
Memikirkan tunangan saja membuat Zahra bergadang sampai larut malam, apalagi pernikahan mungkin akan membuatnya tidak tidur berminggu-minggu
"Ra, kamu masih ngantuk" tanya ayah sambil membalik korannya
"Iya yah, aku semalem bergadang" jawab Zahra sambil menguap
"Kenapa? Ga sabar mau tunangan" goda bunda
"Iiish bunda, apaan sih" jawab Zahra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Udah-udah sarapan dulu, nanti siang kita makan diluar, di kafe favorit kamu" kata ayah sambil menutup Koran dan menaruhnya di meja.
Criiiiiing ( telepon Zahra berbunyi)
“Zahra angkat telepon dulu ya bun” Zahra meninggalkan meja makan dan masuk kedalam kamar.
“halo“ sapa Zahra
“lagi apa ra ?“ Tanya Marvel dari seberang telepon.
“lagi mau sarapan“ jelas Zahra.
“ Ra, aku ga paksa kamu untuk bertunangan dan menikah sama aku “ Marvel berbicara dengan nada rendah seakan pasrah dan tidak mau menekan Zahra, karena ia tau Zahra hanya menganggapnya teman.
“apaan sih aku kamu nggak lucu tau“ kesal Zahra sambil menutup teleponnya.
Zahra melamun didalam kamarnya dan mencari cara bagaimana bicara dengan orang tuanya kalau dia tidak ingin melanjutkan perjodohan ini.
Cling (satu chat masuk ke inbox Zahra )
”Ra gua di depan rumah lu nih“
Zahra langsung keluar kamar dan berlari kearah pintu rumahnya.
“Zahra hati-hati jangan lari-lari“ teriak eyang dari ruang TV seperti sedang meneriaki anak TK.
"Aaaaaaaaarrghhhh" teriak Zahra sambil memeluk Tina sahabatnya.
“kangeen.. kangen... kangeeeen“ kata mereka bersamaan sambil saling berpegangan tangan.
Zahra dan Tina menuju private room di sebelah kamar Zahra, ruang itu yang biasa ia gunakan untuk kumpul dengan teman-temannya.
“Ra, lu kenapa sih kok tiba-tiba murung gitu“ tanya Tina
“ga apa kok Tin“
“Tin kenapa lu kesini, pasti mau curcol kan“ sambung Zahra sambil melayangkan jarinya.
“iyah lu tau ajah“ tina terkekeh kecil
“kenapa ?” tanya Zahra
“lu tau ga Ra gua dijodohin“ cerita Tina
Degg Zahra langsung kaget dan teringat Kembali bahwa ia dijodohkan juga.
“whaat, lu dijodohin gimana ceritanya ?” tanya Zahra dengan menggebu-gebu
Zahra dan Tina berbincang-bincang, namun Zahra tidak memberitahukan kepada Tina kalau dia juga dijodohkan oleh orang tuanya.
“Zahra sayang ayooo berangkat“ panggil bunda yang sudah siap pergi.
“iyah bun sebentar”sahut Zahra
Zahra dan Tina turun ke lantai bawah.
“Tin kamu ikut ajah yuk“ ajak bunda
“nggak ah bun aku mau pulang ajah“ kata Tina yang sudah dianggap seperti anak oleh bunda Zahra.
setelah Tina pulang Zahra dan keluarganya pergi menuju Cafe, Selama perjalanan Zahra masih saja melamun.
\=di Café\=
“mas pesan makanan ya“ panggil ayah ke pelayan café
“kamu mau makan apa sayang“ tanya eyang pada Zahra yang sibuk dengan HandPhone nya.
“mas kaya biasa ya“ kata Zahra pada pelayan yang sudah biasa melayaninya jika ia makan di café itu.
Ayah dan bunda hanya tersenyum kecil melihat tingkah anaknya yang masih terlihat kesal sejak kejadian itu.
“Zahra, kamu sekarang udah usia 26 tahun, sudah waktunya berumah tangga“ ayah membuka pembicaraan.
“iya sayang, bunda fikir Marvel adalah pilihan yang tepat buat kamu“ tukas bunda.
“bun, yah , eyang, Zahra tuh bukan ga berfikir kearah sana Cuma Zahra belum dapet pendamping yang menurut Zahra tuh tepat “ jelas Zahra
“nah itu nak Marvel sudah tepat sayang“ jawab eyang sambil mengusap rambut Zahra.
“ini hidangannya” kata pelayan yang membawakan makanan mereka
“makan dulu” ujar ayah menyodorkan makanan yang dipesan oleh Zahra
Mereka pun menikmati hidangan lalu setelah itu kembali pulang kerumah.
Hari pun berganti dengan sangat cepat dan keluarga Zahra belum berhasil membujuknya untuk menikah dengan Marvel.
Kukukuruyuuuuk ayam bekokok membangunkan seisi dunia.
Zahra melalui hari hari seperti biasa, sibuk dan banyak yang harus ia urus.
Didepan meja receptionis.
Zahra terlihat sedang bersenda gurau dengan salah satu karyawan.
“yeeeey lu kali tuh yang nyebelin“ kata Zahra sambil mencubit Dennis salah satu SPV
“duuuuuh kalo lagi kesel suka imuuut“ kata dennis sambil mencubit pipi Zahra
Kriiiiing kriiiing (Hp Zahra berbunyi)
Zahra segera menganggat telponnya
“hallo, kenapa?” Tanya Zahra ketus.
“jangan galak-galak donk sama calon suami” kata Marvel
“diiih diiih gak usah ke pedeaan yaa” kesalnya pada Marvel
“kok dia bisa tau ya, jangan-jangan dia punya mata-mata lagi” gumam Zahra dalam hatinya
“sok tau lu kayak dukun, dah ah gua mau kerja“ Zahra menutup telponnya.
Memang beberapa hari ini Zahra seperti ada yang mengawasinya, tapi apa mungkin Marvel sampai bertindak sejauh itu untuk mengawasinya, apa Marvel terlalu bucin ke gua.
Zahra terus berfikir saat iya sudah dirumahnya.
Hari-hari terus belalu
Dirumah Zahra pada malam hari
Cliing suara chat masuk
*Ra gua besok pulang* bunyi pesan tersebut, namun Zahra tidak menghiraukannya dan ia langsung tidur.
Pagi tiba dan Zahra bergegas untuk berangkat bekerja karena hari ini akan ada penandatanganan kontrak dengan perusahaan kosmetik.
“bun, Zahra pergi kerja ya” ujar Zahra sambil mencium pipi bundanya.
“hati-hati ya sayang” ujar bundanya.
Zahra hari ini diantar bekerja oleh ayahnya, selama perjalanan Zahra selalu mendengarkan musik untuk memberikan efek releks pada otaknya.
Sesampainya di tempat kerja.
“Zahra habis ini kamu langsung keruangan saya ya” pinta bu rossa yang ternyata ada di belakangnya.
“baik bu, saya segera keruangan ibu” jawab Zahra cepat.
Setelah menaruh tasnya di meja kerjanya Zahra langsung menuju ruangan bu rosa.
“Ra jam 10 kita akan proses tanda tangan kontrak dengan PT. cantik care” jelas bu rossa.
“baik bu, Zahra siapkan dulu dokumennya agar tidak ada yang tertinggal” Zahra meninggalkan ruangn bu rossa dan menyiapkan dokumen untuk perjanjian kontrak kerja sama.
Waktu berlalu dan menunjukkan jam 09.45, utusan dari PT. cantik care tiba 15 menit lebih awal.
“bu, utusan PT. cantik care sudah datang” ujar Zahra saat tiba diruangan bu rossa.
“ baik kita bicarakan di ruang meeting saja Zahra” perintah bu rossa.
Zahra pun menghampiri utusan PT. cantik care yang sedang menunggu di loby.
“selamat pagi pak, silahkan ikut saya keruang meeting” ujar Zahra dengan sangat sopan.
Zahra, bu Rossa, dan Sandy menemui utusan PT. cantik care diruang meeting mereka membahas kontrak kerja dan menandatangani approval cetak untuk brosur dan catalog.
“terimakasih pak darma atas kepercayaannya kepada perusahaan kami” seru bu Rossa sambil berjabat tangan dengan pak darma utusan dari PT. cantik care.
“sama-sama bu, semoga kerja sama ini terus berlanjut” ujar pak darma
Mereka pun meninggalkan ruang meeting dan lanjut bekerja.
Waktu menunjukkan jam makan siang.
“makan-makan-makan” ajak Dennis
“yuk makan dulu Ra” ajak ci Maya
“kantin yuk ci kangen soto gua” Zahra berjalan disamping ci Maya.
Merekapun menuju kantin dan menyantap makan siang mereka, setelah makan siang selesai mereka lanjut bekerja, waktu berlalu cepat dan menunjukkan jam 17.00.
Kriiing-kriiing suara hp Zahra berbunyi dan tertera dilayar “ Pak Marvel ” Zahra sengaja menyimpan nomor Zahra dengan sebutan Pak agar tidak ada yang curiga bahwa mereka berteman.
“Ra, hari ini aku jemput kamu“ kata Marvel sebelum sempat Zahra mengucap halo
“Tapii..“
Tuuut tuuuut telepon di tutup oleh Marvel
“iiiish apaan sih nih orang“ gumam Zahra dengan suara kecil
“kenapa Ra" tanya sandy yang tiba-tiba ada disampingnya dan mendengar gumaman Zahra.
“gag apa-apa mas" Zahra menjawab sambil pergi meninggalkan sandy.
“Vel, ga perlu jemput gua, bu rosa tuh hafal banget sama mobil lu nanti ketauan kalo kita saling kenal” chat Zahra pada Marvel
Zahra garuk-garuk kepala karena Marvel tidak membalas chat nya.
“ayo ayo siap-siap balik yuk, betah banget lu pada dikantor” ujar kiki yang sudah siap keluar dari kantor.
Jam pulang kerja sudah tiba dan mereka bersiap-siap untuk pulang
“hai mbuuul“ kata sandy yang menghampiri Zahra dan memegang pipi nya dengan kedua tangannya.
“iiiish mas sandy” Zahra menyingkirkan tangan sandy dari pipinya.
Cling ( bunyi chat dari hp Zahra)
“aku udah di seberang kantor, mobil biru” isi chat Marvel.
Zahra langsung mencari-cari mobil biru yang Marvel kendarai, Marvel ternyata tidak memakai mobil yang biasa ia kendarai.
Braaaak Zahra menutup pintu mobil dengan keras.
“pelan-pelan ajah kali“ sindir Marvel
“bodo“ jawab Zahra ketus.
“1 minggu lagi kita nikah“ Marvel bicara dengan santai.
“apa“ kaget Zahra
“enggak-enggak lu jangan gila ya Vel, lu kira nikah itu buat main-main apa?” kesal Zahra
“siapa yang mau main-main Ra, gua serius sama lu, dan ortu kita juga udah setuju dan gak akan merubah keputusan mereka” jelas Marvel.
“ini semua tuh gara-gara lu tau ga, pake acara pura-pura pacaran, jadi begini kan,, aaah” Zahra menjatuhkan badannya ke sandaran mobil sambil merasa kesal.
Sesampainya mereka dirumah Zahra
“besok-besok gag usah jemput” ujar Zahra dan keluar dari mobil, Marvel hanya tersenyum melihatnya.
Langit terlihat gelap, malam sudah tiba dan gelap nya malam sama seperti gelapnya hati Zahra saat ini.