusaha memecahkan keheningan mereka.


Tawa menghiasi pertemuan ini. Hanya kurang satu orang yang sejak tadi menghindari Neila. Matthew. Dia hanya terus memperhatikan mereka dari kejauhan.


Di balik semua kejadian ini, apakah dia juga merasa bersalah? Neila ingin tahu apa yang dia rasakan. Teman-teman semua tahu tentang hal ini terutama mengenai penutupan kasus ini secara tiba-tiba. Matthew pun masih tetap dapat masuk ke sekolah tanpa ada hukuman yang dia terima dari kepolisian. Orang-orang yang ada di sekolah ini sudah mendengarnya sejak awal kejadian tetapi mereka juga hanya tutup mulut di depan kami terutama di depan Matthew. Yang pasti topik ini sempat menjadi pembicaraan banyak orang di sekolah.


***


Rutinitas kembali seperti biasanya. Sejak kemarin, Neila sudah mulai kembali ikut rapat OSIS. Dia mendapatkan bagian seksi kreativitas. Mereka bergegas membicarakan acara ulang tahun sekolah mereka bulan depan. Namun, ada yang mengusik perhatian Neila dan Alex sejak tadi.


Dari saat kelas usai tadi, Matthew terus menunggu Neila di depan pintu kelas 3-A. Ia memperhatikan Neila yang sedang dalam rapat OSIS dengan anggota yang lainnya. Hal ini memang tidak asing. Selama ini Matthew selalu menunggu Neila saat rapat OSIS dan bermain ke rumah Neila. Alex selalu merasa tidak nyaman dengan kedekatan mereka ini. Karena itu setiap selesai rapat OSIS, Alex biasa langsung berusaha menawarkan antar pulang terlebih dahulu sebelum Matthew. Sedangkan Matthew sudah terbiasa mengantarkan Neila pulang bersama supirnya sejak SD. Persaingan antara mereka berdua ini sudah bukan hal yang asing di mata Neila. Sayang, Alex masuk di dalam hidupnya setelah Neila sudah memiliki rasa dengan Matthew.


Meski Neila terlihat seperti tidak menyadarinya, sesungguhnya, ia tahu bahwa Matthew terus memperhatikannya dari jauh. Diam-diam, Alex (yang juga menjadi anggota sebagai bendahara) menyadari akan keberadaan Matthew. Rasa sebal dan sakit pun juga ia rasakan. Sudah lama dia memendam perasaan itu seorang diri karena tidak ingin merusak persahabatan mereka namun, rasa sakit terus dia rasakan ketika melihat mereka sedang berduaan. Ketika ia melihat hubungan mereka berdua yang terlihat renggang, perasaannya pun campur aduk. Dia merasa


senang karena ada kesempatan tetapi, dia juga sedih karena melihat kesedihan yang selalu terlihat pada raut wajah mereka.


“Jadi, sudah pasti kan kalau nanti acara itu akan diisi oleh band Restoration?”


“Iya, menurutku di antara semua band musik di ekstrakurikuler kita, mereka yang


terbaik.”


“Baiklah. Kalau begitu, Jane, tolong kamu hubungi Bu Rika!”


Bu Rika merupakan guru musik mereka yang mengajar di ekstrakurikuler musik.


Band Restoration telah memenangkan lomba musik se-provinsi dengan bimbingan


dari bu Rika.


“Bagaimana dengan dekorasinya?”tanya Neila


“Dekorasinya akan kita bahas lebih detail besok Selasa. Hari ini, cukup sampai di


sini.”ujar Petrus.


Rapat hari ini telah usai, mereka kembali merapikan meja dan kursi ke posisinya masing-masing. Alex langsung mengajak Neila untuk membeli makanan di warung depan sekolah untuk makan siang. Neila langsung menerima ajakan itu untuk menghindari Matthew. Dia tahu kalau Matthew pasti ingin menanyakan alasannya yang sesungguhnya dan dia belum siap untuk membahas masalah itu lagi.


Mereka berdua pun keluar terlebih dahulu setelah berberes barang-barang mereka.


Di saat mereka baru mau sampai ke pintu kelas, Matthew memanggil Neila.


“Nei..” Tapi setelah melihat Neila yang sedang berjalan bersama Alex, dia menjadi merasa terganggu. Akhirnya, dia hanya diam dan membiarkan mereka berdua berjalan mendekatinya.


“Hai, Mat! Kamu sedang apa?” ujar Alex.


“Aku mau bertemu dengan Neila.” Dia tidak mau kalah. Mereka berdua saling


menatap satu sama lain dengan mata yang terlihat tajam.


“Kenapa?”tanya Neila


“Aku ingin bicarakan sesuatu. Bisa ngobrol berdua?”


Senyuman Neila berubah menjadi terlihat sinis. Dia tahu topik apa yang ingin Matthew bahas dengannya tapi, dia sendiri belum siap untuk membahas mengenai itu. Apakah tidak ada cara lain untuk menanganinya? Apakah aku tetap harus menghadapi kenyataan ini?


Alex hanya mengangkat bahu dan mengarahkan pandangannya pada Neila. Neila sedang mencari-cari alasan untuk menghindarinya. Dia tidak ingin mendengar pertanyaan itu lagi. Akhirnya, dia memutuskan untuk menolaknya. “Kalau aku gak mau, gimana?”


Sudah bukan hal yang mengejutkan lagi bagi Matthew. Neila selalu menolaknya


ketika dia ingin membahas mengenai hal ini.


“Tolong, beri aku kesempatan!”


Alex melihat mereka berdua menjadi sangat serius. Dia tidak tahu harus berbicara apa karena dia pun tidak mengerti topik apa yang sedang mereka bahas. Hampir setiap selesai rapat OSIS, Alex melihat mereka berdua berbicara seperti ini. Sebagai sahabat, dia ingin membantu mereka berdua untuk berteman kembali tapi di hatinya yang terdalam.. Ya.. Dia juga jatuh cinta pada Neila. Dari wajahnya yang terlihat manis dan sifatnya yang dewasa dan tegas, hingga kebiasaannya yang suka membaca komik di tengah jam pelajaran. Meski dia tahu bahwa dia hanya memiliki sedikit celah untuk masuk ke dalam hati Neila, dia ingin mencoba kesempatan itu. Sayangnya, hingga saat ini, hanya Matthew yang selalu dekat dengan Neila. Di saat-saat seperti ini merupakan kesempatan baginya untuk dapat memasuki hatinya tapi, ia pun juga tak ingin menyakiti perasaan Matthew.


Semenjak kecelakaan kemarin, dia merasa ada celah bagi dia untuk menarik perhatian Neila. Namun, dia juga tidak ingin menjadi orang jahat yang memanfaatkan penderitaan orang. Neila pasti juga masih sedih karena kehilangan Purim.


Melihat Matthew yang sekarang menjadi lebih pendiam, dia menjadi khawatir dan mulai memikirkan akan kesempatan ini lagi.


“Tidak ada alasan yang perlu ku jelaskan lagi.”tegas Neila. Ia berpaling pada tangga depan sana dan berjalan ke arah tangga. Di tengah kakinya berjalan ke sana, tiba-tiba langkah itu terhenti. Neila tetap menatap ke depan.


“Alex, hari ini aku boleh numpang mobilmu, enggak?” sorak Neila.Kalimat ini seperti sebuah jarum tumpul yang menusuk dada Matthew dengan kencang dan kuat.


***


Ia masukkan kembali foto itu di dalam dompet dan ia berjalan keluar dari rumah. Jam 4 sore. Ia sudah memiliki janji dengan teman-temannya di sebuah restoran. Dia duduk di dalam mobilnya dan meminta supirnya untuk mengantarnya ke restoran itu menggunakan mobil jaguarnya. Orang tua Neila memiliki sebuah pabrik coklat yang saat ini sedang menjadi nomor satu di Indonesia serta distribusi produk makanan sehat dengan orang tua Matthew. Meski ia hidup di dalam keluarga yang berkelimpahan, kesedihan dan penyesalan akan kepergian adiknya terus menghantuinya.


“Mau ke mana, non?”


“Ke café De’ paris.”


"Baik, non.”


Mobil pun mulai berjalan ke tempat itu. Neila kembali membuka dompetnya dan melihat foto adiknya. Foto mereka berdua yang sedang narsis saat liburan di Disneyland Hongkong tak pernah tak ia perhatikan sehari pun. Setiap ia sedang sendiri, ia selalu memperhatikan foto itu. Wajah sang adik yang bulat dengan dagu yang lancip beserta matanya yang besar terlihat sangat manis di foto itu.


Tak terasa, ia sudah sampai pada restoran itu dan mobil baru saja selesai parkir. Belum ada seorang pun dari geng-nya yang sudah sampai di sana. Ia orang yang pertama di tempat itu. Dia berjalan menaiki tangga ke lantai dua dan memilih tempat duduk yang ada sofa. Dia letakkan tasnya lalu memperhatikan handphonenya untuk menanyakan keberadaan teman-temannya.


Perlu pertimbangan yang panjang bagi dia untuk mengundang Matthew dalam acara ini. Namun akhirnya dia putuskan untuk mengundangnya. Dia juga tidak bisa berbohong pada diri sendiri. Benci tetapi rasa sayang yang dalam padanya juga masih ada.


Dea membalas whatsapp-nya dengan cepat. Ia baru berangkat dari rumahnya karena harus membantu ibunya mengurus adiknya yang tidak mau makan tadi. Sudah pasti masih setengah jam lagi dia baru sampai pada restoran itu. Magda juga masih dalam perjalanan. Di saat pesannya pada Alexander baru saja terkirim, Alexander dan Matthew terlihat sedang menaiki tangga.


Neila tak menyadarinya. Ia masih memperhatikan ponselnya. Matthew dan Alexander berjalan ke meja itu dan Mathew memanggil Neila.


“Neila!”


“Ah, kalian sudah datang. Aku baru saja whatsapp Alex.”


Raut wajah Matthew menjadi sedikit kecewa. Ia berharap agar ia yang mendapatkan pesan itu. Pandangan ia pun beralih pada Alex yang berada di belakangnya. Alex langsung mengecheck ponselnya sesaat lalu kembali memasukkan ponselnya pada saku celananya.


“Sorry, ya, lama.”kata Alex


“Iya.”


Mereka berdua pun langsung menarik kursi yang berada di depan mereka dan duduk di situ. Matthew duduk di kursi yang berada di depan Neila. Ia berharap perhatian Neila kembali beralih pada dirinya seperti dulu. Alex tak mengerti akan hal itu. Ia hanya duduk di sebelah Matthew dengan santai.


“Yang lain belum datang?” tanya Matthew


“Belum.”


Matthew menjadi bingung karena Neila terus menjawab dengan singkat. Alex melirik ke Matthew. Dia mulai merasa ada sesuatu di antara mereka berdua. Sudah sejak kecil mereka mengenal satu sama lain dan biasanya, mereka terlihat sangat akrab. Melihat keakraban mereka, Alex tahu seberapa dekat hubungan mereka berdua. Pasti, ada sesuatu di antara mereka berdua. Namun, sejak 3 bulan lalu, hubungan mereka menjadi terlihat renggang. Apakah Mathew sudah pernah menembaknya? Alex tidak tahu pastinya.


Namun, di tengah kesunyian mereka, suara gesekan kursi dengan lantai memecahkan kesunyian itu. Mereka baru menyadari kalau Magda sudah sampai.


“Sorry telat. Jalan macet.”


“Iya, gak apa-apa. Pesen makanan dulu, yuk!”kata Neila.


Magda duduk di kursi itu dan membuka menu makanan itu bersama Neila. Aneka


makanan tertulis di menu itu. Tak lama setelah mereka melihat menu itu, Dea sampai pada tempat itu juga. Dia langsung memilih tempat duduk yang di sebelah


Alex. Sambil memperhatikan menu, diam-diam, dia mencuri perhatian pada Alex.


Setelah mereka selesai memesan makanan, Dea memulai pembicaraan. “Neila, kenapa kamu pindah ke Singapore ?”


Neila terdiam sesaat. Dia berusaha mencari alasan yang masuk akal. Akan aneh


jika ia bercerita mengenai alasan yang sesungguhnya di saat-saat seperti ini.


“Karena jurusan Science di sana lebih cepat daripada di Indonesia.” Alasan dusta.


Gadis berambut sebahu ini memutuskan hal ini secara tiba-tiba sejak empat bulan


lalu karena ingin menghindari Matthew dan kenangan bersama Purim. Setiap melihat wajah Matthew, hatinya bercampur aduk antara benci dan juga sayang.


Semua itu menusuk semakin dalam di lubuk hatinya. Dia tidak ingin lagi merasakan hal ini. Ketika dia berada di rumah pun, kamar Purim serta macam-macam kenangan yang dia rasakan bersama Purim di rumah terus menghantui di benaknya.


“Berapa lama di sana?”tanya Alex.


“3 tahun.”


Magda menghembuskan nafas dan berkata, “Nanti tetep kontak dengan kami, lho!”


“Pasti.”jawab Neila. Neila sadar sejak tadi Matthew hanya diam dan menatapnya


dengan rasa bersalah. Dia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana dalam


hubungan yang gajil ini. Setengah dari hatinya ingin tidak mengundang Matthew tetapi setengahnya lagi ia ingin melihat wajah itu terakhir kalinya sebelum pindah ke Singapore minggu depan.


Perpisahan ini Neila adakan secara tertutup. Hanya teman-teman dekatnya yang dia ajak bertemu. Dia tidak ingin mengajak teman-temannya yang lainnya. Ia menutup dirinya terhadap banyak orang karena alasan pribadi.


“Kapan kamu berangkat ke sana?” tanya Matthew. Akhirnya suara yang Neila ingin dengar sejak tadi terdengar.


“Minggu depan.” Neila merespon dengan dingin. Dia menjadi merenung kembali dengan keputusannya mengundang Matthew. Sebuah kesalahan sudah mengundang pembunuh itu ke acara ini. Namun kalimat itu justru membuka luka di batinnya terasa semakin dalam.


“Nanti kamu langsung ambil diplomma?” tanya Alex. Dia sempat mendengar dari Neila kalau Neila ingin mengambil diplomma lalu belanjut ke Degree.


“Foundation English dulu 4 bulan baru ambil diplomma.” Karena perpindahan ini bukan rencana sejak awal, dia harus memulai persiapan bahasa terlebih dahulu sebelum berpindah ke negara singa itu. Orang tuanya pun sempat terkejut dengan keputusan ini tetapi ucapan apapun yang mereka ucapkan tidak merubah keputusan Neila yang sudah dia pilih ini.


Mereka melanjutkan perbincangan mereka. Dari satu topik berganti ke topik lain seraya mereka menunggu makanan yang sedang mereka pesan. Hanya satu dari mereka yang terus terdiam. Suasana terasa berbeda karena perubahan ini.


Biasanya Matthew yang membuat kehebohan karena sikapnya dia yang tidak bisa diam tetapi saat ini, ia hanya duduk diam dan mendengarkan mereka. Tanpa harus dijelaskan, Dea, Alex, serta Magda mengerti kenapa. Apalagi Alex melihat sendiri keadaan mereka berdua saat selesai rapat OSIS di hari ke lima belas setelah Neila mulai masuk sekolah lagi.