Still Hope Again

Still Hope Again
Bab 9: Alex, Matthew, dan Amadeus



Alex sedang bersama Neila di taman. Tanaman yang menyala dengan indah menghiasi sekitar mereka. Matthew hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Ingin bergabung tetapi ia merasa tak layak untuk bergabung. Meski sudah berlalu, rasa bersalah yang dalam masih terasa. Dia juga sadar akan tatapan Neila yang terus menghindarinya sejak pertemuan pertama mereka di ruang makan tadi. Hanya Alex yang dia tatap.


“Nei..”panggil Alex.


“Ya?” respon Neila dengan santai.


Alex memberanikan dirinya untuk bertanya.“Apa kamu bakal menetap di sini?”


Neila memandang ke depan dengan tatapan kosong.


“Belum tahu. Semua perlu waktu untuk dipikirkan matang. Orang tuaku di sana juga perlu aku untuk menjaga mereka karena hanya tinggal aku yang mereka punya. Purim sudah enggak ada. Tetapi orang tuaku di sini juga mengalami kejadian yang mirip. Maera...”


Mata Neila menjadi mulai penuh dengan air mata. Dia masih belum bisa menerima dengan pertemuan dan perpisahan dengan Maera yang terjadi di saat bersamaan.


“Sorry..” Alex merasa bersalah akibat dirinya yang sudah membuat Neila


menangis saat ini.


“How about you? How long will u stay here?”


“Might be tomorrow morning I’ll come back and meet your parent.”


“Untuk surat itu?”tanya Neila.


Alex menganggukkan kepalanya. Neila ingin memecahkan ketidaknyamanan ini. Dia menarik tangan Alex.


“Sini ikut aku.”


“Ke mana?”


“Ikut aja.”


Alex pun mengikuti Neila berjalan keluar dari istana ini. Suasana kota ini terlihat indah nan asing di matanya. Mereka terus berjalan hingga masuk ke dalam hutan sekitar kota ini. Keindahan hutan ini adalah hutan terunik yang pernah Alex lihat saat ini. Mereka berhenti di tengah hutan.


“Lihat!”tunjuk Neila pada sebuah bunga.


Bunga itu bermekar dan seorang peri kecil keluar dari bunga yang menyala itu. Cantik. Peri itu merentangkan tangannya sembari menyegarkan dirinya yang baru saja terbangun dari tidurnya.


“Kamu suka peri itu?”


“Ya. Tempat ini menjadi salah satu tempat kesukaanku di sini.”Senyum manis tersungging pada bibir Alex.


***


Dua orang itu terlihat pergi dari taman ini. Matthew hanya berdiri di tengah taman ini sambil memandang mereka. Dia tidak tahu ke mana mereka pergi. Ingin tahu tetapi dia merasa tidak percaya diri untuk bertatapan muka dengan Neila. Hanya berdiri berdiam memandang mereka yang dia lakukan saat ini. Di tengah pandangannya itu, bahu kanannya merasakan ada tangan yang memegangnya dari belakang. Seolah ada seseorang yang sedang ingin mengajaknya mengobrol.


Dia menjawab sentuhan itu dengan melihat ke belakang. Ternyata yang memanggilnya adalah Jairaj.


“Kamu sedang apa?”


“ah.. nothing.. ada apa?”tanya Matthew.


“Mau nongkrong di sana?”tunjuk Jairaj pada sebuah bangunan kecil yang terlihat di kejauhan sana.


Matthew menerima tawaran itu. Dia tidak tahu tempat apakah itu. Mereka berdua pun berjalan ke tempat itu. Perlu jalan selama dua puluh menit untuk mencapai tempat itu. Di tengah perjalanan mereka terlihat pertanian yang indah. Sawah serta perkebunan yang menyegarkan mata menghibur hati Matthew saat ini.


“Silakan duduk.”sambut Jairaj sambil menarikkan sebuah kursi yang ada di teras


dekat jendela.


“Ini..” kata Matthew sambil memperhatikan bangunan kecil ini. Bangunan kecil yang hanya memiliki satu ruangan luas di dalamnya. Rak buku yang sangat berantakan memenuhi dalam ruangan itu. Nuansa bangunan klasik dengan warna putih yang menghiasi tembok ruangan dan pagar teras ini.


“Maera itu...” Nama yang tidak asing ini terdengar kembali. Matthew ingat nama


itu disebut juga dalam cerita yang disampaikan oleh raja Kendrick tadi pagi.


“Saudara kembar Neila, puteri kerajaan ini.” Sambil mengingatkannya, wajah murung dan lemas terlihat di muka Jairaj. Jairaj hanya memandang ke persawahan dan perkebunan dengan lamunan kosong. Matthew tidak mengerti hubungan apa yang dimiliki Jairaj dengan Maera. Dia hanya tahu kalau Jairaj tidak hanya menganggap Maera sebagai puteri kerajaan. Lebih dari itu. Terlihat dari


ekspresinya saat ini.


“Bolehkah aku tahu di mana pohon itu?”tanya Matthew. Dia ingin melihat seperti apa Maera.


“Mari ikut saya.”respon Jairaj.


Mereka berdua pun berjalan ke hutan itu. Jairaj tidak ingin membuang waktu dengan melewati istana. Dia mengajak Matthew untuk memotong jalan melalui hutan yang ada di dekat mereka. Hanya perlu sepuluh menit, terlihat pohon yang menyeramkan itu. Jairaj menyediakan tangga untuk mereka naiki ke tempat Maera berada. Matthew terus memperhatikan pohon itu dan sekitarnya.


Suasana tempat ini terasa sangat menusuk dan mencekam.


“Gadis yang berada di sana adalah Maera.”tunjuk Jairaj.


“Apa aku boleh lihat di dekat sana?”


“Silakan tuan Matthew.”


Sekilas, Matthew terkesima dengan wajah Maera yang sangat mirip dengan Neila. Tiba-tiba sebuah isakan terdengar sesaat. Matthew menoleh ke sana dan ternyata mata Jairaj berkaca-kaca.


“Kamu enggak apa-apa?”tanya Matthew.


“Tidak apa-apa, tuan.”


“Hmm.. kalau boleh tahu, apa kamu dekat dengannya?”


Jaeraj hanya diam dan memandang ke arah lain. Dia tidak ingin membahas lebih dalam tetapi hatinya perlu seseorang yang mendengarkannya.


“She’s my first love.”


***


Setelah melihat indahnya hutan ini, Neila ingin memperkenalkan saudara kembarnya pada Alex. Dia mengajak Alex untuk melanjutkan perjalanan ini. Alex sempat terkejut dan heran dengan suasana yang berubah drastis menjadi terasa mencekam ini. Ketika mereka sudah sampai di dekat pohon itu, Neila mulai menggunakan sihirnya untuk menyediakan tangga. Alex membisu. Sejak kapan


dia bisa sihir? Masih perlu waktu bagi Alex menerima kenyataan ini.


Mereka pun naik. Ketika tinggal tiga anak tangga lagi, terdengar suara yang tak asing berkata,“She’s my first love..” Kalimat itu terdengar oleh Neila serta Alex yang sedang naik.Dua orang lelaki terlihat di sana. Sangat kenal. Matthew dan Jairaj. Kalimat yang barusan terdengar menjawab pertanyaan Neila tentang hubungan Jairaj dengan Maera.


“Besok pagi kamu balik jam berapa?”


“Jam sembilan.”


“Kamu enggak keberatan kan kalau kita kembali ke sini besok jam setengah


delapan?”


Alex tahu maksud Neila tidak ingin mengganggu Matthew dan Jairaj. Dia tidak keberatan dengan hal ini. Mereka pun kembali turun dan berjalan ke istana. Sesampai mereka di istana, Neila meminta Alex untuk istirahat sebentar di kamar yang mereka sediakan untuk Alex dan Matthew pakai malam ini. Neila juga kembali ke kamarnya sendiri. Dia menutup pintu kamarnya dan bersandar pada


pintu itu. Kedua tangannya masih memegang pegangan pintu itu. Lamunannya masih belum berubah. Kalimat tadi terus ada di benaknya.


Apa Maera juga suka dengan Jairaj? Neila menjadi ingin tahu lebih dalam. Tidak jauh berbeda dengan Neila, Alex juga memikirkan hal yang sama. Dia mengeringkan tubuhnya yang baru saja selesai mandi dan mengenakkan pakaian yang tersedia di dalam lemari.


Tidak lama setelah dia membaringkan dirinya di atas ranjang, Matthew juga datang dengan lamunan sendu. Alex tahu kalau kemungkinan Matthew juga merasakan hal yang sama mengenai Jairaj dan Maera. Ya.. malam ini menjadi malam dengan nuansa yang dipenuhi dengan keunikan dunia lain ini tetapi juga duka yang mendalam tentang semua dampak dari kutukan itu.