Still Hope Again

Still Hope Again
bab 1. Neila dan bumi



Hari terakhir Neila dapat melihat wajahnya. Dia tersenyum dan pergi dengan bahagia meski ada banyak darah yang bercucuran di kepalanya. Ambulance tak kunjung datang. Orang tua Neila pun tak akan datang ke tempat ini tepat pada waktunya. Adikku terluka karena diri ku. Semua ini salahku. Seandainya saja waktu dapat diulang kembali..


Nomor plat mobil masih teringat jelas di benakku. Sebuah kecelakaan tragis ini sangat tidak aku inginkan. Seorang pengemudi mobil yang masih SMA kurang berhati-hati dalam menyetir mobil dan mengakibatkan kecelakaan fatal ini. Semua berawal dari tadi pagi. Hari Minggu.


Hari di mana biasanya aku menemani Purim main ke rumah temannya. Sayangnya, aku menolak untuk hari ini.


“Kak, nanti mau temani Purim ke rumah Lily gak?” Ajakan terakhir dari Purim masih teringat di pikiranku ini. Aku salah sudah menolaknya karena ingin menyelesaikan tugas pelajaran Matematika. Tugas masih akan dikumpul minggu depan. Seharusnya aku kerjakan besok.


Meja belajarku menghadap ke jendela yang mengarah ke depan rumah. Mobil yang Purim kendarai melaju dan pagar rumah pun dibukakan oleh satpam. Sebuah senyum kecil tersungging pada bibirku. Melihat Purim yang terus bersemangat untuk main ke rumah Lily tadi, menjadi sebuah hiburan yang tidak dapat tergantikan.


Namun sekitar lima belas menit kemudian, rumah sakit meneleponku melalui ponsel pak Edi. Tidak seperti biasanya Pak Edi meneleponku di tengah mengantarkan Purim bermain. Aku angkat telepon itu. Bukan suara pria yang terdengar melainkan suara seorang wanita.


“Apakah ini dengan anggota keluarga Purim?”tanyanya.


“Iya, saya kakaknya. Ada apa, ya?” Aku menjadi khawatir dengan kondisi mereka.


Sebuah berita yang mengenaskan pun terdengar. Aku langsung memanggil Grab untuk berangkat ke sana.


Kabar baiknya, Pak Edi terselamatkan karena hanya mengalami sedikit patah tulang pada punggung dan lengan kiri. Pak Edi menyambut kedatanganku dan menceritakan kejadian itu.


Di tengah perjalanan, Purim ingin mampir ke toko roti untuk membeli kue tart kesukaannya. Karena tempat parkir toko itu penuh, mereka parkir di seberang jalan. Pak Edi, supir kami, sudah melihat ke sisi kanan dan kiri untuk memastikan keamanan. Tetapi tiba-tiba ada mobil yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata menabrak mereka.


Mereka belum sempat menyelamatkan diri mereka. Tubuh Purim terlempar jauh bersama dengan Pak Edi. Pak Edi tidak bisa bangun dari posisi tergeletaknya.


Terjadi cedera pada bagian punggungnya. Tetapi ia masih dapat melihat sekitarnya. Dia melihat kesadaran Purim sudah tidak ada lagi. Pak Edi menghafal nomor plat mobil itu. Warga sekitar yang melihat keadaan itu bergegas menelepon polisi dan ambulance.


Pak Edi terselamatkan. Tetapi Purim dalam keadaan kritis karena cedera tejadi pada organ yang mengkontrol semua proses di tubuh kita, otak. Pendarahan yang cukup menyedihkan harus dia rasakan.


Di tengah proses operasi Purim, Pak Edi mendekati kami. Dia masih ingat nomor plat mobil. Nomor itu yang dia sampaikan pada kami. Proses penyelidikan polisi sedang berlangsung untuk mencari pemilik mobil itu. Aku hanya bisa berharap pelaku hit and run ini dapat ditemukan secepatnya. Sayang, jika pelaku ditemukan, apakah semua akan memperbaiki kondisi?


Kami terus menunggu proses itu hingga empat jam. Pintu ruang operasi terbuka. Mereka menyampaikan kabar yang sangat tidak ingin kami dengarkan. Semua itu merusak kebahagiaan kami; Papa, Mama, diriku serta Pak Edi yang merasa bersalah karena merasa dirinya kurang berhati-hati. Kondisi mengenaskan ini harus terjadi hari ini. Apalagi Papa dan Mama sedang di Surabaya karena ada urusan pekerjaan di sana. Mereka pasti langsung kembali ke Yogyakarta ini.


Pikiranku masih tetap terfokus pada kejadian itu hingga langit sudah gelap. Seluruh lampu di rumah juga dinyalakan. Melihat kamar milik Purim, berbagai kenangan bersama kami menjadi teringat lagi. Semua itu sudah tidak dapat aku rasakan lagi. Bisakah waktu berulang lagi?


Bisakah aku nikmati hari-hari kebersamaan kami? Jika aku menemani Purim dalam perjalanan, cerita akan berbeda lagi dari sekarang. Dia masih terlalu muda untuk pergi ke dunia sana. Anak yang masih kelas 6 SD sudah harus pergi meninggalkan kehidupannya.


Kenapa Tuhan tidak beri dia waktu lebih lagi? Dia belum menikmati masa remajanya. Tuhan, kembalikan Purim! Seruan dari hatiku terdalam ini pun tak mungkin juga terjadi. Semua hal mustahil ini sangat ingin aku lihat di depan mata.


Hati terluka sangat dalam karena hal ini. Di lubuk terdalam, aku belum bisa merelakannya. Masih banyak yang ingin ku lakukan bersamanya. Foto kami berdua terpajang di dinding. Dia sangat suka kenangan ini. Saat itu kami sedang berlibur. Sambil memilih permainan yang akan kami nikmari, kami melihat penjual popcorn rasa caramel. Mata Purim terus mencuri-curi perhatian pada stand itu.


“Mau beli popcorn ga?” Aku menawarkannya.


“Mau…” nada manja Purim terdengar dengan jelas.


Aku membelinya dan menikmati popcorn. Di tengah antria, aku melihat penjual bando telinga Mickey dan Minnie mouse. Melihat ada banyak orang yang suka mengenakkan bando tokoh Disney di Disneyland Hongkong ini, aku mengajak Purim untuk membeli bando itu seusai membeli popcorn. Telinga tikus berwarna hitam dengan topi lancip seperti penyihir berwarna biru tua menghiasi kepalaku. Di atas kepala Purim pun terlihat telinga tikus berwarna hitam dengan pita berwarna biru muda. Aku menjadi Mickey mouse dan Purim menjadi Minnie mouse. Kami menikmati makanan ringan itu dan mengantri pada permainan yang tersedia di sana.


Air mata menetes dari mataku. Kenangan itu teringat dengan jelas pada benakku.Tak ada daya lagi pada diriku untuk menahan tangisan ini. Aku berjalan mendekati foto itu. Kedua tanganku menggenggam pigura foto dan mengambilnya perlahan-lahan dari gantungan itu. Bolehkah aku simpan foto ini di dalam kamarku? Pada siapa juga aku tanyakan hal ini? Apa Purim mendengarnya dari dunia sana?


Aku bawa foto itu ke dalam kamarku. Kamar yang luas dengan lantai yang terbuat dari kayu. Dinding berwarna putih dengan dihiasi banyak jendela berkorden warna abu-abu muda. Kamar yang sudah aku pakai bertahun-tahun ini pun juga memiliki banyak cerita bersama Purim. Tidak hanya itu. Setiap tempat yang ada di rumah ini memberi banyak sekali cerita yang indah bagi kami berdua. Ketika kami sedang bersenang-senang, bersedih, hingga bertengkar karena hal kecil. Cerita kami tidak pernah terhenti hingga kejadian itu terjadi.


Kenapa Pak Edi masih bisa selamat tetapi Purim tidak bisa? Pertanyaan itu ingin sekali aku tanyakan. Apakah pertanyaan itu pantas untuk disampaikan pada rumah sakit? Mereka juga sudah berusaha sebisa mereka. Lalu pada siapakah aku melempar pertanyaan itu?


Hancur sudah hati ini. Semua terasa pilu saat ini. Banyak sekali notif whatsapp di ponsel tetapi semua itu tidak membantu. Tidak ada yang aku buka untuk saat ini. Semua pertanyaan yang ingin aku keluarkan pun hanya terpendam di dalam hati ini. Tidak ada yang mendengarkannya. Pada siapa aku menyampaikannya? Aku pun tak tahu. Air mata yang tadi sudah tidak menetes kembali jatuh dari mataku. Sudah berapa kali aku menangis hari ini? Aku tidak menghitungnya.


***


Sinar matahari mulai menerangi Bumi. Udara sejuk dan sendu. Semua orang berkumpul dengan pakaian berwarna hitam putih. Neila serta kedua orang tuanya meratap dalam duka yang dalam melihat tanah mulai menutupi kepergian Purim.


“Selamat tinggal adikku tercinta. Aku harap kita bisa bertemu lagi di dunia sana.”


Matthew. Cowok yang sangat aktif dan suka membuat keramaian di mana pun dia berada. Di tempat ini, dia tidak seperti biasanya. Matthew tahu ini bukan tempat dan waktu yang tepat untuk membuat keramaian. Semua sedang berduka dengan kepergian Purim.


“Turut berduka, ya!”ujar Matthew.


Wajahnya terlihat seperti merasa bersalah serta terlihat ada memar pada dahinya. Neila tidak berpikir panjang mengapa dia terlihat pucat. Dia hanya berkesimpulan kalau Matthew juga sedang berduka karena kepergian Purim. Matthew jugalumayan dekat dengan Purim. Saat kecil mereka bertiga suka bermain bersama. Meski Matthew anak tunggal, dia dapat berinteraksi dengan Purim dengan lancar. Itu salah satu hal positif yang Neila sukai dari Matthew.


“Thank you” jawab Neila.


Dari satu orang ke orang lain lagi, mereka terus menyambut satu per satu hingga semua sudah tamu sudah tidak di sana lagi.


"Yuk kita makan soto dulu sebelum pulang!” ajak Papa Neila.


Mereka pun berkemas-kemas dan pergi ke warung yang selalu buka dari jam setengah enam pagi itu. Warung tetaplah padat karena banyaknya orang yang suka makan pagi di sini. duduk juga masih penuh. Kami harus berusaha mencari yang mana yang kira-kira sudah mau selesai makan untuk mendapatkan tempat duduk. Papa memesannya terlebih dahulu di kasir selagi aku dan mama menunggu tempat duduk.


“Nanti Papa ke kantor enggak?”tanya Mama


“Iya, ma. Tapi cuma mau tanda tangan terus pulang. Mama enggak perlu ke kantor juga nggak apa-apa. Temani Neila di rumah.” Papa menjawab sambil ikut mencari tempat duduk.


Kelompok yang di ujung kiri itu terlihat sudah beberes. Kami segera datang ke sana dan menunggu pesanan kami.


“Neila nggak perlu paksain masuk sekolah, ya! Nanti kalau Neila sudah siap baru masuk.”kata Papa.


“Iya, Pa.” Neila tidak ingin melawan karena dia juga sedang tidak ingin bertemu siapapun. Dia juga tidak tahu berapa lama dia dapat move on dari semua ini


***


Pelaku sudah ketahuan. Polisi memberi kabar pada kami kalau pelaku sudah mengakui kalau dia bersalah karena saat itu rem mobil sedang bermasalah. Dia menjadi tidak bisa mengontrol kemudi. Tidak lama setelah kejadian pun dia menabrak pada pagar rumah orang. Mobil jaguar yang dia kendarai pun juga mengalami kerusakan yang cukup parah. Hanya saja dia beruntung karena hanya mengalami cedera ringan yakni memar pada dahi dan lengan kanan.


Mendengar kabar itu, Neila teringat dia melihat ada memar pada dahi seseorang yang dia kenal saat penguburan Purim. Dia tidak yakin bahwa dunia sangatlah sempit. Kesimpulan ini belum tentu benar.


“Siapa itu?”tanya Neila pada ayahnya yang sedang memberi tahu.


Beliau mendesah panjang. Perlu mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya di depan Neila.Matthew, anak Pak Leo supplier Papa.”


Jleb.. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa setelah mendengar nama itu. Apakah ini mimpi? Neila masih belum bisa menerima realita ini.


“Papa juga minta maaf karena papa juga tidak bisa menuntut mereka lebih lagi.


Kasus ini sudah ditutup oleh kepolisian karena Pak Leo memberikan uang yang cukup besar serta wartawan juga tidak berani melanjutkan berita ini. Papa minta maaf, Nei.”jawabnya.


Kenyataaan pahit dan juga menusuk. Kehidupan duka dan memilukan. Semua ini terlalu komplek. Perasaan Neila menjadi kacau saat ini. Dia tidak tahu harus merespon dengan sikap seperti apa saat bertemu Matthew nanti. Dia yang membunuh Purim dengan tidak sengaja. Kenapa dia masih bisa sedikit tersenyum saat bersalaman itu? Neila tidak lagi mengerti.


Apalagi dia juga sadar bahwa dirinya sudah jatuh ke dalam perasaan yang dalam pada Matthew sejak kelas 6 SD. Dia sangat senang dapat sering bertemu dengan Matthew apalagi hamper setiap hari Matthew datang ke rumahnya sepulang sekolah untuk mengerjakan PR dan belajar bersama. Anak yang hiperaktif itu juga tekun dalam pelajaran. Tetapi kecelakaan yang tidak sengaja ini merusak semuanya.


***


Hari demi hari sudah berlalu. Orang tua Neila juga sudah tidak lagi mengurung diri di rumah. Hanya Neila yang masih menutup diri dari semua orang. Semua pesan di ponsel pun juga masih belum ia balas. Yang lebih tidak dapat ia terima, pelaku sudah ketemu tetapi mereka tidak dapat menuntut terlalu banyak karena ada hubungan pribadi dengan pekerjaan orang tua Neila.


Anak dari orang tua yang sangat sukses. Mereka sudah lama menjadi supplier bahan-bahan produk makanan sehat di beberapa perusahaan besar yang menjadi salah satu pekerjaan orang tua Neila. Bukan pekerjaan utama tetapi memberikan penghasilan yang lumayan tinggi bagi mereka. Keluarga itu hanya meminta maaf dan membayar polisi serta reporter untuk tidak memperpanjang atau menyebarkan berita lagi mengenai hal ini.


Dunia terasa sangat tidak adil. Lebih buruk lagi, Matthew, anak tunggal dari perusahaan Healthy ingredient itu adalah cinta pertama Neila sejak dulu. Mereka sudah lama dekat. Mereka juga satu kelas dan menjadi teman dekat selama bertahun-tahun. Semua ini tidak lagi dapat ia mengerti. Tidak ada juga nama Matthew yang tertulis pada notifikasi ponselnya. Dia tidak meminta maaf sama sekali padaku. Hanya lari dari kenyataan. Dia tidak hanya menyebabkan kecelakaan tetapi juga sempat menarik perhatian banyak orang. Anak SMA yang menyetir mobil sendirian. Mobil sports Jaguar F type yang telah membunuh Purim. Neila tidak dapat mengerti lagi kenapa ia melarikan diri. Sudah jelas yang lelaki itu lihat saat itu adalah Purim dan Pak Edi. Sangat mustahil kalau saat itu dia tidak menyadari bahwa yang ia tabrak adalah Purim.


“Masih dapatkah aku melihat wajahnya saat masuk sekolah nanti? Sudah satu minggu aku tidak masuk. Orang tua ku juga tidak memaksaku. Apa Matthew masuk sekolah minggu ini?” Neila tidak tahu jawaban dari semua pertanyaan itu.


Hari Selasa ini sudah menjadi hari ke delapan ia mengurung diri di rumah setelah hari pemakaman Purim.


***