She's My Wife

She's My Wife
Perasaan yang tulus



“pagi“ setiap karyawan saling menyapa


“pagi mbul“ sapa ci maya pada Zahra


"pagi juga ci" sapa Zahra setelah mencetak absensinya


“pagi ini cerah euuuy“ sambar kiki yang juga ada dalam antrian cheking absen karyawan


“abang lu kenapa tuh mukanya gelap banget“ tanya Zahra pada kiki tentang kondisi sandy yang dilihatnya sangat muram.


“abis berantem dia sama cewenya gitu sih yang gua tau kejadiannya semalem“ jelas kiki


“ooowh” Zahra menjawab singkat tanda mengerti kondisi sandy.


Zahra menghampiri sandy yang sedang duduk di kantin yang kebetulan kantin terlihat dari tempat absen.


“woy, muka tuh muka suram banget“ ledek Zahra sambil menepuk Pundak sandy dan duduk disampingnya.


“lagi bete gua“ jawab sandy


“kenapa sih mas? Ada masalah?“ Zahra bertanya karena penasaran dengan masalah sandy


“gua putus“ jelas sandy dengan wajah muramnya.


“kok bisa putus?“ Zahra semakin penasaran ingin tahu.


“ya gitu deh, dia salah faham sama gua, gara-gara gua rangkul temen kuliah gua, padahal gua Cuma temenan sama cewe itu dan kita baru ajah ketemu setelah sekian lama” jelas sandy sambil memutar-mutar kaleng minuman ditangannya.


“sabar mas, cewe emang begitu, gua juga marah kalo liat cowo yang gua suka deket cewe lain“ Zahra mencoba menjelaskan keadaan perempuan namun itu adalah hal yang ia rasakan saat melihat sandy sedang Bersama pacarnya.


Zahra memang diam-diam menyukai sandy namun ia tahu sandy sangat mencintai pacarnya.


“yuk kerja“ sandy berdiri dari duduknya dan meregangkan tubuhnya yang terasa Lelah.


“lu yakin bisa focus kerja?” tanya Zahra sambil memandang sandy


“kenapa? Lu mau hibur gua?“ celetuk sandy


“kenapa enggak, yuk kita jalan" Zahra menarik tangan sandy.


Zahra dan sandy pergi ke pusat permainan di Mall dekat kantornya, Zahra mencoba menghibur hati laki-laki yang ia sukai dengan bermain permainan didalam mall.


“hahahhhahhaha kalah“ ujar Zahra senang sambil menari-nari kecil.


“aaah curang“ kesal sandy yang kalah dalam permainan pukul buaya.


“yeeeeaaaay dapet banyak tiket“ girang Zahra yang melihat tiket nya lebih banyak dari sandy.


“yang kalah sesuai perjanjian, tiket nya buat yang menang “ sambung Zahra sambil mengambil paksa tiket yang ada di tangan sandy.


Mereka berdua tertawa senang dan saling menggoda.


\= Di kantor Zahra \=


“permisi“ kata Marvel pada receptionist kantor Zahra.


“ada yang bisa saya bantu pak“ tanya petugas reseptionis.


“pak Marvel“ sapa Lia yang tak sengaja lewat ruangan respsionist dan melihat Marvel sedang berdiri disana.


“hai Lia“ sapa marvel santai


“cari siapa pak?“ tanya lia


“hmmmm cari mba Zahra ya?“ tebak Lia seraya menggoda Marvel.


Marvel mengangguk kecil menjaga gengsinya.


“mba Zahra nya izin pak hari ini, tad pagi sih sempet absen masuk kerja tapi tiba-tiba chat sama ci maya katanya ga masuk izin“ jelas Lia.


“kok bisa? Kemana dia?“ tanya marvel dengan nada penasaran.


“kayaknya pergi sama mas sandy deh, soalnya tadi pas abis absensi saya liat mba Zahra nyamperin mas sandy, terus ga lama ga jadi masuk, mas sandy juga izin kebetulan l“ jelas Lia pada Marvel.


Marvel diam sejenak berfikir dan bertanya-tanya kemana Zahra dan sandy pergi.


“Apakah mereka sekarang punya hubungan spesial“ marvel berfikir tidak-tidak karena kecemburuannya.


Cliing ( satu chat masuk ke inbox Zahra )


Zahra menghiraukan semua panggilan masuk dan inbox yang masuk, ia hanya ingin menghibur sandy saat ini.


Waktu berlalu sangatlah cepat, dan menunjukkan jam 5 sore, Marvel masih menunggu di depan kantor Zahra.


”itu bukannya Zahra dan sandy“ Marvel melihat Zahra dan sandy dari kejauhan


“ternyata mereka di mall dari tadi” gumamarvel dalam hati


Zahra dan sandy keluar dari mall lalu menuju parkiran mobil kantornya, kebetulan kantor dan mall bersebrangan jadi mereka berjalan kaki.


“kita makan dulu yuk mbul“ ajak sandy saat sudah didalam mobil.


“yuks gua juga laper“ Zahra mengiyakan ajakan sandy.


“lu ga bawa mobil kan?“ tanya sandy sambil memasang seatbelt nya.


“ga, tadi pagi mobil dipake ayah pergi“ jelasnya.


"lu tumben bawa mobil?" Zahra balik bertanya.


"lagi pengen ajah" ujar Sandy singkat.


Sandy melajukan mobilnya dan tanpa mereka sadari ternyata ada yang sedang mengikuti mereka dari belakang.


\= sesampainya di café\=


Zahra dan sandy menikmati makanan yang mereka pesan sambil berbincang-bincang, tanpa mereka sadari ada seorang laki-laki yang memperhatikan mereka sejak mereka masuk kedalam café.


“enak tau mas masakan disini“ Zahra memberitahu Sandy sambil membolak balik menu.


“iyah gua tau ini café favorite lu kan“ kata sandy yang tiba-tiba merebut buku menu dari tangan Zahra.


"lu kan dah biasa kesini harusnya hafal isi menunya" ledek Sandy sambil membuka buku menu.


"laaah ya nggak gitu juga kali, emangnya gua kerja disini sampe hafal daftar menu" ujarnya pada Sandy.


"mas pesen ini dan minumnya lemon tea ya" Sandy menunjuk gambar makanan yang ia pilih dan minumannya.


"samain ajah ya" Zahra menyamakan pesanannya dengan Sandy.


"plagiat lu" ledek Sandy lagi.


"itu emang makanan kesukaan gua kali mas" Zahra mengelaknya.


setelah makanan siap dan dihidangkan di meja mereka pun langsung menikmati hidangan


saat ditengah-tengah Menikmati makanannya Zahra tersenyum-senyum sendiri karena ternyata sandy masih ingat ceritanya mengeai café favoritenya itu.


Selesai makan.


“balik yuk“ ajak Zahra


“makasih ya Ra untuk hari ini“ sandy berterimakasih tanpa menyadari bahwa wajah Zahra memerah dengan kata-katanya.


“sama-sama mas“ jawab Zahra dengan wajah yang masih tersipu-sipu malu


Sandy pun mengantar Zahra pulang kerumahnya, dan langsung berpamitan kepada Zahra setelah selesai mengantar pulang.


Zahra turun dari mobil dan sandy berlalupergi dari rumah Zahra.


“Ra“ terdengar suara seseorang memanggil Namanya.


Zahra menoleh kebelakang dan melihat sosok Marvel yang ternyata sedari tadi sedang menunggunya dijalan depan rumahnya.


“naik Ra, ada yang mau aku bicarakan“ Marvel membukakan pintu mobil untuk Zahra.


Setelah Zahra masuk ke mobil, Marvel langsung melajukan mobilnya, didalam mobil hening tanpa ada yang memulai pembicaraan.


“apa tadi Marvel liat gua sama mas sandy ya, duuh jadi ngga enak sama si Marvel, tapi biar lah“ gumam Zahra dalam hatinya.


“dari mana tadi?“ Marvel mencairkan keheningan dengan bertanya pada Zahra.


“abis dari kantor terus diajak makan sama sandy“ jelasnya.


“oooh“ jawab marvel singkat yang tau kalau Zahra sedang berbohong.


Sesampainya di taman dekat rumah Zahra.


“ngapain ketaman?“ tanya Zahra bingung sambil melihat sekitar taman yang sudah sepi.


“turun dulu ajah” kata Marvel lembut


Zahra melihat kekesalan yang tergambar jelas di wajahnya marvel. Walau nada bicara marvel lembut dan Zahra pun mulai merasa bersalah, walaupun iya belum sepenuhnya menerima Marvel sebagai tunangannya tapi ia sadar ia sudah milik Marvel dan tidak sepantasnya ia pergi dengan seorang laki-laki lain.


“Ra, aku mau ngomong serius tentang hubungan kita? “ wajah Marvel mulai serius


“kenapa?“ Zahra bertanya sambil duduk di bangku taman.


"Ra, meskipun kita tunangan karena ulah ku yang memaksa kami jadi pacar Bohongan, tapi perasaan ini benar-benar tulus Ra, bisa kan kita mulai lembaran baru sebagai pasangan" pinta Marvel dengan wajah yang sendu.


Dalam perasaan Zahra ada seorang laki-laki yang ia cintai dan saat ini sudah putus dari pacarnya, seharusnya ini bisa menjadi kesempatan ia untuk mengambil hati laki-laki yang ia cintai, namun terlambat Zahra sudah menjadi tunangan laki-laki lain yang ia tidak harapkan.


"Ra, dan satu hal lagi yang harus kamu ketahui, aku akan selalu perjuangin cinta aku ini, karena aku sudah sangat mencintai kamu sejak lama" jelas Marvel dengan penuh ketulusan.


Zahra tidak menghiraukan perkataan marvel dan meminta untuk Kembali pulang kerumahnya karena ia bingung harus berkata apa pada Marvel.


Zahra meninggalkan Marvel dan memasuki rumahnya dengan hati bersalah.


Marvel pun kembali kerumahnya.


"Vel, sayang, kamu kok baru pulang" tanya seorang wanita paruh baya yang bukan lain adalah ibunya.


"Iyah mah, aku abis ketemu Zahra" jelasnya dengan lesu dan duduk di samping mamanya.


Mama Marvel melihat wajah anaknya seperti orang patah semangat, ia sudah menduga pertemuan dengan Zahra tidak berlangsung baik.


" ya udah kamu bersih-bersih dulu terus istirahat sana, biar mama yang fikirkan bagaimana cara agar Zahra bisa menjadi milik kamu" seorang ibu yang sangat menyayangi putranya tak tega melihat wajah anaknya yang patah hati.


Marvel pun bangun dari duduknya dan menuju kamar.


"Pah pah" panggil mama Marvel kepada suaminya.


"Apa sih mah?" sambil membolak-balik majalah


"Pah, kita kayaknya harus percepat pernikahan Marvel dengan Zahra, biar Marvel kembali semangat" seru mama Marvel.


"tapi kan mah, Zahra ya belum bisa menerima anak kita" jawab papa.


"pah, kalau mereka sudah hidup bersama pasti seiring waktu Zahra akan mencintai Marvel" jelas mama Marvel.


"Ya sudah, besok kita temui lagi orang tua Zahr" sahut papa marvel sambil meneguk secangkir teh hangat.


Kedua insan yang sedang terperangkap oleh perasaannya masing-masing, membuat keadaan menjadi semakin tak menentu, kadang mereka merasa ini tak adil, cinta yang masih bertepuk sebelah tangan namun harus dipaksa menjadi pasangan, tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, disatu sisi seorang laki-laki yang dengan tulus mencintai, di sisi lain perempuan yang merasa dipaksa untuk mencinta laki-laki yang tak pernah ia cintai.


\= Rumah Zahra \=


"Sayang kamu udah selesai mandinya" tanya bunda Zahra


"Iyah Bun udah" jawab zahra sambil menghampiri bundanya


"Udah makan?" Tanya bunda lagi


"Udah Bun, tadi sama mas Sandy" Zahra duduk di bangku bersama bundanya.


"Sayang, kamu kan udah punya tunangan, harus jaga sikap" bunda menasehati Zahra yang sekarang statusnya sebagai tunangan Marvel.


"Zahra tau Bun, tapi Zahra kan udah Deket sama mas Sandy lama dan kita temen sekantor" Zahra berkata sambil menonton acara TV.


"Zahra ga mau Bun, status Zahra membuat Zahra menjaga jarak dengan teman-teman yang udah seperti keluarga" sambung nya.


Bunda hanya bisa menghela nafas dengan apa yang anaknya bicarakan, bunda sangat faham sekali sifat anaknya satu ini, dia sangat setia kawan dan sangat menyayangi temannya.