
Belajar mengenai tanaman sudah menjadi harian Jairaj. Ini adalah pilihan dia sendiri karena dirinya yang sangat mencintai tanaman. Dengan misinya sejak kecil untuk melestarikan alam di dunia ini. Membantu mengembangkan pertanian dan perkebunan di kerajaan ini.
Tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa tanaman. Itulah pegangan Jairaj. Tidak hanya menghasilkan makanan yang sehat namun juga dapat untuk melakukan penelitian obat untuk penyakit. Motivasi Jairaj untuk dapat mengembangkan penelitian tentang mengembangkan nutrisi tanaman di pertanian dan perkebunan ini sangatlah kuat. Ini juga yang menjadi salah satu hal yang Maera kagumi dari Jairaj.
Di sebuah tempat, di ujung perkebunan, ada sebuah bangunan kecil yang sudah lama tidak terpakai. Sebuah bangunan kecil dengan desain klasik dengan dinding yang berubah-ubah warnanya. Dulu tempat ini menjadi gudang. Sejak orang tua maera yang memerintah, gudang dipindahkan ke dalam istana demi keamanan barang-barang penting. Tempat ini menjadi kosong dan tidak terpakai. Akhirnya Jairaj meminta ijin untuk memakai tempat ini sebagai perpustakaan dan tempat dia bekerja. Tidak banyak modal untuk mengubahnya. Jairaj membersihkan dan menata semua seorang diri dengan barang-barang bekas yang tidak terpakai. Serta menata buku-buku pelajaran yang dia miliki di rumahnya di dalam rak bekas yang sudah lama tidak dipakai di istana. Tidak hanya itu. Ada juga kursi dan meja bekas yang tidak terpakai. Jairaj menatanya di teras luar untuk tempat bersantai saat dia mulai merasa lelah dan jenuh dengan teori-teori yang dia pelajari.
“Jairaj!” panggil Maera dari kursi di teras.
Jairaj sedang mempersiapkan dua cangkir teh yang hangat untuk mereka
menongkrong di depan sana.
“Tuan Maera sudah minta ijin sama orang tuamu untuk kemari?”
“No!! Panggil aku Maera! Ma-e-ra!”tegasnya.
Sebuah nafas panjang Jairaj hembuskan.
“Maera sudah minta ijin dengan orang tuamu?”
Dari sebelulm Jairaj mulai bekerja di bagian ini, mereka sudah mengenal sejak
kecil. Sebuah pertemuan yang tidak sengaja terjadi di masa kecil mereka. Teman
main dan bertengkar Maera saat kecil. Seseorang yang mengisi kesunyian Maera
saat kecil sudah memulai karirnya dengan baik.
“Belum.”
“Maera!”tegas Jairaj. Ini bukan kali pertama Maera datang kemari secara diam-
diam. Jairaj juga tidak mau karirnya menjadi turun karena masalah ini.
“Nanti aku yang urus.” Maera merespon dengan sangat santai. Seolah dirinya sudah tahu harus berbuat apa saat bertemu kedua orangtuanya nanti. Jairaj kembali menghembuskan nafasnya. Ya, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau Maera maunya seperti ini.
“Maera, tiga hari lagi ulang tahunmu yang ke tujuh belas. Maaf, aku enggak tahu
mau kasih kado apa.” Jairaj mengucapkan dengan lesu.
Mata Maera membesar dan langsung menatap pada lelaki berkacamata di
sebelahnya ini. Dia tidak menyangka kalau Jairaj akan membahas hal ini.
“Ah.. enggak perlu kado. Tapi kamu datang ya ke acaranya!”
“Iya. Tapi apa orang-orang istana enggak curiga lihat aku datang ke acaramu?”
“Hmm.. iya sih.. tapi aku tetep mau ada kamu.”manja Maera.
Jairaj hanya tersenyum.
***
Taman di istana didekor dengan cantik. Karena tidak ada sinar matahari di dunia ini, mereka merangkai banyak bunga dengan indah di sekitar mereka. Semua tanaman di dunia ini menyala dengan cantik. Ditambah dengan peri-peri bunga yang ikut meramaikan acara. Semua acara ini berjalan dengan lancar.
Pembawa acara itu meminta Maera untuk meniup lilin ulang tahunnya yang ada pada kue berwarna kuning muda. Maera memang berbeda dengan perempuan lainnya. Warna yang dia sukai bukanlah merah muda melainkan kuning. Karena itu dia mengenakkan dress berwarna kuning serta kue ulang tahunnya juga berwarna kuning.
“Yeee! Kalau boleh tahu, apa yang tuan Maera inginkan di umur yang ke tujuh
belas ini?”
Pertanyaan itu membuat Maera berpikir sejenak. Di dalam hati dia ingin berkata kalau dia ingin supaya dia dapat menjalankan hubungan dengan Jairaj seperti sepasang remaja lainnya. Sayang, tidak mungkin juga dia katakan hal ini di depan umum. Demi karir Jairaj.
“hmm... Aku enggak ada pikiran ke sana.. Buat aku, bisa lihat papa dan mama
bahagia, itu sudah cukup.”
Kalimat itu membuat semua orang terkesima.
“Waahh.. tuan Maera benar-benar dekat ya dengan Raja dan Ratu?”
Senyuman ramah Maera sudah cukup untuk menjawab pertanyaan itu.
Di luar rencana mereka, sebuah gempa terjadi dengan kencang. Suara gesekan sesuatu yang bergerak dengan kencang terdengar dari hutan. Tanpa ada waktu untuk menerimanya di pikiran mereka, batang tanaman yang bergerak dengan cepat itu menangkap Maera dan membawa Maera pergi.
“MAERA!!!!” sorak Jairaj, Kendrick, dan Agacia.
Semua orang memperhatikan Jairaj yang bersorak menyebut nama Maera tanpa menyebut ‘tuan’. Seolah mereka sangatlah dekat hingga dia merasa layak untuk memanggil Maera dengan nama.
Kendrick dan Agacia langsung berusaha mengejarnya dengan ilmu gaib mereka untuk mempercepat langkah mereka. Tanpa sihir itu, keberadaan Maera tidak akan terkejar. Tanpa mereka dua sangka, Jairaj sudah lebih dulu melakukan sihir itu. Jairaj mencapai tempat Maera berada sebelum mereka sampai. Sebuah pohon tua yang sangat dihindari oleh mereka membawa Maera di atas sana. Di tengah lebatnya dedaunan hitam itu. Wajah Maera tertuju pada mereka. Tatapan mata yang berkaca-kaca seperti memohon pertolongan mereka.
“MAERA!” Jairaj mengeluarkan sihirnya untuk menyerang pohon itu. Namun sihir itu terpental dan melukai lengan kanannya dengan goresan yang sangat dalam.Kendrick juga mencoba melakukan hal yang sama. Tetapi sihirnya juga tidak dapat mengenai pohon itu. Perlahan-lahan mata Maera tertutup. Kesadaran Maera pun terhilang.
“MAERAAAAAAA!!!!!!!”teriak mereka bertiga. Di tengah teriakan mereka, para prajurit mereka baru sampai di tempat ini. Terlambat. Jairaj sangat panik dan ingin menyerangnya lagi. Tetapi pemimpin prajurit itu menarik tangan Jairaj. “Pohon itu sangat kuat. Sudah lama pohon itu menjadi ‘musuh’ yang kami hindari. Kalau kamu menyerangnya seorang diri, nyawamu yang jadi ancaman.”
“Tapi.. Maera..”
Itulah terakhir kali kenangan Jairaj bersama Maera. Lelaki ini tidak dapat melupakan Maera. Hari-harinya terasa berbeda karena tidak ada lagi perempuan yang suka mencuri kesempatan untuk datang ke perpustakaannya ini. Tidak ada lagi yang memberi suasana ceria seperti biasanya. Hening.
Jairaj datang ke pohon itu lagi. Atasannya sudah memberi tahu tentang sejarah pohon itu. Pohon kutuk, Imperius. Pohon paling berbahaya. Selama mereka tidak menantang pohon itu, maka pohon itu akan tenang. Tetapi jika ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, maka pohon itu akan beraksi. Penyebab Maera berada di pohon itu juga sudah diketahui. Kendrick mengakui
akan kebohongannya pada semua orang tentang kelahiran anak kembar puterinya. Tidak ada yang tahu di mana pastinya Neila saat ini. Mereka hanya tahu Neila tinggal di Bumi. Penyebab kutukan ini sudah pasti karena pelanggaran yang Kendrick dan Agacia lakukan yakni menyembunyikan Neila di Bumi.