She's My Wife

She's My Wife
Anfal



Hari-hari terus berlalu, begitu banyak yang harus Zahra dan Marvel persiapkan untuk pernikahan mereka, sehingga membuat mereka hampir bertemu setiap hari.


Zahra dengan keraguan dihatinya tetap mempersiapkan pernikahannya, dari design undangan untuk para kerabat dekat mereka, karena pernikahan ini diadakan secara tertutup mengingat status Zahra sebagai karyawan yang mewajibkan tidak menikah selama 4tahun kontrak kerjanya, karena Zahra banyak menghandle pekerjaan luar kota jika menikah pasti akan menghambat semua kerjanya.


"Ra kita udah urus undangan, tinggal minta Tito bagiin undangannya" jelas Marvel.


"Iyah 1 Minggu lagi acaranya" Zahra terlihat sangat lesu.


disela sela kesibukannya mereka mempersiapkan pernikahan Marvel terus berusaha membuat Zahra mencintainya, bebagai cara ia coba namun masih belum menunjukkan tanda-tanda ketertarikan Zahra kepada Marvel.


Cling cling ( hp Zahra berbunyi )


"Halo mas" Zahra mengangkat telepon


"Ra, nyokab gua Anfal Ra, gua ga tau harus hubungin siapa" Sandy menjelaskan keadaan ibunya kepada Zahra dengan nada panik.


"Kok bisa mas, bukannya kemaren-kemaren sehat" Zahra mulai menunjukkan sedikit kekhawatiran.


"Lu bisa ga kesini temenin gua" pinta sandy


Zahra menutup telpon dan menatap Marvel dengan pandangan yang dalam.


"Kalo mau kesana silahkan, aku tau kamu sangat khawatir dengan kondisi Sandy" seru Marvel sambil memegang pundak Zahra.


"Makasih" Zahra langsung berlari dan memanggil taksi menuju rumah sakit tempat ibu Sandy dirawat.


Sesampainya di rumah sakit.


"Mas Sandy" panggilnya pada Sandy yang terlihat sedang mondar-mandir di depan ICU


"Ibu sakit Ra" tangis Sandy sambil memeluk Zahra.


"Sabar mas, pasti nyokab lu sehat lagi" Zahra mencoba menenangkan Sandy.


"Gua takut Ra kehilangan orang tua lagi" lirih sandy.


Sandy sangat mencintai ibunya, baginya ibunya lah yang paling berharga dalam hidupnya, sejak ayahnya meninggal Sandy sebagai anak tunggal seharusnya mengelola usaha peninggalan ayahnya namun ia merasa tidak cocok menjadi seorang pemimpin sehingga ia memilih menjadi karyawan biasa yang memiliki waktu libur dan bisa bersama ibunya, sejak ayahnya mengelola usaha memang sangatlah jarang berada dirumah dan sangat tidak punya waktu untuk bercengkrama dengan keluarga.


"Dengan keluarga ibu Rita" panggil seorang perawat dari depan pintu ruang ICU.


"Saya sus" Sandy menghampiri perawat yang memanggilnya.


"saya anak dari Bu Rita" kata sandy saat sudah berhadapan dengan perawat.


"Pak keadaan ibu Anda kritis, semoga setelah tindakan ini bisa membuatnya sadarkan diri dan membaik, kami mohon bantuan do'anya dari keluarga" jelas perawat yang sejak tadi merawat ibu sandy.


"mohon selamatkan ibu saya sus, saya tidak punya siapa-siapa lagi selain ibu saya" Sandy memohon agar team medis melakukan yang terbaik.


"kami akan lakukan yang terbaik"


Sandy masih sangat ketakutan, Zahra yang sejak tadi bersamanya jadi ikut merasa khawatir dengan keadaan ibu sandy yang tak kunjung sadarkan diri.


disaat mereka sedang menunggu di bangku depan ICU terlihat dari kejauhan tiba-tiba seorang dokter dan dua orang perawat berlari ke arah ICU membuat Zahra dan Sandy semakin panik.


Mereka mengintip dari balik pintu kaca, mereka melihat dokter sedang mencoba menyelamatkan nyawa ibu Sandy.


Sandy menangis tak henti, lalu Zahra memeluknya dengan erat, perasaan zahra yang sangat memahami hati Sandy ikut merasakan pilunya situasi ini.


"Keluarga ibu Rita" panggil dokter.


"Saya dok" jawab Sandy sambil menghapus air matanya.


"Maaf pak, kami sudah sangat berusaha, namun Tuhan berkehendak lain, ibunda anda sudah berpulang ke Rahmatullah" jelas dokter yang menyampaikan berita duka kepada Sandy.


Zahra merasa bingung, dengan keadaan Sandy seperti ini bagaimana ia bisa mengurus jenazah ibunya, bagaimana mengurus semua nya.


Zahra mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang


"Hallo, bisa ke rumah sakit sekarang, tolong gua" Zahra langsung menutup teleponnya.


tiga puluh menit setelah selesai ia menelpon tak lama seorang laki-laki datang menghampiri nya.


"Zahra" panggilnya.


"Marvel, bantu aku urus administrasi rumah sakit dan mengurus mobil untuk membawa jenazah kerumah duka" jelasnya


Marvel tertegun bingung dengan ucapan Zahra.


"Siapa yang meninggal ?" Tanyanya pada Zahra.


"Ibu mas Sandy meninggal, dan gua bingung harus minta tolong ke siapa lagi" seru Zahra sambil meneteskan air mata.


"lagi-lagi kamu meneteskan air mata untuk laki-laki ini" hati Marvel bergetar merasakan dinginnya suasana didepannya, Zahra yang menangis dan memeluk Sandy membuat dirinya mematung menyaksikan semuanya.


Marvel yang tidak tega melihat Zahra menagis walaupun hatinya terasa sakit ia tetap melakukan apa yang Zahra minta kepadanya, mengurus administrasi rumah sakit dan meminta pihak rumah sakit mengurus jenazah.


\= Dirumah duka/ rumah Sandy\=


Semoga warga wara-wiri berdatangan kerumah Sandy untuk melayat, sedangkan Zahra menemani Sandy yang masih terpukul dengan kepergian ibunya.


Marvel yang sejak tadi duduk di teras depan memperhatikan Zahra yang sangat memperdulikan Sandy, semakin membuat hati nya sakit, namun apa daya dia harus menahan sakit hatinya karena ia yakin suatu hari Zahra akan mencintai nya.


"Pak Marvel" suara Bu rosaa membuyarkan lamunan Marvel.


"Sore Bu Rosa" Marvel lalu berdiri saat mendengar sapaan dari Bu rossa


"Sore pak, kok bapak bisa disini?" tanya nya heran yang melihat Marvel berada dirumah Sandy.


" hmmm.... Kebetulan saya tadi ke rumah sakit yang sama dengan ibu Sandy dirawat, disana saya bertemu Zahra dan Sandy yang sedang bingung dan saya membantu mereka" jelasnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Terimakasih pak Marvel sudah sangat perduli dengan karyawan saya" Bu Rosa merasa sangat haru dengan sikap marvel yang baik hati.


Hari pun mulai gelap, sebagian orang masih banyak berkunjung ke rumah Sandy.


"Ra sudah malam, kita pulang" ajak Marvel yang berbisik kepada Zahra agar tidak ada yang curiga.


"Ayo vel" Zahra langsung berdiri dan berjalan keluar dari rumah Sandy yang diikuti oleharvel.


Saat di mobil Marvel hendak menyalakan mobilnya namun dihentikan oleh Zahra.


"Vel, sekali ini ajah izinin gua nemenin mas Sandy sampai selesai pemakaman" pintanya pada Marvel sambil menggenggam tangan Marvel.


Marvel merasakan genggaman yang terlihat kuat namun terasa lemas, seperti kondisi Zahra saat ini terlihat kuat di luar untuk menguatkan sandy pria yang ia sukai namun lelah didalam dirinya.


"Tapi ini sudah malam, nanti orang tua mu khawatir" ujar Marvel.


"Tapi gua mau disini vel, tolong ngertiin perasaan gua dan kondisi mas sandy" Isak tangis mulai keluar dari bibir Zahra.


"Tapi kamu tunangan aku Ra, apa kamu ga pernah mikirin perasaan aku yang lihat tunangan ku sangat memperhatikan laki-laki lain" Marvel sedikit bicara dengan nada tinggi.


"Sejak awal gua dah bilang kalo jangan teruskan drama ini vel, ini akan membuat lu sakit" jelas zahra dan keluar dari mobil Marvel.


Marvel menyadari kata-kata yang ia lontarkan adalah kesalahan, tak seharusnya ia bicara begitu pada Zahra karena semua kejadian ini bermula dari dirinya yang meminta Zahra berpura-pura menjadi kekasihnya.


disatu sisi Marvel bersyukur dengan keadaan sekarang namun disisi lain Marvel berfikir bahwa ini pasti akan menyakiti kedua belah pihak yaitu dirinya dan Zahra.