
Tas tergeletak di atas ranjang beserta ponselnya. Neila berbaring pada atas tempat tidur. Tempat tidur terasa sangat nyaman untuk mengurangi keletihan hari ini. Meski begitu, ia kembali teringat akan moment bersama Mathew tadi. Berulangkali Mathew meminta dia menjelaskan lebih lagi mengenai hubungan mereka yang sekarang menjadi sangat renggang. Ia tahu bahwa Mathew tidak melakukan kesalahan apapun. Namun, kondisi saat ini membuatnya menjadi merasa sakit saat memaksakan hubungannya bersama Mathew. Semua yang terjadi mengingatkannya kembali pada kepergian sang adik tercinta, Purim.
Apakah saat di Singapore nanti, aku dapat memulai semua dari awal lagi?gumam Neila dari dalam hatinya. Dia ingin terbebas dari beban ini. Ingin lari dari kenyataan ini.
“Neila, Pizza sudah datang!”sorak Ibunya Neila.
Neila menjawab dengan sorakan lebih kencang, “’Ya! Aku ke sana!”
Aroma lezat menggoda perutnya untuk berseru meminta makan. Neila baru sadar bahwa dia belum sempat makan sejak siang karena terlalu sibuk dengan urusan OSIS. Sesungguhnya ia ingin keluar dari kegiatan ini karena faktor kepindahannya. Ia ingin menikmati kota Yogyakarta ini terlebih dahulu
sebelum meninggalkannya.
Menjadi anggota OSIS, menyelesaikan tugas sekolah, dan bersiap-siap pindah ke
negara singa itu menjadi beban dan kesibukan dalam keseharian sejak awal tahun
ini. Letih dan jenuh dalam menjalani rutinitas ini.
Dia melihat ibunya sedang menata piring di meja untuk makan bersama sang ayah juga. Neila duduk di hadapan kedua orang tuanya.
“Papa, Mama!”panggil Neila.
Mereka menjawab pandangan mata Neila dengan tatapan yang terasa hangat.
“Ada apa?” jawab sang ayah.
“Bolehkah aku keluar dari OSIS?”
Mereka saling memandang. Seperti saling memberi kode mengenai jawaban yang akan mereka jawab. Ya, sejak awal Neila ikut OSIS ini hanya karena mengikuti arahan dari mereka berdua; bukan karena ia memang ingin mengikutinya. Orang tua Neila mengajak Neila untuk ikut dalam kegiatan ini untuk belajar bertanggung jawab dan membagi waktu.
“Bolehkah Papa dengar alasan dari Neila?”
“Neila lelah sejak awal tahun ini jadwal Neila penuh dengan kegiatan. Neila ingin menikmati kota ini sebelum pindah ke Singapore.”
Tatapan mata mereka berdua kembali saling menatap.
“Mama tidak masalah mengenai hal ini. Neila nikmati hari-hari di Jogja sebelum
pindah ke sana juga bukan hal buruk.”
Mereka tersenyum dengan manis. Bukan sebuah paksaan yang mereka berikan pada Neila karena mereka ingin Neila juga bisa menikmati hari-hari di sini sebelum pindah nanti.
***
Hari pertama di negara ini dimulai. Neila sedang antri imigrasi di dalam bandara Changi. Mesin terus berjalan mengantarkan bagasi para penumpang. Dari tempat ia berdiri terlihat koper berwarna biru muda. Dia menunggu koper itu berada di dekatnya lalu dia ambil.
Melihat anak-anak yang sedang bersama orang tuanya, ia merasakan sedikit rasa cemburu. Ingin diantar oleh orang tuanya saat ini. Sayangnya, mereka sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Neila hanya berjalan ke tempat taxi berada dan menuju tempat tinggalnya yang baru. Pohon-pohon serta bunga yang tertata dengan rapi terlihat dari balik jendela. Pantai dengan air yang terlihat tenang serta orang-oran yang sedang bersepedaan di dekat sana menjadi sapaan baginya di hari ini. Kelas akan dimulai pada hari rabu minggu depan. Masih lima hari lagi. Neila berencana untuk membeli peralatan yang ia perlukan di kos nya nanti. Gedung-gedung mulai terlihat. Mobil mulai menyeberangi sungai melalui jembatan. Keindahan Gardens by the bay telihat dari jembatan ini. Neila menikmati keindahan sekitarnya dari dalam taxi ini. Ada rasa tegang untuk memulai semuanya dari awal lagi di negeri singa ini seorang diri. Tidak ada orang tua ataupun kenalan yang ia kenal di sini.
Namun, dengan cara seperti ini, ia juga ingin mulai dapat melepaskan cinta pertamanya serta rasa bersalahnya pada sang adik tercinta. Mobil terus melaju hingga berhenti tepat di bawah gedung tempat dia tinggal. Ia turun dari mobil ini dan membawa barangnya masuk ke dalam kamarnya yang berada pada lantai tiga.
Seorang laki-laki sebaya terlihat sedang turun dari tangga menuju lantai satu. Lelaki berambut hitam ini melihat Neila sedang mengangkat barang-barang bawaannya dari dalam taxi. Tanpa pikir panjang, pria ini langsung menawarkan bantuan untuk memindahkan barang.
“Can I help you?”
“Oh.. thank you.”jawab Neila.
Kardus yang berisi sisa pakaian yang tidak cukup di dalam koper ini pria itu bawakan. Wajahnya berkulit cokelat dengan mata yang lebar. Tidak terlihat seperti orang sini. Apa dia juga pendatang?Neila hanya bergumam sendiri.
Setelah barang sudah diambil, taxi pun pergi meninggalkan mereka berdua. Neila menarik koper dan lelaki itu membawakan kardus itu. Meski hanya berisi sisa barang, berat kardus itu tidak kalah dengan berat koper. Mereka masuk ke dalam lift dan menuju lantai tiga belas. Suasana hening. Karena tidak ingin menikmati kesunyian ini, pria berwajah manis itu mengenalkan dirinya.
“Sorry, I haven’t introduce my self. My name is Jairaj Nguyen. Can I know your
name?”
Neila membalas tatapan mata yang ramah itu dengan senyuman yang manis.
“I’m Neila.”
Pintu lift terbuka. Mereka berdua berjalan keluar dari lift dan melihat nomor yang terpajang di depan mereka. Neila mencari nomor tiga belas D, rumah seorang Singaporean yang menyediakan beberapa kamar untuk menjadi kos perempuan di rumahnya. Ruangan kamarnya pun sudah terbayar sejak minggu lalu.
Tombol bell terlihat di sebelah kanan pintu masuk. Di depan pintu masuk masih ada lapisan yang terbuat dari besi tetapi tidak menutupi seluruh daerah pintu. Seperti sebuah pager yang hanya berjarak enam sentimeter dari pintu kayunya. Pintu pun terbuka. Seseorang menyambut kedatangan gadis remaja ini. Beliau terlihat seperti sudah berumur empat puluhan. Rambutnya yang sedang diikat satu berwarna cokelat tua. Entah itu warna asli atau warna sementara. Ibu itu tersenyum.
“Are you Neila?” tanya beliau.
“Yes, I am.”
“And you?” Mata beliau memandang pada Jairaj.
“I am Jairaj.”jawabnya dengan ramah.
“Her boyfriend?”
“My name is Aiko. I’ve been living here since five years ago as a Permanent Residence. This is your room. I prepare your bed yesterday and if you need to wash your clothing, you can go there. The kitchen is opened for anyone who stays here.”
Setelah memberikan kunci pintu kamar, Aiko kembali masuk ke dalam kamarnya. Hari ini hari minggu. Ia ingin menikmati hari libur ini dengan melanjutkan film yang sedang dia tonton di kamarnya. Neila menerima kunci pintu kamar itu dan masuk ke dalamnya. Jairaj ikut membawakan kardus itu dan meletakkan di dekat lemari.
“Can I put it here?” tanya lelaki itu.
“Yes, you can. Thank you so much.” jawab Neila.
Jairaj memberikan Neila selembar kertas yang berisi nomor telepon. Neila merasa enggan dan tidak mengerti maksudnya memberikan nomor ini.
“This is my phone number. If you need anything, you can contact me. I live in twentieth C, by the way. Sorry, I need to leave now. Bye!”
Kalimatnya terucap dengan terburu-buru. Neila juga menyadari sejak tadi pria itu terus memperhatikan jam tangannya. Tidak heran jika ternyata ia memang sedang ada acara. Tetapi kenapa pria gabungan India dan Vietnam itu justru membantu Neila mengangkat barang? Neila tidak mengerti.
***
Rapat sedang berlangsung. Mereka saat ini membicarakan baksos yang akan mereka lakukan bulan depan. Anggota dalam rapat ini tetaplah sama kecuali satu orang yang telah digantikan oleh orang lain. Adik kelas nan juga sepupu Alex gabung dalam kegiatan OSIS ini, menggantikan Neila. Alex tetap merasakan ada perbedaan di tengah rapat OSIS ini. Sudah berbulan-bulan dia menjalani rapat ini tanpa melihat keberadaan Neila.
Apa cuma aku yang merindukannya? Alex tetap ingin kembali ke masa-masa ada Neila di dalam meeting mereka. Dia pun berpikir untuk mengambil kuliah di Singapore juga seusai sekolahnya ini. Belum tahu mau jurusan apa apalagi universitas yang dia tuju. Tetapi selain karena Neila, akademis di Singapore terkenal sangat maju.
Dia tidak ingin mengambil kesempatan dalam duka yang dirasakan oleh Neila tetapi dia juga tidak dapat menahan isi hatinya ini. Sejak pertemuannya pertama kali di sekolah ini, dia sudah jatuh hati pada Neila. Sayang kedekatan Neila dan Matthew membuatnya tidak dapat mengekspresikan perasaannya pada Neila. Kejadian yang terjadi tanpa sengaja kemarin memang sangat mengejutkan. Apalagi orang tua Matthew menutup kasus itu untuk diselidiki lebih dalam
***
Di bulan ke lima Neila menjalankan studinya di Singapore, seorang lelaki terlihat sedang menunggunya di dekat lift tempat Neila tinggal. Langkah kaki Neila terhenti dengan sendirinya. Dia tidak dapat menggerakkan kakinya seolah tubuhnya yang meminta dirinya untuk tidak melanjutkan langkah ini. Setelah kemarin dia bertemu dengan Alex, saat ini dia bertemu dengan Matthew.
Cowok yang paling dia hindari justru dtang menemuinya. Sepatah kata penyesalan pun tak pernah pria itu ucapkan padanya. Tangan Neila mengepal dengan kencang. Hatinya masih belum dapat menerima kenyataan pahit itu. Wajah seorang gadis kecil kembali teringat di dalam benaknya. Perempuan berbaju biru ini menduga bahwa dirinya sudah dapat move on dari perpisahan secara tiba-tiba saat itu. Namun keberadaan pria itu membuka kembali semua luka lama ini.
Neila berusaha menghindari lelaki ini lagi. Dia segera beralih kembali berjalan ke tempat lain. Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangan kanannya. Lelaki berbaju hitam itu menahan langkah Neila.
“Neila.. aku ingin ngomong sebentar.”
“Ngomong apa?”ketus Neila.
“Aku minta maaf...” Seseorang memotong kalimat itu dengan menarik tangan kiri
Neila yang masih mengepal. Ternyata Alex juga masih ada di Singapore. Ya,
tidak heran. Hari ini adalah hari Sabtu. Sekolah mereka di Indonesia hanya masuk
dari hari Senin sampai Jumat.
“Kamu sedang apa di sini?”cela Alex. Melihat sikon yang masih terjadi dan pembicaraan mereka kemarin, Alex tahu kalau Neila masih belum siap untuk melihat wajah Matthew kembali. Pasti terasa sangat menusuk. Matthew menjadi kikuk melihat Alex bertanya dengan nada tegas. Dia sadar kalau tidak seharusnya ia ada di tempat ini. Apalagi menemui perempuan yang sudah dia lukai dengan kecerobohannya. Pertemanan mereka sejak kecil pun hancur hingga saat ini. Tidak tahu kapan keretakan dalam pertemanan mereka akan membaik. Jauh di lubuk hatinya, Matthew juga sudah lama memendam rasa pada Neila tetapi tak ada kesempatan lagi untuk dia sampaikan isi hatinya.
Tiba-tiba seseorang menggeret tangan Neila. Dengan kulit berwarna cokelat serta gaya pakaiannya yang sangat simple, hanya Neila yang mengenalinya. Matthew dan Alex tidak tahu siapa gerangan pria ini.
“Jairaj..”bisik Neila.
Neila tidak tahu ke mana tujuan arah mereka berjalan ini. Dia hanya terus mengikuti Jairaj dengan maksud menghindari Matthew. Tetapi tiba-tiba serasa ada angin yang berhenbus ke arah mereka berdua. Karena kencangnya angin itu, Neila menutup matanya sesaat lalu membukanya kembali. Di luar dugaan, semua yang ada di sekitarnya berubah seketika.
Bukan lagi gedung dan alat transportasi yang biasa dia lihat di sekitar tempat tinggalnya. Bukan juga hawker (tempat makan lebih murah dari foodcourt) ataupun orang-orang yang sedang berjalan. Langit pun tak sama jua. Jutaan bintang bergemerlap serta sebuah planet terlihat dengan jelas. Planet yang sangat tidak asing baginya. Banyak pulau serta lautan yang terlihat dari planet itu. Neila tidak lagi mengerti dengan semua ini. Tidak percaya kalau dia sampai bukan di Bumi lagi.
Sesuatu yang berbentuk bundar terlihat dengan jelas di langit sana. Bukan bulan maupun matahari melainkan Bumi. Sebuah kejadian yang tidak tersangka terjadi di tahun pertama dia mulai tinggal di Singapore. Kemunculan seorang pria itu merubah hidupnya secara drastis. Dari dirinya yang hidup sebagai manusia biasa, menjadi seorang yang sangat dihormati dan dihargai di dunia ini.
Bunga-bunga yang bermekaran di pinggir perairan ini pun menyala di tengah
gelapnya tempat ini. Tidak ada pagi, siang, ataupun sore. Hanya langit malam
serta keindahan galaxy yang terus menyelimuti dunia ini.
“Di mana ini?”tanya Neila.
Jairaj berhenti melangkah dan melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Neila.
“Selamat datang di Amadeus.”
Tidak ada respon dari Neila. Dia tidak lagi mengerti dengan ini.
“Maksudmu gimana? Dan apa itu Amadeus?”
Hanya sebuah senyum kecil tersungging pada bibirnya. Pakaiannya pun berubah seketika. Sebuah baju berlengan panjang dengan warna abu-abu tua serta sabuk berwarna silver. Garis tipis berwarna hitam menghiasi baju itu serta kain kerudung berwarna putih dengan garis berwarna kuning keemasan menutupi kedua pundaknya.
Tidak hanya itu, bawahannya yang tadi dengan celana berwarna biru selutut pun berubah menjadi celana panjang berwarna hijau muda. Tangannya pun tiba-tiba membawa tongkat dari kayu dengan panjang dari kaki dan sedikit melebihi tingginya dengan cekungan di bagian atas.
Neila semakin tidak mengerti dengan semua ini. Siapa Jairaj yang sesungguhnya?
Dan di mana ini?