Still Hope Again

Still Hope Again
Bab 11. Matthew dan Masa Lalu Alex



Sebuah batu nisan terpampang dengan jelas. Nama seorang gadis tertulis di batu itu. Matthew masih memendam rasa bersalah pada gadis kecil ini. Dia tidak sengaja melakukannya. Saat itu dia baru saja kembali dari les tambahan dan berencana untuk pulang. Di perempatan kecil itu, dia berbelok ke kiri dan berbelok lagi masuk ke dalam jalan kecil sebelah kiri untuk memotong jalan ke rumahnya. Tetapi seorang anak perempuan bersama seorang pria sedang menyeberang jalan. Rem mobil tidak dapat dikendalikan. Dia segera membelokkan mobil ke kanan namun terlambat.


Orang tuanya berkata kalau itu bukan salahnya karena semua terjadi secara tidak sengaja. Kejadian itu juga tidak membuat Surya berhenti menjadi pelanggan bahan makanan mereka.


Matthew tetap merasa tidak benar jika menggunakan wewenang dalam pekerjaan orang tuanya untuk menutupi kesalahan fatalnya saat itu. Gadis polos yang tak bersalah ini menjadi tiada karena dirinya.


Salah satu lutut kakinya menyangga tubuhnya sedangkan telapak kaki kanannya masih menginjak tanah dengan lutut yang terlipat. Tangannya menyentuh batu nisan itu.


“Purim... maaf... sampai kapan pun aku enggak bisa membayar semua kesalahanku ini. Aku lari dari kenyataan yang seharusnya berurusan sama polisi dengan wewenang dari orang tuaku. Tapi itu enggak bisa merubah kenyataan kalau aku sudah mengambil nyawa seorang anak yang polos...” Air mata bercucuran di wajahnya.


“Maaf.. berapa kali aku minta maaf, aku tahu itu enggak ubah semua ini..” Matthew terus memandang pada batu nisan itu. Banyak kenangan bersama mereka berdua yang masih tertanam di ingatannya. Rindu merasakan semua itu kembali.


“Aku harap kamu bahagia di sana.. aku juga harap kakakmu bisa menemukan


kebahagiaan untuk dirinya.”


***


Mengingat tatapan mata tante Floria tadi siang membuat Matthew semakin merasa bersalah. Tatapan yang terlihat penuh dengan emosi yang tertahan. Pasti ada banyak ucapan tajam yang ingin beliau sampaikan tetapi tertahan untuk menjaga hubungan mereka. Seandainya tidak ada hubungan pekerjaan di antara orang tua Matthew dengan mereka, pasti pecah sudah hubungan mereka semua. Semua emosi terumbar sejak awal kejadian itu.


Ketika dia berada di Amadeus, melihat Neila terus menghindarinya merupakan sesuatu yang sangat menusuk apalagi ditambah dengan tatapan tajam yang diberikan oleh Floria tadi.


Sekarang, Matthew juga semakin merasa tidak layak untuk menampakan dirinya di depan mereka sekeluarga. Dia tahu sekarang kalau Neila hanya anak angkat di keluarga itu dan Purim yang merupakan anak kandung. Hatinya semakin hancur melihat realita ini. Anak yang meninggal akibat dirinya adalah anak kandung satu-satunya.


Matthew hanya terus melamun melihat ke langit-langit kamarnya sambil berbaring di atas ranjang. Hatinya sendiri masih terluka sangat dalam untuk menerima masa lalu ini. Apa Neila akan menetap di sana? Gimana dengan orang tuanya? Kalau Neila pilih tinggal di sana, siapa yang menemani om Surya dan tante Floria? Pikiran Matthew tentang mereka terus berlanjut. Hingga dia melihat jam dan sadar kalau saat ini sudah waktunya bagi dia untuk tidur. Besok dia harus bangun pagi karena besok hari Senin.


***


Keadaan kembali seperti semula. Cahaya datang dari lampu yang tepasang di langit-langit ruangan. Dinding tidak berubah warna, Suara kendaraan juga kembali terdengar. Langit sudah petang. Bulan purnama menampakkan dirinya di langit tanpa adanya bintang di sekitarnya.


Alex terus memandang keluar melalui jendela kamarnya. Dia masih merenungkan keanehan kemarin. Cinta pertamanya adalah manusia dari dunia lain. Lalu dia juga menjadi berpikir kembali untuk mendekati Neila atau berhenti sekarang. Atau dia harus menunggu Neila mengambil keputusan akan menetap di mana? Alex kembali mengenang awal pertemuannya.


Satu SMA


Masa orientasi. Para senior bertingkah seperti preman yang sedang menindas adik kelasnya.


“Besok, enggak boleh ada yang absen! Semua harus kemari dengan memakai accesories yang tertulis di daftar ini.”bentak salah satu senior.


Alex bergumam, ‘Hah! Memakai ikat rambut sebanyak tanggal lahir?!’ Laki-laki ini merasa tidak beruntung karena ia lahir pada tanggal 30 Juli. ‘Gimana caranya pakai kucir sebanyak 30 di rambut pendek ini?’


“Kamu lahir tanggal berapa?”tanya seorang perempuan yang duduk di depannya.


“30.”


“Hah! Terus kamu gimana pakainya?”tanya gadis itu.


Alex hanya menggerakkan bahunya.


“Oh ya, siapa namamu?”tanya perempuan berambut ikal sebahu itu.


Alex tercengang dengan perempuan ramah yang tak jual mahal pada lawan jenis ini.


“Alex. Kalau kamu?”


“Aku Neila.” Sebuah senyuman manis terlihat. Senyuman yang menarik perhatian


Alex sangat dalam.


‘Manis juga..’gumam Alex.


Itulah awal mula Alex jatuh cinta pada Neila. Sayang, semua harapan sirna seketika saat dia ingin mengantarkan Neila pulang seusai orientasi hari itu.


“Ya?”


“Rumahmu di mana?”


“Oh di jalan Palagan Tentara Pelajar.”


Tiba-tiba..


“Nei! Jadi lunch sama Purim gak?”tanya seorang lelaki lain yang sedang berdiri


duduk di deretan meja sebelahl kanan mereka berdua.


“Siapa itu Purim?”tanya Alex


“Adikku.” Neila segera menoleh ke lelaki itu.


“Jadi dong! Kelas Purim sekarang juga sudah selesai. Dia tunggu di depan gerbang sekolah.”


“Oke.” Cowok itu berganti menatap Alex dengan serius. “Oh ya, sapa namamu?”tanya laki-laki itu pada Alex.


“Alex. Kalau kamu?”


“Matthew...” Matthew tahu kalau Alex ada rasa tertarik pada Neila. Sebagai sesama lelaki, dia tahu dari cara Alex memberi perhatian pada Neila sejak jam istirahat tadi. “teman Neila sejak kecil.” lanjut Matthew.


Sejak kecil.. Alex berkata-kata sendiri di dalam hati. Dia merasa ada saingan yang berat untuk mendekati Neila. Tapi hal ini tidak dapat menghalangi niat Alex yang sudah kuat ini. Alex mengulurkan tangan kanannya. “Salam kenal.” Sekaligus untuk menyambut tantangan baru di sekolah baru ini.


Awal mula dari semua ini menjadi tekat yang kuat bagi Alex untuk bersaing mendapatkan Neila. Dia pun berulang kali berusaha mengalihkan perhatian Neila saat sedang mengobrol dengan Matthew dan berulang kali juga mengajak Neila pergi dengannya. Respon Neila pun baik tetapi dia tidak tahu apakah Neila memang sangat ramah dengan semua orang? Dia takut jika dirinya yang geer.


***


Satu SMA


Di tengah jam pelajaran olahraga, cewek dan cowok dipisah. Cewek bermain tenis dan cowok bermain basket di lapangan satu lagi. Alex dan Matthew mendapatkan grup yang sama. Mereka terlihat sangat tidak kompak dan justru seperti berebut bola. Teman-teman yang satu grup dengan mereka merasa sangat tidak nyaman dengan perbuatan mereka berdua ini.


“Alex!”sorak Matthew meminta bola dilempar ke arahnya.


Alex hanya menoleh dan tetap ke depan dengan bola basket di tangan kanannya. Karena kejadian inilah, sudah menjadi rahasia umum di kelas ini kalau Alex dan Matthew tidak pernah bisa akur.


Suara air keran terdengar. Alex mencuci wajahnya yang dibasahi oleh keringat. Setelah membasahi wajahnya dengan air keran ini, dia menutup keran itu. Dia tahu ada seseorang yang mengamatinya di sebelah kanannya.


“Kamu suka Neila?”tanya cowok itu.


Alex langsung menoleh ke kanan dan meremas handuk yang dia pegang di tangan kirinya.


“Bukan urusanmu.” Alex tidak suka ditanyai hal ini. Dia bergegas menjauhi Matthew.


“Aku suka dengannya sejak kecil.”ujar Matthew.


Langkah Alex terhenti. Dia hanya menjawab, “terus?”


“Enggak. Cuma kasih tahu.” respon Matthew. Gantian Matthew yang berjalan ke tempat lain. Alex tidak tahu ke mana Matthew berjalan saat ini tetapi dia tahu ini adalah cara Matthew menantangnya dalam mendapatkan Neila.


***


Selama ini Alex tidak pernah merasa tersaingi apalagi setelah mendengar gosip tentang kecelakaan itu. Dia merasa semakin banyak peluang bagi dia untuk mengalahkan Matthew dalam hal ini. Sayang di sisi lain, dia merasa niatnya ini sangatlah jahat pada Matthew. Meski dia tidak pernah dekat dengan Matthew, dia masih memiliki hati nurani yang merasa iba dengan kesalahan fatal yang terjadi tanpa sengaja. Gosip pun beredar kalau saat itu mobil Matthew yang sedang rusak. Matthew mengalami hal itu karena ketidaksengajaan juga.


Tetapi peluang besar ini menjadi berubah setelah tahu bahwa Neila adalah puteri di Amadeus.