She's My Wife

She's My Wife
Pertunangan



Zahra mengambil wudhu dan shalat isya sebelum tidur.


“ya Allah, apakah ini adalah jalan terbaik untukku yang kau berikan, mohon bimbing aku dalam menjalani hidup ini“ setelah selesai shalat dan berdoa Zahra menuju tempat tidurnya.


Malam yang gelap melelapkan seluruh manusia di muka bumi ini, dan setiap gelap datang pasti terang akan terbit menyinari kembali bumi ini.


“Zahra sayang ayo bangun, mandi sebentar lagi kita kedatangan tamu“ panggil eyang dari lantai bawah.


Dikamar Zahra


“duuuuh siapa lagi sih pagi-pagi mau datang bertamu, hari minggu pula sekarang” kesal Zahra


Zahra bangun dari tidurnya dan duduk ditepi kasur.


Tok… tok… tok pintu kamar Zahra diketuk.


“iyah masuk”


Ceklek (pintu terbuka)


“hai“ seorang wanita berusia 30 tahun menyusupkan wajahnya di balik pintu kamar


“mba wit“ teriak Zahra yang senang melihat kaka iparnya.


Zahra langsung berlari dan memeluk kaka iparnya yang sangat ia sayangi seperti kaka kandungnya sendiri.#


“mba wit kapan datang“ tanya Zahra yang masih memeluk Prawita Nada


“semalem mba datang sekitar jam 1 pagi“ sahut mba wit sambil melepas pelukan Zahra


“kok ga bilang ke aku kalo mba wit mau ke Jakarta“ tanya Zahra keheranan dengan kedatangan keluarga abangnya yang tiba-tiba.


“udah-udah bahasnya nanti ajah“ kata mba wit sambil mengelus wajah Zahra dengan lembut.


“sekarang kamu cobain kebaya ini ya, mba wit sengaja bikin ini buat kamu“ sambung mba wit yang profesinya sebagai seorang designer baju kebaya tradisional modern.


“serius mba wit bikin ini buat aku” Zahra memutar-mutar baju kebaya yang diberikan mba wit.


“makasih mbaaaa..” Zahra mencium pipi kaka iparnya itu.


Zahra mengenakan kebaya yang diberikan oleh kaka iparnya.


“sana mandi nanti mba riasin biar tambah cantik“ prawita menghampiri Zahra yang sedang bercermin.


“hmmm ga usah mba, lagian kan ngga ada acara apa-apa dan aku juga ga mau kemana-mana” jelas Zahra yang masih sibuk bercermin dan berputar-putar kegirangan dengan kebayanya.


“hari ini kan kamu tunangan Ra” perkataan mba wit membuat Zahra berhenti bercermin dan menatapnya.


“mba, bunda sama ayah ini apa-apaan sih terkesan maksa aku banget, semua mereka rencanakan tanpa sepengetahuan aku, ga diskusi dulu sama aku“ Zahra bicara dengan nada yang keras dan berjalan menghampiri pintu kamarnya. Namun saat ia mau membuka pintu..


“Zahra” suara mba wit terdengar seperti orang yang sedang menahan tangis


“mba wit, kenapa kok malah nangis” tanya Zahra sambil membawa prawita duduk ditepi Kasur.


“Ra, kamu tau kan usia bunda dan ayah sudah ga muda lagi, sedangkan mba wit dan abang mu sudah menikah selama 5 tahun tapi belum juga dikaruniai anak” jelas prawita sambil menitikkan air matanya.


“tapi mba semua itu sudah kehendak Allah, Mba wit dan bang Cakra juga sudah berusaha” Zahra menenangkan mba wit.


“Ra, bunda dan ayah ingin segera memiliki cucu, dan mba harap kamu mengerti posisi mereka yang sudah lanjut, lagi pula mba sudah suruh staff mba menyelidiki pergaulan Marvel dan dia anak yang baik-baik, dia pantas buat jadi imam dari adik kesayangan mba” kata prawita sambil menatap Zahra dengan dalam dan mengelus rambut Zahra penuh kasih sayang.


“mba sebenernya Zahra belum siap” Zahra tertunduk lesu


‘”apa lagi ini semua begitu mendadak“ sambungnya.


"apa yang membuat kamu nggak siap" tanya Prawita sambil menggenggam tangan Zahra.


"sebenarnya ada laki-laki yang aku suka" jelas Zahra.


Zahra menggelengkan kepalanya tanda mereka belum menjalin hubungan apa-apa.


"buat apa kita menunggu hal yang tidak pasti, Allah memberikan jalan ini kepada kamu berarti ini yang terbaik menurut Allah" Prawita memberikan keyakinan lagi pada Zahra.


Zahra tidak menjawab dan masih tertunduk lemas.


"Ra, please mba mohon, abang mu juga sangat setuju dengan pernikahan ini, kita perempuan, perempuan itu dipilih bukan memilih” mba wit menggenggam tangan Zahra erat.


“dan kamu wanita yang terpilih untuk mendampingi Marvel seorang pria yang sangat hebat, bijaksana, dan dewasa” sambung mba wit sambil meyakinkan Zahra lagi.


Zahra akhirnya mendengarkan perkataan kaka ipar yang sangat ia hormati, dan menjalani pertunangan ini dengan ikhlas.


“alhamdulillah ya acara tunangannya lancar“ kata mama Zahra dengan senyuman lebar di bibirnya.


Setelah acara pertungan selesai semua menikmati hidangan yang telah disajikan oleh keluarga Zahra.


“Ra“ panggil Marvel sambil menghampiri Zahra yang sedang duduk dekat kolam ikan.


“apaan“ jawab Zahra ketus.


“kok calon penganten mukanya asem banget sih” godanya


“lu nih gara-garanya, bikin muka gua asem” jawab Zahra sambil menendang-nendang kakinya di air menunjukkan kekesalannya.


“bukan asem lagi tapi sepet” sambar abang Zahra sambil menghampiri kedua calon pengantin yang sedang duduk dipinggir kolam.


CAKRA DEON PRAKOSO adalah nama dari kaka laki-laki Zahra.


“apaan sih t*p*ng cakra nyamber ajah“ kata Zahra sambil meledek nama kakanya yang sama dengan merk tepung.


“hai bang“ sapa Marvel pada abang Zahra yang ikutan nimbrung dengan mereka.


“kalo udah nikah nanti jangan asem-asem mukanya, nanti suaminya takut“ goda bang cakra.


“eiiittts salah bang cakra“ sela Marvel.


“makin cantik kalo mukanya lagi asem bikin aku jadi makin cinta justru“ sambung Marvel yang menggoda Zahra agar Kembali baik terhadapnya.


“bikin gemes” goda Marvel lagi.


Sikap Zahra pada Marvel dulu sangatlah baik dan akrab, mereka sering bercanda namun karena perjodohan yang sangat mendadak membuat Zahra kesal terhadap nya.


Hari ini berlalu dengan sangat melelahkan, satu persatu para saudara yang hadir diacara pertunangan mereka pun pulang begitu pula dengan keluarga Marvel yang sudah pulang.


dipandangi cincin yang melingkar di jari manisnya, sangat cantik dan indah, tapi sayang tidak ada kebahagiaan di hati Zahra.


"cantik ya Ra cincinnya" mba wit tiba-tiba muncul di kamar Zahra.


Zahra hanya tersenyum mendengarnya.


"Mba doakan kalian berdua langgeng dan cinta hadir dihati mu" mba wit berkata sambil menyentuh dada Zahra dan memeluknya erat.


tak terasa mereka berdua menitikkan air mata.


"jangan menangis, adik mba yang cantik dan shaleha pasti bisa menjalani takdir ini, mba yakin benih cinta akan hadir" mba wit menghapus air mata yang keluar dari pelupuk mata Zahra.


"doain Zahra ya mba"


"aku akan berusaha mempertahankan hubungan ini jika memang Marvel dan Zahra ditakdirkan berjodoh dan menikah" Zahra berusaha ikhlas dengan takdir hidupnya yang tiba-tiba seperti sedang menaiki roller coaster kencang dan mendebarkan.


"ya udah kamu bersih-bersih dulu dan tidur, besok kan harus kembali bekerja" mba wit keluar dari kamar Zahra.


Zahra membersihkan dirinya dan bersiap untuk menyambut hari esok yang ia tidak tahu bagaimana isi dari skenario yang Allah tulis untuknya.