
Masih terasa asing dengan semua ini. Neila berusaha mencerna penjelasan dari Jairaj tentang dunia ini. Hari ini adalah hari ke empat dia tinggal di dunia lain ini. Berusaha menerima dirinya adalah keturunan dari kerajaan sebagai salah satu dari anak kembar yang diserahkan oleh orang tuanya pada dewa mereka, Apollo karena aturan dunia ini di mana raja dan ratu dilarang memiliki anak kembar. Jika terjadi anak kembar, maka salah satu harus dipersembahkan pada sang dewa. Tetapi karena ketidakikhlasan mereka untuk merelakan salah satu dari anak mereka, mereka memberikan perintah pada pelayan kepercayaan mereka untuk membawa salah satu dari bayi ini ke dunia lain bernama Bumi.
Pelayan itu pun melakukan perintah itu dengan meresikokan nyawanya sendiri. Semalam sebelum ritual penyerahan itu, pelayan yang bernama Floria. Nama yang sangat tidak asing di telinga Neila.Nama ibunya di Bumi saat ini. Floria menikah dengan manusia Bumi bernama Jefrey. Sedangkan saudara kembarnya hidup sebagai puteri kerajaan dengan baik hingga dia
berumur enam belas tahun. Apa yang terjadi dengan saudara kembarnya setelah itu? Neila masih tidak mengerti. Jairaj tidak melanjutkan cerita itu. Wajahnya terlihat muram saat akan melanjutkan cerita mengenai saudara kembar Neila, Maera. Gadis yang sudah lama tinggal di Bumi ini menjadi segan untuk meminta Jairaj melanjutkan kisah saudara kembarnya.
Neila bangun dari tempat tidurnya dan membuka jendela yang ada di dekatnya. Langit masih sama. Mau sampai kapanpun, langit ini tidak pernah berubah. Hanya lampu dan warna bangunan ini yang dapat berubah dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Ketika pagi warna dinding seluruh bangunan di sini akan berwarna putih dan perlahan-lahan menjadi warna biru muda. Menjelang sore hari, warnanya akan berubah menjadi warna hijau lalu akan berganti warna putih menyapa malam hari. Perubahan ini terjadi secara otomatis tanpa harus dicat ataupun menggunakan alat-alat teknologi. Itulah yang menjadi keunikan kerajaan Amadeus ini. Satu dunia dan satu kerajaan. Tidak ada kerajaan lainnya di dunia ini.
Dinding semua berwarna hijau. Sore hari yang masih terlihat asing di mata Neila. Hingga saat ini pun gadis ini belum menemui kedua orang tua kandungnya. Dia hanya sempat melihat wajah mereka yang terpajang pada lukisan dinding di lorong dekat kamarnya ini. Dia juga menjadi berpikir Berarti aku tidak ada hubungan darah dengan keluargaku di Bumi. Purim juga bukan adik kandungku. Aku hanya anak angkat. Fakta ini pun masih terasa berat untuk dia cerna dengan baik. Di tengah lamunan ini, suara ketukan pintu terdengar.
“Permisi tuan puteri, saya Terra, pelayan pribadi tuan mulai saat ini. Jika ada yang dapat saya bantu, tuan puteri jangan segan untuk memanggil saya dengan menekan tombol ini.”ujar gadis yang terlihat sebaya dengan Neila itu. Dia membungkukkan tubuhnya untuk menghormati Neila. Kedua tangannya pun menyodorkan sebuah tombol berwarna merah.
“Baik. Terima kasih. Untuk saat ini saya ingin bertanya sesuatu.”
“Bertanya apa, tuan?”
“Apa kamu tau sekarang Maera ada di mana? Apa yang terjadi dengannya saat umur
enam belas tahun?”
Terra sedikit ragu untuk menceritakannya. Dia takut Neila tersinggung tetapi dia juga enggan untuk menolak. Akhirnya ia pun menjelaskannya.
“Tuan Maera terikat pada pohon kutuk imperius saat mendekat ulang tahunnya yang ke
enam belas, tuan Neila. Kutukan itu datang padanya karena kesalahan Raja dan ratu
yang terjadi saat kelahiran tuan Maera dan tuan Neila.”
Neila semakin ingin tahu.
“Kesalahan apa?”
“Kesalahan menyembunyikan kelahiran tuan Neila dengan memindahkan tuan ke Bumi.
Karena sisa hidup setelah remaja hanya tertidur dalam ikatan pohon imperius.”
***
Di luar perkotaan ini, suasana terasa sangat cantik nan sepi. Banyak pohon lebat mengelilingi kota ini serta bunga yang juga tak kalah menyelimuti keindahan alam. Tidak seperti Bumi. Bunga yang ada di hutan ini dapat menyala dengan warna yang berbeda serta peri kecil yang berwajah cantik berterbangan di hutan ini. Perhatian mereka semua tertuju pada Neila serta Terra yang sedang berjalan di dalam hutan ini.
“Ke arah sini, tuan.” Terra menunjukkan arah kanan. Neila ingin ditunjukkan pohon kutuk dan ingin melihat saudara kembarnya itu. Suasana yang terasa tenang ini perlahan-lahan berubah menjadi sendu dan menegangkan karena memasuki area pepohonan yang sudah kering serta tidak ada lagi tanaman yang bercahaya apalagi peri yang tinggal di wilayah itu.
Sebuah pohon yang besar terlihat dengan jelas. Hanya pohon ini yang masih memiliki daun lebat. Sayang warna pohon ini dari akar hingga daun berbeda dari warna semua pohon. Pohon ini berwarna hitam.Terra memandang ke atas; dedaunan yang lebat. Tangan kanannya pun menunjuk pada sebuah tangkai pohon yang berkumpul membentuk sebuah lingkaran yang padat.
Tangan Terra berpindah mengarah ke dekat mereka berdiri. Dengan sihirnya, ia menyediakan sebuah tangga untuk berjalan ke atas sana.
“Silakan naik terlebih dahulu, tuan.”
Neila menapakan kakinya pada anak tangga itu. Mereka pun berjalan naik ke tempat itu.
Di atas lingkaran yang padat itu, terlihat seorang gadis tertidur dengan lelap. Tubuhnya diselimuti oleh tangkai dan dedaunan yang merambat.
Namun tanpa di sangka, seorang lelaki juga sedang berdiri di atas lingkaran itu. Menatap
Maera dengan mata yang berkaca-kaca. Sangat familiar wajah itu, Jairaj.
***
10 tahun lalu
“Jairaj!” suara seorang gadis terdengar dari lantai dua. Dari teras lantai dua sana, terlihat seorang perempuan dengan pakaian berwarna merah muda. Rok mengembang dengan panjang selutut serta atasan yang juga mengembang ke bawah dengan warna merah muda yang berhias motif lambang dunia Amadeus berwarna hitam. Jairaj tersenyum menyambut panggilan itu. Gadis itu pun turun melalui tangga yang ada di ujung teras itu dan mendekati Jairaj. Jairaj bergegas menundukkan kepalanya.
“Selamat siang, tuan puteri Maera.”
Senyuman geli tersungging pada bibir Maera.
“Ah, kamu ini. Kita kan sudah lama temenan.”
“Tapi Anda tetaplah tuan puteri dan saya hanyalah asisten kepala bagian pertanian
Amadeus.”
Suasana segan ini membuat Maera merasa tidak nyaman. Sudah lama dia berteman dengan Jairaj sejak kecil. Mereka berkenalan saat Maera harus menjalankan studinya di dalam istana bersama dengan guru yang ayahnya tugaskan untuk mengajar private. Ketika guru itu sedang ke toilet, dia melihat seorang lelaki sebayanya sedang berdiri di teras melihat taman yang indah di luar sana. Maera berjalan mendekat cowok itu dan di situlah mereka berkenalan. Sejak itu juga mereka menjadi sering bertemu dan bermain bersama di taman setiap hari libur. Waktu terus berlalu hingga saat ini mereka berdua sudah menjadi remaja.
2021
Kenangan itu teringat pada benak Jairaj ketika dia sedang memandang gadis itu. Perbedaan status mereka juga yang membuat dia segan untuk terlalu mendekat Maera saat itu. Menyesal karena keminderan itu. Dia berniat untuk mengejar posisi yang tinggi sebelum mendapatkan Maera tetapi peraturan dari alam tidaklah dapat ditentang. Semua tetap berjalan. Seandainya aku tidak menghindarinya... Seandainya saat itu aku banyak menghabiskan waktu dengannya.. Seandainya aku tidak mendengarkan omongan orang-orang.. Semua akan berbeda...
Jairaj bergumam sendiri di dalam hatinya. Hingga tidak menyadari kedatangan Neila
bersama Terra yang baru saja sampai pada tempat yang sama ini.