
20 tahun lalu
Di tengah malam ini, suara tapakan kaki banyak orang terdengar dengan jelas. Mereka sedang mencari seorang pelayan yang membawa pergi salah satu puteri Amadeus. Detak jantung Floria berdetak sangat kencang karena harus bertanggung jawab demi nyawa seorang bayi serta mempertaruhkan nyawanya sendiri demi bayi yang tak bersalah ini.
“Kamu lihat dia?” tanya seorang prajurit dengan kerudung berwarna biru tua serta tongkatnya yang panjangnya melebihi tingginya.
“Enggak. Kita harus segera menemukannya. Kalau enggak, kita enggak tahu apa
yang dewa Apolos lakukan ke kita.”
Floria mendengar suara itu. Dia bersembunyi di balik tiang yang besar ini. Di saat yang sama, dia takut bayi ini menangis karena ketidaknyamanannya merasakan keadaan yang menegangkan ini. Tangan kanannya menepuk-tepuk punggung bayi perempuan ini. Ketika prajurit itu telah pergi, Floria segera menerobos keluar dari istana ini dan berpindah ke Bumi. Dia merasa sangat beruntung karena selama proses ini, bayi ini tidak menangis. Mungkinkah bayi ini adalah orang yang
pemberani?
Suasana yang berbeda. Tidak ada cahaya yang menyala dari dinding tiap bangunan melainkan cahaya dari lampu-lampu yang terpasang di bagian atas ruangan serta dinding. Dia tahu ini adalah di Bumi. Malam hari juga di tempat ini. Waktu di negara singa ini sama dengan di Amadeus. Dia merasa lebih lega karena sudah sampai di sini dengan selamat. Sekarang ganti dia tidak tahu harus ke mana dan bagaimana karena tidak memiliki uang untuk mencari tempat tinggal serta
memenuhi kebutuhannya di tempat ini.
Dia hanya bersandar pada dinding. Seorang pria yang terlihat dalam keadaan mabuk datang mendekatinya. Pria dengan pakaian berwarna hitam ini terlihat tertarik dengan Floria.
“Hai, sedang apa di sini tengah malam? Mau pergi denganku?”
Floria merasa tidak nyaman dengan ajakan ini. Tanpa meresponnya, ia langsung pindah tetapi pria itu berusaha menghalanginya.
“Mau ke mana? Ayo ikut aku!”tangannya menggenggam pergelangan tangan Floria yang juga sedang menggendong bayi ini.
“Too... Toolooonnggg!” soraknya dengan lantang.
Tiba-tiba seorang pria datang menggenggam tangan pria itu.
“Dia adalah istriku. Jangan ganggu!”tegasnya.
“Oh.. dia milikmu? Sorry...”ujar pria mabuk itu. Ia pun pergi.
Floria merasa lega dengan pertolongan pria tak dikenal ini.
“Rumahmu di mana? Ijinkan saya antar anda dan bayi anda sampai rumah.”
Mata Floria mengarah ke bayi ini.
“Saya tidak punya tempat tinggal di sini.”Karena tidak tahu harus mengantar ke mana, pria itu menyewakan sebuah kamar hotel bintang empat yang ada di depan apartmentnya. Hotel yang terlihat mewah bagi Floria. Dia belum pernah menikmati kamar seperti ini. Bayi yang dia gendong tiba-tiba menangis kelaparan. Floria masih menyimpan sedikit susu yang dia bawa dalam kantong invisiblenya.
“Bisa untuk dua kali. Besok sudah harus cari susu lagi untuknya.” Floria menjadi resah karena tidak memiliki apapun untuk membelinya. Dia juga segan untuk meminta tolong pria itu lebih lagi.
***
Kembali ke saat itu..
Alex dan Matthew telah kembali di Bumi. Tadi pagi, Alex sudah melihat saudara kembar Neila sebentar sebelum kembali ke sini. Alex kembali berada di kamar Jairaj dan Matthew berada di dalam kamarnya. Selembar amplop ada di dalam genggaman tangan Matthew.
Sebuah pesan whatsapp terlihat di notifikasi ponselnya Matthew. Notifikasi percakapan dari salah satu grup whatsapp terlihat. Matthew sendiri terheran dengan baterai ponselnya yang masih menyala sedangkan saat di Amadeus, ponselnya tidak bisa dinyalakan sama sekali.
"Kamu mau kasih kapan?”tanya Alex.
“Sekarang. Aku akan minta tolong Mama untuk hubungi tante Floria.” Sebuah rasa takut muncul di lubuk hatinya. Berarti Purim adalah anak kandung tante Floria satu-satunya... Namun ia juga tidak ingin membuang waktu. Dia tahu surat ini sangatlah penting bagi Amadeus dan Neila.
Matthew segera menelepon ibunya tetapi dia tiba-tiba juga teringat akan barang bawaannya yang masih tertinggal di perpustakaan. Telepon pun tertunda.
“Sial.” Dia menjadi langsung bergegas pergi mengambil barangnya kembali. Di dalam dugaannya, barang dia sudah dipindahkan ke ruang lost and found. Tanpa harus pergi ke mejanya kemarin, lelaki ini langsung ke tempat lost and found. Benar. Semua barangnya ada di sini.
Setelah mengambil barang ini, ia segera menelepon ibunya kembali.
“Ma, aku mau minta tolong...”
***
Floria sudah menerima kabar ini. Kebetulan dia juga sedang tidak sibuk di rumah. Tidak mengerti kenapa tiba-tiba Matthew ingin menemuinya. Ia mengira Matthew ingin membahas mengenai kepergian Purim dengannya. Sebuah luka yang dalam akibat kepergian puteri kandungnya ini masih berbekas sangat dalam. Dia berharap ada rasa penyesalan juga dari Matthew dan keluarganya mengenai kejadian yang sudah berlalu cukup lama itu. Sangat tidak manusiawi jika mereka
masih merasa normal dan tidak ada rasa bersalah.
Bell rumah terdengar. Seorang tamu datang.
“Ibu Floria, mas Matthew anak pak Leo datang mencari ibu.”lapor pelayan rumah ini.
“Ya, suruh masuk.”sahut Floria dengan lembut.
Pelayan itu pun kembali ke tempat Matthew dan mengantarkan Matthew ke tempat Floria sedang duduk. Ruang keluarga yang luas dan nyaman. Sofa yang sangat empuk menjadi fasilitas yang sedang Floria nikmati bersama dengan buku tentang merangkai bunga yang sedang ia baca. Tidak jauh dari namanya yang berarti bunga, ia sangat menyukai rangkai bunga segar.
“Matthew, sini duduklah.” Floria tetap berusaha untuk terlihat ramah meski hatinya sakit untuk melakukannya.
“Permisi.”ujar Matthew. Dia pun masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa yang menghadap ke Floria.
“Ada apa tiba-tiba kemari?”
Matthew mengambil selembar amplop biru muda yang ada di dalam saku celananya. Amplop itu terlipat satu kali karena masuk ke dalam saku celana Matthew.
“Ini tante, ada surat untuk tante.”
“Dari sapa, ya?”Floria tidak menyangka akan ada yang masih menggunakan surat di jaman teknologi maju ini.
“Raja Kendrick dan ratu Agacia” Matthew berharap Floria masih ingat nama ini. Mata Floria membesar mendengar nama yang sangat familiar itu. Sudah lama dia tidak mendengar nama mereka yang dulu selalu dia sebut dengan rasa hormat karena dapat menjadi pelayan pribadi Agacia. Floria segera mengambil surat itu dan membukanya.
Kepada Floria,
Perlu waktu cukup lama bagi kami untuk mencarimu. Mendengar kamu yang sekarang hidup dengan manusia Bumi dan memiliki keluarga bahagia di sana merupakan sebuah kabar baik bagi kami. Terima kasih sudah merawat puteri kami dengan penuh kasih sayang selama bertahun-tahun. Jairaj, kepala bagian pertanian Amadeus, berhasil menemukan Neila empat bulan sebelum
Neila pindah ke Singapore. Saat ini, Neila ada di Amadeus bersama kami.
Tapi dengan berat hati kami ingin memberi kabar mengenai saudara kembar Neila, Maera. Kami percaya bahwa Floria sudah tahu tentang sejarah pohon kutuk yang seharusnya menjadi tempat kami mempersembahkan Neila.
Akibat Neila yang berhasil menyelamatkan diri, di tengah usia Maera yang ke tujuh belas tahun, dia terkena kutukan itu. Hingga saat ini kami tidak menemukan jalan untuk membebaskan Maera dari kutuk itu. Karena masalah ini, kami ingin memberi kabar bahwa kami memutuskan
untuk memilih Neila sebagai penerus kerajaan ini.
Kami sangat berterima kasih untuk semua pengorbanan dan perhatian yang telah Floria berikan pada Neila selama ini.
Kendrick dan Agacia
***
“Jadi gitu ceritanya.”respon Surya mendengar cerita dari Floria.
Floria menceritakan kedatangan Matthew tadi dan menunjukkan surat yang dia dapat. Surya sudah tahu kalau Floria bukan manusia biasa. Saat mereka masih pacaran, Floria sudah menunjukkannya.
Awal mula Surya mendengar penjelasan dari Floria, ia juga tidak percaya. Dia kira itu hanya khayalan dari Floria. Sampai Floria membawa Surya melihat dunia Amadeus sebentar dengan mengenakkan pakaian khas Amadeus di mana sebagian besar lelaki mengenakkan jubah kain yang menghiasi punggungnya dan perempuan mengenakkan baju yang stylish. Tidak ada yang mengenakkan pakaian simple seperti kaos. Ketika di dalam rumah pun, mereka semua mengenakkan
piyama berkerah.
Yang memikat perhatian Surya saat itu adalah dinding yang menyala serta para peri yang ada di hutan. Semua yang terlihat fantasi ini membuat Surya percaya kalau Floria bukanlah manusia biasa. Hanya saat itu dia melihat dunia lain. Setelah itu mereka terus menetap di Bumi dan tidak pernah datang ke Amadeus demi keamanan Floria dan Neila.
“Apa kamu sendiri mau melepaskan Neila untuk kembali ke sana?”tanya Surya.
Floria hanya berdiam. Sudah bertahun-tahun dia menganggap Neila seperti anak kandungnya sendiri. Banyak orang tidak akan percaya kalau sesungguhnya tidak ada hubungan darah di antara mereka.
20 tahun lalu
“Saya tidak punya tempat tinggal.”ujar wanita itu.
Surya sontak tidak menyangka akan hal itu. Selama ini dia tinggal di mana? Tetapi melihat wajah wanita itu yang terlihat sangat letih dan lesu, Surya merasa sangat iba. Dia pun mencarikan tempat tinggal untuk sementara pada wanita ini. Apalagi ada bayi yang dia gendong di tangannya. Hati Surya semakin tidak tega untuk meninggalkannya seorang diri. Esok harinya, Surya kembali menjenguk wanita ini selagi tempat wanita ini menginap satu arah dengan kantor Surya.
“Pagi.”
“Pagi” sahut Floria.
“O ya, kita belum kenalan. Perkenalkan nama saya Surya.” Tangan kanan Surya menyambutnya dengan terulus mengajaknya untuk bersalaman. Floria yang sedang menggendong bayi itu merubah posisinya agar bisa menjulurkan tangannya juga.
"Floria.”
“Bolehkah saya tahu darimana Ibu Floria berasal?” tanya Surya.
“Saya...”Floria kikuk untuk menjawabnya. Dia belum tahu apa-apa tentang Bumi.
Dengan polosnya dia menjawab, “Saya... dari Amadeus.”
Nama yang sangat asing di telinga itu menjadi sebuah pertanyaan yang tidak dimengerti bagi Surya. Surya bertanya lagi mengenai Amadeus. Floria berusaha menjelaskan. Sayang, Surya tidak percaya dengan hal ini. Surya menganggap hal ini hanyalah imajinasi.
Singkat cerita, kepolosan Floria ini justru menjadi daya tarik bagi Surya. Awal mulanya, Surya tidak mengerti kenapa Floria sangat peduli dengan bayi ini meski bukan anak kandungnya. Floria juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya karena sudah pasti penjelasannya tidak akan dipercaya lagi.
Suatu hari, di tengah malam, Surya melamarnya.
“Maukah kau menikah denganku?”
Floria ingin menerima tetapi merasa segan untuk menyampaikan karena ada banyak hal yang belum dia sampaikan.
“Apa kamu bisa menerima hal ini?”
“Menerima apa?”
“Kemari..”ajak Floria.
Floria mengajak Surya untuk ke tempat yang sepi. Karena mereka sedang berada di sebuah cafe outdoor, Floria mengajak ke tempat parkir. Mereka bersembunyi di balik sebuah mobil dan dalam sekejab, lingkungan mereka berubah. Surya tak langsung percaya. Dia kira ini hanyalah mimpi.
Tangan kanan pria ini menggosok matanya. Pemandangan tak berubah. Langit gelap dengan dinding bangunan yang menyala.
“Ini di...”
“Amadeus.. tempat aku lahir. Aku bukan manusia Bumi... Aku lari ke Bumi demi selamatkan Neila. Nama Neila diberikan oleh Raja Kendrick ketika sang puteri masih ada di dalam kandungan ratu Agacia.”
Perlu waktu bagi Surya untuk mencerna cerita ini. Inilah yang membuka pikiran Surya. Namun selang beberapa hari, Surya tetap memutuskan untuk menikah dengan Floria.
***
2021
“Gimana keputusanmu?”tanya Surya pada Floria. Surya meminta Floria yang memutuskan untuk melepaskan Neila atau mempertahankannya. Terasa berat bagi mereka untuk mengembalikan Neila pada orang tua kandungnya.
Surya pun juga sudah menganggap Neila seperti puterinya. Apalagi karena kepergian Purim, jika Neila tetap kembali ke sana, mereka akan menjadi kesepian di Bumi ini. Di sisi lain mereka juga tahu karena Maera yang terkena kutuk, raja dan ratu pasti juga merasakan hal yang sama. Seperti perebutan seorang anak perempuan oleh orang tua kandung dan angkat.
Mereka tahu mereka tak ada kuasa untuk melawan. Selain karena mereka hanyalah rakyat biasa di Bumi, mereka tidak memiliki hubungan darah sedikitpun dengan Neila.
“Kita enggak bisa pilih. Neila adalah anak kandung mereka, Surya.”respon Floriadengan terisak tangisannya.
Surya juga berusaha menahan air matanya. Dia tidak rela melepaskan Neila. Keadaan tidak dapat dilawan ataupun diubah. Tetap mereka hanyalah orang tua angkat yang menyembunyikan hal ini demi keselamatan Neila saat itu.